The Second Life

The Second Life
XXXV - Makan Siang



“Chloe.”


“Ya, Nona Winston?” tanya Chloe saat menemaniku makan siang. Holly disibukkan oleh kotak hadiah Idris. Jadi, hanya kami berdua di ruang makan saat ini.


“Apa kau pikir aku pantas menjadi seorang Ratu?” tanyaku muram.


Chloe kaget. “Nona Winston ..., bagaimana Nona menanyakan hal itu kepada saya yang hanya seorang pelayan?”


“Aku hanya bertanya. Siapa pun bebas berpendapat. Dan sekarang aku ingin mendengar pendapatmu sendiri,” kataku seraya menyendoki makanan ke mulut. Aku bersusah payah mencerna semua makanan itu meskipun lidahku hanya merasakan rasa pahit. “Apakah berat jika kau meninggalkan Holly?”


“Nona ... ingin memecat saya?”


“Bukan begitu, Chloe. Aku nantinya ingin menjadikanmu salah satu dayangku di Istana Ratu,” jelasku.


Chloe menutup mulutnya seakan-akan yang kukatakan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghela napas. Persis seperti anak kecil yang lucu. “Saya sudah lama menjadi pelayan bersama Bibi Holly. Yang mengajarkan saya seluruh pekerjaan yang harus dilakukan di dalam istana adalah beliau. Jika saya pergi meninggalkan-”


“Ini sudah menjadi sebuah tradisi. Kepala Pelayan di Istana Perunggu akan melatih seorang dayang untuk Ratunya dan ikut ke Istana Ratu saat Ratu baru dinobatkan. Holly akan digantikan oleh dayang yang pernah masuk ke Istana Ratu saat tiba waktunya nanti,” potongku sambil menjelaskan secara rinci. “Di sini Holly akan mendapatkan murid baru lagi untuk dilatih.”


Chloe menunduk. “Baiklah, Nona Winston. Saya bersedia.”


“Bagus.” Aku tersenyum. Chloe memang tidak punya pilihan lain selain setuju.


Holly muncul dan membawa seseorang di belakangnya. Itu Hendery. Tersenyum bagai tanpa dosa ke arahku. Aku tak peduli dan sibuk dengan makan siangku.


“Nona, saya membawa Tuan Franklin,” ucap Holly.


“Ya, aku juga lihat.” Aku melirik Hendery. “Holly, Chloe, keluarlah.”


Mereka berdua menunduk dan Hendery langsung duduk di kursi seberangku. Berhadapan.


“Apakah beberapa hari ini Nona mogok makan seperti anak kecil?” goda Hendery.


“Saya hanya sakit karena memaksakan diri. Padahal sudah saya kirimkan surat untuk Anda soal hal itu. Apa masih belum jelas?” tanyaku.


Hendery mengambil sebuah anggur dari keranjang buah dan memakannya. “Bagaimana kondisi Nona saat kejadian di acara pertunangan itu? Berita tentang Nona yang bertengkar dengan Yang Mulia Putra Mahkota terdengar sampai ke telingaku.” Apa Rose yang menyebarkannya?


“Saya hanya sedikit kesal karena Putra Mahkota dan Nona Hindley berduaan saat saya tidak sadarkan diri. Melihat dua orang yang tak saya sukai di satu tempat membuat emosi saya meledak-ledak,” kataku.


“Sepertinya latihan kita harus ditunda dari hari yang kau tentukan, Nona Winston,” ucap Hendery.


“Ada apa?”


“Yang Mulia Kaisar menunjukku sebagai ketua tim ekspedisi yang baru dan diperintahkan untuk menginvestigasi lebih lanjut tentang Salamander Raksasa,” jawab Hendery. “Aku dan kakakku akan berada di hutan selama seminggu.”


Aku yakin bukan Kaisar yang berpikir untuk membawa Hendery ke hutan Beck. “Baik, Tuan Franklin. Jika Anda sudah kembali, tolong kirimkan surat.”


“Baiklah. Aku ke sini hanya ingin mengatakan hal itu. Suratku ditolak terus untuk masuk ke dalam Istana Perunggu,” ucap Hendery.


“Saya tidak tahu menahu soal hal itu. Mungkin saja itu ulah Putra Mahkota. Saya akan bicara dengannya,” kataku.


“Bicara apa?”


Aku dan Hendery menoleh ke asal suara dan melihat Idris yang muncul bersama dengan Jack. Dia menatap Hendery dengan tatapan tajamnya. Apalagi sekarang? Dia mau cemburu pada Hendery yang bukan siapa-siapaku?


“Semoga Yang Mulia Putra Mahkota diberkati Dewi Kebajikan,” salam kami berdua.


“Apa ini, Charlotte? Kau mengundang laki-laki lain ke dalam Istana Perunggu?” tuduh Idris.


“Itu benar, Yang Mulia. Aku datang ke sini karena surat yang hendak kuberikan selalu ditolak,” jelas Hendery.


Idris—untuk pertama kalinya—berdecak kesal di depanku. Dia tersenyum dan mengangguk paham. “Apa Tuan Franklin yang mengajarimu berpedang?”


“Ya, itu benar.”


“Baiklah, kita lupakan saja masalah ini. Aku juga tidak ingin berlarut-larut dalam emosi,” ucap Idris.


“Kalau begitu saya permisi dulu, Yang Mulia,” kata Hendery.


Hendery melirikku dan mengangguk lalu pergi meninggalkan kami bertiga. Idris menyuruh Jack untuk menunggu di luar selagi kami hendak bicara. Cepat sekali Idris mengetahui bahwa aku mengirimkan hadiahnya pada Rose. Aku bahkan tidak yakin jika hadiah itu sudah sampai.


“Kenapa kau malah mengirimkan hadiah yang kuberikan padamu kepada Nona Hindley?” tanya Idris. “Apakah kau masih marah?”


“Bukankah kau sangat dekat dengan Nona Rose hingga kau tetap tersenyum senang saat bicara dengannya selagi aku tak sadarkan diri?”


“Charlotte, aku hanya mencintaimu,” ucap Idris. Dia mendekat dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku hanya diam membeku. “Apa yang bisa kulakukan agar kau bisa percaya dengan semua yang kukatakan?”


“Nikahi aku secepatnya agar tidak ada satu wanita pun yang berani mendekatimu.”


“Bulan depan kita akan menikah bersamaan dengan hari penobatan. Apa kau mau menunggu sebentar saja?” tanya Idris. “Oke?”


“Baik, Idris. Terima kasih sudah mau mendengar perkataanku,” kataku sambil tersenyum lebar saat Idris meregangkan pelukannya dan menatapku.


“Apakah kau mau menerima hadiahku dan melupakan semua kesalahpahaman ini?” bujuk Idris.


“Kau mau meyuapku?”


“Tidak, aku hanya ingin kau bahagia,” ucap Idris bersikap manja. “Maaf sudah mengganggu makan siangmu.”


“Tak apa. Asal kau mau mengabulkan satu permintaanku.”


“Apa itu?” tanya Idris.


“Apakah aku boleh merekrut Tuan Franklin sebagai kesatria pribadiku? Aku tahu kau sudah pernah menolak hal ini, tapi aku juga ingin ada orang yang mengajariku hal-hal tentang pedang sambil mengurus pekerjaan sebagai Ratu,” ucapku pada Idris.


“Charlotte,” lirih Idris. “Apa sebegitu besarnya kau menginginkan Tuan Franklin sebagai kesatriamu?”


“Uhm, tidak boleh?” Aku menatap Idris dengan tatapan memohon.


“Baiklah-baiklah. Tapi kau harus berhati-hati dengan rumor yang akan muncul nantinya,” kata Idris. “Dan selama beberapa hari ini, kau akan dipusingkan dengan banyak sekali persiapan pernikahan kita.”


Aku mengangguk. “Ya, aku tidak masalah soal itu.”


“Apakah kondisi sudah membaik?” tanya Idris.


“Lumayan.”


“Kalau begitu tidak ada lagi yang bisa membuatku khawatir. Oh, ya. Dalam beberapa hari ini kita akan makan malam bersama dengan Keluarga Dominic dan Harriston. Pastikan kau memakai gaun yang akan kukirimkan,” ucap Idris.


“Baik, idris.”


Idris pun berpamitan dan meninggalkanku untuk kembali ke Istana Kekaisaran. Chloe membereskan meja makan dan aku kembali ke kamarku. Di atas tempat tidur, aku melihat surat dengan lambang cap Avnevous. Saat kubuka, di dalamnya berisi surat undangan untuk acara penobatan Lucas.


Lucas Cavan Avnevous akan naik takhta pada tiga hari ke depan. Hm, aku akan mengosongkan jadwalku pada hari itu karena sudah berjanji untuk menghadiri penobatan Lucas. Setidaknya aku harus menguatkan hatiku saat bertemu dengan Isaac.