
“Charlotte,” panggil Idris.
“Ya?” sahutku sambil menoleh padanya. Satu hal pertama yang kulihat dari wajah Idris adalah ... senyumannya.
“Kau jangan khawatir pada apa pun lagi. Kita pasti bisa memenangkan sidang ini dan melangsungkan pernikahan dengan tenang,” ucap Idris.
Aku pun mengangguk dan tersenyum manis padanya. “Terima kasih untuk segalanya, Idris. Aku percaya kau bisa melakukan apa pun untukku.”
“Bisakah kita makan siang bersama?” tawar Idris.
“Uhm, apakah itu berarti kita makan siang bersama Nona Hindley?” tanyaku untuk memastikan.
Belum sempat Idris menjawab, Rose sudah lebih dahulu menghampiri kami. Hal pertama yang dia lakukan adalah menggandeng lengan Idris dengan gaya mesra dan tanpa beban sama sekali. Dia melirikku dan tersenyum mengejek.
Seakan-akan aku akan cemburu dengan tingkahnya itu.
“Idris, ayo kita makan siang ...,” ajak Rose manja.
“Tunggu sebentar,” kata Idris. “Ayo makan bertiga, Charlotte. Ada restoran enak yang baru saja dibuka di dekat gedung Pengadilan Tinggi.”
Aku harus mencari cara untuk menolak ajakan dari Idris. Tapi apa yang harus kukatakan?
“Charlotte.”
Aku menoleh ke asal suara. Itu Ayah yang datang menghampiriku bersama dengan Jayden. Syukurlah, aku bisa mendapatkan alasan yang jelas untuk menolak Idris. Aku pun tersenyum dan menghampiri Ayahku bersama dengan Chloe.
“Ayah ....”
“Kita harus bicara, Charlotte,” ucap Ayah.
Aku mengangguk. “Baik, Ayah. Aku akan berpamitan terlebih dahulu pada Putra Mahkota,” kataku yang kemudian kembali ke hadapan Idris.
“Ada apa, Charlotte?” tanya Idris.
“Maaf, Idris. Kau harus makan berdua dengan Nona Hindley. Ayahku ingin bicara berdua secara pribadi,” kataku dengan memasang raut wajah sedih. “Kau tidak keberatan, bukan?”
“Baiklah, Charlotte. Aku menghargai privasimu dengan Ayahmu. Makanlah yang banyak, oke?” Idris mengusap kepalaku.
“Baik. Kau juga, Idris,” kataku.
Aku akhirnya pergi bersama dengan Ayah, Jayden, dan Chloe. Kami memutuskan untuk makan siang di restoran yang berbeda dari tempat yang dikunjungi oleh Idris dan Rose. Restoran yang lebih sederhana dan memiliki ruang privasi untuk keperluan bisnis.
Jujur saja kami jarang makan di luar rumah. Terakhir kali melakukannya, itu pun bersama dengan Ibu.
Jayden dan Chloe menunggu di luar. Mereka juga makan siang sama seperti kami. Saat menunggu makanan kami datang, kami tidak bicara apa pun. Ruangan penuh dengan kecanggungan. Dan aku tercekik olehnya.
“Ayah ...,” panggilku ketika makanan kami telah tiba.
“Makanlah, Charlotte,” ucap Ayah tanpa menatapku. “Kita bicara setelah selesai makan.”
“Baiklah.”
“Maaf karena aku telah menyimpan rahasia, Ayah,” kataku saat kami selesai makan siang.
“Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal besar ini kepada Ayahmu sendiri, Charlotte?” Ayah terlihat frustasi. “Apakah ada hal lain lagi yang kau sembunyikan dari Ayah?”
Aku mengepalkan tanganku tanpa sepengetahuan Ayah. “Itu saja, Ayah. Aku hanya tidak ingin membuat Ayah khawatir dengan kondisiku. Aku bisa menangani hal ini bersama Yang Mulia Putra Mahkota.”
“Bukan masalah bisa atau tidaknya kau menangani hal tersebut. Ini masalah keselamatanmu,” ucap Ayah. “Hanya kau yang Ayah punya. Ayah tidak ingin kau sampai meninggalkan Ayah seperti Ibumu ....”
Suasana kembali canggung. Mengucapkan kata Ibu bagaikan sihir yang membuat kami tidak nyaman satu sama lain. Aku ditinggalkan oleh Ibu dalam waktu singkat. Kebersamaan Ibu dengan Ayah pastilah lebih banyak dibandingkan denganku. Ayah menyimpan rasa sedihnya sendirian.
Sebagai seorang anak, aku tidak ingin menambah kekhawatiran Ayah. Aku tidak ingin Ayah sampai tidak fokus pada pekerjaannya karena memikirkanku. Aku tidak ingin membuat Ayah berada dalam bahaya.
“Ayah ..., aku baik-baik saja,” kataku percaya diri.
“Ada apa?” tanya Ayah pada orang yang mengetuk pintu kami.
“Kita harus segera kembali ke Pengadilan Tinggi, Tuan Viscount.” Itu suara Jayden. “Ada baiknya kita tidak terlambat.”
Ayah menatapku. Sepertinya masih tidak rela percakapan kami berakhir seperti ini.
“Ayah ..., tenanglah. Ini terakhir kalinya aku menyimpan rahasia dari Ayah,” kataku.
Tidak mungkin jika Ayah akan melepaskan pengawasannya dariku lagi. Ayah pasti akan menyuruh orangnya untuk membuntuti aktivitasku. Hal itu bisa membuat pergerakanku semakin menyempit.
Akhirnya, kami pun kembali ke Pengadilan Tinggi untuk melanjutkan sidang yang ditunda sejenak. Begitu masuk ke ruangan sidang, aku bisa melihat jika Idris dan Rose telah sampai duluan. Rose juga duduk di tempatku duduk tadi agar bisa leluasa bercengkrama dengan Idris.
“Apakah Nona Hindley dan juga Yang Mulia Putra Mahkota punya hubungan khusus?” tanya Ayah.
“Tidak, Ayah. Kembalilah ke tempat duduk Ayah, kita tidak perlu membahas hal ini di sini,” jawabku tenang.
Ayah akhirnya kembali ke tempat duduknya bersama dengan Jayden. Sedangkan aku, berjalan menuju Idris dan berhenti di depannya bersama Chloe.
“Sepertinya kalian sedang asyik bicara,” ucapku santai. “Apakah aku mengganggu kalian?”
Rose mendelik padaku. “Tentu saja Nona Charlotte sangat mengganggu.”
“Begitukah? Aku minta maaf kalau begitu. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk mengganggu. Tapi kau duduk di tempatku,” kataku.
“Charlotte, kau tidak perlu minta maaf,” ucap Idris. “Nona Rose, silahkan pindah ke tempat dudukmu ....”
Rose menatap Idris. Terlihat tidak terima jika Idris lebih mendukungku dibandingkan dirinya. “Idris ....”
“Orang-orang melihat kita. Jangan menarik perhatian lebih banyak lagi,” tegur Idris pada Rose.
Rose berdecak kesal dan mengikuti perintah Idris. Aku pun duduk kembali ke tempat dudukku tanpa berkata apa-apa lagi. Kursi yang kududuki hangat. Sudah berapa lama mereka bercengkrama?
Muka mereka berdua sangatlah tebal karena tidak peduli pada pandangan orang-orang yang berada di ruangan sidang ini.
Diam-diam Idris menggenggam tanganku. Aku sengaja tidak peduli akan hal itu. Namun, genggaman tangannya semakin erat. Hingga membuatku harus meliriknya sejenak.
“Apa kau marah?” tanya Idris.
“Marah soal apa, Idris?” tanyaku balik.
“Karena aku terlalu akrab dengan Rose,” jawab Idris.
Aku menghela napas. Berusaha meredam amarahku karena tingkah menggelikan Idris yang berpikir aku akan merasa emosi karena hal yang sudah kuanggap sepele itu.
“Ya ampun, Idris. Kau selalu saja mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting seperti ini ....” Menggelikan. “Kita fokus saja pada sidang kali ini. Aku tidak ingin memikirkan apa pun lagi.”
“Kau benar, Charlotte.” Idris mengangguk setuju. “Kita selesaikan ini sebelum hari pernikahan kita. Kita harus memastikan bahwa tidak ada penghalang apa pun lagi pada rencana bahagia kita ini.”
Satu-satunya penghalang yang tidak kau singkirkan hanyalah Rose, Idris.
“Benar, Idris.” Aku tersenyum.
“Apa kau ingin makan malam berdua denganku nanti malam? Kita harus menikmati waktu kita bersama sebelum kita resmi menjadi suami-istri,” usul Idris.
“Nanti malam?”
Idris mengangguk. “Iya, Charlotte.”
“Baiklah.” Aku menyanggupi ajakan Idris dengan setengah hati.
Tak lama setelah itu, Hakim Agung dan dua hakim pendampingnya masuk ke dalam ruang sidang. Sidang pun kembali di mulai untuk mengumumkan hasil akhirnya.