
Akhirnya aku memakai gaun pengantin yang kupilih tempo lalu. Chloe yang akan menjadi salah satu bridesmaid-ku bersama beberapa pelayan dari keluarga bangsawan. Aku bisa jantungan jika Idris diam-diam menyisipkan Rose di dalamnya. Semoga saja tidak.
Wajahku telah ditutupi oleh veil. Kini, aku sudah siap pergi ke altar.
Seseorang mengetuk pintu, dan Tory langsung membukakannya. Saat pintu terbuka, aku melihat Ayah yang berdiri seorang diri. Dia hendak menjemputku untuk pergi ke altar bersama. Untuk sejenak, Ayah tertegun.
Dan aku ... hanya bisa tersenyum padanya. Aku ingin memeluknya, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat.
“Baiklah, Nona. Semoga acaranya berjalan dengan lancar. Aku akan segera menyusul,” ucap Tory.
“Terima kasih,” kataku pelan.
Kuhampiri Ayahku dan menautkan lenganku ke lengannya. Kami berjalan bersama menuju altar. Chloe dan tiga orang lainnya berada di belakang. Mengangkati gaunku yang menyapu lantai. Tory memberikan hand bouquet bunga gerbera berwarna putih untukku pegang. Gerbera menandakan sebuah kesetiaan antara pasangan satu sama lain. Sangat cocok untuk menyindir Idris.
Sebenarnya, moment ini akan menjadi sangat mengharukan. Tapi, jelas saja tidak akan bisa membuatku terharu sama sekali. Berbeda dengan Ayah, dia terlihat senang dan sedih dalam waktu yang bersamaan.
“Kau sangat mirip Ibumu ...,” ucap Ayah. “Cantik dan anggun.”
“Apa Ayah ingin mengatakan hal yang lainnya?” tanyaku langsung. Aku yakin Ayah punya sesuatu yang dia pendam.
“Uhm. Apa kau yakin akan bahagia dengan Yang Mulia Putra Mahkota?”
“Ya, aku bahagia karena bisa mendapatkan apa yang kuinginkan,” ucapku senang. “Ayah tidak perlu khawatir tentang hal apa pun. Ini hari bahagia ..., tersenyumlah.”
Ayah langsung tersenyum. “Kau benar, Charlotte. Ayah berharap kau bahagia sampai pada hari tuamu nanti.”
Aku juga berharap begitu.
Kami sampai di depan pintu altar. Prajurit Kekaisaran yang berjaga di samping pintu pun membukakan pintu altar untuk kami.
Saat pintu terbuka, aku bisa melihat altar yang sudah dihias dengan kain sutera putih dan bunga lily. Sesuai dengan apa yang kuinginkan. Anak-anak kecil berjalan di depanku dan Ayah. Mereka melempar bunga daisy ke karpet merah yang kami lewati.
Di ujung, tepatnya di altar, berdirilah Idris dan juga Pendeta dari Menara Suci. Idris terlihat cocok dengan pakaian kebesaran berwarna putihnya. Tampan dan memuakkan.
Mataku tertarik pada wanita berambut merah yang duduk di antara para tamu undangan. Dia memakai dress merah mengkilap dengan syal bulu berwarna emas yang sedang terkenal akhir-akhir ini. Pakaiannya terlalu mencolok untuk acara yang mengharuskanku menjadi pusat perhatian. Dasar tidak tahu sopan santun.
Ayah melepaskan lenganku saat sudah sampai di depan Idris. Sekarang, aku—mau tidak mau—menggandeng lengan Idris. Dan kami menghadap kepada Pendeta. Sekalian saja kupanas-panasi Rose dengan lebih dekat dengan Idris.
“Ini adalah hari yang membahagiakan. Hari di mana dua orang yang berbeda dipersatukan menjadi satu dengan sebuah ikatan pernikahan. Pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Pernikahan adalah saat di mana kedua pasangan mau menerima satu sama lain secara utuh.” Pendeta mulai bicara. “Yang Mulia Putra Mahkota, Idris Theodoric Vanhoiren, apakah Anda bersedia memimpin keluargamu menjadi keluarga yang bahagia, lalu sabar, jujur, bertanggung jawab, dan tidak akan pernah meninggalkan pasanganmu sampai maut menjemput?”
“Ya, saya bersedia,” ucap Idris.
Ah, aku ingin tertawa karena lelucon Idris.
“Yang Mulia Putri Mahkota, Charlotte Mikaela Winston, apakah Anda bersedia menemani dan mendukung pasanganmu memimpin keluargamu menjadi keluarga yang bahagia, lalu sabar, jujur, bertanggung jawab, dan tidak akan pernah meninggalkan pasanganmu sampai maut menjemput?”
Aku menghela nafas.
“Ya, saya bersedia.” Aku tidak menyangka jika aku mengatakannya lagi.
“Silahkan untuk saling bertukar cincin sebagai tanda dari hubungan sakral ini,” ucap Pendeta.
Pendeta tersenyum. “Baiklah. Mulai detik ini, kalian telah resmi menjadi suami-istri sampai maut memisahkan. Dipersilahkan untuk berciuman sebagai tanda kasih.”
Ugh.
Buru-buru aku mengecup bibir Idris dan melingkarkan kedua tanganku ke lehernya. Terdengar suara kekagetan dari para tamu. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap berada pada posisiku selama beberapa detik sambil memejamkan mata.
Setelah nafasku sudah hampir habis, barulah aku melepaskan diri dari Idris. Kulihat Idris kaget dengan tindakanku yang sebenarnya sedikit bar-bar. Aku hanya menginginkan kecupan saja. Jika Idris yang memulai, aku yakin dia akan menciumku lebih dari yang kulakukan barusan.
Begini lebih baik.
Akhirnya, kami tiba pada prosesi lempar bunga. Semua orang yang masih lajang berkumpul di tengah. Aku dan Idris saling membelakangi, kemudian menghitung mundur dari tiga.
Kami langsung berbalik setelah melempar bunga itu. Rose sepertinya ingin mendapatkan bunga tersebut, tetapi bunga itu malah mendarat di paha Hendery yang sedang duduk. Dia kaget saat mendapatkan bouquet bungaku. Para bangsawan wanita menjadi sangat bersemangat karena itu artinya, Hendery bisa saja menikah dalam waktu dekat.
Meskipun aku tahu jika Hendery adalah orang yang lebih mementingkan jabatan dibandingkan pasangan.
Acara hari ini bukan sampai di hari pernikahan saja. Aku langsung diajak Tory untuk istirahat sedikit dan berganti gaun yang lainnya lagi. Kali ini aku dan Idris akan dilantik sebagai Kaisar dan Ratu XX oleh Kaisar XIX.
Chloe memberikanku makan siang darurat sebisanya. Aku berterima kasih untuk itu. Altar Kekaisaran sementara waktu akan dirombak menjadi tempat pelantikan selama kurang lebih sejam. Itu waktu yang cukup untuk kami pakai istirahat.
Aku tidak masalah Kaisar dan Ratu tidak datang ke acara pernikahan kami.
“Apakah make up-ku sudah luntur?”
“Nona, ah maksudku, Yang Mulia Putri Mahkota masih tetap cantik,” jawab Tory akan pertanyaanku.
“Santailah, Tory. Kau bisa memanggilku apa pun selagi aku belum naik takhta,” candaku.
Tory tersenyum dan kembali memperbaiki make up di wajahku. Pandangannya tertuju pada polesan bibirku yan memudar. Aku tahu apa yang dia pikirkan, tapi aku tidak ingin ambil pusing akan hal itu.
“Yang Mulia Putra Mahkota sangat beruntung, ya. Karena wanita secantik Nona sangat mencintainya,” ucap Tory dengan mata berbinar.
“Aku yang beruntung bisa mendapatkan pria sebaik dirinya.” Tapi, bohong. “Kami sangat cocok, bukan?”
Tory mengangguk cepat. “Benar sekali!”
“Sekalipun ada wanita lain, aku tidak akan melepaskannya dari genggamanku,” gumamku.
“Apakah Nona mengatakan sesuatu?” tanya Tory.
“Cuacanya cukup panas.”
“Benar, Nona. Gaun dengan bahan tipis berkualitas bisa membuat Nona tidak mudah berkeringat dan tetap sejuk,” ujar Tory. “Aku sudah memprediksikan hal ini sebelum membuat gaun-gaunnya.”
“Aku tahu kalau kau adalah desainer berbakat, Tory,” pujiku padanya.
Pipi Tory bersemu merah karena kupuji seperti itu. Lucunya.