
Aku duduk di sofa kamarku sambil dijamu oleh Chloe. Dia memberikanku cemilan coklat kesukaanku dan juga teh melati. Kubiarkan Chloe beristirahat sambil menyulam sapu tangan untukku. Sejenak aku malah memikirkan Isla. Aku tidak sabar bertemu dengannya. Yang aku harapkan hanyalah keselamatan Isla.
Selagi aku menikmati teh dan kueku, aku bisa mendengar teriakan Rose Hindley yang mengganggu pendengaran siapa pun. Kalau dipikir-pikir lagi, tingkah Rose sekarang amat sangat berbeda dengan Rose di masa lalu. Mungkin karena sudah ketahuan berselingkuh, dia jadi lebih leluasa untuk berbuat semaunya. Apalagi ..., Idris sangat sulit melepaskan wanita itu.
“Aku ingin diangkat menjadi Selir sekarang juga!” teriak Rose.
“Pulanglah, Rose. Kita bicarakan ini berdua saja. Apa kau tidak malu didengar oleh para pelayan?!” bentak Idris.
“Aku tidak akan pulang sebelum kau berjanji untuk menjadikan aku Selirmu ....”
“Baik-baik! Kalau itu yang kau inginkan, akan kuturuti!”
Setelah itu keadaan menjadi hening. Kemungkinan besar mereka sudah bicara dengan nada normal. Baguslah. Aku benci kebisingan. Chloe bahkan mengernyitkan dahi beberapa kali karena fokusnya jadi terganggu oleh kedua parasit itu.
Harusnya mereka bertengkar di istana Kekaisaran agar heboh. Bukannya di istanaku.
“Ratu, apakah Ratu ingin cemilan lagi?” tanya Chloe.
Aku melirik piring cemilan yang sudah kosong dan mencelos. Berat badanku sepertinya mulai naik. Aku harus berolahraga agar tubuhku tetap fit.
“Tidak perlu. Aku sudah cukup kenyang, Chloe,” tolakku halus.
Clek!
Idris masuk ke dalam kamarku dengan tergesa. Dia menghampiriku dan duduk di sampingku sambil menghela nafas panjang kira-kira dua kali. Aku tidak berkata apa pun dan menghabiskan teh melatiku. Biarlah dia duluan yang bicara. Aku lelah menghadapi orang seperti Idris.
“Maaf ..., Istriku.”
“Maaf untuk apa?” tanyaku tanpa menoleh padanya.
“Soal keributan di ruang makan tadi. Rose sudah bersikap kurang ajar padamu dan mengganggu sarapan kita .... Aku pasti akan menegur Rose agar tidak melakukan hal itu lagi ....” Idris menggenggam tanganku. “Oleh karena itu ..., kau jangan marah, oke?”
Aku melepaskan tanganku dari genggaman Idris. “Minta supaya dia tidak menginjakkan kakinya lagi di Istana Ratu. Aku tidak ingin para pelayan istana ini menggosipkanku karena tindakan sembrono selingkuhanmu itu.”
“Istriku ....”
“Dan soal mengangkat Rose sebagai Selir ..., sebaiknya jangan kau lakukan dengan cepat. Jika kau mengerti maksudku, kuharap kau bisa mengabulkannya,” kataku pada Idris. Akan kucap Idris sebagai Kaisar gila jika dia berani mengangkat Rose sebagai Selir saat aku baru saja menjadi Ratu.
“Baiklah ..., aku akan mendengarkan ucapanmu, Istriku. Jangan khawatirkan apa pun. Hanya kau yang paling aku cintai.” Idris menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku cukup lama.
Aku yang paling dicintai oleh Idris? Omong kosong. Jika Ava mendengar perkataan Idris barusan, Ava adalah orang pertama yang akan tertawa dengan sangat keras.
Idris melepaskan pelukannya karena mendengar ketukan pintu kamarku. Aku memberi kode pada Chloe untuk membuka pintu. Di luar, aku bisa melihat Anna dan Hendery. Anna tersenyum, sedangkan Hendery malah terkejut saat melihatku. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran laki-laki itu.
“Maaf, mengganggu waktunya. Saya membawa tamu khusus untuk Ratu,” ucap Anna sambil menundukkan kepalanya.
Tamu khusus, huh?
Hendery memang jagonya membuat Idris panas. Sekarang saja wajah Idris sudah ditekuk karena kesal. Aku bisa melihat tangannya sudah dikepal kuat-kuat. Jika Hendery memancingnya lagi, pasti perkelahian tidak akan terhindarkan. Aku bisa dibuat pusing oleh mereka berdua.
“Tunggulah di ruang tamu, Tuan Franklin,” ucapku pada Hendery.
Demi Dewi Kebajikan, Hendery malah mengedipkan sebelah matanya padaku dan pergi. Aku tidak habis pikir pada tindakan Hendery yang sudah tidak bisa diterima oleh akal sehat. Lebih baik kutegur saja sebelum dia bertindak lebih dari itu.
Mana aku tahu dia akan datang.
“Aku tidak tahu-menahu soal itu, Idris. Dia yang datang tanpa mengabariku,” kataku kalem. “Hari ini kau harus segera pergi ke istana Kekaisaran, bukan? Sebaiknya kau bergegas.”
“Aku ingin menemanimu untuk menemuinya,” kata Idris.
Aku menoleh pada Anna yang masih berdiri di ambang pintu. “Apakah kereta Kekaisaran sudah tiba?” tanyaku padanya.
“Benar, Ratu. Kereta Kekaisaran baru saja tiba tadi. Mereka sudah menunggu Kaisar untuk kembali ke istana,” jawab Anna.
“Kau dengar, bukan?” Aku tersenyum pada Idris. “Pulanglah ke istana, akan kukirimkan laporan tentang pembicaraanku dengan Tuan Franklin nantinya. Kami akan membicarakan pelantikannya sebagai kesatria pribadiku.”
“Uhm, tidak perlu sampai seperti itu. Aku percaya padamu, tapi bukan berarti aku percaya pada anak Marquess Franklin,” ucap Idris. “Jangan sampai dia menyentuhmu dengan sembarangan, oke?”
Memangnya siapa yang mau disentuh dengan sembarangan, kecuali terpaksa?
Aku hanya bisa mengangguk dan pasrah saat dikecup di kening oleh Idris. Dia kemudian pergi meninggalkan Istana Ratu dengan kereta Kekaisaran. Akhirnya aku bisa bernafas lega meski hanya sejenak.
“Anna, suruh pelayan untuk menjamu Tuan Franklin dan panggil dua pelayan ke kamarku,” titahku pada Anna.
Anna hanya mengangguk. “Baik, Ratu.” Anna kemudian pergi meninggalkanku dan juga Chloe.
“Tolong siapkan kertas dan pena bulu,” pintaku pada Chloe.
Chloe dengan sigap menata kertas dan pena bulu di atas meja tinggi yang ada di kamarku. Aku duduk di kursi kecil dan mulai menulis surat untuk Ayahku. Setidaknya aku ingin mengirimkannya kabar baikku agar dia tidak cemas. Akan kubiarkan Hendery menungguku sebagai balasan karena bersikap genit tadi.
Aku membaca lagi surat yang kutulis untuk Ayahku dan tersenyum.
Untuk, Ayah.
Aku menulis surat ini secepat yang aku bisa untuk dikirimkan secara cepat pula kepada Ayah. Aku baik. Ayah tidak perlu terlalu khawatir tentang kondisiku. Aku juga sangat senang jika Ayah ingin mampir ke sini. Jaga kesehatan dan jangan terlalu memaksakan diri.
Aku mendoakan kesehatan Ayah, Jayden, Layla, dan seluruh penghuni kediaman kita. Tolong balas suratku jika Ayah punya waktu luang.
Tertanda, anakmu Charlotte.
Aku melipat suratku dan memberikannya cap khusus milik Istana Ratu. Aku berdiri dan memberikan suratku pada Chloe.
“Perintahkan kurir untuk mengantarkannya pada Kediaman Winston,” ucapku pada Chloe.
“Baik, Ratu. Saya permisi.”
Aku hanya mengangguk dan tak lama kemudian, dua orang pelayan masuk ke dalam kamarku. Aku pun memerintahkan mereka berdua untuk membantuku mandi, memilihkan gaun, dan juga menata rambutku.
Aku yakin seratus persen jika Hendery mulai bosan menunggu seperti waktu itu. Biarlah. Semoga dengan begini, Hendery jadi jera dan tidak macam-macam lagi denganku.