
Hendery menoleh padaku dan menatapku lurus tanpa berkedip. Dia tersenyum dan menarikku agar masuk ke dalam gudang. Aku agak kaget dengan tindakannya barusan. Lentera yang digantung di dekat pintu masuk gudang, dinyalakan oleh Hendery menggunakan percikan api yang dia keluarkan dari tangan.
“Apa kau takut, Sweetheart?” tanya Hendery. “Tenang saja. Ini aku. Bicara saja lewat pikiranmu.”
Lucas?
“Benar.” Hendery, ah tidak, Lucas tersenyum. “Kau tidak menyangka, bukan?”
Aku mengangguk.
“Sebenarnya aku kemari tanpa sepengetahuan Ava. Dia pasti akan marah besar jika dia tahu aku mengambil ramuan sihir perubah wujud langka miliknya,” jelas Lucas. “Tapi ..., semua ini kulakukan untuk melihat wajahmu.”
Dia mendekat dan membelai rambutku yang tergerai. Aku membiarkan hal itu. Ada sedikit rasa aneh karena Lucas masih menggunakan wujud Hendery. Apalagi saat Lucas berniat menciumku. Wajahnya yang agak dekat itu malah kuhindari. Ini bukan hal yang benar. Aku tidak mau dicium oleh Lucas dalam wujud Hendery.
“Ada apa?” tanya Lucas.
Aku tidak mau dicium dengan wujud kesatriaku. Rasanya seperti bukan dicium olehmu.
Lucas tersenyum. “Maaf, aku terlalu berlebihan. Bagaimana kalau peluk?”
Itu juga tidak.
“Hm.” Lucas cemberut. “Aku belum bisa berubah kembali ke wujudku yang semula sampai efek ramuannya habis.”
Kalau begitu, kau tidak boleh menyentuhku sampai efek ramuannya habis. Tapi, aku menghargai kedatanganmu kemari, Lucas. Setidaknya, rasa rinduku jadi terobati saat melihatmu .... Yah, walaupun terasa seperti bertemu tidak langsung.
“Hm, kau memang paling bisa membuatku senang, Sweetheart.” Lucas mengusap kepalaku dan tersenyum. “Pasti sakit.”
Apanya?
“Melalui jalan yang sama dengan yang ada di masa lalu.” Sekarang raut wajah Lucas terlihat muram. “Kau pasti kadang kala teringat pada hal yang tidak ingin kau ingat, kan?”
Itu hanya masa lalu. Apakah kita harus membahasnya saat ini juga? Aku hanya ingin membahas hal yang ringan dan menyenangkan.
“Aku tahu. Andai kata aku mengenalmu di masa lalu, aku pasti tetap akan tertarik dan menyukaimu,” kata Lucas. “Aku serius.”
Aku percaya padamu, Lucas.
“Wah, lihat siapa yang melarikan diri sambil membawa barang curian di tangannya.”
Aku dan Lucas menoleh ke bagian dalam gudang. Di pojok kanan gudang, berdirilah sosok yang agak lebih pendek dari kami. Dari suaranya pun, aku bisa tahu jika itu adalah Ava. Aku kaget karena Ava tiba-tiba saja sudah muncul di dalam gudang yang hanya ada satu akses jalan keluarnya.
Dan jalan keluarnya adalah pintu kayu yang ada di samping kami.
Ava mendekat. Kali ini dia memakai gaun biasa kesukaannya. Wajahnya sudah tidak dipoles oleh make up tebal. Dia sudah memiliki tampilan seperti gadis remaja biasa.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lucas.
Buagh!
Bogeman mentah dihujam oleh Ava ke tubuh Lucas. Aku membiarkan hal itu karena memang Lucaslah yang salah.
“Anak s*alan! Kau pikir ramuan itu harganya murah hingga kau bisa dengan seenaknya mengambilnya?!” bentak Ava. “Harganya itu sepuluh ribu koin emas!”
Lucas tertawa. “Tenang saja, Nek. Akan aku balas jika Charlotte sudah resmi menjadi Permaisuriku.”
“Banyak omong, membuatku jijik saja.” Ava cemberut. “Lagipula, kenapa kalian bicara di tempat seperti ini?! Kenapa tidak di ruang kerja atau ruang tamu? Apa Yang Mulia Raja sengaja ingin gelap-gelapan dengan Ratu?”
Tidak mungkin.
“Hanya ini tempat yang menurutku paling bagus,” ucap Lucas.
“Alasan bodoh,” komentar Ava.
“Dia sedang diminta seorang pelayan untuk membantunya di taman,” jawab Lucas. “Jadi, orang-orang akan segera curiga jika kau terlalu lama menghilang.”
“Kembalilah ke kamarmu,” perintah Ava. “Malam ini, aku akan mampir ke Istana Perak untuk mengecek keadaan Isla di sana.”
Akhirnya ada titik terang juga tentang keadaan Isla. Aku jadi tidak sabar dan jadi bersemangat tentang hal ini.
“Aku juga ikut,” kata Lucas.
“Kenapa Rajaku harus tidak berakhlak seperti ini?” gumam Ava.
“Apa tadi kau bilang aku ini tidak berakhlak?” tanya Lucas, hendak memastikan lagi.
“Benar.” Ava mengiyakan.
“Dasar Nenek bau tanah,” ejek Lucas.
Bugh!
Sepatu hak milik Ava langsung mendarat di kepala Lucas, Rajanya sendiri. Ava tertawa senang karena dia dapat membalas ejekan Lucas.
*
Lucas sudah kembali ke Avnevous bersama dengan Ava. Lucas terpaksa mengikuti Ava karena diseret oleh beliau. Sepeninggalan keduanya, aku keluar dari gudang belakang dan masuk ke dalam istana. Di sana, aku bertemu dengan Hendery yang ternyata juga mencari keberadaanku.
Aku langsung pergi menuju ruang kerjaku yang baru. Ranjang yang ada di dalam sana sudah disingkirkan, berganti dengan sebuah meja kerja besar yang terbuat dari kayu berkualitas baik dan juga kursi dari bahan kulit yang nyaman saat diduduki.
Di atas meja, sudah menunggu banyak tumpukan pekerjaan dan juga sebuah buku tebal yang sampulnya amat kukenal. Itu buku besar yang kuminta pada Anna. Dia benar-benar memberikannya kepadaku meskipun secara tidak langsung.
“Tadi, Ratu darimana?” tanya Hendery saat aku duduk di depan meja kerjaku untuk beristirahat.
“Dari taman belakang,” jawabku bohong.
“Aku dari sana, dan Ratu tidak ada.”
Aku tersenyum. “Maksudku, dari gudang belakang. Aku dari sana.”
“Katanya ... Ratu pergi denganku. Itu tidak benar, bukan?” Hendery memastikan hal yang sudah pasti tidak benar.
“Ya.”
“Kaisar sempat bilang hal yang sama dengan yang dikatakan oleh para pelayan yang melihat Ratu,” kata Hendery.
“Lalu, di mana Kaisar sekarang?” tanyaku basa-basi.
“Sudah pergi bersama Nona Hindley,” jawab Hendery. “Mereka sempat bertengkar, lalu akhirnya Kaisar mengalah dan ikut dengan Nona Hindley pergi.”
Aku bersandar di sandaran kursi untuk mencoba lebih rileks. “Aku tidak heran dengan tindakan suamiku sendiri. Aku tidak peduli tentangnya. Mau dengan siapa dan berbuat apa, aku sama sekali tidak tertarik.”
Hendery hanya diam, mendengarkanku tanpa memalingkan wajah. Aku meraih buku besar di atas meja dan membukanya satu per satu. Aku tersenyum senang dan terus mengeceknya tanpa terlewat satu pun. Ingatanku mulai muncul satu per satu. Dan yang harus kulakukan untuk terakhir kalinya adalah ... mencocokkan semua data ini dengan buku kas Istana Ratu yang disimpan dibrangkas istana.
Aku tidak butuh Idris untuk bisa membukanya, karena aku hafal betul kode brangkas itu.
“Minta kusir untuk menyiapkan kereta, aku ingin ke Istana Kekaisaran sekarang juga,” perintahku pada Hendery.
“Hm, apakah ada hal penting yang ingin Ratu lakukan di sana?” tanya Hendery dengan raut wajah penasaran.
Aku berdiri sambil tetap membawa buku besar itu. “Kau akan segera tahu.”
*
Note: Episode selanjutnya akan di up kurang-lebih tiga hari lagi.