
Setelah selesai dengan semua kegiatan yang harus kami jalani, aku dan Idris kembali ke istana. Hari sudah mulai sore dan sebentar lagi saat-saat di mana kejadian yang tidak aku inginkan akan terjadi. Idris merasa senang akan hal itu, tapi bukan berarti aku juga.
Untuk ukuran laki-laki br*ngsek sepertinya, Idris sangatlah rendahan.
Aku sudah tidak akan tinggal di Istana Perunggu, melainkan di Istana Ratu. Semua barang-barang pentingku sudah dititipkan kepada Ava. Aku diantarkan ke Istana Ratu dengan kereta yang sama. Penjaga gerbang Istana Ratu membukakan pagar agar kereta kami bisa masuk.
Suasana di dalam istana sama sekali tidak ada bedanya. Sekali lagi aku merasa senang dan sedih di saat yang bersamaan. Kereta berhenti di depan pintu masuk istana, di depannya berdirilah seorang wanita dengan pakaian khas Kepala Pelayan. Dia adalah Anna, orang yang bertanggung jawab penuh dalam urusan rumah tangga di Istana Ratu.
Kami tidak akrab karena dia adalah kaki tangan Ratu XIX. Aku jadi lebih sering minta tolong kepada dayang-dayangku.
“Jangan khawatir, Istriku. Nanti malam kita akan bertemu lagi,” kata Idris tiba-tiba.
“Benar, Idris. Aku menantikan hal itu,” ucapku asal.
“Tidak perlu berdandan yang cantik. Aku hanya ingin kau malam ini,” kata Idris. Kalimat terakhirnya dibisikkan oleh Idris. Dia berharap aku tergoda, ya?
“Kau harus datang tepat waktu,” kataku padanya sambil turun dari dalam kereta. “Jangan sampai terlambat.”
“Tentu saja, Istriku,” ucap Idris. “Aku pergi dulu.”
Aku hanya mengangguk.
Kereta yang dinaiki Idris akhirnya pergi meninggalkan Istana Ratu. Aku langsung berbalik ke belakang dan menghadap Anna. Chloe sudah ada di belakangku. Dia ikut turun dan menemaniku.
Tidak ada sambutan meriah yang aku dapatkan di dalam Istana Ratu. Itu yang Ratu XIX inginkan. Anna sudah melakukan tugas yang diberikan Ratu XIX dengan baik. Aku lupa bagaimana aku menendang Anna keluar dari Istana Ratu.
“Semoga Yang Mulia Ratu diberkati Dewi Kebajikan,” ucap Anna sambil menundukkan kepalanya. “Saya Anna.”
“Baik, Anna. Di mana para pelayan dan pengurus istana yang lain?” tanyaku pelan. “Apakah kedatanganku tidak penting bagi kalian?”
“Tidak, Ratu. Bukan begitu. Maafkan saya atas kelancangan yang saya perbuat ...,” ucap Anna sambil terus menunduk.
Aku menatapnya tajam. “Kaisar akan segera datang, cepat bawa aku ke kamarku agar bisa segera bersiap,” ucapku pada Anna.
Anna mengangkat kepalanya lalu mengangguk. “Baik, tolong ikuti saya, Ratu.”
Aku pun mengikutinya dari belakang bersama dengan Chloe. Kami masuk ke dalam istana yang sama sekali tidak berubah. Anna membawaku naik ke lantai dua istana. Dia berhenti di depan kamar utama yang ada di lantai dua. Dulunya ini memang kamarku sampai aku menutup mata.
Anna membuka pintunya, dan mempersilahkanku masuk duluan. Barulah Anna masuk bersama dengan Chloe. Aku melihat-lihat kamarku yang tidak berubah kecuali sepreinya. Ya, seprei ketinggalan jaman yang memiliki motif kotak-kotak. Aku melirik Chloe yang sepertinya merasakan hal yang sama.
“Ganti seprei di ranjangku dengan yang lebih layak. Aku tidak ingin malam pertamaku menjadi saksi bisu seprei itu.” Aku tidak menoleh pada Anna.
“Baik, Ratu. Apakah ada lagi yang Anda butuhkan?” tanya Anna.
“Panggil beberapa pelayan untuk membantuku membersihkan diri.”
“Baik, Ratu.” Anna pun keluar dari kamarku.
“Chloe, ikuti dia agar kau terbiasa di istana ini,” kataku pada Chloe.
“Baik, Ratu.” Sekarang, Chloe yang ikut keluar untuk menyusul Anna.
Aku menghela napas dan melepaskan mahkota yang kupakai dan meletakkannya di bantalan khusus yang berada di rak besar setinggi dua meter. Mahkota Ratu yang dipenuhi oleh diamond. Cukup berat jika dibiarkan berlama-lama di atas kepalaku. Aku belum terlalu terbiasa.
Malam ini ...
Aku memejamkan mataku sejenak. Kubuka mataku saat pintu kamarku diketuk. Aku segera bangun dan duduk di ranjangku dengan anggun.
“Masuk!” perintahku.
Chloe masuk bersamaan dengan nampan berisi makanan. Di belakangnya mengekor empat orang pelayan istana yang menundukkan kepalanya di depanku. Aku bangun dan menghampiri Chloe.
“Terima kasih, Chloe.” Aku menoleh kepada keempat pelayan yang berdiri di dekatku. “Kalian siapkan saja air mandinya selagi aku makan.”
“Baik!” seru mereka serentak. Mereka berempat langsung masuk ke dalam kamar mandiku.
Aku pun makan makanan yang dibawakan oleh Chloe dengan tenang. Makanan ini hambar. Tapi, untuk menghargai Chloe, aku tetap memakannya sampai habis.
“Siapa yang memasak makanan ini?” tanyaku pada Chloe.
“Pelayan yang bertugas di dapur yang memasaknya,” jawab Chloe.
“Baik. Sekarang, ah tidak, lupakanlah.” Aku akan membiarkan pelayan itu hari ini saja. “Pastikan untuk terus mengingat wajahnya.”
“Baik, Ratu ....”
“Ratu ..., kami sudah selesai mempersiapkan semuanya,” ucap salah satu pelayan yang masuk ke dalam kamar mandiku.
Aku tersenyum dan masuk ke dalam kamar mandi. Di sana bau lavender menyambutku dengan baik. Aku kaget karena mereka tahu seleraku. Apakah dari aroma tubuhku?
“Bagaimana menurut Ratu? Apakah Ratu ingin aroma yang lain?” tanya pelayan berkacamata.
“Ini sempurna,” kataku senang.
Akhirnya, pakaianku dilepaskan dan aku pun masuk ke dalam bathup. Aku dipijat dan dimandikan oleh mereka. Rasanya aku jadi rileks untuk sejenak.
*
Aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piama tipis. Para pelayan dan bahkan Chloe sudah keluar dari kamarku. Aku duduk diam di ranjang yang sudah diganti sepreinya.
“Hei, pakailah pakaian tebal,” ucap seseorang yang mengagetkanku. Ava.
“Ah, akhirnya kau datang.” Aku tersenyum senang. “Apa kau sudah menemukan solusinya?”
Ava terkekeh. “Tentu saja.” Ava kemudian masuk ke dalam kamar mandi, lalu keluar dengan wanita yang mirip denganku. Tidak, ini malah seperti kembaranku. “Ini solusi kita.”
“Siapa dia?” tanyaku bingung.
“Kau tidak perlu tahu siapa dia. Yang jelas, dia yang akan menggantikanmu melayani si Kaisar baru itu ...,” ucap Ava. “Sekarang, kalian ganti baju.”
Aku langsung mengganti pakaianku dengan pakaian yang ada di dalam lemari baju. Sedangkan wanita yang mirip denganku memakai piama yang kupakai. Setelah selesai, aku pun akhirnya pergi meninggalkan kamarku bersama dengan Ava.
Ava membuat portal yang terhubung dengan Menara Serikat Sihir di kamar mandiku. Ava menggunakan sihir menghilang dan mengikutiku dari Istana Perunggu, sampai ke Istana Ratu. Dia juga melihat adegan memalukan yang kuperbuat di altar pernikahan. Pokoknya, semuanya.
Dan hal itu membuatku jadi malu sendiri saat bertatap muka dengan Ava.
Aku akhirnya sampai di Menara Serikat Sihir. Di sana sudah ada Lucas yang menunggu kedatanganku. Aku sangat senang saat melihat wajahnya. Kami bertiga memutuskan untuk minum teh bersama di dalam ruangan tunggu Menara Serikat Sihir.
***
Note:
Halo pembaca The Second Life tercinta.
Hari ini (ditulis 06 Juni 2020), aku mengalami musibah yang besar (bagiku). Hapeku tiba-tiba saja mati total, dan semua data-data pentingku termasuk cerita-cerita yang sedang aku persiapkan jadi terhapus sebelum aku sempat membuat backup-nya.
Untuk itu, aku agak sedikit sedih, kesal, dan berusaha untuk bangkit lagi dan memberikan yang terbaik untuk semua pembaca setiaku. Terima kasih semuanya.
P.s. Karena ketidakadaan hape, mungkin jadwal up cerita The Second Life dan ceritaku yang lain akan terganggu. Mohon pengertiannya. Jangan lupa like ceritaku agar aku bisa semangat lagi. Sekali lagi, terima kasih!
Love you, all.