
Beberapa berlalu sejak aku minum teh bersama dengan Duchess Harriston. Tim ekspedisi telah kembali dari tugasnya menginvestasi Salamander Raksasa di hutan Beck. Hendery langsung bertemu dengan Idris setelah menyelesaikan tugasnya.
Dari surat yang Hendery sampaikan, Salamander Raksasa tidak ditemukan di mana pun dan tanda-tanda kehadirannya juga nihil. Itu berarti, mungkin saja Salamander itu adalah makhluk panggilan yang berusaha membuat aku dan Idris celaka. Tapi lupakan soal Idris. Jika pelakunya adalah Selir Sienna, bisa saja Idris berpura-pura membuat dirinya sendiri terluka agar tidak terlihat mencurigakan di depan mataku.
Dan oleh karena tidak adanya bukti terkait Salamander Raksasa tersebut, Idris menutup masalah tersebut rapat-rapat. Tidak ada lagi yang boleh menyinggung masalah itu termasuk aku.
“Nona Winston, kereta Kekaisaran sudah menunggu di depan,” ucap Holly memberitahu. “Apa Nona Winston sudah siap?”
Aku mengangguk dan beranjak dari sofa kamarku bersama Chloe. Hari ini aku akan menemui Kaisar dan Ratu yang sudah menjadi tradisi sebelum menikah. Bicara dari hati ke hati atau ngobrol santai biasa. Ya, meskipun dahulu aku hanya bicara sedikit dengan Kaisar dan ditolak oleh Ratu saat hendak menemuinya, aku tidak boleh terpaku pada masa lalu.
“Chloe, apa kau sudah siap untuk ikut denganku?”
“Tentu saja, Nona Winston,” jawab Chloe di depanku.
Aku mengangguk sambil tersenyum dan mengalihkan pandanganku pada Holly. “Tolong jaga tempat ini selagi kami pergi.”
“Dengan senang hati, Nona Charlotte,” kata Holly.
Aku pun masuk ke dalam kereta kuda Kekaisaran disusul oleh Chloe. Ini pertama kalinya aku mengajak Chloe ikut bersamaku. Lebih baik aku mengajak seseorang untuk menemaniku di hari penting ini, mengingat Istana Kekaisaran dipenuhi oleh energi sihir kegelapan. Dan mungkin saja ... mata-mata.
Sesampainya di Istana Kekaisaran, aku dan Chloe disambut oleh Jack. Seharusnya yang menyambutku adalah Kepala Pelayan atau Tangan Kanan Kaisar, tapi yang datang justru Jack. Aku tak terlalu peduli lagi.
“Silahkan ikuti saya, Nona Winston,” kata Jack yang kemudian seperti biasa langsung berjalan duluan tanpa menunggu respon dariku.
Aku mengikutinya dari belakang bersama Chloe. Idris disibukkan oleh pekerjaannya bersama Grand Duke dan Duke Harriston. Pekerjaannya pasti berlipat ganda karena ditambah dengan persiapan pernikahan. Biasanya sekarang dia akan menyapaku.
“Silahkan masuk, Nona Winston. Yang Mulia Kaisar sudah menunggu Anda di dalam,” ucap Jack setelah kami sampai di depan pintu ruangan Kaisar yang dijaga oleh dua orang Prajurit.
“Terima kasih, Jack,” kataku.
“Kalau begitu, saya permisi.” Jack melangkahkan kakinya menjauhi kami.
“Tunggulah di ruang tunggu selagi aku bicara dengan Yang Mulia Kaisar,” kataku pada Chloe.
Chloe mengangguk dan pamit permisi. Aku melirik salah satu Prajurit dan dia pun membukakan pintu untukku.
Begitu aku masuk, aroma obat herbal yang sangat tajam menusuk indera penciumanku. Karena tidak sopan menutup hidung di depan Kaisar, aku pun menunduk untuk memberi salam.
“Semoga Yang Mulia Kaisar diberkati Dewi Kebajikan.”
“Duduklah, Nona Winston. Aku sudah menunggu kedatanganmu,” ucap Kaisar. “Sudah lama aku tidak bicara denganmu berduaan.”
Hm, ini lagi.
Sebenarnya aku tidak ingat pernah bicara berdua dengan Kaisar. Mungkinkah ingatan masa lalu yang kulupakan? Aku memilih duduk tanpa berkata apa pun. Pelayan masuk dan membawa kue menuangkan kami teh. Aku bahkan tidak bisa mencium aroma tehku karena aroma obat herbal yang memenuhi ruangan pribadi Kaisar.
Meskipun begitu, Kaisar terlihat sudah terbiasa dengan hal ini. Dia meminum teh yang ada di tangannya tanpa ekspresi aneh.
Aku tahu Kaisar menyembunyikan sakit yang dideritanya. Penyakit yang sampai sekarang tidak kuketahui.
“Awalnya aku pikir Idris tidak akan bisa bersatu denganmu,” ucap Kaisar. “Mengungkit masa lalu memanglah tidak baik, tapi kau dan Idris dahulu ...”
“Bisa diulangi lagi, Yang Mulia?” pintaku bingung.
“Kau dan Idris dahulu ...”
Aku tidak bisa mendengar ucapan Kaisar secara penuh. Apa yang terjadi dengan aku dan Idris?
“Apa ini ada hubungannya dengan Ibu saya?” tanyaku gamblang.
Kaisar terlihat agak terkejut sebelum akhirnya kembali menjaga wibawanya. “Apa Nona Winston sudah ingat sesuatu tentang hal di masa lalu?”
Aku menggeleng. “Tidak. Malahan saya merasa hal semacam itu tidak ada.”
“Yah, dulu Ibumu banyak berkorban untuk Kekaisaran ini. Meskipun dia akhirnya ... aku sangat berterima kasih pada Ibumu.”
Lagi-lagi terpotong di bagian yang penting. Aku sudah lelah mencoba. Lebih baik kualihkan ke hal lain saja.
“Hm, sebenarnya saya ingin mendiskusikan hal lain dengan Yang Mulia.” Aku menatap Kaisar tanpa berkedip. “Ini soal hilangnya rakyat Vanhoiren.”
“Apa?!” Kaisar sekarang sangat terkejut. “Tidak ada hal seperti itu yang dilaporkan oleh prajurit yang ditugaskan berpatroli.”
Kaisar juga tidak tahu?
“Saya juga mendengarnya dari Duchess Harriston soal ini. Oleh karena itu, saya ingin sekali bertukar pikiran tentang hal ini,” kataku pada Kaisar.
“Selama ini tidak ada hal seperti itu yang sampai ke telingaku, Nona Winston. Apakah itu berarti kau mau aku menganggap bahwa bawahanku lalai?” tanya Kaisar dengan tatapan menyelidik. “Hm ..., semakin tuanya aku, semakin aku tidak dihargai.”
“Nona Winston, aku sangat mencintai rakyatku. Akan kuminta para para penjaga dan prajurit Kekaisaran untuk menangani hal ini. Lebih baik Nona Winston fokus pada pernikahan yang sudah di depan mata ini,” ucap Kaisar. “Silahkan diminum tehnya.”
“Baik.” Aku mengambil tehku dan menghirup aromanya yang agak sedikit aneh. Tersamarkan dengan aroma obat herbal. Tapi ini ... bawang putih? “Teh jenis apa ini, Yang Mulia?”
“Oh, itu teh melati kesukaanmu, Nona Winston.”
Jelas saja ini bukan bau melati. “Tapi baunya seperti bawang putih, Yang Mulia.”
“Ah, maaf, Nona Winston. Itu pasti tertukar dengan punyaku.” Kaisar tersenyum lalu memanggil pelayannya lagi.
Pelayan itu masuk dan melirikku sedikit sebelum fokus pada Kaisar. Kaisar menegurnya dan aku hanya diam sambil memikirkan bau yang agak kurang masuk akal. Teh kami diganti dengan yang baru dan ketika kucium lagi, bau bawang putih sudah tak tercium.
Ini hanya teh melati biasa.
“Apa kesehatan Yang Mulia semakin membaik?” tanyaku pada Kaisar.
“Dibilang baik pun, tidak. Nona Winston tidak perlu khawatir soal ini. Dokter pribadiku sudah merawatku dengan baik,” jawab Kaisar. “Oh ya, Nona Winston. Sepertinya sudah saatnya kunjunganmu dengan Istriku.”
“Hm, baiklah, Yang Mulia. Saya permisi.”
Aku berjalan menuju pintu untuk keluar, sebelum akhirnya dipanggil oleh Kaisar lagi sampai membuatku menoleh ke belakang.
“Tentang kasus penculikan itu ...”
“Ya?”
Kaisar tersenyum. “Tak apa, silahkan temui Istriku.”
“Baiklah, Yang Mulia. Semoga hari Anda menyenangkan,” kataku ramah.
Aku menghela napas saat keluar dari ruangan Kaisar. Chloe dan Jack pun menghampiriku untuk berjalan menuju ruangan Ratu. Apakah aku akan diusir untuk yang kedua kalinya?