The Second Life

The Second Life
Bab 17: Pameran Seni (1)



Perlombaan melukis akhirnya mencapai batas waktunya dan Vendry yang masih dilontarkan kekaguman, mengumpulkan barang-barangnya dan langsung meninggalkan taman dengan udara dingin di sekitarnya yang mengancam orang lain untuk menjauh.


Felice memandang kepergian wali kelasnya dari kejauhan dengan pandangan geli. Meskipun Vendry pergi dengan gaya dingin dan sombong seperti itu, tapi faktanya pria ini hanya ingin segera melarikan diri dari situasi memalukan ini.


Gadis kecil di bawah pohon rindang itu merenggangkan lengannya dan berdiri dari posisinya kemudian menepuk-nepuk roknya untuk membersihkan pasir yang menempel sebelum pergi dari tempat itu. Lagipula sumber kesenangannya sudah berakhir, lebih baik dia kembali mempersiapkan diri untuk pameran seni yang akan segera dimulai.


Felice berencana untuk membuat lukisan di depan umum, jadi dia setidaknya harus kembali untuk melihat apakah barang-barang yang dibutuhkannya sudah tersedia.


......................


Pameran seni yang telah dinanti-nantikan oleh sekian banyak orang akhirnya dibuka. Pameran seni dilaksanakan di aula sekolah mengingat betapa luasnya ruangan tersebut. Ketika pintu terbuka, para pengunjung berbondong-bondong masuk ke aula. Meskipun memiliki semangat yang tinggi, orang-orang ini tetap menaati peraturan dan tidak ada yang mendesak orang lain atau membuat keributan.


Ada banyak karya seni yang disusun di pameran ini mulai dari karya yang sangat besar seperti patung yang setinggi 2 meter, lukisan kanvas yang ukurannya mencapai kisaran 300x300 cm. Kemudian ada karya yang sangat kecil seperti patung seukuran telapak tangan, miniatur-miniatur, dan lain sebagainya.


Felice berjalan-jalan di sekitar area lukisan. Dibandingkan dengan seni patung, dia lebih mengerti tentang seni lukisan. Di kehidupan sebelumnya, dia terkadang menggunakan lukisan untuk melampiaskan emosi yang tidak dapat diungkapkannya.


Awalnya dia belajar melukis hanya untuk mempermudah diri ketika melakukan misi. Dia belajar mengamati serta mengingat sesuatu dengan waktu yang cukup singkat sebelum dituangkan kedalam lukisan untuk dijadikan informasi penting yang perlu dibawa pulang.


Felice berbakat. Dia mampu mempelajari apa yang pada awalnya cukup asing bagi dirinya dan menguasainya dalam waktu sesingkat mungkin. Dalam beberapa misi, Felice mampu melukis seseorang yang hanya berbekal dari informasi yang disampaikan padanya seperti detail wajah, postur tubuh, dan lain sebagainya.


Di beberapa kesempatan, Felice akan melatih teknik melukisnya untuk membuatnya semakin tajam dan indah hingga melukis perlahan menjadi salah satu hobinya untuk melampiaskan emosi yang tidak terkontrol di waktu luang.


Namun biarpun lukisan Felice diakui oleh orang luar, dia pernah mendapatkan komentar terus terang dari 'orang itu'.


Lukisanmu terlalu mati. Kamu hanya cocok melukis objek mati dengan sempurna.


Benar, Felice mengakui kelemahannya ini. Dia tidak pernah berhasil menyalurkan perasaan yang seharusnya ada pada sebuah lukisan, kecuali ketika dia sedang dalam suasana hati yang buruk. Lukisannya menuntut kesempurnaan, namun sempurna yang mampu dia lakukan hanya sebatas vas luarnya. Dia tidak mampu memberikan jiwa pada karya tersebut, kecuali emosi negatif.


Tapi 'orang itu' berbeda dari dirinya. Meskipun 'orang itu' tidak pernah mengungkapkan emosinya seperti robot kaku, tapi tanpa diduga apa yang tidak berhasil dilakukannya justru mampu dihasilkan oleh 'orang itu' dengan mudah.


Felice baru kembali dari misinya yang mengambil waktu selama setengah bulan untuk mengintai salah seorang anggota mereka yang diduga adalah mata-mata. Selama setengah bulan ini dia harus membuat dan berperan dalam identitas yang berbeda sebelum dia akhirnya kembali ke markas dengan informasi penting.


Dia agak kelelahan beberapa hari ini, tapi untungnya dengan posisi dan identitasnya saat ini dia memiliki hak istimewa untuk menikmati istirahat yang layak sebelum mengambil misi berikutnya. Gadis remaja yang mendapat liburan itu berkeliling di sekitar kota untuk berbelanja sebelum pulang.


Saat Felice kembali ke tempat yang tidak tahu apakah harus dia sebut sebagai 'rumah', hal pertama yang menjadi kebiasaannya adalah mencari 'orang itu', pemuda yang tinggal satu atap dengannya. Yah, lebih tepatnya dia yang menumpang atap 'orang itu' semenjak kedatangan pertamanya.


Aneh sebenarnya, mengingat 'orang itu' adalah maniak kebersihan yang terbilang perfeksionis. Rekannya ini tidak tahan dengan kondisi tidak rapi atau kekotoran yang terlihat di sekitarnya, namun kenapa setiap kali hanya hal-hal yang terkait dengan pekerjaannya yang menjadi pengecualian? Ini masih menjadi tanda tanya besar untuk Felice.


Menutup pintu ruangan, Felice berpindah ke tempat selanjutnya yang menjadi tebakannya. Dia menaiki tangga dan pergi ke lantai paling atas dari rumah itu. Sudah menjadi peraturan kalau seluruh lantai teratas adalah milik 'orang itu'.


Felice membuka pintu yang tidak jauh dari tangga dan menemukan pemuda yang dicarinya. Ruangan ini mengambil tempat hampir di seluruh lantai ini dan yang mengisi ruangan itu tidak lain adalah lukisan-lukisan dengan berbagai tema dan ukuran.


Saat ini 'orang itu' sedang duduk membelakanginya dan mengerjakan sebuah kanvas lukis seukuran setengah badannya. Pemuda itu menggunakan setelah putih dari atas ke bawah dan yang ajaibnya, meskipun sedang bersentuhan dengan cat yang ada di mana-mana, pemuda itu sendiri tidak memiliki noda cat setitik pun di sarung tangan putihnya, apalagi pakaiannya.


Felice masuk dan berdiri di samping pemuda itu untuk mengamati apa yang sedang dilukis di kanvas tersebut.


Seorang gadis ternyata, namun yang anehnya adalah gadis itu tidak memiliki fitur wajah. Akan tetapi, Felice bisa merasakan kalau gadis di dalam gambar sedang tersenyum. Tidak ada warna hangat pada lukisan itu, tapi lukisan itu sendiri justru menebarkan udara positif yang menenangkan.


"Bagaimana dengan misinya?" pemuda itu tidak memalingkan wajahnya dari lukisan ketika dia memulai percakapan dengan Felice.


"Seperti biasa, berhasil," jawab Felice.


"Kenapa dia tidak punya wajah?" tanya Felice beberapa saat kemudian.


"Kenapa dia harus punya?" jawab pemuda itu yang mengembalikan pertanyaan Felice dengan sebuah pertanyaan.


"Bukankah itu tujuan kita ketika menggambar seseorang? Tanpa wajah, gambar itu tidak akan pernah lengkap. Tanpa wajah, bagaimana orang bisa melihat bagaimana emosi orang yang kamu gambar saat ini?" tanya Felice lagi.


"Emosi tidak harus dilihat dari wajah. Identitas seseorang juga tidak harus dikenali hanya dari wajahnya saja."


Tidak ada yang salah dengan jalan pikiran ini. Felice tertawa pelan dan berkata, "Kamu adalah orang tersulit yang bisa kupahami hingga saat ini. Ada kalanya aku bertanya-tanya kamu ini sebenarnya memiliki EQ yang tinggi atau rendah."


Kali ini Felice tidak mendapatkan balasan. Dia tidak peduli dan mengangkat sebuah kotak kue di depan pemuda itu dan berkata, "Seperti biasa, waktunya makan."


Pemuda itu meletakkan kuas di tangannya dan mengambil kotak kue sebagai gantinya. Felice duduk di lantai dan mengangkat kepalanya untuk memandang rekannya yang sedang makan kue.


Senang rasanya bisa duduk damai seperti ini setelah semua misi yang dilaluinya...