The Second Life

The Second Life
XXXII - Malam Pertunangan



Jayden akhirnya mau tidak mau menerima hal tersebut dan berjanji untuk tidak memberitahukan segalanya kepada Ayah. Jika Ayah tahu, dia satu-satunya orang yang akan menentang pernikahanku dan semuanya akan terkuak lalu membuat seisi Vanhoiren geger. Aku tidak ingin membuat hal itu sampai terjadi.


“Ingat baik-baik hal ini. Orang yang kita lawan ada hubungannya dengan Kekaisaran termasuk Kaisar yang akan naik takhta sekarang,” kataku serius. “Jika kalian tidak sengaja membocorkan hal ini, nyawalah taruhannya.”


Hendery tersenyum. “Karena itulah yang pertama harus Nona Winston lakukan adalah menarik hati rakyat dan juga beberapa bangsawan.”


“Tanpa disuruh, saya sering membantu rakyat miskin setiap kali pergi ke kota. Tapi berbuat kebaikan tidak akan dilihat jika kita itu bukan pemegang kekuasaan penuh,” ucapku sambil tersenyum getir. “Akan saya lakukan secara aktif saat sudah naik takhta menjadi Ratu, Tuan Franklin.”


“Aku bisa membantu Nona dalam hal ini. Jika ada hasil panen yang berlebih, akan kuserahkan kepada rakyat atas nama Nona Charlotte,” tambah Jayden.


“Ide yang bagus, aku harap itu bekerja.”


“Bagaimana dengan dayang yang akan menjadi mata dan telinga Nona Winston saat aku tidak ada?” tanya Hendery.


Aku berpikir sejenak dan teringat pada satu orang, Chloe. “Saya belum menemukan orang yang bisa saya percaya untuk saya jadikan dayang.”


“Bukankah ada satu orang yang pas untuk pekerjaan itu?”


“Dan siapakah orang itu, Tuan Franklin?” tanyaku tertarik.


“Nona pasti tahu putri Baron Hindley, kan? Kudengar dia-”


“Dia adalah orang yang paling ingin saya hindari, Tuan Franklin,” potongku kesal. “Sepertinya Anda harus menghadiri Pergaulan Atas agar tahu bagaimana dan seperti apa karakter Rose Hindley.”


“Saya akan mencari sendiri dayang yang cocok untuk saya,” kataku lagi.


***


Aku menghabiskan waktuku berlatih bersama dengan Hendery hingga tubuhku seperti mati rasa dan tersiksa. Latihannya lebih parah dari yang diberikan oleh Jayden maupun Lucas.


Selama seminggu berlalu pun, aku juga membantu Idris mengatur pesta pertunangan kami. Seluruh bangsawan akan diundang di pesta tersebut, termasuk Rose. Idris berkata jika Selir Sienna tidak akan diundang meskipun aku tidak keberatan dengan hal itu.


Hari ini aku berdiri bersama Idris di depan pintu istana dan mulai menyambut para tamu bangsawan yang datang. Kaisar dan Ratu juga hadir dan duduk di singgahsana. Yang paling membuat takjub adalah kehadiran Hendery setelah sekian lama tidak muncul di pesta seperti ini. Para bangsawan muda malah tergila-gila pada sosok licik itu.


“Oh, ya ampun! Ternyata ada satu laki-laki lainnya yang tidak kalah tampan dari Yang Mulia Putra Mahkota!”


“Mungkin saja dia sedang mencari jodoh di sini!”


Jayden mendekatiku dan memberi salam. “Akhirnya Yang Mulia Putra Mahkota mendapatkan pasangan yang secantik ini.”


“Terima kasih Tuan Franklin,” kata Idris. “Kau harus sering-sering berbaur dengan bangsawan lain agar menemukan jodohmu juga.”


Hendery melirikku sejenak. “Bagaimana, ya. Hanya Nona Winston yang menarik hatiku saat ini.”


“Tuan Franklin, orang-orang bisa salah paham dengan perkataan Anda barusan,” kataku kesal.


Idris merangkul bahuku agar aku mendekat padanya. Sepertinya dia hendak memperlihatkan pada Hendery bahwa aku adalah miliknya. Hendery tersenyum seakan menangkap maksud dari Idris.


“Aku hanya bercanda, Yang Mulia,” ucap Hendery. “Mana mungkin aku mencuri pasangan dari Yang Mulia?”


“Tidak ada yang tahu pikiran seseorang,” ucap Idris serius.


Hendery malah memasukkan dirinya ke dalam bahaya. Jika dia bersikap lebih dari ini, Idris tidak akan mengijinkannya masuk ke dalam istana bahkan di depan gerbangnya sekali pun.


“Aku permisi dulu, Yang Mulia ..., Nona Winston,” kata Hendery.


Kami akhirnya berduaan lagi. Sambil menunggu seluruh undangan hadir, Idris tetap menemaniku dan tak mau lepas dariku. Wajahnya berubah saat menggenggam tanganku dan meremas-remasnya. Dia merasakan telapak tanganku yang kasar karena berlatih pedang setiap hari.


“Kenapa telapak tanganmu sekasar ini?” tanya Idris cemberut.


Aku melepaskan tanganku dari genggamannya. “Maaf, Idris. Aku terlalu bekerja keras.”


“Apa kau berlatih pedang di belakangku, Charlotte?” tanya Idris menatapku dengan tatapan penuh selidik. “Berhentilah jika itu benar. Aku tidak ingin tanganmu seperti ini saat kugenggam.”


“Kalau begitu jangan genggam tanganku.” Ah, aku kelepasan bicara karena kesal. “Sebagai gantinya, kau bisa memelukku.”


Idris tersenyum. “Usaha yang bagus, Charlotte. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku tadi,” kata Idris yang tak mudah dikelabui.


“Ya, aku berlatih pedang beberapa hari terakhir,” kataku mengaku. “Tapi, tolong jangan membuatku berhenti. Aku tidak ingin meninggalkan hobiku.”


Idris terlihat kaget. “Hobimu? Sejak kapan berlatih pedang adalah hobimu, Charlotte?”


Belum sempat aku menjawab, Kaisar berdiri dari singgasana dan berkata, “Selamat malam para hadirin sekalian. Terima kasih sudah datang ke acara pertunangan, Putra Mahkota. Anakku satu-satunya.”


Semuanya bertepuk tangan dan membuat suasana jadi meriah. Kaisar kembali bicara. “Aku sendiri yang akan memimpin pertunangan ini. Tapi sebelum itu, apakah ada yang ingin bicara?”


Marchioness Franklin mengangkat tangan. Seperti yang sudah kuduga. “Yang Mulia Kaisar, maaf sebelumnya. Tapi apakah pertunangan ini memang atas kehendak Yang Mulia? Mengingat calon Ratu yang kurang-”


“Oh. Dengan artian, Marchioness Franklin meremehkan calonku yaitu Nona Winston?” potong Idris dengan nada emosi.


“Bukan begitu, Yang Mulia Putra Mahkota,” ucap Marchioness Franklin.


Aku tahu ending-nya akan seperti apa. Kaisar menepuk tangannya sekali dan tersenyum. “Hampir semua bangsawan menyetujui hal ini. Dan aku tidak ingin jika Putra Mahkota tidak senang dengan pernikahannya sendiri. Dari penjelasan ini, apakah Marchioness ingin komplain lagi?” Marchioness Franklin bungkam. “Aku anggap itu tanda setuju. Untuk meresmikan pertunangan ini dan menuju ke jenjang yang lebih serius, silahkan untuk saling memakaikan cincin yang sudah disiapkan.”


Jack mendekat dengan kotak berisi dua cincin untukku dan Idris. Idris mengambil pertama kali dan memakaikan cincin itu di jari manisku. Aku melakukan hal yang sama dan berakhir dengan dicium oleh Idris di kening. Semua tamu kembali bertepuk tangan.


Setelah bertukar cincin, acara diteruskan tanpa Kaisar dan Ratu dengan berbincang-bincang dengan para tamu. Idris tidak mau membuatku lepas barang seinci pun dari sampingnya.


“Apa kau haus?” tanya Idris.


“Sedikit,” kataku.


“Akan kuminta pelayan mengambil minum untukmu,” ucap Idris sambil mencari-cari keberadaan pelayan. “Kemana perginya pelayan-pelayan?”


Aku tersenyum. “Aku baik-baik saja, Idris. Tenanglah.”


“Tunggu di sini sebentar, Charlotte. Akan kuambilkan sendiri. Jangan kemana-mana,” kata Idris.


“Idris ...” Terlambat, dia sudah meninggalkanku.


Hendery kembali muncul di hadapanku secara sengaja. Sepertinya dia tidak nyaman karena dikejar para bangsawan wanita yang hendak mengajaknya bicara dengannya walau hanya sebentar.


“Apakah Anda menyukai tempat ini, Tuan Franklin?” tanyaku setengah menggoda.


“Oh ya ampun, Nona Charlotte. Tempat ini neraka untuk orang sepertiku,” ungkap Hendery dengan wajah sedih.