The Second Life

The Second Life
Bab 18: Pameran Seni (2)



Felice berkeliling di aula dan melihat sekilas beberapa lukisan, namum terkadang dia akan berhenti di lukisan-lukisan tertentu dan memberikan penilaian mental.


Di sekelilingnya, Felice mendapati beberapa orang akan mengeluarkan ponsel mereka dan memotret karya-karya tersebut. Di beberapa waktu, dia juga akan berhenti di dekat beberapa orang dewasa yang mungkin adalah seniman untuk mendengarkan apresiasi mereka.


Ketika Felice mendekati posisi lukisannya dipajang, dia melihat beberapa orang sedang mengamati lukisannya.


"Hei... Detil-detil lukisan ini dibuat dengan sangat bagus."


"Ya, untuk melukis karya ini paling tidak dibutuhkan waktu berhari-hari."


"Pelukisnya pasti orang yang sangat sabar ya."


"Tapi detil-detil ini terlalu sempurna ga sih? Pelukis ini memiliki penglihatan yang bagus atau perfeksionis?"


Yang tidak diketahui orang-orang ini adalah pelukis yang sedang mereka maksud sekarang berdiri di belakang mereka hanya sekitar satu setengah meter jauhnya.


Felice mendengarkan omongan kelompok orang ini dengan sedikit minat. Lukisan yang dibuatnya bertemakan keramaian di tengah kota. Adegan ini berasal dari sepotong ingatan akan kehidupan lampaunya ketika dia tengah menjalankan misi dan sedang menyamar saat itu, tepatnya sudut pandang dari gadis remaja yang sedang bersantai di cafe.


Felice yang tidak tertarik lagi dengan pujian yang hampir serupa itu berniat untuk pindah ke tempat lain. Namun, ketika dia baru saja berbalik, sebuah komentar yang berbeda menghentikan niatnya.


"Sayangnya terlalu kosong."


Felice melihat seorang lelaki tua yang berusia sekitar 60-an sedang menonton lukisan itu dengan serius. Felice tidak tersinggung, dia tahu kelemahannya sendiri. Mendengar komentar yang langsung menunjuk masalah lukisannya ini, Felice tersenyum sebelum pindah untuk melihat-lihat di tempat lain.


Kakek ini memiliki mata yang bagus.


Mengingat potret diri Vendry sebelumnya, Felice berkeliling untuk mencari lukisan Vendry. Setahunya wali kelasnya juga mendaftar dalam pameran ini, jadi paling tidak pasti ada satu karya yang dipajang.


Felice berkeliling selama beberapa putaran sebelum menemukan sebuah lukisan yang hanya berukuran sekitar 40 x 60 cm di sudut ruangan. Lukisan itu tidak terlalu istimewa atau menarik secara visual, namun langsung menarik pandangan pertama Felice.


Hanya ada hutan. Tidak ada apa pun, hanya ada hutan dan cahaya.


Nafas Felice tertahan. Sesak mencekik tenggorokannya ketika dia merasakan perasaan sakit yang tajam di hatinya. Felice tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Dia tidak memiliki kesan dengan lukisan ini, jelas ini pertama kalinya dia melihat karya ini jadi mengapa tubuh dan pikirannya bereaksi seperti ini?


Perasaan sedih membanjiri hatinya, ingin rasanya menangis, namun tidak ada air mata yang keluar dari matanya. Felice memegang jantungnya dan memejamkan matanya. Posisi ini sedikit berada di ujung sehingga tidak ada yang memperhatikan momen ini.


Felice menarik nafas dalam-dalam sebelum membuangnya dengan pelan, mengulanginya sampai detak jantung yang tidak menentu ini perlahan mereda. Dia membuka kedua matanya dan memandang lukisan itu lagi dengan kewaspadaan, saat menyadari kalau reaksi tidak jelas sebelumnya tidak terjadi lagi gadis kecil itu akhirnya bernafas lega.


Felice menurunkan tangan yang masih bersarang di posisi jantungnya dengan ekspresi suram.


Apa-apaan itu tadi, kenapa tiba-tiba aku seperti ini...


Bisa dibilang ini pertama kalinya dia merasakan rasanya terpojok seperti ini dalam setengah tahun kelahiran kembalinya di dunia ini. Di kehidupan sebelumnya, Felice pernah mendengar tentang seni yang mampu mempengaruhi jiwa seseorang. Yang ini termasuk kategori itu kan...


Felice tidak yakin dengan alasan di balik reaksinya ini jadi dia hanya bisa mengambil kesimpulan acak, kecuali dia perlu menggunakan orang lain sebagai subjek tes untuk membuktikan asumsinya.


Tepat ketika pikiran ini baru terlintas di benak Felice, suara akrab adiknya terdengar ceria di telinga Felice. Pupil Felice menyusut seketika.


Feline!


Felice berbalik dan ingin memperingatkan adiknya untuk jangan menatap lukisan itu, namun pandangan Feline sudah tertuju pada lukisan Vendry.


"Woah, ini lukisan Pak Vendry?"


Hmn?


Keheranan melintas di pupil Felice saat dia melihat Feline maju untuk mengamati lukisan itu lebih dekat dan memberikan pujian murni meskipun gadis kecil ini tidak terlalu mengerti seni lukisan.


Kelegaan sekaligus kontemplasi menguasai Felice. Dia bersyukur karena adiknya tidak mengalami gejala aneh seperti yang dialaminya, tapi itu artinya dugaan sebelumnya salah. Jadi hanya dia sendiri yang kedapatan masalah?


"Felice, Feline, Tante Julia mencari kalian," ujar Derrick. Anak laki-laki itu mendatangi mereka dengan sedikit nafas yang terengah-engah, tampaknya baru selesai berlari. Derrick juga melihat lukisan Vendry, namun dia juga tidak memiliki reaksi aneh sama seperti Feline.


Felice berjalan di belakang kedua anak kecil itu dengan setengah merenung. Lukisan itu hanya mempengaruhi dirinya, bukan orang lain. Mengapa demikian?


Kalau dibilang Felice tidak percaya mistis, hal ini sudah lama tidak berlaku semenjak kelahiran kembalinya. Tapi kalau harus sepenuhnya percaya kalau dia dikutuk orang, ini juga bertentangan dengan logika normalnya.


Dalam momen perenungan Felice, trio bocah itu pun sudah mendekati Julia dan Marvin.


"Sayang, kemarilah," panggil Julia sebelum mengucapkan terima kasih atas bantuan Derrick.


Felice melihat seorang kakek yang akrab sedang berdiri bersama Julia dan Marvin. Kakek itu adalah orang tua yang sebelumnya mengomentari lukisannya.


"Nak, ini Pak Andy, guru Mama dan Papa dulu," ujar Julia sambil tersenyum. Felice bisa melihat kilatan kegembiraan dan kedekatan dalam pupil mata ibunya saat memperkenalkan kakek itu.


Kakek itu tersenyum dan garis kerutan di wajahnya semakin terlipat yang menunjukkan aura ramah.


Feline memandang kakek ramah itu dengan ekspresi penasaran dan dengan patuh tersenyum sopan dan menyapa, "Halo Kakek Andy, namaku Feline."


Mendengar panggilan 'Kakek Andy', sang kakek tertawa pelan dan ekspresinya semakin ramah dengan suasana kehangatan yang memancar dari sang kakek, "Halo Nak."


Selanjutnya Felice juga mengikuti jejak adik perempuannya dan dengan sopan menyapa, "Halo Kakek, namaku Felice."


Pak Andy mengangguk dan menepuk puncak kepala kedua gadis kecil itu dengan ramah.


Usai perkenalan singkat itu, Julia dan Marvin berbicara dengan antusias terhadap Pak Andy. Dari sikap orang tuanya, Felice bisa melihat kalau mereka sangat menghormati Pak Andy ini.


Trio bocah itu berdiri seperti figuran di samping sambil mendengar percakapan orang dewasa ini. Dari pembicaraan mereka, ternyata Pak Andy adalah seorang seniman tua yang karyanya sudah terkenal di kalangan nasional.


Hanya saja Pak Andy ini selalu low profile sehingga dia kurang dikenal oleh masyarakat beberapa tahun ini. Wajar kalau Felice tidak mengenal kakek ini, lagipula dia tinggal di luar negeri begitu lama dulu. Waktu kembali ke Indonesia pun dia hanya ingin mengurusi hutang lama.


Haih... siapa sangka orang tua mereka mempunyai banyak relasi yang tidak terduga.