
“Baguslah Nona Winston mengusulkan hal ini. Kami bisa lebih fokus lagi melawan Marchioness Franklin. Meskipun kami memiliki gelar lebih tinggi darinya, tapi tetap saja Marchioness Franklin tidak akan bertindak seberani ini tanpa bantuan orang yang memiliki kekuasaan tinggi,” ucap Grand Duke.
Itu pasti Ratu.
“Ya, itu benar.” Idris mengiyakan.
Makan malam hari ini akhirnya berakhir. Sebelum pulang Duchess Harriston mengajakku minum teh berdua saja besok siang. Itu adalah hal yang tak kuduga, tapi aku tetap menyanggupi ajakannya.
Idris mengantarku pulang ke Istana Perunggu. Kami tak bicara sepatah kata pun saat berada di dalam kereta karena aku tertidur di bahunya. Sebenarnya tidak begitu sih, tapi bangun-bangun kepalaku sudah menempel di bahu Idris. Dan dia membiarkan hal itu.
“Terima kasih sudah mengantar aku pulang, Idris,” kataku.
“Sama-sama. Masuklah ke dalam dan istirahat. Kau sepertinya sangat lelah karena beraktivitas penuh hari ini,” ucap Idris.
Aku mengangguk. “Baiklah. Tolong katakan padaku jika ada yang harus kulakukan.” Kulambaikan tanganku pada Idris, lalu masuk ke dalam Istana.
Di dalam Istana, aku disambut oleh Holly dan Chloe. Riasanku dibersihkan dan gaunku diganti dengan piama oleh Chloe. Holly memberikanku air hangat untuk merendam kakiku lalu memijit seluruh tubuhku agar tidak tegang dan menjadi rileks. Begitu selesai, aku ditinggalkan sendirian untuk tidur.
Saat itulah kudengar suara Lucas dari kristal komunikasi.
“Selamat tidur, Charlotte,” bisik Lucas.
“Kau juga, Lucas.”
“Oh, kupikir kau sudah terlelap.” Lucas tertawa kecil. “Apa hari ini jadwalmu padat hingga tidur larut malam?”
“Ya, itu benar. Seharian ini aku bersama dengan Putra Mahkota. Aku mencoba gaun pengantinku lalu makan malam bersama dengan keluarga bangsawan kelas atas,” ceritaku pada Lucas.
Hening sejenak.
“Bagaimana denganmu? Apa kehidupan baru menjadi seorang Raja mengasyikan?” tanyaku balik.
“Ayahku menumpuk banyak sekali pekerjaan secara diam-diam. Sekarang akulah yang harus menyelesaikannya sendirian,” jawab Lucas. “Sekarang aku masih di ruang kerja istana. Aku ditemani oleh Isaac yang kebetulan diperintahkan Nenek Ava untuk mengantarkan beberapa ramuan sihir untukku.”
Aku tersenyum. “Mungkin Ayahmu ingin memberimu pelajaran karena sering melanggar perintahnya.”
“Charlotte ..., berhenti menggodaku saat kita berjauhan,” keluh Lucas. “Aku bisa saja pergi ke tempatmu sekarang juga. Tapi, rakyat membutuhkanku.”
“Aku tahu,” kataku. “Untuk itulah aku menggodamu. Ngomong-ngomong, kuharap kau tidak memaksakan dirimu dan bekerja tanpa henti. Pikirkan kesehatanmu.”
Lucas tertawa renyah. “Terima kasih atas perhatiannya, calon Permaisuriku.” Kali ini Lucas yang berusaha menggodaku.
“Uhm, lebih baik kau berhenti saja sekarang,” kataku. “Kenapa kau menarik Isaac ke dalam pekerjaanmu?”
“Memangnya kau mau menggantikan Isaac dan menemaniku di sini? Uhm, itu ide yang bagus. Kita bisa saling bermesraan selagi aku menyelesaikan pekerjaanku.” Lucas pasti mulai merencanakan hal gila. Dia membicarakan hal ini tanpa peduli jika Isaac ikut mendengar percakapan kami. “Aku merindukanmu, Charlotte.”
“Aku juga, Lucas. Tapi kau tidak boleh bicara hal aneh selagi Isaac atau orang lain ada bersamamu,” tegurku padanya. “Lanjutkan saja besok hari. Kau bisa jatuh sakit jika terus-menerus bekerja.”
“Baiklah, Sweetheart. Kau tidurlah,” kata Lucas lembut.
“Selamat malam, Lucas. Salam untuk Isaac.”
“Selamat malam, Charlotte.”
Percakapan kami diakhiri dan aku pun terlelap dalam mimpi indahku.
***
Saat bangun dari tidurku, aku melihat bucket bunga mawar di atas meja dekat sofa. Aku mengucek mataku sedikit, lalu melirik Chloe yang sedang membuka tirai jendela agar cahaya matahari masuk ke dalam kamarku.
“Tidak perlu, aku akan sarapan di ruang makan,” jawabku. “Siapa yang mengirim bucket bunga itu?”
“Oh, saya hampir lupa.” Chloe mengambil bucket itu dan memberikannya padaku. “Coba cium aromanya, Nona Winston. Ini baru dipetik pagi-pagi sekali. Yang Mulia Putra Mahkota mengirimnya untuk Nona.”
Aku menghirup aroma bunga mawarnya dan melihat sepucuk surat yang diselipkan di antara bunga-bunga mawar. Kubuka surat itu dan membacanya dalam hati.
Bunga yang indah untuk orang yang indah. Semoga kau bisa bersemangat menjalani jadwalmu hari ini. Aku mencintaimu.
Idris
Hm, indah namun berbahaya. Harusnya kau berikan bunga ini pada Rose, Idris.
“Masukkan ke dalam vas agar tahan lama,” kataku pada Chloe.
“Baik, Nona Winston.”
“Selagi kau melakukan yang kuminta, tolong panggilkan Holly agar membantuku bersiap,” ucapku kemudian.
Chloe mengangguk. “Baik.”
Aku menunggu sejenak dan tak lama setelah itu, Holly masuk ke dalam kamarku. Dia sepertinya membawa beberapa surat untukku.
“Selamat pagi, Nona Winston,” sapa Holly.
“Selamat pagi, Holly. Apa itu surat-surat untukku?” tanyaku langsung.
Holly mengangguk dan menyodorkan surat di tangannya kepadaku. Aku menerima surat itu dan membaca satu demi satu surat tersebut.
Yang pertama dari Jayden. Isinya berisi beberapa informasi tentang bisnis Ayahku yang keuntungannya semakin melonjak naik karena aku telah menjadi tunangan Idris. Lalu, seperti yang telah dia katakan sebelumnya, hasil panen yang berlebih bulan ini disumbangkan ke rakyat atas namaku. Dampak yang diberikan rakyat pun cukup positif. Sekarang mereka mulai menbicarakanku. Begitulah isi dari surat yang dikirim Jayden.
Surat-surat lainnya dari beberapa bangsawan yang mengajakku minum teh di Kediaman mereka. Terlihat sepele tapi ada untungnya juga untuk menambah dukungan. Aku akan menulis balasannya sehabis sarapan nanti.
Kuletakkan surat-surat itu di atas nakas dan beranjak dari ranjang. Holly mulai membantu bersiap.
“Nona Winston, apakah Nona akan makan malam di sini?” tanya Holly selagi menyisir rambutku.
“Ya, Holly. Selain pergi ke Kediaman Harriston, aku tidak punya jadwal lain untuk hari ini. Untuk makanan penutup, aku ingin cemilan coklat,” jawabku.
“Baik, Nona Winston.”
Setelah selesai, aku berjalan menuju ruang makan bersama Holly. Karena hari ini aku tidak akan bertemu dengan Idris, aku lebih memilih untuk tidak meminum pil lagi.
Aku sarapan roti dan selai saja karena tidak terlalu lapar. Masih di ruang makan, aku mulai memikirkan beberapa jadwal kunjunganku untuk minum teh bersama dengan para bangsawan. Aku menulis surat balasan dengan hari dan waktu yang berbeda dalam seminggu berjalan ini.
Holly menerima surat yang kutulis dan memberikannya pada kurir.
“Nona Winston, apakah Nona tidak punya niatan untuk membuka kotak hadiah yang diberikan Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Chloe.
Ingat saja aku tidak. “Aku melupakan kotak-kotak itu, Chloe. Begini saja, saat aku pergi ke Kediaman Harriston, kau dan Holly yang membuka kotak-kotak itu. Tapi, apakah jumlahnya memang sebanyak itu saat terakhir kali kulihat?”
“Yang Mulia Putra Mahkota menambahkannya lagi karena sebagian kotak hadiahnya sudah Nona Winston berikan ke Kediaman Hindley,” tutur Chloe.
“Baiklah, lupakan saja itu. Sekarang, aku ingin bersiap-siap untuk pergi ke Kediaman Harriston,” kataku.
“Baik, Nona Winston.”