
Aku pergi ke Istana Kekaisaran bersama dengan Hendery. Awalnya aku ingin mengajak Chloe, tapi Hendery memaksaku untuk membawanya pergi bersamaku karena insiden panah tempo lalu. Dia bilang jika dia tidak mau membiarkanku sendirian tanpa penjagaan.
Kami sampai di istana dengan disambut oleh para prajurit dan juga Jack. Melihat wajahnya membuatku jadi teringat pada ucapan Ava tentang dirinya. Bisa saja dia juga punya hubungan dengan Selir Sienna. Dan bisa juga dia menjadi mata-mata Selir Sienna untuk memantau keadaan istana dan juga gerak-gerik mencurigakan yang bisa dilaporkan olehnya.
Daripada aku dicurigai yang tidak-tidak, lebih baik aku bergerak lebih hati-hati lagi daripada yang biasanya.
“Selamat datang, Yang Mulia Ratu,” sapa Jack.
Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam istana. Dia mengekor dari belakang bersama Hendery dan dua prajurit Kekaisaran.
“Apakah Ratu ingin menemui Kaisar hari ini?” tanya Jack.
“Tidak. Hari ini aku membutuhkan buku kas istanaku untuk check up bulanan. Kau tidak perlu menemaniku atau memberitahukan kehadiranku pada Kaisar, aku akan langsung pergi setelah mengambil buku itu,” jelasku panjang lebar.
“Apa perlu saya bukakan brangkas istananya untuk Ratu?” tawar Jack.
“Tuliskan saja dikertas kecil dan berikan padaku.” Aku bersikap seolah-olah tidak tahu tentang kode brangkasnya.
Jack dengan sigap menuliskan kode brangkas itu ke secarik kertas yang dia ambil dari notes kecilnya. Aku menerimanya dan pergi menuju ruang penyimpanan yang ada di salah satu ruang bawah tanah Istana Kekaisaran.
Hanya anggota Kekaisaran yang bisa memasuki ruang penyimpanan. Jadi, Hendery menunggu di luar bersama prajurit yang mengawal kami. Selagi aku di dalam ruang penyimpanan, aku mengecek beberapa barang lain yang menarik perhatianku. Ada banyak buku penting tentang silsilah Kekaisaran, catatan perang melawan Kerajaan Avnevous, dan masih banyak lagi.
Tapi, itu bukanlah fokus utamaku. Yah, meskipun aku sangat ingin membawanya pergi.
“Bagaimana? Apakah Ratu sudah menemukan yang Ratu cari?” tanya Hendery saat melihatku keluar dari ruang penyimpanan.
Aku hanya mengangguk. Pintu ruang penyimpanan yang notabenenya adalah pintu brangkas itu, kembali ditutup. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku berniat kembali lagi ke istanaku secepat mungkin.
Kalau saja tidak ada gangguan alias Idris yang menghampiriku di perjalanan keluar Istana Kekaisaran. Di sampingnya ada Rose Hindley yang asyik menggandeng lengannya dengan erat. Mau digenggam sampai kapan pun, aku tidak peduli.
“Istriku? Kenapa tiba-tiba kau ada di sini?” Idris terkejut.
“Aku baru saja mengambil buku kas istanaku. Sekarang aku akan pulang lagi ke istanaku, aku tidak akan mengganggu kalian,” ucapku sopan.
“Setidaknya kita harus minum teh dulu sebelum kau pergi,” kata Idris. “Bagaimana bisa aku tidak menjamu Istriku sendiri saat dia datang berkunjung ke istanaku?”
Aku tersenyum menggoda, berusaha membuat Rose Hindley jadi berpikiran negatif tentangku. “Ah, aku jadi tidak enak dengan Nona Hindley. Biar bagaimanapun, dia akan segera menjadi Selirmu, kan? Aku takut jika Nona Hindley akan cemburu dengan ajakanmu barusan.”
“Kenapa jadi kau yang merasa tidak enak? Kau kan Istriku yang sah. Tenang saja, Rose sudah berubah. Dia tidak akan cemburu lagi dan bertingkah seperti anak kecil. Benar kan, Sayang?” Idris menatap Rose dengan mengharapkan jawaban yang memuaskan.
Tidak akan cemburu lagi? Haha.
“Benar, Idrisku. Aku tahu kau lebih sayang padaku dibandingkan dengan Ratu. Oleh karena itu, aku tidak akan pernah mau cemburu lagi,” kata Rose. Sindirannya sama sekali tidak mempan.
“Begitu, ya?” Aku kembali tersenyum. “Kalau begitu, aku dengan senang hati menyanggupi ajakanmu, Suamiku.” Aku harus melakukan sesuatu untuk memancing emosi Rose Hindley. Tidak akan kubiarkan dia tertawa di atas penderitaanku lagi.
Kami duduk di gazebo istana yang berada di taman samping. Aku, Idris, dan Rose Hindley duduk mengelilingi meja taman yang bundar. Hendery ada di belakangku, berdiri dengan wajah datar seperti tembok.
Selain itu, para pelayan istana sibuk menuangkan teh ke atas cangkir, dan meletakkan berbagai kue di atas meja. Aku tertarik pada kue coklat yang ada di salah satu piring. Aku butuh yang manis-manis.
“Cuaca cerah seperti ini sangat bagus untuk piknik,” kata Idris saat tinggal kami berempat di gazebo. “Bagaimana menurutmu, Istriku?”
Tidak tertarik.
“Apakah dengan piknik, rasa duka di hati Kaisar akan sedikit berkurang?” tanyaku dengan raut wajah prihatin. “Kalau memang benar seperti itu, aku setuju pada keputusan Kaisar.”
Rose Hindley berdecak kesal, tapi Idris mengabaikan hal itu seakan-akan sudah terbiasa dengan kelakuan tidak sopannya.
“Ya, kau benar Istriku. Setelah mengosongkan sedikit jadwal dari pekerjaanku, kita bertiga bisa piknik bersama di dekat perbatasan Naorikan.” Idris tersenyum senang. “Itu pasti menyenangkan.”
“Kenapa kita harus pergi bertiga?” tanya Rose Hindley, tidak suka.
“Ah, apakah Nona Hindley tidak mau ikut?” Aku menutup mulutku dan memasang wajah terkejut. “Pasti Nona Hindley merasa bosan jika hanya piknik saja.”
Idris melirik Rose Hindley. “Benarkah itu? Jadi, kau hanya ingin aku dan Istriku saja yang pergi piknik?”
Rose Hindley semakin kesal. Dia melirik tajam padaku yang saat ini sedang asyik minum teh. Saat dia berdiri, tubuhnya ikut menyenggol meja. Aku menggunakan kesempatan itu dengan melepaskan cangkir tehku dan membuang isinya ke gaun yang Rose Hindley kenakan.
Lagi-lagi aku bersikap polos seperti tidak sengaja. Aku berdiri dan menjauh agar tidak mendapat serangan balasan. Baru saja Rose Hindley hendak melempar gelas kosong ke arahku, Idris sudah terlebih dahulu menenangkan rubah liar itu.
Aku tersenyum singkat lalu kemudian kembali memasang raut merasa bersalah. “Ah, maaf. Aku tidak sengaja, Nona Hindley.”
“Kau! Kau sengaja menumpahkan teh itu kepadaku, kan?!” bentak Rose Hindley. “Dasar menyebalkan! Akan kuhajar kau!”
“Hentikanlah!” seru Idris. “Istriku ..., pulanglah. Rose pasti lelah karena menemaniku di sini saat sedang berkabung.”
Lelah apanya, dia bahkan terlihat sangat bertenaga saat ini.
“Baiklah, Suamiku. Aku akan pulang sekarang. Jangan lupa untuk mengirimkan surat kepadaku jika ada sesuatu yang penting,” kataku. Aku langsung pergi tanpa mengatakan hal yang lain. Hendery tetap mengekor di belakangku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Barulah saat aku dan dia berada di dalam kereta, dia baru mau membuka mulutnya. Bukan kata-kata yang dia lontarkan, melainkan tawa terbahak yang sangat keras. Aku hanya diam dan menatapnya.
“Oh, ya ampun! Wajah Nona Hindley sangat lucu!” seru Hendery. “Bagaimana Ratu bisa punya ide jahil seperti itu? Aku sampai bersusah payah menahan tawa saat melihatnya.”
“Kau terlalu berlebihan, itu hanya hal biasa saja,” kataku merendah. Tapi, memang benar itu hal yang biasa dan tergolong kekanak-kanakan. “Apa yang akan kulakukan setelah pulang dari sini akan lebih mendebarkan.”
“Aku sangat menantikan hal itu,” kata Hendery sambil tertawa lagi.