The Second Life

The Second Life
Bab 12: Terlempar Bola



Para siswa kelas 2 terpana dengan tindakan Felice. Siapa tahu kalau gadis kecil ini akan melakukan sesuatu yang kurang sopan seperti menyodorkan sebuah kotak langsung tepat di depan wajah guru mereka dan ditambah lagi dengan nada bicara yang ketus, tidak ada yang akan terkejut kalau orang dewasa ini akan marah.


Feline menatap kakaknya dengan gugup. Dia tidak terlalu dekat dengan Vendry jadi dia tidak tahu bagaimana reaksi wali kelas mereka selanjutnya, tapi dia selalu mendengar dari teman-temannya kalau wali kelas mereka adalah tipe orang yang tidak suka dengan rasa tidak hormat dari orang lain.


Vendry memandangi kotak kue yang menghalangi pandangannya dari layar laptop dengan ekspresi dingin.


Melihat pria ini tidak menerima hadiahnya, Felice menggoyangkan sedikit kotak di tangannya dan mengulangi kata-katanya sekali lagi, "Pak, ini kue untukmu."


Vendry menatap gadis kecil di depannya dengan kerutan ringan di wajahnya dan ingin menegur perilaku Felice yang tidak sopan. Namun sebelum dia sempat melakukannya, Felice sudah duduk di sampingnya dan meletakkan kotak kue itu di pangkuan gurunya, lebih tepatnya di atas keyboard laptop.


"Bapak belum makan dari tadi, jadi kami membawakan sedikit kue untuk Bapak. Makanlah beberapa, Pak."


Kali ini kata-kata Felice lebih sopan dan bahkan ada sedikit jejak kelembutan dalam nadanya yang hanya bisa dideteksi oleh Vendry. Pria itu menatap kotak kue itu sejenak sebelum mengangkatnya dan memindahkan laptopnya ke samping.


"Terima kasih."


Siswa kelas 2 yang awalnya gugup, akhirnya lega ketika melihat kalau guru mereka tidak marah dengan ketidaksopanan Felice. Jujur saja tindakan Felice benar-benar diluar perkiraan, tapi untungnya Vendry menerima kue itu dengan positif.


Para siswa kelas 2 masing-masing kembali ke kursi mereka. Felice membiarkan adiknya pergi berkumpul dengan Derrick dan teman-teman lainnya untuk mendiskusikan persoalan tentang pertandingan selanjutnya.


Vendry membuka kotak kue itu dan melihat enam kue kecil yang disusun rapi di dalam kotak. Gerakannya sedikit terhenti sebelum dia mengambil sendok kecil dan mulai mencicipi kue tersebut.


Saat potongan kecil kue itu masuk ke mulut, Felice bisa melihat sedikit jejak pada mata gelap Vendry.


Dia menyukainya.


Kali ini Felice mengamati Vendry dengan lebih serius. Setiap tanda-tanda gerakan pada pria ini membuktikan kalau pilihannya tidak salah. Semakin Felice menatap, semakin intens tatapannya.


Gerakan itu, ekspresi itu, mereka sungguh mirip dengan orang itu...


Vendry yang ditatap sedikit mengerutkan keningnya dan berbalik menatap Felice dengan tatapan dinginnya yang khas.


Ah... Bahkan reaksi ini juga sama seperti yang biasa dilakukan oleh orang itu...


Felice bisa membaca ketidaksenangan yang jelas memancar dari pria ini.


"Bagaimana rasanya, Pak?"


Vendry diam, namun selang beberapa detik kemudian terdengar suara samar yang hanya bisa didengar oleh keduanya, "Tidak buruk."


Felice tersenyum.


"Bagus."


......................


Selama setengah tahun kelahiran kembalinya, ini masih pertama kalinya dia harus memaksakan dirinya sejauh ini untuk terbiasa dengan tumpukan gelombang suara yang menyerang ketenangan pikirannya selama setengah hari.


Felice yang mengikuti suasana hati teman sekelasnya di pagi hari, sekarang tidak mengeluarkan suara sedikitpun di bangkunya. Dia hanya memandang acara dengan ekspresi datar yang bisa diterjemahkan sebagai kebosanan oleh adik perempuan kesayangannya.


Bahkan saat Feline maju ke lapangan, semangat Felice tetap seperti air tenang di lautan tanpa menimbulkan sedikitpun riak. Satu-satunya yang menghibur Felice adalah bukan hanya dia sendiri yang merasa tidak nyaman, pria di sebelahnya juga berada dalam situasi yang serupa.


Vendry tidak lagi memperhatikan acara, fokusnya sekarang tertuju pada layar laptopnya.


Ya, orang ini sedang bekerja.


Di tengah suasana riuh yang penuh semangat muda ini, pria muda yang berusia sekitar 20-an ini mengerutkan keningnya dan memandang serius layar laptop. Sepasang mata tajam dibalik bingkai peraknya itu menunjukkan keseriusan sepanjang waktu tanpa berkedip, seperti orang tua kuno.


Terkadang alis yang sudah agak tegang, semakin berkedut ketika suara teriakan yang melengking mengganggu konsentrasinya. Melihat penampilan Vendry dari samping, membuat Felice mau tak mau merasa linglung. Bayangan orang yang tersembunyi dalam kotak kecil di sudut pikirannya selalu melekat pada pria ini.


Setiap kali melihat kerutan di alis pria ini, ingin rasanya dia mengangkat tangannya dan dengan lembut menghaluskan jejak kerutan itu melalui sentuhan ujung jarinya sambil menghibur pria ini, sama seperti yang sudah sering dia lakukan di masa lalu.


Jantung Felice menegang seketika. Ketidakpercayaan singkat mengisi dirinya saat menyadari betapa absurd pikirannya ini. Felice mengepalkan tinju di pangkuannya, meskipun Vendry dan 'dia' memiliki kebiasaan yang sama, namun mereka berdua jelas adalah orang yang berbeda! Bagaimana bisa dia memiliki pemikiran untuk menyayangi pria ini...


Di tengah momen frustasi Felice, tiba-tiba terdengar suara teriakan kemarahan dari sisi lapangan.


Di lapangan saat ini, pertandingan bola basket antara kelompok siswa kelas 6 yang seharusnya sedang berlangsung, tiba-tiba dihentikan karena pertengkaran kedua tim.


Pendengaran Felice sedikit lebih baik dari kebanyakan orang, jadi dia bisa mendengar sekilas masalah yang sebenarnya sedang diperdebatkan oleh kedua tim ini. Ternyata salah satu pemain dituduh melakukan pelanggaran dengan mendorong jatuh lawannya dan tuduhan ini dibantah oleh tim pemain itu.


Masalahnya adalah wasit dan para penonton tidak melihat jelas hal itu karena kejadian itu terlalu cepat, namun memang benar pemain yang didorong sekarang sedang duduk di tanah dengan lutut yang sedikit lecet dan berdarah dari dampak kejatuhannya.


Wasit dan wali kelas dari kedua tim itu sudah berada di lapangan untuk masalah ini. Saat pertengkaran tidak bisa dibendung oleh ketiga guru tersebut, guru-guru lainnya juga mulai turun untuk membantu.


Vendry yang selalu memfokuskan perhatiannya pada pekerjaannya juga menghentikan aksinya dan memandang kejadian itu. Kerutan terbentuk di alisnya saat dia melihat pertengkaran antara siswa kelas 6 ini menjadi lebih sengit.


Memindahkan laptopnya, Vendry turun dari tempatnya dan menyuruh siswanya yang duduk di kursi depan untuk pindah ke belakang, jangan sampai pertengkaran ini berimbas pada anak-anaknya.


Sama seperti Vendry, wali kelas lainnya juga memerintah siswa mereka untuk menjauh dari pertengkaran ini, beberapa bahkan mengizinkan siswanya untuk kembali ke kelas terlebih dahulu.


Felice menarik Feline untuk duduk di sebelahnya sambil memandang kelanjutan dari situasi di lapangan. Saat gerakan para siswa itu semakin ricuh, dia menangkap gerakan salah satu siswa yang memegang bola. Orang itu akan melempar bola pada lawannya dan targetnya berdiri di depan Vendry yang membelakangi kelompok itu...


"Hati-hati!"


Tepat saat Felice berteriak, bola itu sudah melayang dan berkat peringatan Felice siswa yang menjadi target pelemparan segera berjongkok dengan refleks sehingga bola langsung menuju Vendry dan memukul bagian belakang kepalanya.


"Pak Vendry!"