
Syukurlah Lucas mencegah aku jatuh dengan menarik tanganku. Dia mendorong Evie menjauh agar tidak melakukan hal berbahaya lainnya. Aku didekap oleh Lucas supaya tidak kemana-mana.
“Apa yang kau lakukan?!” seru Lucas marah.
Evie jatuh ke lantai dan berteriak histeris. “Wanita itu! Wanita itu membuatku tidak bisa bersamamu!”
“Lucas ...” Aku menatap Lucas yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya. “Tenanglah.”
Ava, Isaac, bahkan para tamu pun akhirnya berkumpul untuk melihat kami. Evie berdiri dan menyeka air matanya dengan gaya kasar. Dia menggigit bibirnya lalu berdecak kesal beberapa kali.
“Apa yang terjadi?!” tanya Ayah Lucas khawatir. “Apa yang membuat Putri Duke Harrison menjadi seperti ini?”
“Dia hampir saja mencelakai Charlotte. Jika aku tidak menghentikannya, Charlotte pasti sudah jatuh dari balkon ini karena didorong oleh Nona Evie,” jelas Lucas.
“Evie, apa itu benar?”
“A-Ayah ...,” ucap Evie ketakutan. “Itu tidak-”
Plak!
Suasana menjadi tegang. Aku bisa melihat jika pria yang disebut Ayah oleh Evie, menamparnya tanpa ragu. Ayah Evie atau bisa dibilang Duke Harrison terlihat malu karena tindakan Evie. Wanita itu pun tidak bisa mengeluarkan satu dua kata lagi setelah itu.
“Duke Harrison, tindakanmu saat ini cukup keras pada putrimu sendiri,” kata Ayah Lucas.
“Dia pantas mendapatkannya. Bukannya mengintrospeksi diri karena gagal menjadi pasangan Raja, dia malah meluapkan kekesalannya pada pasangan Raja yang sebenarnya,” ucap Duke Harrison. “Maafkan ketidaksopaan Anak saya, Yang Mulia Raja.”
Lucas menghela napas. “Tidak apa-apa, Duke Harrison. Silahkan bawa Nona Evie agar dia bisa menenangkan diri. Aku akan mengantar Charlotte pulang.”
Aku dituntun oleh Lucas membelah kerumunan bersama Ava dan Isaac yang mengekor dari belakang. Kami sampai kembali di depan Istana. Kereta pun sudah siap mengantar. Ava dan Isaac sudah masuk duluan. Menyisakan aku dan Lucas yang diam tanpa kata.
“Terima kasih, Lucas. Jika kau tidak menolongku-”
Cup!
Ah, sudah lama aku tidak merasakan kecupan Lucas. Kecupan itu semakin lama berubah menjadi sebuah ciuman yang hangat dan dalam. Tanpa sadar aku sudah berada di dalam pelukannya. Bibir kami saling beradu saat kami berpagutan.
Aktivitas kami terhenti saat Ava secara terang-terangan batuk keras di dalam kereta. Aku tertawa bersama Lucas.
“Selamat untuk penobatanmu, Lucas,” kataku.
“Aku menunggumu untuk bisa menemaniku,” ucap Lucas. “Kuharap semuanya cepat berlalu.”
“Ya, Putra Mahkota bilang dia akan menikahiku dalam kurun waktu sebulan,” kataku pada Lucas.
Senyuman mengembang di bibirnya. “Aku tidak sabar untuk itu, Charlotte.”
“Aku juga.”
“Maaf tidak bisa mengantarmu sampai ke Vanhoiren,” ucap Lucas. “Jangan lupa untuk menghubungiku, oke?”
Aku mengangguk. “Iya. Aku berjanji, Lucas. Kalau begitu, aku pamit pulang.”
“Hati-hati di jalan,” kata Lucas.
“Iya.”
Akhirnya aku pun naik ke dalam kereta lalu melambai pada Lucas dari jendela. Kereta pun berjalan dan kami bertiga meninggalkan Istana Avnevous dan pulang menuju Menara Serikat Sihir yang tak terlalu jauh.
Ava tidur sejenak karena kelelahan dan tinggal tersisa aku bersama Isaac yang terjaga di dalam kereta. Jujur saja aku masih merasa bersalah soal Isla pada Isaac. Aku tidak bisa tenang.
“Ada apa, Nona Charlotte?” tanya Isaac ramah.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi aku agak khawatir karena ini bisa membuatmu teringat hal-hal buruk,” kataku takut.
Isaac tersenyum. “Jika ini menyangkut anakku, Isla. Nona Charlotte tidak perlu khawatir,” kata Isaac. “Aku memang takut dan tidak bisa menjalankan pekerjaanku dengan normal beberapa waktu belakangan karena menghilangnya Isla. Itu adalah hal yang wajar bagi orangtua sepertiku. Hanya Isla satu-satunya peninggalan dari Istriku yang telah tiada.”
“Tapi itu hanyalah reaksi alami. Aku percaya dengan bakat Isla. Aku sudah membesarkannya sejak kecil dan tahu akan batas kemampuannya. Putriku sudah besar dan mampu menjaga dirinya sendiri bahkan di kandang iblis sekali pun,” lanjut Isaac. “Untuk itu, Nona Charlotte jangan khawatir dan pikirkan saja rencana Nona bersama Nyonya Ava.”
Aku menitikkan air mata karena melihat dan merasakan ketegaran Isaac. “Tapi aku tidak akan tenang jika tidak mengatakan hal ini. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku minta maaf padamu, Isaac. Aku berjanji akan mengembalikan Isla,” kataku pada Isaac.
“Nona Charlotte tidak perlu sampai seperti itu. Tapi aku sangat berterima kasih dan menghargainya,” kata Isaac.
“Baik, Isaac.”
Kereta berhenti di depan Menara Serikat Sihir dan Ava bangun tanpa dibangunkan. Ia menguap dan turun duluan, menyusul aku, lalu Isaac. Hari ini sangatlah menyenangkan sekaligus melelahkan.
Aku masuk ke dalam Menara untuk menyebrangi portal menuju kamarku di Istana Perunggu.
“Kalau begitu, aku pamit dulu,” kataku pada Ava dan Isaac.
“Ya, semangatlah mempersiapkan pernikahanmu,” kata Ava. “Oh ya, karena kau akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan si Putra Mahkota, aku telah menyiapkan ramuan untuk sakit kepalamu.”
Ava masuk ke dalam ruangannya dan keluar dengan membawa sebuah botol kecil berisi banyak butiran pil. Aku mengambilnya saat Ava menyodorkan botol itu padaku.
“Di minum setiap pagi,” pesan Ava. “Efeknya 24 jam.”
“Ini sangat membantu. Terima kasih,” kataku.
“Ya, kembalilah dan istirahat.”
Aku mengangguk dan masuk ke dalam portal. Aku menghela napas saat kembali menginjakkan kaki di Istana Perunggu. Begitu keluar dari ruangan rahasia, aku melihat keluar jendela.
Setidaknya, waktuku untuk membalas semuanya sudah tidak lama lagi. Sebulan dari sekarang.
Beberapa hari lagi, Hendery akan kembali dari ekspedisinya dan aku juga harus menghadiri acara makan malam bersama Keluarga Dominic dan Harriston. Semuanya menjadi padat karena kemauanku yang mempercepat pernikahan ini.
Aku duduk di depan meja rias dan menghapus riasan wajahku. Kulepas jepitan rambut yang kukenakan lalu mengganti gaunku dengan piama tidur.
Saat tubuhku berbaring dan bersentuhan dengan ranjang yang empuk, rasa kantukku mulai muncul dan membawaku terpejam dalam mimpi. Sudah kuamankan obat dari Ava di dalam laci untukku minum besok pagi.
***
Aku membuka mataku saat merasa ada seseorang yang menatapku. Saat kulihat pelakunya, itu adalah Idris. Dia menatapku seakan-akan sudah bersiap untuk menerkamku hidup-hidup.
“Selamat pagi, Idris,” sapaku padanya.
“Kemarin, apa kau di rumah saja?” tanya Idris.
“Iya. Sebenarnya aku berdiam diri di kamar dan membaca buku,” jawabku santai. “Apa yang membuatmu ke sini?”
Idris menggeleng dan tersenyum. “Bangunlah dan kita sarapan bersama. Sebelum makan malam nanti, kita akan memilih gaun pengantinmu.”
“Baiklah, Idris. Tolong tunggulah sebentar, aku akan bersiap-siap,” kataku sambil bangun dari ranjang. “Bisakah tolong panggilkan Chloe untuk membantuku?”
“Dengan senang hati, Charlotte,” kata Idris lalu keluar dari kamarku.
Tak lama setelah itu, Chloe datang dan langsung membantuku bersiap untuk sarapan.