
Chloe keluar dari kamarku setelah selesai mengobati luka di kakiku. Seluruh kekacauan sudah dibereskan pelayan lain. Kini, tinggal aku sendiri di kamarku. Di saat yang bersamaan, Ava muncul di depan ranjangku dengan lingkar mata yang sangat gelap.
Sepertinya Ava tidak tidur semalaman. Aku bangun dan tersenyum padanya, tapi dia hanya bersikap dingin dan duduk di sofa tanpa permisi. Perasaanku jadi tidak enak. Kupakai sandalku, dan mendekati Ava untuk mencari tahu apa maksud dari kedatangannya. Aku juga masih ingin tahu berita tentang Isla.
“Ada apa? Apa ada sesuatu?” tanyaku pada Ava.
“Isaac tidak mau lepas dari jasad Isla sampai detik ini. Padahal akan lebih baik jika Isla segera dimakamkan dalam kondisi terbaiknya,” ucap Ava. “Aku pusing memikirkannya. Terlalu banyak anak-anak merepotkan yang berada di sekitarku.”
Aku menatapnya.
“Bukan kau, Ratu. Aku membicarakan anak-anak yang lain.” Ava melipat tangannya. “Karena kesal, aku kembali ke istana Selir Sienna dan menghajar tubuhnya. Orang di dalam tubuh Selir itu tidak sadar.”
“Apa tidak apa-apa melakukan hal itu?” tanyaku was-was. “Maksudku, bisa saja Selir Sienna kembali dan melakukan sesuatu.”
Bukannya takut, Ava malah tertawa. “Kembali? Mana mungkin! Melakukan sihir pertukaran tubuh menguras banyak mana, pastinya dia tidak akan bisa melakukan sesuatu untuk kedepannya. Kita bisa memakai kesempatan itu untuk melumpuhkan Selir Sienna.”
Benar juga. Tapi, aku merasa jika rencana ini bukanlah hal yang benar. Selir Sienna diberitakan sedang sakit, otomatis semua mata tertuju padanya. Dia adalah wanita terpandang di Vanhoiren, sekaligus wanita yang tidak disukai oleh bangsawan kelas atas lain. Dengan sakitnya dia, banyak bangsawan yang mempertajam informan mereka padanya.
Oleh karena itu, aku takut jika sampai ada pergerakan mencurigakan sedikit saja, para bangsawan kelas atas itu akan tahu yang sebenarnya. Akan tahu jika ada orang yang berniat mencelakai Selir Sienna. Akan tahu jika orang itu ada adalah orangku. Dan akan tahu jika sihir masih ada di wilayah ini.
Bukankah itu hal yang agak berbahaya sekaligus bisa menjatuhkanku?
“Apa kau ragu?” tanya Ava, sepertinya Ava tahu kekhawatiranku tentang rencananya.
“Bisakah kita memikirkan hal itu lagi nanti? Sebenarnya, aku mengalami sedikit masalah,” ucapku. “Kupikir kau tahu akan hal itu.”
“Oh. Masalah penyerangan dan kesatria yang idiot, ya?” Ava terkekeh. “Kau mau menginterogasi pelayan itu?”
Aku mengangguk. “Rencananya, aku ingin menginterogasi pelayan itu malam ini.”
“Baiklah. Aku akan ikut membantumu,” kata Ava. “Kebetulan aku ingin mencari pelampiasan emosiku. Ternyata datang juga solusinya.”
“Uhm, jangan bilang—”
“Tentu saja aku membantumu untuk bagian tukang pukulnya,” potong Ava. “Kuserahkan bagian tanya-tanyanya kepadamu. Kau bosnya.”
“Bos? Aku pikir itu sebutan yang berlebihan.” Aku merendah. “Ngomong-ngomong, soal Isla—”
“Jangan bahas itu. Aku sedang kesal pada Isaac,” potong Ava—lagi. “Biarkan aku tenang sedikit saja.”
Tok! Tok! Tok!
Aku dan Ava langsung saling berpandangan. Aku memberi kode pada Ava untuk segera menghilang, bersembunyi, atau apa pun yang bisa membuat keberadaannya tidak diketahui oleh orang yang mengetuk pintu.
Namun, tanggapan Ava membuatku agak kaget.
“Suruh dia masuk, aku ingin bertemu dengan kesatria idiotmu,” ucap Ava percaya diri.
“Tapi—”
“Ratu, ini aku,” ucap Hendery.
“Masuklah,” kataku dengan amat terpaksa.
Ava hanya diam dan tetap duduk di sofa sambil memangku kaki dan melipat kedua tangannya ke depan. Aku tidak tahu apa maksud dari tindakan Ava. Aku hanya berharap, Hendery akan baik-baik saja.
Begitu Hendery masuk dan menutup pintu, laki-laki itu membatu di samping pintu kamarku. Ah, sepertinya dia melihat kehadiran Ava.
“Tukang yang akan memperbaiki jendela Ratu akan segera datang,” jawab Hendery.
Aku mengangguk paham. “Baiklah. Itu aja yang ingin kau sampaikan?”
“Ya, Ratu.” Hendery menunduk hormat. “Ngomong-ngomong, aku tidak tahu jika Ratu punya tamu.”
Ava berdiri dan mendekati Hendery. “Hoo, kau penasaran padaku?”
Bisa kulihat Hendery merinding saat didekati oleh Ava.
“Uhm, tidak Nona,” ucap Hendery.
Plak!
“Panggil aku Nyonya,” kata Ava setelah melayangkan tamparan ke pipi kiri Hendery.
Hendery sangat kaget dengan tindakan spontan Ava. “Ya ampun. Masih kecil sudah minta dipanggil Nyonya. Lalu kasar pula. Jangan tidak sopan begitu, Ratu melihat tindakanmu, Nona kecil.”
“Cukup, Kesatria Franklin.” Lebih baik kulerai sebelum Ava membuat Hendery babak belur. Aku bisa merasakan aura Ava yang emosional mulai muncul.
Sepertinya aku terlambat, Ava sudah terlebih dahulu menendang masa depan Hendery hingga laki-laki malang itu jatuh ke lantai. Ava menatapnya tanpa menunduk. Aku terkejut melihat hal itu. Hendery mengaduh kesakitan. Harusnya aku juga melakukan hal itu pada Idris nanti.
“Aku tahu jika kau itu sangat menginginkan gelar tinggi pada Charlotte,” ucap Ava pada Hendery. “Dan aku juga tahu jika kau sudah mengetahui tentang rencana Charlotte untuk menggulingkan Kaisar XX.”
“Si-siapa kau se-sebenarnya?” tanya Hendery susah payah.
“Siapa aku? Aku tukang pukul Charlotte,” ucap Ava lantang. “Jika kau berani membocorkan rahasia ini pada orang lain, akan kupelintir lidahmu sampai copot dari tempatnya. Kau mengerti?”
Hendery hanya diam. Oleh karena itu, Ava menendang perut Hendery. “Sekali lagi aku tanya, kau mengerti?”
“Ya!” teriak Hendery.
“Bagus.” Ava tersenyum dan mengalihkan pandangannya padaku. “Aku ingin cari angin. Nanti malam aku akan kembali lagi untuk membantumu untuk melakukan itu.”
Itu maksudnya adalah memukuli Belka.
“Baik.” Aku hanya bisa melihat Ava yang keluar dari jendela dan terbang menjauhi istana. Hendery terlihat takjub akan hal itu. Aku membiarkan Hendery bergumul dengan pikirannya sendiri.
“Ratu, apakah dia penyihir?” tanya Hendery yang masih kebingungan sekaligus kesakitan.
“Kau sudah lihat sendiri,” jawabku asal. “Seperti yang sudah kau dengar darinya tadi, aku tidak mentolerir adanya pengkhianatan. Jadi, pikir-pikir lagi untuk menusukku dari belakang.”
“Tentu tidak,” kata Hendery. “Selagi Ratu memegang janji Ratu, aku akan berusaha sebisa mungkin membantu Ratu dan menjaga Ratu.”
Aku tersenyum. “Baiklah, mendengar kau berkata seperti itu, aku jadi tenang.”
“Jadi, apakah gajiku bisa—”
“Tidak,” potongku kesal. “Keluarlah jika sudah tidak ada urusan lagi.”
Hendery terlihat ingin menumpahkan air matanya dan bersujud di kakiku, tapi dia tidak melakukan hal itu dan lebih memilih pergi karena takut pada ancaman Ava. Laki-laki seperti dia tidak boleh dimanja. Harus ada sedikit rasa tegas dariku.
Sekarang, aku hanya perlu menunggu hingga malam tiba, dan melancarkan aksiku untuk menginterogasi Belka bersama dengan Ava.
Aku hanya berharap jika Ava tidak terlalu keras pada pelayan itu. Meski pelayan itu mencoba untuk membunuhku tadi.