
“Suruh dia pergi!” teriak Ratu dari dalam ruangannya.
Aku hanya diam di ambang pintu sambil menatap Ratu yang sekarang memasang wajah yang jauh dari kata ramah. Chloe menundukkan kepalanya sambil terlihat gemetar. Aku agak kasihan padanya.
Jack tetap diam dan tak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri. “Yang Mulia Ratu, saya harap Anda menerima kunjungan ini karena ini adalah permintaan langsung dari Yang Mulia Putra Mahkota.”
Ratu sama sekali tidak mau mengalah. “Anggap saja kita sudah melakukan kunjungan tersebut. Kau boleh pembawa wanita itu pergi,” katanya pada Jack.
“Baiklah jika itu mau Yang Mulia Ratu, kami akan pergi dari sini,” kataku sambil menunduk. “Semoga Yang Mulia Ratu diberkati Dewi Kebajikan.”
Kepala Pelayan Kekaisaran ternyata ada di samping Ratu. Mungkin Ratu menyuruh Kepala Pelayan tersebut agar tetap di dekatnya saat aku datang. Aku tidak peduli pada pandangan Ratu terhadapku yang melenggang pergi tanpa menunggu responnya.
Jack dan Chloe mengikutiku dari belakang, lalu aku terpikirkan satu hal. Bagaimana jika aku mengunjungi Idris agar dia berpikir aku perhatian padanya?
“Jack, apakah Putra Mahkota sedang ada di ruang kerjanya?” tanyaku pada Jack.
“Benar, Nona Winston. Jika Nona ingin mengunjungi Yang Mulia Putra Mahkota, saya mohon urungkan saja niat Nona itu. Yang Mulia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun,” jawab Jack.
“Termasuk aku?”
“Ya, Nona Winston. Termasuk Anda.”
Aku tidak peduli dan berjalan menuju ruangan kerja Idris dengan langkah panjang. Akan kulihat sedikit saja ... apa yang dilakukan oleh Idris. Jika aku memiliki sikap yang seperti di masa lalu, aku pasti sudah langsung pulang seperti yang diinginkan Jack dan juga Idris. Tapi kata hatiku berkata untuk tetap pergi melihat Idris.
Lenganku malah dipegang oleh Jack dengan kasar. Aku melotot dan mencoba melepaskan lenganku darinya.
“Lancang sekali kau!” bentakku marah. “Meskipun aku hanyalah seorang anak Viscount, tapi aku tetaplah seorang bangsawan dan juga calon istri Putra Mahkota. Kau tidak bisa sembarangan memegangku!”
Jack memasang wajah tak peduli. Sejak awal, kami memang tidak cocok. Dan Jack adalah tangan kanan kepercayaan Idris. Dia sepertinya jadi besar kepala.
“Mari saya antar Nona ke kereta,” kata Jack yang sudah melepaskan lenganku.
“Tidak. Sudah kubilang aku akan tetap menemui Putra Mahkota,” ucapku keukeh. Aku berjalan lagi dan kini Jack tidak menahanku. Dia diam dan mengikutiku dari belakang bersama Chloe.
Jantungku berdegup kencang saat sudah berada di depan ruang kerja Idris. Perasaan apa ini? Apakah ada sesuatu yang buruk di dalam?
“Masih ada kesempatan untuk Nona Winston pergi sekarang,” kata Jack misterius.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.
Jack diam dan kuputuskan untuk membuka pintunya.
Clek!
Wah. Ternyata ini hal yang ingin disembunyikan oleh Jack? Ini sih ... kacau sekali. Apa ini arti bucket mawar yang diberikan oleh Idris? Atau itu sebenarnya memang bukan dari Idris?
Melainkan dari Rose?
“Charlotte?” Idris terkejut saat melihatku menangkap basah dirinya dengan Rose yang kala itu bergelayut manja di bahunya sendiri. Idris berdiri dan menjauhkan dirinya dari Rose. Dia menghampiriku. “Charlotte ..., apa yang kau lakukan di sini?”
Kenapa dulu aku sangat bodoh? Kenapa aku percaya dengan laki-laki yang tidak tahu malu seperti dia?
Aku memilih tersenyum. “Maaf telah mengganggumu, Idris. Jangan salahkan Jack karena aku sendiri yang memaksa untuk menemuimu sehabis kunjunganku dengan Yang Mulia Kaisar dan juga Yang Mulia Ratu.”
Idris meletakkan tangannya ke bahuku. “Yang kau lihat sekarang tidak seperti yang kau duga. Tolong percaya padaku,” kata Idris.
“Oh, maksudmu kau dan wanita penggoda itu?” tanyaku dengan suara keras. “Aku sudah tidak masalah soal itu Idris. Sebagai seorang calon Kaisar, memiliki lebih dari satu wanita adalah hal yang wajar, bukan?”
Aku pun menunduk untuk memberi salam. “Karena aku di sini hanya ingin melihatmu sejenak, kalau begitu aku pulang dulu.”
“Oh, terima kasih atas bucket mawar yang sudah kau kirimkan untukku. Aku sangat menyukainya,” kataku lagi.
“Bucket mawar?” Idris sepertinya memang tidak memberikannya. Jadi memang benar Rose ingin membalasku atas hadiah yang kuberikan padanya dari Idris untukku tempo lalu.
“Sudahlah. Lupakan saja hal itu, Idris. Aku permisi.”
Aku berbalik pergi meninggalkan Idris. Seperti yang sudah kuduga, aku tidak dikejar olehnya. Ya, dari dulu sosok yang kupikir adalah belahan jiwaku itu diam-diam menyimpan wanita lain di hatinya. Jika sekarang aku masih sama seperti diriku yang dulu, apa yang aku lakukan?
Sedih? Marah? Atau mungkin tabah? Hm, itu semua adalah tindakan bodoh.
“Nona Winston,” panggil Jack.
Aku menoleh ke belakang. “Ada apa?”
“Saya kan sudah memperingati Anda,” kata Jack. Dia lalu menyodorkan sapu tangan dari saku jasnya. “Tolong ambil ini. Nona Winston mungkin membutuhkannya.”
Apa Jack memang seperti ini?
Kuterima sapu tangan itu dan tersenyum. “Baiklah, Jack. Akan kukembalikan setelah selesai dicuci nanti. Terima kasih.”
Aku masuk ke dalam kereta bersama dengan Chloe. Kuberikan sapu tangan itu pada Chloe dan memandang keluar jendela. Tenggelam dalam lamunanku sendiri sambil ditemani pemandangan langit sore yang memerah.
Kulirik Chloe yang menatapku. Sepertinya dia daritadi ingin bicara sesuatu.
“Bicaralah, Chloe. Jangan disimpan dalam hati,” ucapku padanya.
“Nona Winston, tak masalah jika Nona menangis di sini,” kata Chloe polos. “Aku akan menjaga rahasia.”
Aku tertawa. “Terima kasih telah menghiburku, Chloe. Tapi aku baik-baik saja. Yang Mulia Putra Mahkota berhak untuk bahagia dengan siapa saja selama dia tetap memilihku sebagai Ratunya.” Ya, setidaknya dia bisa bahagia meskipun dalam waktu singkat saja. “Untuk makan malam nanti, tolong masakkan makanan kesukaanku.”
Chloe mengangguk. “Baiklah, Nona Winston.”
Setidaknya aku masih punya Lucas yang tempatku bersandar. Dewi, apa tak masalah bagiku untuk bersandar padanya saat ini? Aku takut untuk kecewa yang kedua kalinya sekarang.
Perasaanku pada Lucas sebenarnya sangatlah serius.
***
“Kata Ibunda, kita tidak boleh main lagi,” ucap seorang anak laki-laki yang sepertinya kukenali. “Ibunda bilang kalau Ibumu itu penyihir jahat.”
Aku melihat diriku sendiri dalam bentuk anak kecil berada di depan anak itu. “Ibuku bukan penyihir jahat!” kataku.
“Bukan? Kalau begitu Ibundaku berbohong?”
Aku mengangguk. “Itu benar, jika bukan karena Ibuku ..., kau dan juga Yang Mulia Kaisar sudah ...”
Aku terbangun dari mimpi aneh itu. Yang kulihat pertama kali adalah Chloe yang membawakanku teh dan sarapan pagi ke kamarku.
“Selamat pagi, Nona Winston. Apakah tidurmu nyenyak?” tanya Chloe.
Aku beranjak dari ranjang sambil memasang senyum untuknya. “Ya, Chloe. Aku tidur sangat nyenyak.”
Kunikmati sarapan yang dibawakan oleh Chloe sambil mencoba melupakan mimpi aneh tersebut.