The Second Life

The Second Life
Bab 29: Vendry sakit



Selama lebih kurang seperempat hari, Felice menghabiskan waktunya hanya duduk dan mendengarkan lagu di kelasnya tanpa melakukan aktivitas apa pun yang berlebihan. Gadis kecil itu hanya mengubah posisi duduk nya selama beberapa jangka waktu tertentu untuk mencegah kekakuan pada otot tubuhnya.


Selama jangka waktu ini, Feline sudah kembali ke kelas untuk mencari kakaknya beberapa kali. Gadis kecil yang ceria itu membawakan berbagai berita yang menurutnya menarik dan membelikan beberapa makanan ringan untuk kakaknya. Feline sengaja ingin memikat kakaknya dengan cerita menarik yang agak dibesar-besarkan olehnya pada beberapa tempat, namun sayangnya Felice tidak terpengaruh dan tetap mempertahankan keinginannya untuk bersantai di kelas.


Melihat keteguhan hati sang kakak atau lebih tepatnya mungkin kemalasan Felice yang tiba-tiba melonjak, Feline merasa sangat tidak berdaya. Dia sungguh tidak paham dengan kemalasan kakaknya yang tiba-tiba ini. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan lagu yang didengar oleh kakaknya, memangnya lagu apa yang membuat kakak perempuan tersayangnya betah bersarang di satu tempat tanpa bergerak seperti ulat bulu yang malas?


Feline mengajukan rasa penasarannya, namun respon yang didapatnya agak membingungkan. Sang kakak yang sedang memejamkan kedua matanya dan memiliki penampilan malas itu tiba-tiba membuka sepasang mata tersebut dan menatapnya dengan sepasang mata yang menurut Feline agak membuatnya tidak nyaman.


Namun di detik berikutnya Felice membuka senyuman ringan dan mengacak-acak pelan rambut adik perempuannya.


"Sejenis lagu membosankan yang akan membuatmu tidak ingin mendengarkannya setelah sepuluh detik."


Tingkah laku dan jawaban main-main Felice, membuat adiknya langsung melupakan emosi kejanggalan yang baru dirasakannya. Feline mengerucutkan bibir mungilnya dan mengangkat kedua tangan kecilnya untuk merapikan rambut yang sedikit berantakan oleh ulah tangan nakal kakaknya.


Akhirnya setelah meninggalkan beberapa snack tambahan, Feline kembali meninggalkan kelas dengan wajah cemberut yang membuat Felice tidak berhenti tersenyum.


Felice mengambil sebuah bungkus kripik dari meja dan pandangannya tertuju pada jam yang terpasang di kelas.


Sudah jam 2.


Felice mematikan lagu yang diputarnya dan melepaskan headset nya sebelum merenggangkan lehernya yang agak kaku. Sebuah bayangan seorang pemuda melintas di benak Felice. Ini agak aneh, seharusnya Vendry sudah masuk ke kelas untuk memeriksa absensi.


Wali kelasnya tidak masuk di pagi hari, jadi Felice mengira kalau Vendry akan masuk setelah istirahat siang hari. Tapi lonceng sudah berbunyi dan waktu istirahat juga sudah berlalu sekitar hampir dua jam, namun wali kelasnya justru tidak terlihat bahkan bayangannya?


Ini tidak biasa.


Dan kalau dari pesan yang disampaikan oleh Gracia dan Derrick di pagi hari, dia seharusnya mencari Vendry untuk membahas topik undangan pertandingan yang baru sampai ke telinganya. Kalau begitu seharusnya sekarang Vendry ada di kantornya?


Keraguan terlintas di benak Felice. Gadis kecil itu menyimpan barang-barangnya dan mengambil satu plastik isi jajanan yang dibelikan oleh adiknya. Karena Vendry tidak terlihat batang hidungnya seharian, kalau begitu dia saja yang pergi mencari gurunya itu.


Adapun makanan ringan yang dibawanya, mungkin dia bisa menawarkan beberapa kepada gurunya itu untuk kemajuan diskusi yang menyenangkan nantinya. Ya... lebih tepatnya mungkin bisa dikatakan sebagai suap...


Pikiran kekanak-kanakan itu terlintas di otak kecil Felice dan perasaan geli pun terlintas di benak gadis kecil itu. Semenjak dia menjadi kecil, pikirannya pun ikut mundur hingga menjadi kurang masuk akal seperti ini. Benar-benar ya... kebiasaan buruk ini harus diubah.


Felice mengambil kertas pendaftaran di satu tangan dan plastik berisi snack di tangan lainnya sambil bersenandung ringan. Beberapa teman yang mengenalnya berhenti dan menyapa Felice. Ketika Felice mengangguk sebagai tanggapan dan tersenyum kecil, teman-temannya agak terheran-heran dengan kelakuan jarang gadis kecil itu. Tidak biasanya Felice memiliki suasana hati sebaik itu.


Setelah beberapa saat, Felice tiba di kantor Vendry. Gadis kecil itu mengetuk pintu, namun tidak ada tanggapan dari dalam. Felice mengerutkan keningnya, dia menunggu selama beberapa saat sebelum memutar ganggang pintu dan masuk ke dalam.


Kerutan di antara alis Felice sudah sedikit merenggang, namun kebingungan masih terlintas di kedua pupil hitamnya saat dia melihat kalau kantor itu kosong.


Vendry tidak masuk ke kantornya hari ini.


Meja Vendry tidak memiliki termos air panas yang biasa selalu diletakkan pria itu di tempat yang sama, tanggal pada kalender tidak ditandai seperti yang selalu dilakukan oleh pria itu, pena yang dipajang di rak kecil pada meja masih tersusun rapi tanpa satu pun yang berkurang dan itu jelas tidak sesuai dengan kebiasaan Vendry yang selalu membawa satu pena pada dirinya kemana pun dia pergi sebelum meletakkannya kembali ke rak saat akan pulang.


Masih ada detil lainnya seperti pot kecil yang terletak di dekat pintu masih sangat kering yang mana artinya Vendry belum menyiram tanaman itu. Dari yang Felice ketahui, Vendry akan selalu menyiram pot tanaman saat pukul 12 siang, tepatnya jam istirahat siang. Ini adalah kebiasaan yang selalu dipertahankan pria itu setelah Felice melihatnya sendiri pada beberapa kesempatan.


Dan yang paling penting, sirkulasi udara di ruangan itu sedikit lebih pengap dan suhunya juga lebih panas dari biasanya. Dia rasa hampir semua orang yang mengenal Vendry pasti tahu kalau kantor pria itu selalu terasa sejuk dengan AC yang tetap terbuka dengan suhu nyaman meskipun dia tidak berada di kantor. Ini adalah tindakan yang cukup boros, namun Vendry yang terkenal sangat disiplin ini justru selalu mempraktikkan kebiasaan buruknya itu. Jadi Vendry seharusnya adalah tipe orang yang tidak tahan dengan suhu panas.


Dari saat Felice membuka pintu, udara pengap dan suhu yang sedikit lebih tinggi dari biasanya sudah memberitahu Felice kalau wali kelasnya tidak masuk ke kantornya hari ini. Detil-detil kecil yang tampak juga memberitahu Felice kalau dugaan awalnya tidak salah.


Jadi Vendry tidak datang hari ini?


Tapi kenapa?


Kesimpulan itu membuat Felice bertanya-tanya apa alasannya. Soalnya Vendry sangat disiplin hingga terbilang kadang cukup perfeksionis. Orang itu akan selalu memenuhi prinsipnya tanpa ada kata kelalaian di kamusnya. Karena itulah tidak mungkin Vendry tidak masuk kerja hanya karena malas dan tidak ingin datang.


Di tengah kesibukan pikirannya, suara wanita yang dikenal Felice masuk ke telinganya.


"Felice apa yang kamu lakukan di sini? Hari ini Pak Vendry tidak masuk kerja, Nak," ujar Ella yang muncul di dekat tangga dan berjalan menuju tempat Felice.


Felice berbalik dan melihat wajah tersenyum Ella, dia mengangguk sedikit dan menyapa kepala sekolahnya, "Selamat siang, Bu. Aku mencari Pak Vendry karena ingin mendiskusikan soal undangan pertandingan yang baru kuterima dari guru lain tadi pagi."


Ella tersenyum dan mengangguk sebagai isyarat pemahaman sambil menutup pintu setelah Felice keluar dari kantor dengan pintu yang masih terbuka.


"Mungkin besok atau mungkin lusa ya, Nak. Pak Vendry kurang sehat, jadi dia izin selama beberapa waktu singkat ini," ujar Ella.


Felice menatap serius kepala sekolahnya, riak keterkejutan sedikit bergetar di benak Felice.


Vendry sakit?


Itu adalah alasan yang tidak diantisipasi oleh Felice. Pria itu jelas masih baik-baik saja semalam, kenapa hari ini tiba-tiba sakit? Apalagi Vendry tampaknya bukan orang yang mudah sakit, jadi dari mana sumber penyakit menginfeksi dirinya?


Felice mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Ella untuk informasi yang diberikan kepadanya sebelum berbalik dan meninggalkan tempat tersebut.


Wajah tersenyum Ella masih tidak berubah, namun ketika Felice berbalik, sepasang mata yang tersenyum itu menampakkan kilasan emosi tidak jelas yang tidak disadari oleh Felice.


Setelah punggung Felice menghilang dari pandangannya, wajah ramah Ella terhanyut perlahan dan berubah menjadi wajah tanpa ekspresi yang tidak sesuai dengan citra dirinya. Ella mengalihkan pandangannya ke kantor Vendry dan memutar ganggang pintu untuk membuka pintu tersebut sebelum masuk dan pintu tertutup dengan suara 'klek' yang pelan.


Di sekitar ruangan yang tidak memiliki pejalan kaki itu, tidak ada yang menyadari keanehan perilaku kepala sekolah mereka.