The Second Life

The Second Life
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)



Hendery menyambutku di halaman belakang Istana Perunggu dengan pakaian yang biasa dia kenakan saat latihan denganku.


Dia menoleh ke belakang dan tersenyum manis kepadaku. Aku hanya diam dan memasang wajah datar. Hari ini mood-ku tetap saja tidak membaik. Aku sangat letih karena berbagai kegiatan yang padat.


“Kenapa dengan wajahmu, Nona Winston?” tanya Hendery.


“Sedang apa Anda di sini, Tuan Franklin?” tanyaku balik. “Saya pikir latihan kita ditunda selama saya mempersiapkan pernikahan.”


“Ah, aku hanya melarikan diri ke Istana Perunggu,” aku Hendery.


“Apa?” Aku mengernyitkan dahi. “Kau melarikan diri ke istana yang kutempati untuk latihan pedang? Apa kau tahu hal ini bisa menimbulkan berbagai gosip aneh?!”


Hendery mengangguk dan duduk di rerumputan taman. Dia mengangkat kepalanya untuk melihatku dari bawah. “Minggu depan kau akan segera menjadi Ratu, ya ....”


“Ya, itu benar. Kenapa Anda membahas hal ini?” Aku menatapnya dengan ekspresi tak tertarik.


“Yah ..., aku tahu kalau Ibuku menentang hal ini. Bahkan diam-diam, Grand Duchess Dominic juga mendukung Ibuku bersama dengan Yang Mulia Ratu,” ucap Hendery. “Apa Nona Winston punya solusi tentang hal tersebut?”


“Yang Mulia Putra Mahkota akan mengurus hal tersebut bersama para bangsawan kelas atas,” jelasku pada Hendery. “Kenapa Anda tidak membujuk Marchioness Franklin untuk bisa menerima saya?”


“Ibuku tidak akan mendengarkan perkataanku. Dia hanya peduli pada Kakakku,” kata Hendery dengan raut wajah muram. “Tapi aku akan mencoba membujuknya sebisaku.”


“Setelah saya pikir-pikir, sebaiknya Tuan Franklin tidak melakukan hal itu,” tolakku halus. “Lupakan saja perkataan saya tadi.”


“Apa Nona Winston meragukanku?” selidik Hendery.


Kenapa dia harus mendesakku, sih?


“Nona Winston!” seru Holly sambil berlari kecil menuju ke arahku. “Nona! Ada surat dari Pengadilan Tinggi!”


“Apa?!” Aku terkejut akan hal itu dan mengambil surat yang disodorkan oleh Holly begitu dia berdiri tepat di depanku.


Aku membaca surat tersebut dengan perlahan. Seperti tebakanku, Pengadilan Tinggi memberikan surat undangan terkait ketidakinginan Marchioness Franklin terhadap diriku yang akan segera menjadi seorang Ratu. Aku akui aku hanyalah seorang anak Viscount, tapi merendahkan bangsawan yang berada di bawahnya adalah tindakan tidak bermoral.


Surat dari Pengadilan Tinggi memakai kertas khusus dan tinta emas. Tampak mahal dan berkelas. Tapi isi suratnya membuatku jadi ngeri.


Salam kasih dari Pengadilan Tinggi Kekaisaran Vanhoiren.



Sehubungan dengan laporan dari bangsawan kelas atas yang merupakan keluarga dari Marquess Franklin tentang penolakan calon Ratu, kami pihak Pengadilan Tinggi mengundang Anda untuk menjadi saksi dalam pengadilan kali ini pada besok hari. Jam sembilan pagi.



Dimohon untuk hadir dalam waktu yang telah ditetapkan. Terima kasih.



Tertanda, Pengadilan Tinggi Kekaisaran.


Aku melipat kembali surat tersebut dan kemudian menyerahkannya kepada Holly. Kepalaku rasanya pening. Hendery sampai harus membantuku berdiri karena aku hampir saja jatuh.


Hendery membawaku ke dalam Istana Perunggu, tepatnya di ruang tamu. Aku duduk di sofa panjang dan kemudian diberikan teh oleh Holly.


“Minumlah, Nona Winston,” ucap Hendery.


Aku menurut dan minum teh buatan Holly. Kuhembuskan nafas berat dan melirik Hendery sejenak. Wajahnya yang terlihat khawatir membuatku geli. Tidak biasanya laki-laki licik di depanku ini memperlihatkan raut wajah lemah.


“Anda boleh pergi, Tuan Franklin. Saya baik-baik saja,” kataku.


“Kau terlihat syok, Nona Winston,” komentar Hendery.


Aku tersenyum. “Itu tadi. Sekarang tidak. Saya harus mempersiapkan beberapa hal sebelum hadir di Pengadilan Tinggi besok. Kita akan bicara lagi nanti.”


“Apa kau yakin tidak butuh bantuanku?” tanya Hendery.


“Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu. Jangan lupa minta bantuanku jika kau membutuhkannya.”


Aku mengangguk. “Baik, Tuan Franklin.”


Selepas kepergian Hendery, aku menulis surat ke kediamanku. Aku tidak ingin membuat Ayah khawatir dengan kabar tentang diriku yang diundang ke Pengadilan Tinggi. Secepat mungkin aku ingin memberi kabar kepada Ayahku. Aku saja bisa syok karena surat dari pengadilan, apalagi Ayahku sendiri.


Begitu suratnya selesai, aku meminta Holly untuk mengirimkannya lewat kurir.


Padahal dulu aku bisa lolos dari belenggu pihak pengadilan karena Marchioness Franklin tidak memiliki alasan mendasar untuk membawaku ke pengadilan. Apa sekarang perlawanan mereka jauh lebih kuat?


“Nona Winston?”


“Ya?” Aku menatap Chloe yang barusan memanggilku. “Ada apa?”


“Yang Mulia Putra Mahkota datang menemui Anda,” ucap Chloe sambil menunduk. “Yang Mulia sedang berada dalam kamar Anda.”


“Kamarku?” Aku mengernyitkan dahi. Mau apa dia menemuiku di kamar?! Idris pasti sudah sinting karena selalu asyik berduaan dengan Rose di dalam kamarnya sendiri hingga menerapkannya padaku.


“Benar, Nona Winston.”


“Baiklah, aku akan menemuinya sekarang. Bawakan jamuannya ke kamarku,” kataku sambil berjalan menuju kamarku dengan tergesa.


Clek!


Terdengar bunyi pintu kamarku saat aku membukanya. Bisa kulihat Idris berdiri di dekat jendela sambil memandang keluar. Aku mendekatinya sebelum akhirnya dia menoleh ke belakang lalu tersenyum manis padaku.


“Apa kau sudah dapat surat undangan dari Pengadilan Tinggi?” tanya Idris.


Aku mengangguk. “Sudah, Idris. Aku mendapatkannya beberapa menit yang lalu. Ada apa kau kemari?”


“Tentu saja karena khawatir,” jawab Idris seraya mendekatiku.


“Begitu, ya.” Aku meliriknya sejenak. “Apakah Nona Hindley tahu jika kau datang mengunjungiku?”


Idris menghela napas. “Kenapa kau bertanya seperti itu, Charlotte?” tanya Idris balik.


“Biasanya kalian sehati,” sindirku.


“Aku tidak mau membahas Rose saat kita sedang berduaan seperti ini,” kata Idris. “Yang lebih penting, apa kau baik-baik saja dengan pertemuan besok?”


Aku hanya bisa mengangguk. “Aku akan baik-baik saja, Idris. Berkat pertemuan minum tehku dengan bangsawan-bangsawan, aku bisa mendapatkan banyak sekutu baru untuk mendukungku dalam masalah ini. Yang lebih penting, bagaimana pekerjaanmu bersama dengan Grand Duke dan juga Duke Harriston?”


“Kami juga mendapatkan banyak bangsawan yang bisa diajak kerja sama, Charlotte. Jika kondisinya seperti ini, kita pasti bisa menang,” ucap Idris. “Hari ini kau tetap di istana dan istirahat. Biar aku yang urus sisanya untukmu. Kau tenang saja dan jangan memikirkan hal lain yang membuatmu stres, oke?”


“Baik, Idris.”


Idris menggenggam tanganku sejenak dan menatapku dengan tatapannya yang dalam. Aku hanya bisa menunduk karena jijik. “Minggu depan kau akan menjadi milikku seutunya, Charlotte. Aku tidak ingin penghalang apa pun membuat kita jadi tidak bisa bersatu. Aku benci berpisah darimu.”


Idris, kau lucu sekali. Dan hal itu membuatku muak.


“Hm, ya.”


“Kenapa kau jadi tidak bersemangat?” tanya Idris.


“Tak apa, Idris. Aku baik-baik saja,” jawabku acuh.


“Hm, aku harus segera pergi. Kau baik-baik saja kan kutinggal?”


“Pergilah,” kataku setengah mengusir.


Idris pun tersenyum dan mengecup keningku sebelum akhirnya pergi meninggalkan Istana Perunggu.


Cih, laki-laki br*ngsek.