The Second Life

The Second Life
LI - Pengadilan Tinggi (V)



Hakim Agung terlihat tengah membaca sebuah kertas yang ada di meja tingginya. Dia menghela napas lalu menatap seluruh hadirin yang ada di ruangan sidang.


Idris tak berniat melepaskan genggaman tangannya dariku. Aku sangat tak nyaman dengan perlakuan manisnya. Rasanya sangat terbebani dan terasa menjijikkan.


Yang lebih penting, aku lebih tertarik pada keputusan akhir dari Hakim Agung terkait sidang ini. Saat kulihat Marchioness Franklin, wajahnya menyiratkan ekspresi gelisah. Sepertinya dia sudah tahu jika akan kalah dalam sidang yang dia ajukan sendiri. Aku sudah yakin jika Idris telah berhasil meyakinkan Hakim Agung.


“Baiklah, sidang kali ini akan kita lanjutkan kembali,” ucap Hakim I.


“Dari pernyataan yang sudah dinyatakan oleh penuntut, saksi, maupun pembela, kami pihak Pengadilan Tinggi mengambil beberapa keputusan yang bisa dijadikan bahan acuan untuk hasil akhirnya,” ucap Hakim Agung. “Dan dari hasil tersebut, kami memutuskan—”


Rose tiba-tiba saja berdiri dan mengangkat tangannya. “Hakim Agung!” seru Rose percaya diri. “Aku memohon ijin untuk bicara.”


Aku tidak tahu apa sebenarnya maksud dari tindakan Rose. Tapi Idris kelihatan tidak kaget dengan hal itu. Mungkin saja mereka sudah bekerja sama untuk melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Tidak ada satu pun petunjuk.


“Baiklah, silahkan.” Hakim Agung memberi ijin kepada Rose untuk bicara.


“Karena hal ini menyangkut calon Ratu di masa depan, bagaimana jika kita melakukan vote untuk memutuskan hasil akhirnya? Sidang ini dihadiri oleh berbagai kalangan. Dari penguasa Kekaisaran Vanhoiren, bangsawan kelas atas, bangsawan biasa, dan bahkan beberapa perwakilan dari rakyat Vanhoiren,” usul Rose. “Jika caranya seperti itu, kita bisa tahu pendapat semua kalangan tentang calon Ratu masa depan.”


Apakah ini Rose yang kukenal? Rasanya sikap Rose jadi berbeda dari yang biasanya. Bisa jadi Rose dan Idris sibuk membicarakan hal ini saat makan siang dan Idris sengaja membiarkan Rose yang bicara untuk menaikkan nilai Rose di mata orang banyak.


Hakim Agung bersama dua hakim pendampingnya berbisik-bisik untuk saling mengutarakan pendapat mereka tentang usulan Rose. Hakim Agung bahkan harus mendekati Kaisar dan bicara secara pribadi dengan beliau. Begitu semuanya mengangguk, Hakim Agung pun menatap Rose.


“Baiklah. Kau bisa duduk kembali, Nona,” ucap Hakim Agung. Rose pun langsung duduk. “Apakah pihak Penuntut dan juga Pembela tidak masalah dengan usulan Nona tadi?”


“Sama sekali tidak,” jawab Idris.


“Pihak kami juga menerima hal tersebut. Usulan itu bisa menyadarkan seseorang agar tetap berada di tempat yang pantas untuknya,” ucap Marchioness Franklin yang disertai oleh sindiran untukku.


“Baiklah. Kalau begitu ..., kami akan menyiapkan dua kertas berwarna merah dan juga biru. Yang biru untuk mendukung pernyataan Pembela, sedangkan yang merah untuk mendukung pernyataan Penuntut. Pilihlah salah satu, lalu masukkan ke dalam kotak suara yang akan dijalankan bergilir,” jelas Hakim II.


Salah satu petugas Pengadilan Tinggi yang berjaga di dalam ruangan sidang langsung keluar untuk mempersiapkan hal-hal yang telah disebutkan oleh Hakim II. Kami menunggu sekitar lima belas menit hingga akhirnya petugas tersebut kembali bersama satu rekannya yang membawa kotak suara berwarna hitam dan juga kertas kecil berwarna biru dan merah dalam jumlah yang sama.


Kami dibagikan kertas tersebut secara bergiliran. Dan hal itu membutuhkan waktu yang lama pula. Setelah semua kertas terbagi rata, kotak suara pun dijalankan oleh petugas. Semua hadirin mulai mengisi pilihan mereka dalam kotak tersebut.


“Karena semuanya sudah memberi hak suara, kami akan menghitungnya secara langsung di sini,” ucap Hakim Agung.


Hakim Agung kemudian memberi kode kepada petugas Pengadilan Tinggi dan mereka pun lagi-lagi keluar lalu kembali dengan alat tulis, meja, dan kursi.


“Kami mewakili nama baik Pengadilan Tinggi akan berbuat dan berkata dengan jujur atas nama Dewi Kebajikan dan penguasa Kekaisaran Vanhoiren,” ucap salah satu petugas.


Lalu kemudian ..., mereka mulai menghitung. Yang satunya mengecek kotak suara, yang satunya lagi mencatat hasil dari kedua kubu. Tidak butuh waktu lama untuk bisa menyelesaikan hal tersebut. Hasil akhirnya diberikan kepada Hakim Agung untuk diumumkan pada kami. Kedua petugas tersebut pun undur diri dari dalam ruangan sidang.


“Dari hasil vote yang sudah dihitung oleh petugas Pengadilan Tinggi, kubu yang unggul dan otomatis menang adalah ... kubu Pembela,” ucap Hakim Agung.


Marchioness Franklin berdiri. “A-Apa?! Hakim pasti keliru! Ba-Bagaimana bisa?!” teriaknya histeris.


Seisi ruangan menjadi gaduh. Apalagi bagi para pendukung Marchioness Franklin. Hasil yang didapat membuat mereka kecewa. Hakim Agung kembali mengetuk palunya hingga semuanya diam. Aku melirik Kaisar dan Ratu yang sedaritadi hanya diam. Saat ini mereka berada di posisi netral. Mereka bahkan tidak memilih siapa pun saat voting tadi.


“Baik hasil vote maupun lewat keputusan kami, pihak Marchioness Franklin tetap tidak bisa menang,” jelas Hakim Agung. “Oleh karena itu, Marchioness Franklin sudah terjerat kasus pencemaran nama baik dan juga sengaja membuat perpecahan di antara sesama bangsawan. Hukuman yang bisa Marchioness Franklin dapatkan tentu saja berat. Tapi, mengingat jasa-jasa keluarga Franklin untuk Kekaisaran Vanhoiren, kami memutuskan untuk mendengarkan tanggapan dari penguasa Kekaisaran.”


Kulihat Kaisar hendak berdiri, tetapi ditahan oleh Ratu. Sudah kuduga. Ratu pasti hendak melindungi Marchioness Franklin karena mereka berada di satu kapal yang sama. Ratu akhirnya berdiri dan menggantikan Kaisar bicara.


“Yang dilakukan oleh Marchioness Franklin adalah hal yang wajar bagi seorang wanita. Kami tergolong sebagai orang yang penuh pertimbangan menurut perasaan. Jelas saja dari awal Kekaisaran ini berdiri, yang menjadi tonggak para penguasa adalah seorang Ratu yang kuat dan dari keluarga terpandang. Yang berkuasalah yang memiliki banyak peluang untuk menggerakkan segalanya,” tutur Ratu.


“Oleh karena itu, calon tonggak masa depan yang memiliki latar belakang yang jauh dari ekspektasi membuat kami khawatir. Jika Hakim Agung berkenan, hukumlah Marchioness Franklin dengan membatasi pergerakannya dalam waktu lama,” lanjut Ratu.


Hakim Agung mengangguk paham dan Ratu pun duduk.


“Karena penguasa Kekaisaran Vanhoiren sudah bicara seperti itu, kami dari pihak Pengadilan Tinggi akan dengan senang hati menerimanya,” ucap Hakim Agung. “Mulai hari ini, Marchioness Gracie Nicholson Franklin akan dijatuhi hukuman selama setahun penuh. Marchioness harus tetap berada di kediamannya dan dilarang untuk mengikuti kegiatan apa pun di luar. Jika melanggar, Marchioness akan diberi denda sebanyak seribu koin emas.”


Tak! Tak! Tak!


Hakim Agung mengetukkan palunya sebanyak tiga kali. Pemberian hukuman itu sekaligus mengakhiri sidang hari ini. Ratu berhasil melindungi Marchioness Franklin, sedangkan aku berhasil mempertahankan posisiku sebagai calon Ratu.