The Second Life

The Second Life
Bab 16: Potret Diri (2)



Felice menarik diri dari sisi Vendry saat menyadari kalau pria itu sudah mengetahui keberadaannya. Gadis kecil itu berpindah ke guru lain yang posisi mejanya agak dekat dengan milik Vendry. Felice berpindah dari satu guru ke guru lainnya sehingga dia akhirnya mengamati lukisan semua guru dan menyimpulkan kalau milik Vendry masih yang terbaik sejauh ini.


Pokoknya gimana pun hasil guru lain, milik Vendry pasti akan diletakkan di pameran seni. Alasan Felice mampu membuat asumsi ini karena ada ketentuan yang menyebutkan kalau karya-karya yang dinilai terbaik di kontes seni akan dimasukkan ke pameran seni.


Hanya saja sulit dia bayangkan kalau lukisan Vendry dimasukkan ke pameran. Soalnya itu kan potret diri pria ini, sudah begitu wajahnya pula yang disorot...


Bayangan sekelompok orang yang fans kali dengan Vendry datang bergerombolan hanya untuk mengelilingi dan mengagumi wajah besar di kertas itu, berjalan di benak Felice. Gadis kecil itu agak merinding dengan kearah mana otaknya berputar. Tapi satu hal yang harus dia akui, wajah Vendry memang memiliki modal untuk menarik minat orang...


Felice duduk di bawah pohon besar yang rindang dan memejamkan matanya. Bau segar rumput menyerbak ke indra penciumannya, di luar dari itu bercampur juga aroma wangi yang berbeda-beda seperti aroma cat, aroma manis permen, bahkan wangi parfum yang samar.


Ada yang bilang kalau seseorang yang kehilangan salah satu indranya, indra lainnya pasti akan diperkuat untuk merasakan dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini bukanlah omong kosong yang hanya dikarang seenaknya di komik atau novel.


Sebagai seseorang yang terlatih untuk merasakan kegelapan masyarakat, Felice sudah lama menguasai indra-indra tubuhnya yang aktif. Tentu saja ini mengenai kehidupan lampaunya, namun Felice menemukan kalau beberapa latihan dan kebiasaan telah terukir jauh di jiwanya dan terbawa hingga ke tubuh barunya.


Tentu saja beberapa kemampuan masih perlu diasah kembali karena biarpun pikiran merekam ingatan, namun tubuhnya tidak terbiasa untuk merespons dan bekerja sama dengan ingatan dan kebiasaannya.


Sama seperti sekarang. Indra penciuman Felice seharusnya lebih tajam dari kondisi sekarang ini. Di kehidupan sebelumnya, dia sudah terlatih untuk membedakan dan memilah aroma-aroma yang tercampur di udara, termasuk aroma yang paling ringan sekalipun.


Tidak hanya indra penciumannya, indra pendengaran dan perasanya juga terlatih hingga taraf tertentu karena yang dipelajari Felice adalah dia perlu menyesuaikan diri dalam kondisi seburuk apa pun untuk menghadapi lingkungannya bukan lingkungan yang menyesuaikan diri untuknya.


Berat memang, namun dia berhasil. Gadis kecil yang saat ini sedang duduk manis di bawah pohon dalam damai pernah menjadi salah satu senjata manusia yang andal. Pelatihannya tidak pernah membuatnya merasa nyaman, selalu kepahitan yang terasa. Tapi Felice mengatupkan bibirnya dan menahan rasa tidak nyaman yang berat ini hingga dia berhasil memperoleh hasil yang memuaskan.


Felice masih ingat, pernah sekali karena kelelahan fisik setelah melatih otot tempurnya dia langsung tertidur selama setengah hari tanpa mandi dan melewatkan waktu makannya. Setelah bangun otot-ototnya masih menjerit kesakitan dan kelelahan, ini adalah jenis penderitaan yang belum pernah dia alami sebelumnya.


Terkadang Felice sempat menangis. Menangis diam-diam di sudut kamarnya untuk meratapi momen depresi karena kehilangan adiknya, meratapi penderitaannya yang disebabkan oleh pilihannya sendiri, meratapi rasa kesepian dan kerinduan pada masa lalu dan keluarganya.


Terkadang dia akan mengeluh dan takut pada seberapa dalam pelatihan telah mengubah dirinya baik dari segi fisik dan mental. Saat itu dia bahkan belum dewasa, dia masihlah seorang remaja yang stress dan berduka dengan kepergian adik perempuannya. Namun biarpun kehidupan itu tidak bahagia dan menyeramkan, Felice telah belajar untuk terbiasa dengannya. Dia belajar untuk menjadikan pola kehidupan itu sebagai motivasinya dan dia tidak menyesal atas semua kesulitannya.


Pikiran Felice mengembara, namun telinganya menangkap gumaman rendah seseorang kemudian bertambah menjadi beberapa orang hingga nada-nada itu berbenturan dan menimbulkan suara yang tergolong berisik bagi Felice.


"Lihat lukisan Pak Vendry, gambarnya mirip sekali dengan orangnya!..."


"Benar-benar tampan..."


"Hush~ Pelankan suara kalian, nanti orang lain dengar!..."


"Lihatlah mata itu!"


"Matanya bikin orang takut, tapi tetap tampan~"


"Ah~ Aku mau punya wali kelas kayak Pak Vendry! Biar tiap hari cuci mata..."


Felice yang mendengar semua komentar itu, "..."


Anak sekarang memang seperti ini atau mereka yang terlalu cepat puber? Terus memangnya anak-anak juga bisa nge-fans sampai segitunya???


Serangkaian keraguan melintas di benak Felice saat dia menangkap komentar-komentar yang semakin lama semakin mengerikan ini.


Tentu saja bukan hanya Felice yang mendengar komentar-komentar itu, tapi orang lain juga mendengarnya termasuk sang pelukis karya tersebut.


Peserta yang duduk di dekat Vendry masing-masing menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke karya Vendry. Salah satu guru wanita yang melihat lukisan potret diri tersebut terpana dan tanpa sadar menggumamkan isi hatinya, "Gantengnya..."


Vendry, "..."


Setelah menyadari apa yang dikatakannya, guru wanita tersebut tersipu dengan rona merah mencurigakan yang bangkit di wajahnya. Sang guru berdehem dan menyesuaikan suasana hatinya sebelum terus terang berkata kepada Vendry, "Lukisan Bapak benar-benar indah dan menarik hati orang, saya kagum dengan itu."


Objek di lukisan itu adalah wajah Vendry sendiri, guru wanita itu memuji lukisan Vendry sebegitunya, bukankah itu sama saja dengan memuji keindahan lahiriah sang pelukis sendiri?


Beberapa orang dewasa menggumamkan persetujuan mereka atas kata-kata guru wanita tersebut. Para siswa lebih parah lagi. Mereka tidak segan-segan melontarkan serangkaian kekaguman yang lebih estetik dengan rangkaian pujian yang membuat orang merinding.


Setidaknya Felice sendiri merasa bulu kuduk nya berdiri dengan jilatan pujian yang berlebihan itu. Sekali lagi gadis kecil itu kembali mengevaluasi pengetahuannya terhadap anak-anak zaman sekarang, dia praktis lupa kalau dia sendiri memiliki label anak kecil di kepalanya saat ini.


Sebagai orang yang menjadi tokoh utama yang dibicarakan, suasana hati Vendry hampir gelap seperti bagian bawah panci gosong saat ini. Kenapa baru sekarang dia sadar kalau ternyata bukan hanya siswanya yang kurang sopan, tapi anak-anak zaman sekarang pada dasarnya memiliki sopan santun yang perlu diperbaiki dan tingkat rasa malu yang minus.


Tidak kepikiran oleh Vendry bagaimana kehidupan sehari-hari sekelompok anak kecil ini. Kalau siswa kelasnya seperti ini semua, dia berjanji akan memberi mereka lembar soal setiap hari untuk mendaur ulang pikiran tidak benar ini.


Lagipula anak-anak seharusnya hanya fokus pada studi mereka di masa-masa muda mereka, bukannya pada hal lain yang kurang berguna. Untungnya... hanya satu orang yang kurang beres di kelasnya...


Sementara itu, Felice yang duduk di bawah pohon tidak tahu kalau dia sudah dicap sebagai 'orang yang kurang beres' oleh gurunya.