The Second Life

The Second Life
Bab 23: Mimpi



Gelap...


Dingin...


Segalanya terasa sangat tidak nyaman.


Rasanya seperti kembali ke saat-saat kelam itu.


Seorang pemuda berbaring kaku di tengah kegelapan yang mencekam. Tidak ada suara, tidak ada cahaya, rasanya seperti berada di tengah ruang hampa yang tidak berpenghuni.


Hanya dia seorang.


Kesadaran pemuda itu berjalan lambat. Dia tidak tahu berapa lama dia telah berada di tempat ini. Dia tidak tahu dimana dia berada, apa yang terjadi di sekitarnya, dan siapa dirinya...


Namun dia tahu bahwa dia sedang berbaring. Berbaring kaku seperti tubuhnya telah membusuk menjadi gumpalan daging yang menyerupai mayat. Dia tidak bisa menggerakkan setiap otot-otot dalam tubuhnya. Dia bahkan tidak tahu apakah dia sedang membuka mata atau memejamkan mata.


Yang dia tahu, dia sudah cukup lama tinggal seperti ini. Berbaring dengan patuh seperti ini.


Perasaan tidak nyaman membanjiri dadanya. Mungkin itu hanya ilusi karena yang dia tahu tubuhnya tidak berfungsi normal saat ini. Dadanya tidak mungkin berdetak karena dia bisa merasakan kalau tubuhnya hampir sudah membatu termakan usia.


Dia sendiri juga tidak jelas mengapa dia bisa seyakin ini. Kenapa dia bisa tahu kalau tubuhnya sudah menyerupai mayat padahal dia sendiri tidak bisa melihat apa yang terjadi pada dirinya.


Sesak...


Mungkin itu juga ilusi karena dia bahkan tidak bisa mendengarkan suara nafasnya, tapi perasaan tidak nyaman ini perlahan semakin bergema hingga membuatnya merasa perih.


Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Kenapa rasanya sangat tidak nyaman, dia bahkan tidak yakin apakah dia sebenarnya hidup atau tidak.


Kesadaran rapuh pemuda itu bergoyang seperti nyala lilin redup yang akan padam dengan hanya sedikit hembusan yang menerpanya. Satu kata terlintas di kesadaran pemuda itu.


Mungkin ini adalah 'keputusasaan'...


......................


Seorang pemuda tampan berbaring di atas kasur dengan ekspresi damai layaknya pangeran tidur dalam dongeng, namun tidak lama setelah itu sebuah kerutan terbentuk di alis pemuda itu diiringi dengan nafas yang semakin gelisah. Perlahan tetesan keringat dingin mulai membanjiri pemuda itu sebelum kedamaian itu pecah dengan dengusan nafas keras yang terengah-engah.


Vendry membuka matanya dengan ekspresi ketakutan yang tidak jelas. Pemuda itu memandang langit-langit kamar dengan pandangan buram yang tidak fokus, namun nafasnya tidak berhenti terengah-engah seolah baru menghadapi kejadian buruk yang menakutkan.


Pintu kamar terbuka dengan gesekan yang agak tajam sebelum sebuah suara wanita memecah udara kaku di ruangan itu.


"Vendry!"


Pemuda yang berbaring di atas kasur sedikit menggerakkan kelopak matanya ketika mendengar suara baru itu, namun kedua matanya masih menatap langit-langit kamar dengan kelesuan dan tidak fokus yang masih sama.


Perlahan suara langkah kaki bergema semakin keras menuju kasur saat lampu dibuka dan langsung menerangi kondisi kamar yang gelap itu untuk menunjukkan apa yang terjadi dengan penghuni kamar itu.


Ella mengerutkan keningnya dengan sentuhan kegelisahan ketika dia melihat ekspresi rapuh pada pemuda yang selalu berdiri seperti gunung es itu di hari-hari biasa.


Sial... Kambuh lagi...


Awalnya Ella sedang mengurus pekerjaannya dengan santai di luar kamar, namun di tengah rasa santainya, jari-jari yang mengetik di atas keyboard laptop tiba-tiba berhenti begitu telinganya sedikit bergerak dan menangkap suara mengi yang berasal dari dalam kamar. Pengingat itu langsung membunyikan alarm di benak Ella dan membuat gadis muda itu meletakkan semua pekerjaannya dan bergegas membuka pintu kamar.


Dan seperti yang dia duga, suara nafas yang terengah-engah memenuhi ruangan itu seolah penghuni ruangan sedang sekarat karena rasa sakit tertentu. Ella langsung menuju satu-satunya sumber suara dan membuka lampu kamar.


Lampu yang menyala secara otomatis mengungkapkan pemandangan ini.


Di depan matanya, Vendry terengah-engah dengan suara mengi yang menyesakkan. Pandangan Vendry tampak berkibar seperti akan patah dengan sentuhan ringan bersama dengan keringat yang telah membanjiri pemuda itu.


"Hush... hush... Vendry tenang. Ini aku, semuanya baik-baik saja, Sayang."


Belaian lembut itu membuat mata pemuda itu sedikit bergerak sebelum bibirnya terbuka dengan suara mengi yang lebih menyesakkan.


Perlahan, Ella dengan lembut memutar wajah Vendry untuk menatap dirinya, "Tenanglah Vendry. Semuanya baik-baik saja. Bernafas lah perlahan, jangan takut tidak ada yang terjadi padamu. Semuanya baik-baik saja..."


Bibir Vendry semakin bergetar, namun pemuda itu tampaknya telah menemukan jejak kesadarannya dan kedua pupil matanya yang kabur perlahan menjadi fokus ke arah Ella. Pandangan Vendry memancarkan kebingungan dan jejak berkabut yang rapuh seolah dia tidak mengetahui apa yang terjadi.


"Hush... Iya, semuanya baik-baik saja. Kamu aman disini, Sayang. Kamu aman..."


Suara mengi semakin panik seolah pemuda itu cemas dengan sesuatu yang tidak dia ketahui. Bibir Vendry bergetar dan pandangannya semakin berkabut dengan pancaran kegelisahan dan ketidaktahuan murni.


"Jangan takut. Kamu sangat aman bersamaku, Sayang. Tidak ada yang akan terjadi. Percayalah padaku, semuanya baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja disini. Itu hanya mimpi buruk..."


Perlahan nafas Vendry menjadi lebih stabil dan kesadaran juga sudah terkumpul di matanya. Vendry memejamkan matanya dan menarik nafas perlahan sebelum menghembuskannya dan mengulangi teknik pernafasan ini berulang-ulang untuk meredakan kecemasannya. Di samping Vendry, Ella tidak berhenti membelai wajah pemuda itu dan terus membisikkan kata-kata menenangkan yang penuh dengan kelembutan dan kesabaran.


"Benar. Tarik nafasmu pelan-pelan dan hembuskan. Lihat, semuanya sangat mudah. Tidak ada yang sakit."


Vendry perlahan membuka matanya. Meskipun sudah sadar, namun pemuda itu masih menunjukkan ekspresi rapuh yang langka. Sepasang mata yang membuat orang terpesona itu sekarang berkabut dengan jejak merah muda di sudutnya.


"Jangan takut. Kamu aman, semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang terjadi dan sekarang kita baik-baik saja. Disini aman, Sayangku," bujuk Ella dengan lembut. Gadis muda yang selalu tampil ramah dan penuh percaya diri itu sekarang menunjukkan ekspresi kesusahan dengan senyuman yang menyembunyikan kesedihannya.


Vendry mengangkat tangannya dan menyentuh tempat tangan Ella bersarang di wajahnya dengan getaran yang masih meninggalkan jejak lengket dari keringatnya.


"Aman...?"


Kesedihan semakin menyebar di hati Ella. Dia tetap memaksa menarik senyuman menenangkan dan berkata, "Iya, aman. Kamu aman. Kita aman sekarang."


Mengi yang menyesakkan perlahan memudar menjadi ketiadaan, namun mata Vendry semakin sedih. Pemuda itu menunjukkan ekspresi kesakitan seolah sedang mengingat mimpi buruk yang menyayat hatinya.


"Aman..., tapi aku masih merasa tidak enak. Ella... rasanya sangat tidak nyaman...," bisik Vendry dengan getaran konstan dalam nadanya yang terdengar seperti tersiksa.


Setetes air mata mengalir dari sudut mata Vendry seolah pemuda itu akan pecah di detik berikutnya.


Ella terdiam. Dia tidak lagi berusaha membujuk pemuda yang sedang mengalami fase gangguan ini dan hanya dengan lembut mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata Vendry.


"Aku tahu. Aku selalu tahu..., tapi tidak apa-apa..."


"Jangan takut, aku disini bersamamu..."


"Aku akan selalu disini bersamamu..."


......................


Vendry telah kembali jatuh dalam tidurnya setelah sesi gangguan tadi. Biarpun tidur, namun pemuda itu selalu menarik sudut bibirnya dengan tegang dan kerutan masih menggangu bahkan dalam tidurnya.


Ella duduk di samping Vendry dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Dia dengan lembut terus membelai rambut pemuda yang basah karena keringat itu tanpa rasa jijik. Setiap belaiannya membawa sentuhan kelembutan yang nyaman.


Ella menatap wajah tidur Vendry yang memiliki bekas air mata itu dan menghela nafas. Dia memandang obat yang tergeletak di meja samping tempat tidur dengan segelas air yang isinya sudah setengah.


"Tampaknya bahkan obat ini sudah mulai tidak mempan..."


"Huh... Vendry, apa yang harus kulakukan untukmu..."