
Semuanya masuk akal dan tidak masuk akal dalam waktu yang bersamaan. Hanya Jack yang bisa menegur Rose Hindley tanpa ragu, Rose Hindley bilang jika dia memiliki seorang kakak, dan ada rumor jika Selir Sienna punya anak di luar nikah. Jadi ..., masuk akal jika ternyata Ayah dari anak yang dikandung oleh Selir Sienna adalah Baron Hindley.
Namun, ini masih spekulasi yang belum bisa aku yakini seratus persen. Aku harus menyelidiki hal ini agar semuanya semakin jelas. Apakah aku membutuhkan mata-mata Ayah? Ah, tidak. Lebih baik aku tidak menyeret Ayah dalam hal berbahaya seperti ini. Tidak ada jaminan bahwa Ava juga akan melindungi Ayahku.
“Kenapa melamun?” tanya Ava.
“Aku hanya sedang mencerna informasi yang Anda berikan,” jawabku jujur.
“Benarkah? Apa mau sekalian kuseret anak itu kemari dan mengintrogasinya?”
“Siapa maksud Anda?” tanyaku balik.
“Selir itu.” Ava menerawang. “Atau mungkin anaknya, si j*lang.”
Wah, Ava benar-benar memberikan informasi kepadaku secara bertubi-tubi. Jadi benar, Rose Hindley adalah anak dari Selir Sienna. Mata Rose Hindley sebenarnya sama persis dengan Baron Hindley. Untuk yang terakhir, sekali lagi, itu baru spekulasi.
“Aku pulang dulu,” kata Ava tiba-tiba.
“Uhm, baiklah.” Lalu, aku teringat hal yang penting. “Tapi ..., bagaimana dengan Isla? Apakah Anda sudah punya rencana untuk hal itu?”
“Ya. Tunggulah sebentar lagi, mungkin akan ada kekacauan yang besar dalam waktu dekat. Bersikap seperti biasa saja selagi aku mengurus hal tersebut. Aku akan kembali lagi besok atau lusa,” kata Ava.
Aku akhirnya mengangguk. Setelah itu, Ava pergi meninggalkanku berduaan dengan Idris yang sudah pasti akan merasa sakit saat bangun di pagi hari nanti.
***
Aku duduk di depan meja makan untuk sarapan. Di depanku, berdirilah empat orang yang dua di antaranya adalah Anna dan Chloe. Mereka datang terlalu pagi. Gadis berkacamata di samping Anna adalah Jasmine. Lalu, yang rambutnya dikuncir satu adalah Matilda. Mereka berdua, bersama dengan Chloe, secara resmi menjadi dayang pribadiku.
Ya, mereka semua orang yang sama dengan pada saat aku berada di masa lalu. Dan tidak akan kubiarkan nasib mereka sama seperti sebelumnya.
“Anna.”
“Ya, Ratu?” Anna menatapku tanpa ekspresi.
“Ruang kerjaku ada di lantai satu, kan?” tanyaku. Aku ingin memastikannya lagi sesuai dengan ingatanku.
“Benar. Ruang kerja Anda ada di lantai satu, tepatnya di samping ruang tamu,” jawab Anna.
Harus ada sedikit perubahan.
“Aku ingin memindahkan ruang kerjaku di ruangan yang ada di samping kamarku,” kataku tanpa ragu.
“Ratu ..., itu agak sedikit ....” Anna mengernyitkan dahi. Dia bahkan tidak mampu menyelesaikan ucapannya.
Aku tahu, Ratu era mana pun tidak pernah meminta hal seperti ini. Ruang kerja Ratu selalu berada di ruangan yang sama. Tapi, aku juga ingin agar aku bisa dengan nyaman bertemu dengan Ava selagi aku berkutat dengan pekerjaan sebagai seorang Ratu yang pastinya sebentar lagi akan membludak.
Aku rasa permintaan seperti ini tidaklah berlebihan. “Letakkan saja meja dan kursi yang baru. Lalu, keluarkan ranjangnya. Jangan sentuh apa pun selain yang kuperintahkan barusan.”
Anna menunduk hormat. Dia tidak punya pilihan lain sekarang. “Baik, Ratu. Akan saya lakukan sekarang juga. Apa ada lagi yang Ratu inginkan?”
“Bawakan buku besar Istana Ratu ke dalam kamarku setelah sarapan. Kau boleh menitipkannya pada salah satu dayangku,” ucapku santai.
Benar dugaanku. Begitu kusinggung tentang buku besarnya, Anna langsung pucat pasi. Dia berkeringat dingin dalam sekejap. Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam buku itu. Dan ini adalah jalan agar aku bisa mengeluarkannya dari istana.
“Buku itu ..., apa ... Ratu sangat membutuhkannya sekarang juga?” tanya Anna, berusaha memastikan.
“Ya, Anna. Aku sangat membutuhkan hal itu untuk mengelola keuangan istana ini. Apakah permintaanku masih belum jelas?” Aku tersenyum senang padanya.
“Baik, Ratu. Akan saya siapkan. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Blam!
Belum sempat aku merasakan suasana damai di pagi hari lebih lama, Idris sudah masuk ke dalam ruang makan dengan mata merah. Dia duduk tepat di depanku. Chloe sudah pergi saat aku memberikannya kode. Dia kembali dengan sup rumput laut untuk Idris.
“Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?” tanyaku basa-basi. “Aku sudah meminta dayangku untuk membuatkanmu itu. Bagus untuk menghilangkan mabukmu.”
Idris tersenyum. “Terima kasih, Istriku. Aku menghargainya,” katanya.
Aku hanya diam.
“Uhm, aku minta maaf soal semalam. Aku agak stres karena kematian kedua orang tuaku yang tidak terpaut jarak yang jauh. Jadi ..., aku ingin bersandar padamu,” kata Idris lagi. “Dan satu lagi, tubuhku rasanya sakit semua. Apakah aku sempat jatuh dari atas sofa di kamarmu?”
Saat ini juga aku ingin tertawa.
“Tak apa,” sahutku singkat. “Kau jatuh karena sofa yang kau tiduri terlalu kecil. Maaf juga sudah membuatmu tidur di tempat seperti itu.”
“Tenanglah, Istriku. Aku baik-baik saja. Kau jangan khawatir.”
Aku pun mengangguk.
Tok! Tok! Tok!
“Ugh, siapa lagi itu? Mengganggu saja,” keluh Idris.
“Masuklah,” kataku dengan suara yang agak keras. Aku mengabaikan Idris karena dia menyebalkan.
Pintu ruang makan terbuka. Yang masuk adalah Hendery. Tatapan matanya agak sedikit berbeda. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang jelas, terasa familiar. Aku menatapnya tanpa berkata apa pun. Akan kubiarkan Hendery menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya saat ini.
Saat kulirik Idris dengan ekor mata, aku bisa tahu jika dia juga ikut penasaran pada hal yang sama denganku.
“Selamat pagi, Kaisar. Selamat pagi, Ratu,” sapa Hendery. “Maaf mengganggu. Aku membutuhkan Ratu.”
“Bicara yang sopan pada Istriku, Kesatria Franklin,” tegur Idris.
“Ah, maaf.”
Aku berdiri. “Apa yang Anda perlukan, Kesatria Franklin?”
“Istriku, jangan formal padanya orang yang tidak sopan!” seru Idris.
Kau saja lebih parah dari Hendery.
“Para pengrajin kayu sudah datang setelah dipanggil oleh Anna. Jika Ratu berkenan, Ratu bisa ikut aku ke luar,” kata Hendery.
Hm. Cepat juga Anna. “Baiklah, pimpin jalannya.”
“Kau akan meninggalkan Suamimu sarapan sendirian?” tanya Idris kesal.
“Ya. Kau sudah dewasa. Kalau tidak tahan, pergi saja ke pelukan Rose Hindley,” sindirku sambil berlalu keluar dari ruang makan. “Chloe, pergi bersama Jasmine dan Matilda ke kamar mereka.”
Hendery keluar dari pintu samping istana. Dan aku mengekor di belakang. Beberapa menit berjalan, kami sampai di gudang belakang tempat menyimpan kayu dan perkakas kebun.
Karena aku bersama dengan Hendery, semua orang di istana jadi tidak khawatir tentangku. Tapi, tetap saja aku merasa ada yang aneh.
“Siapa kau?” tanyaku pada Hendery.
*
Note: Episode selanjutnya akan di up kurang-lebih tiga hari lagi karena kondisi darurat Penulis.