
Pak Andy dan orang tua dari duo Felice Feline berbincang dengan sangat harmonis. Topik bisa berganti dengan mulus meskipun mereka tidak berbicara tentang seni. Sebagian besar Julia lah yang membuka pembicaraan.
Sekali lagi, Felice bisa melihat energi antusiasme yang melambung di pupil ibunya. Orang yang bisa membuat Julia memberikan semangat seperti ini tidak banyak, bahkan Ella yang ternyata adalah sahabat baik Julia di bangku SMA tidak mendapat perlakuan yang begitu memuja dan spesial dari ibunya ini.
"Felice juga ada menaruh lukisannya di pameran ini, Pak."
Felice yang namanya disebut melihat rasa bangga yang tidak disamarkan dalam nada Julia ketika wanita itu menyebutnya kelebihan putrinya. Alis Felice menunjukkan sedikit kelembutan ketika dia tersenyum atas rasa bangga orang tuanya. Berapa kali pun dia mengalami ini, dia masih tidak bisa menahan jejak kehangatan yang bocor dari setitik kecil kelembutan yang tersisa di hatinya.
"Oh ya?"
Julia dengan senang hati mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto karya Felice.
"Jadi itu gambarmu, Nak," ujar Pak Andy sambil menawarkan anggukan pelan pada Felice ketika kilatan pemahaman terlintas di matanya.
"Tidak buruk, sayangnya lukisan ini kekurangan auranya."
Feline terbelalak menatap sang kakek, baginya lukisan Felice tentu sangat bagus. Apalagi ini bukan hanya pendapatnya sepihak tetapi banyak orang di sekolah juga sudah memberikan persetujuan akan kemampuan melukis saudara perempuannya.
Komentar Pak Andy membuat Julia terdiam sejenak, namun wanita itu segera menanggapi mantan gurunya dengan melontarkan segudang pertanyaan. Pak Andy tersenyum tenang, namun dia tidak menjawab semua pertanyaan Julia.
Tepat di waktu ini, Gracia mendatangi kelompok itu dan memanggil Felice, "Felice, sudah waktunya menampilkan pertunjukan seni bebas. Kamu sudah boleh pergi siap-siap sekarang."
Felice mengangguk dan izin pamit pada para orang dewasa sebelum mengikuti Gracia.
Ketika keduanya sudah tiba di tempat, sudah ada beberapa orang yang memulai karya mereka entah itu melukis, mengukir, atau membentuk patung dari tanah liat.
Gracia berdiri di barisan penonton setelah Felice melewati pita pembatas area antara peserta pameran dengan para penonton. Pembatas ini diperlukan agar kegiatan para peserta pameran yang tampil tidak diganggu oleh penonton baik itu sengaja atau tidak.
Felice mengambil kanvas lukis seukuran 60x60 cm serta alat-alat melukisnya dari rak tempat persediaan diletakkan sebelum mengambil posisi di dekat Vendry untuk mulai melakukan bagiannya. Pria itu sekarang sedang fokus menerapkan cat akrilik di kanvas nya sendiri.
Gadis kecil itu meletakkan kanvas dalam posisi yang membuatnya nyaman sebelum mulai menarik garis di atas permukaan kanvas putih tersebut. Sebenarnya Felice belum benar-benar mempersiapkan ide untuk lukisannya ini. Dia tidak kepikiran soal karya apa yang layak ditampilkan di pameran ini mengingat penonton mereka bukan hanya orang awam tapi ada juga yang profesional.
Kalau dibilang keahliannya, dia pandai membuat lukisan tanpa jiwa yang hanya memiliki cangkang sempurna. Lagipula pengalaman tahun-tahunnya di Amerika membuatnya sadar dengan kekurangannya ini.
Felice memandang coretan sketsa pemandangan yang belum berbentuk di kanvasnya dan kilatan perhitungan melintas di pupilnya. Kalau mau meledakkan penonton, mungkin dia bisa mencoba dengan caranya ini. Gadis itu langsung menghapus rencana awalnya yang ingin melukis pemandangan bebas dan mengubah pola goresan pensilnya.
Gracia menatap kanvas Felice dengan penuh tanda tanya. Bukan hanya dia, tapi orang-orang yang melihat kerja Felice juga kebingungan. Peserta pameran yang tampil harus memiliki skill yang mapan untuk menghasilkan karya yang berkualitas, tapi disini yang Felice lakukan di hadapan banyak orang adalah mencoret kanvas dengan goresan asal-asalan seperti coretan bayi yang amatir.
Setelah puas melihat keadaan berantakan di kanvas putihnya, Felice meletakkan pensil dan mulai menggunakan catnya. Tanpa ragu-ragu dia langsung menuangkan setengah isi cat dari beberapa kaleng ke kanvasnya kemudian mengoleskan warna ke seluruh kanvas dengan metode yang berantakan.
Tindakan Felice membuat penonton berseru. Gangguan itu menarik perhatian beberapa peserta pameran yang menghentikan aktivitas mereka untuk melihat apa yang terjadi.
"Apa yang dia lakukan?!" seru Gracia dengan suara tertahan.
"Kenapa Felice tiba-tiba seperti ini?" ujar Derrick dengan kebingungan yang sama seperti orang lain.
"Mungkin kakak kepikiran ide lain?" tebak Feline dengan tidak yakin. Awalnya sketsa Felice sudah sedikit berbentuk dan mereka tahu kalau dia mungkin akan melukis pemandangan, namun dengan pergantian adegan ini sulit menebak apa yang dipikirkan Felice.
Latar kanvas sekarang didominasi dengan perpaduan merah, abu, hitam dan perpaduan warna gelap lainnya yang terkesan muram terutama dengan goresan tidak menentukan yang membuatnya bertambah tidak enak dipandang.
"Ada apa dengan anak ini, kenapa lukisannya berantakan sekali."
"Lihat caranya melukis. Dia bahkan membuang kuasnya dan menggunakan tangan untuk mencoret-coret."
"Kenapa anak ini bisa tampil sih? Caranya melukis benar-benar berantakan."
"..."
Kritikan-kritikan yang awalnya ringan bertambah pedas hingga beberapa bahkan tidak segan-segan menunjukkan ketidakpuasan mereka dengan mengkritik pihak sekolah yang membiarkan Felice tampil.
Marvin dan Julia tentu tidak senang dengan orang lain yang menjelek-jelekkan putri mereka, namun tindakan Felice memang di luar perkiraan.
Julia menatap kanvas Felice dan semakin dia menatap, kerutan di alisnya bertambah berat.
Marvin melihat kekhawatiran istrinya dan bertanya, "Ada apa?"
"Entah kenapa aku merasa lukisan Felice memiliki emosi negatif yang aneh. Terlalu suram, terlalu menakutkan, rasanya sesak, Vin," jawab Julia dengan nada tertekan.
Sudut bibir Felice sedikit naik saat telinganya menangkap bisikan ibunya. Ya, ibunya tidak salah memang ini bukanlah pemandangan yang menyenangkan bagi orang lain, pemandangan yang diukir dari perpaduan ingatan yang tidak akan pernah dia lupakan.
Pupil Felice semakin gelap dan bayangan dingin di masa lalu sedikit naik ke permukaan. Dia dengan tenang menarik goresan dan mengusap telapak tangannya ke kanvas sebelum menuangkan sedikit cat putih di atas. Menggunakan cat putih itu, dia perlahan menarik sketsa yang lebih teratur dari tindakan sebelumnya.
Bayangan samar muncul di kanvas hingga akhirnya objek yang dilukis menjadi lebih jelas.
Sepasang mata.
Sepasang mata kosong yang indah.
Setelah itu rangka wajah yang samar mulai terbentuk, namun Felice kembali menuangkan cat merah untuk menyamarkan rangka wajah sehingga menjadi kabur seperti bayang-bayang.
Sepasang mata yang kosong itu mulai diisi dengan gambar lain di dalamnya.
Gambar yang kabur, namun orang yang teliti mungkin bisa melihat sedikit bentuk seorang anak kecil yang meringkuk di pupil kiri dan bayangan aneh lainnya yang tidak jelas di pupil kanan.
Setelah menyelesaikan sepasang mata tersebut, Felice tersenyum. Sepasang mata anak itu sedikit menyipit karena ekspresinya. Felice mengambil kain kotor di sampingnya dan mengelap kedua tangan kotornya sebelum mengambil kuas.
Kali ini dia tidak sembarangan melemparkan cat dengan menggebu-gebu, tetapi dengan sabar menarik garis-garis anggun di sekitar objek lukisan. Felice dengan sabar menarik sehelai demi sehelai bulu mata yang lentik. Tidak lama kemudian, dia meletakkan kuasnya.
Lukisan yang awalnya mendapatkan cemohan itu langsung membuat penonton terdiam.
Sepasang mata yang indah menatap lurus dengan sensasi merinding yang aneh.
"Selesai."