
Aku terbangun pagi-pagi buta karena teriakan Ava. Buru-buru kukenakan kembali gaunku dan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tidak biasanya Ava seperti sekarang.
Asal teriakan Ava dari ruangannya sendiri. Baru saja aku ingin membuka pintu ruangan Ava, seorang laki-laki yang tidak kukenali sudah terlebih dahulu membuka pintunya dari dalam. Usia laki-laki itu kurang lebih tujuh puluh tahun. Ada uban yang sudah mendominasi rambut hitamnya. Matanya berwarna biru tua, tapi mata kirinya dipasang penutup mata. Kemungkinan besar buta.
Ah, mata kami bertatapan. Tapi dia tidak mengatakan apa pun dan melewatiku begitu saja. Dia pergi.
Karena mendengar teriakan Ava lagi, aku akhirnya tersadar pada lamunanku. Ugh, bagaimana bisa aku terhipnotis oleh orang itu? Aku yakin jika dia bukanlah orang biasa. Aku pun bergegas masuk ke dalam ruangan Ava.
Aku kaget karena ruangan Ava yang sudah kacau-balau. Bahkan koleksi tongkat sihirnya sudah berserakan di lantai. Buku-buku dan juga lembaran kertas yang ditumpuk di atas mejanya pun juga tergeletak manis di lantai. Aku melangkahkan kakiku sehati-hati mungkin karena tidak ingin menginjak benda-benda penting milik Ava.
“Ada apa?” tanyaku padanya.
“Ada anak s*alan yang tiba-tiba saja mengajakku bermain,” jawab Ava ketus. “Lupakanlah. Sebaiknya kau segera kembali ke Vanhoiren. Si Kaisar akan segera bangun.”
Aku mengangguk. “Baiklah.”
Aku yakin jika anak s*alan yang disebut oleh Ava adalah laki-laki tua tadi. Kami akhirnya kembali masuk ke dalam portal dan keluar di kamar mandi kamarku. Saat keluar dari kamar mandi dengan cara mengendap-endap, aku bisa melihat jika Idris dan wanita yang menggantikanku sedang tertidur di atas ranjang dengan berselimut tanpa sehelai benang.
Pemandangan yang biasa saat ini, tapi tetap saja luar biasa bagiku. Aku mengalihkan pandanganku dari mereka karena tidak mau merasa jijik lagi. Aku sangat beruntung hingga tidak naik ke ranjang yang sama dengan Idris lagi. Akan kuminta Chloe untuk mengganti sepreinya lagi.
Ava membangunkan wanita itu secara perlahan. Wanita itu bangun dengan raut wajah terkejut. Dia merangkak keluar dari selimut dan masuk ke kamar mandi bersama dengan Ava. Lima menit kemudian, Ava kembali dan menghampiriku.
“Aku akan membuat hasil percintaan yang sama dengan yang wanita itu dapatkan dari si Kaisar di tubuhmu,” bisik Ava.
“Apakah itu harus?” tanyaku agak sedikit keberatan.
Ava berdecak kesal. “Harus. Lagipula aku sudah melakukannya padamu selagi kau bertanya tadi ....” Barulah aku sadar jika tubuhku sudah dipenuhi oleh beberapa bekas-bekas menjijikkan dari Idris. Aku menghela nafas panjang karena kesal. “Selagi masih jam segini, lebih baik kita pasang portal di tempat yang kumaksudkan.”
“Baiklah, tapi biarkan aku mengganti gaunku terlebih dahulu ....”
“Cepatlah.”
Aku segera mengganti pakaianku dengan piama tidur yang baru kuambil di dalam lemari. Setelah itu, kulapisi juga dengan jubah tidur panjang. Begini lebih baik.
“Ayo,” kataku pada Ava.
Kami akhirnya keluar dari kamarku dan sekali lagi mengendap-endap ke ruangan yang dimaksud oleh Ava. Itu adalah kamar yang sama sekali tidak dipakai seperti kamar-kamar yang lainnya. Ava menggeser pajangan di atas perapian, lalu kemudian lemari yang ada di dekatnya tergeser ke samping. Ruang rahasia yang lebih besar dari yang ada di Istana Perunggu terpampang jelas di depanku.
Ava masuk dengan cepat ke dalam dan membuat portal di dalam. Dia keluar setelah selesai dengan tugasnya.
“Portal yang ada di kamar mandimu sudah kuhilangkan. Aku akan pulang lewat sini,” kata Ava.
“Baiklah. Terima kasih,” ucapku tulus.
Daripada aku berdiam diri sambil menunggu Idris bangun, aku memilih turun ke bawah dan membuatkan teh untukku dan untuknya. Ini hanya sebagai bentuk kamuflase agar Idris berpikir jika malam menakjubkan (mungkin) yang ia lewati semalam, benar-benar ia lewati bersamaku.
Di dapur, aku malah bertemu dengan Chloe. Karena terbiasa bangun pagi-pagi sekali di Istana Perunggu, kebiasaannya itu jadi terbawa di Istana Ratu. Aku suka sikap Chloe yang pekerja keras seperti ini.
“Ra-Ratu?! Kenapa Ratu ada di sini?” Chloe terkejut melihat kehadiranku.
Aku tersenyum. “Selamat pagi, Chloe,” sapaku padanya. “Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?”
“Ah, selamat pagi, Ratu,” balas Chloe. “Aku ingin membuatkan Ratu dan Kaisar sarapan.”
“Kau belum dipindahkan secara resmi kemari. Artinya kau masihlah tamu. Lagipula, kau di sini akan menjadi dayangku, bukan pelayan. Jadi, bersikaplah lebih santai.” Aku bisa mencium bau sup yang direbus. “Untuk hari ini saja kau turun tangan di dapur. Mengerti?”
Chloe menunduk. “Baik, Ratu.”
“Aku akan membuat teh untukku dan juga untuk Kaisar. Kau fokus saja pada sarapannya.”
“Baiklah, Ratu.”
Tidak ada percakapan apa pun lagi di antara kami. Chloe sibuk membuat sarapan dan aku sibuk membuat teh. Para pelayan yang hari ini bertugas di dapur jadi tidak berani masuk karena kehadiranku yang tidak biasa bagi seseorang yang merupakan Ratu.
Aku meletakkan cangkir tehku ke atas nampan dan membawanya sendiri ke lantai atas. Aku tidak peduli dengan pandangan para pelayan. Tidak kulihat kehadiran Anna di mana pun. Dia memang sering telat bangun dan suka memerintah.
Sikap penerima jabatan karena orang dalam memang seperti itu.
Sampai di dalam kamar, aku bisa melihat Idris yang masih tertidur. Aku meletakkan nampan yang kubawa di atas meja. Lalu, aku pun duduk di atas sofa dan mulai menyesap tehku perlahan-lahan. Jam masih menunjukkan pukul lima lewat dua menit.
Tepat jam enam pagi, Idris akhirnya bangun dari tidurnya. Aku baru ingat jika Idris memang terbiasa bangun jam enam tepat seperti sekarang. Maka dari itu, aku akhirnya membuatkan teh lagi untuk kami.
Idris meraba sisi ranjang di sampingnya. Karena tidak merasakan kehadiranku, dia akhirnya menoleh ke segala arah. Dan menemukanku yang duduk di atas sofa.
“Ah, kau sudah bangun, Istriku,” kata Idris sambil tersenyum lebar.
“Selamat pagi, Idris.”
“Selamat pagi, Istriku. Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?” Idris kemudian duduk dan terlihatlah tubuh kotak-kotak miliknya. “Apa kau tidak ingin melanjutkan rutinitas kita tadi malam?”
Hampir saja teh yang hendak aku teguk keluar dari mulutku. “Berpakaianlah. Aku sudah membuatkan teh untukmu,” kataku tegas. Aku bisa gila jika berada di samping Idris seharian penuh.
Note: Episode selanjutnya akan dirilis tiga hari lagi.