The Second Life

The Second Life
LXVII - Diselamatkan Ava



Pemakaman Ratu XIX, alias Ibunda Idris berjalan dengan lancar. Ratu XIX dimakamkan di samping Raja XIX di pemakaman khusus anggota Kekaisaran. Aku penasaran di mana tempatku dimakamkan saat aku dihukun mati dulu. Di tempat pemakaman inikah, atau mungkin saja dibuang begitu saja seperti bangkai sisa ternak. Aku sama sekali tidak tahu menahu akan hal itu.


Seperti yang kuduga, Idris yang awalnya tidak menangis saat Ayahandanya meninggal, kini menitikkan airmata dan berteriak tidak terima atas kematian Ibundanya. Aku hanya diam dan berdiri di sampingnya. Rose Hindley juga ikut hadir, tapi dia berdiri di seberang makam Ratu XIX. Jika kutatap matanya, dia pasti akan memelototiku. Jadi, kuputuskan untuk mengabaikan wanita itu dan fokus pada pemakaman Ratu XIX.


“Ratu? Bisa bicara sebentar?” Ah, itu Ayah. Dia bicara denganku setelah pemakaman Ratu XIX selesai.


Aku tersenyum dan mengangguk. Kami akhirnya bicara di Istana Kekaisaran. Tepatnya di ruang keluarga. Jayden juga ikut, tapi dia menunggu di luar bersama dengan Hendery. Aku tahu jika sihir kegelapan milik Selir Sienna masih menyelubungi Istana Kekaisaran. Oleh karena itu, aku harus bicara sewajarnya dan seperlunya.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ayah.


“Aku baik-baik saja, Ayah.”


“Tubuhmu semakin kurus dari yang terakhir kali Ayah lihat. Kau terlalu memaksakan diri, Charlotte,” kata Ayah.


“Ayah tahu kan jika aku harus bekerja keras sebagai seorang Ratu? Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Percayalah padaku,” ucapku tenang.


“Bagaimana dengan insiden yang menimpamu baru-baru ini?” Ayah menatapku penuh selidik.


Aku mengernyitkan dahi. Apakah Ayah sudah tahu tentang panah itu? “Apa maksud Ayah?”


“Kau hampir saja dicelakai dengan sebuah panah, kan?”


“Bagaimana bisa Ayah tahu?”


Tentu saja Ayah punya mata-mata. Tapi, aku tidak merasakan kehadiran siapa pun selain Hendery dan Selir Sienna. Apakah Hendery adalah salah satu mata-mata Ayah? Ah, mana mungkin seorang anak Marquess mau menjadi mata-mata Ayah yang adalah seorang Viscount.


“Ayah dengar rumornya,” jawab Ayah.


“Itu benar, tapi Kaisar sedang menyelidiki hal ini. Ayah tenang saja. Lagipula, aku sudah punya kesatria pribadi. Ayah tahu anak bungsu Marquess Franklin, bukan? Dia adalah orang yang sama dengan yang membantuku saat insiden itu terjadi,” tuturku panjang lebar. “Ayah tidak perlu khawatir.”


“Meskipun kau bilang begitu, orang tua mana pun pasti akan khawatir jika anak mereka mengalami hal seperti itu, Charlotte,” kata Ayah.


Aku tersenyum. “Aku tidak akan membuat Ayah khawatir lagi.”


“Katakan apa pun pada Ayah jika kau membutuhkan sesuatu. Ayah akan membantumu sekuat yang Ayah bisa. Oke?”


“Baik, Ayah.” Percakapan kami hari ini pun, diakhiri.


***


“Istriku?”


Aku menoleh ke belakang dan mendapati bahwa Idris sudah berada di ambang pintu kamarku. Tepatnya di Istana Ratu. Aku hanya diam, tapi dia langsung menghampiriku. Saat wajahnya agak dekat dengan wajahku, aku pun tahu jika dia mabuk. Tercium bau anggur yang menyengat dari mulutnya.


Aku tersentak hebat saat dia memelukku dari belakang tanpa aba-aba. Dengan kasarnya dia mencoba menciumku. Aku yang saat ini sedang duduk di meja rias, buru-buru menjauhinya.


Apa yang harus kulakukan? Memanggil Hendery? Tidak bisa, dia tidak berada di dalam istana, melainkan di dalam rumah pegawai istana yang berada di belakang istana.


“Kau mau main kucing-kucingan? Manisnya ...,” ucap Idris.


“Pergilah, Idris. Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu,” kataku tegas. “Kau mabuk.”


“Aku ingin memelukmu. Kau tahu kan jika aku sedang sedih? Aku sangat sedih karena sepertinya aku akan kehilangan segalanya ..., termasuk kau....” Nada bicaranya terdengar sedih. Meskipun begitu, aku tetap saja tidak peduli. Dia langsung jatuh ke lantai saat selesai mengucapkan hal itu. Ada dengkuran halus terdengar darinya. Dia tidur.


Aku menghela nafas.


“Menjijikkan. Rakyat Vanhoiren sangat bodoh jika tidak protes dipimpin oleh Kaisar seperti dia.” Ava muncul dari kamar mandiku. “Kalau aku terlambat, kau pasti sudah di-bip oleh suamimu sendiri.”


Bip?


“Dip*rkosa,” jelas Ava.


“Bagus, itu baru wanita sopan.” Ava membusungkan dada, terlihat bangga dengan perbuatannya sendiri. Dia memeriksa keadaan Idris dengan kaki kanannya. Ava beberapa kali menendang kepala Idris dengan sengaja. “Dia sudah benar-benar tidur.”


“Tanpa melakukan hal itu, dia memang sudah terlihat tak sadarkan diri,” kataku senang. Ya, aku senang melihat Idris disiksa secara tidak langsung seperti itu.


Ava berdecak kesal. “Istana ini sudah bersih dari segala macam sihir kegelapan. Kau bisa bernafas lega untuk sementara waktu, meskipun aku tahu jika penyihir kegelapan itu mulai mengincarmu.”


“Ya, benar.”


“Selagi kau memakai liontin yang kuberikan, kau akan aman untuk sementara waktu sampai aku datang menolongmu. Kita harus segera mengambil hidangan utamanya!” seru Ava bersemangat.


“Hidangan utama? Maksud Anda, menghadapi penyihir itu?” tanyaku cepat.


“Iya. Memangnya apalagi?” Ava berkacak pinggang. “Memangnya kau mau menunda-nunda apa lagi?”


“Aku belum punya kemampuan sihir yang memadai,” kataku gugup.


“Hei, kau mau menghinaku, ya? Aku ini Ava Bloodhart! Si Penyihir Agung! Kau bersikap seperti sedang meremehkan kekuatanku.”


“Ah, maaf. Kalau begitu, kenapa tidak menyelamatkan Isla saja?” tanyaku memancingnya.


“Kalian seru sekali bercengkeramanya.”


Suara itu membuatku senang. “Lucas?!”


“Hm, mulai lagi budak cinta kasmaran,” komentar Ava.


“Nenek cupu, kalah dengan anak muda seperti kami,” ledek Lucas.


“Mau kusumpahi yang jelek-jelek? Aku ini orang yang diberkati Dewi Kebajikan!” teriak Ava, emosi.


“Jangan marah. Aku hanya bercanda, Nek.”


“Jangan panggil aku nenek!” protes Ava. “Enyah kau, anak s*alan!”


Sepertinya Ava mematikan kristal komunikasi miliknya karena Lucas tidak bicara lagi. Aku hanya tersenyum karena tingkah mereka berdua. Saat Ava mendelik padaku, aku segera memasang wajah datar tanpa dosa.


Karena kesal, Ava menendang perut Idris sebanyak tiga kali. Tak sampai di situ, Ava menginjak tubuh Idris tanpa ragu sedikit pun. Kudengar Idris sempat mengaduh kesakitan, tetapi tetap saja dia tidak bangun.


Siapa suruh mabuk di saat yang tidak tepat.


“Kenapa semua laki-laki di sekitarku selalu saja membuat kekacauan dan menguji kesabaranku?!” Ava mengeluarkan keluh-kesahnya. “Aku jadi ingin meledakkan seluruh Istana Kekaisaran.”


“Kalau Anda berpikir seperti itu, aku tidak setuju. Anda bisa membunuh orang-orang yang tidak berdosa.”


Ava tertawa. “Contohnya? Tangan kanan Kaisar sampah ini?” Ava menendang perut Idris saat bertanya seperti itu.


“Hm, seperti dia.”


“Charlotte ..., kau polos sekali. Tangan kanan Kaisar itu adalah kakak dari wanita j*lang yang jadi simpanan Kaisar,” ucap Ava.


“Apa?” Aku melotot kaget. “Jadi, Jack adalah kakak dari Rose Hindley?”


Ava hanya mengangguk, dan aku ... kaget setengah mati.


*


Note: Episode selanjutnya akan di up tiga hari lagi karena kondisi darurat Penulis.