The Second Life

The Second Life
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)



“Baiklah, Marchioness Franklin. Silahkan bicara dengan durasi waktu lima menit,” kata Hakim Agung.


Mana mungkin Marchioness Franklin akan berkata jujur menyangkut masalah yang menimpaku. Aku bisa melihat senyum licik Marchioness Franklin saat mata kami bertemu. Dia sudah merencanakan semuanya dengan matang.


“Bisa kita ketahui bahwa sejak turun-temurun pasangan Kaisar adalah wanita yang berasal dari bangsawan kelas atas. Dari sejarah yang tercatat hingga saat ini, hanya wanita dari keturunan Duke sampai Count saja yang dipilih,” ucap Marchioness Franklin. “Yang Mulia Ratu adalah anak dari seorang Duke, begitu halnya dengan Yang Mulia Ratu terdahulu.”


“Semuanya terlihat baik sampai di mana ada seorang bangsawan biasa yang bermimpi menjadi bagian dari jajaran wanita yang menyandang gelar Ratu,” lanjut Marchioness Franklin. “Banyak sekali masalah yang dibuat oleh wanita itu, diantaranya mencelakai Yang Mulia Putra Mahkota saat berada pada perayaan Hari Pemburuan.”


Apa?! Marchioness Franklin sudah gila, ya?


“Bisa kami tahu alasan lainnya?” pinta Hakim Agung.


“Baik, Hakim Agung.” Marchioness Franklin menyanggupi. “Selain mencelakai Yang Mulia Putra Mahkota, dia juga secara terang-terangan menarik perhatian putra bungsuku. Bahkan dia sengaja memanfaatkan putraku meminta putraku itu untuk mengajarinya berpedang. Dia pasti ingin menggoda putraku. Buktinya bisa dilihat saat kejadian di malam pesta pertunangannya bersama Yang Mulia Putra Mahkota.”


Aku menghela napas untuk menjaga pikiranku agar tetap tenang. Seluruh hadirin, termasuk Ayah dan Jayden terkejut mendengar pernyataan Marchioness Franklin.


Ayah pasti sedih karena hal itu.


“Baiklah. Marchioness Franklin bisa kembali duduk,” ucap Hakim Agung tanpa ekspresi apa pun. Setelah dipersilahkan duduk, Marchioness Franklin akhirnya berjalan dari podium menuju kursinya kembali.


Hakim Agung mengalihkan pandangannya kepadaku. “Untuk saksi, Charlotte Mikaela Winston, silahkan pemberikan pernyataan ....”


Aku menoleh pada Idris saat dia dengan spontan menggenggam tanganku singkat. Dia berbisik padaku untuk mengucapkan kata-kata penyemangat. Kuberikan senyum kecil padanya, lalu kemudian berjalan menuju podium dan menatap Hakim Agung selama beberapa saat tanpa berkedip.


“Saya, Charlotte Mikaela Winston, akan berkata dengan jujur atas nama Dewi Kebajikan dan penguasa Kekaisaran Vanhoiren,” kataku lantang.


“Baik, Nona Winston. Waktumu lima menit dari sekarang,” ucap Hakim Agung.


“Seperti yang sudah Marchioness Franklin jelaskan tadi, para hadirin pasti mulai meragukan saya sebagai calon Ratu di masa depan. Saat ini saya hanya ingin meluruskan segalanya agar tidak ada lagi kesalahpahaman,” kataku sopan. “Yang pertama, saya sama sekali tidak mencelakai Yang Mulia Putra Mahkota. Kejadian yang menimpa kami di hutan Beck adalah murni kecelakaan. Para bangsawan yang tidak ikut serta dalam Hari Pemburuan pasti tidak tahu detail ceritanya dan hanya termakan omongan gosip.”


Aku menyindir Marchioness Franklin secara terang-terangan.


“Gosip apa maksud kau?” tanya Marchioness Franklin dengan nada kesal. Dia berdiri dan menatapku dengan tatapan tajam.


Tak!


Lagi-lagi Hakim Agung mengetuk palu di tangannya agar semua kembali tenang. “Saya mohon agar Marchioness Franklin bisa duduk dan diam agar saksi bisa bicara.”


“Silahkan dilanjutkan,” kata Hakim Agung.


Aku mengangguk dan tersenyum. “Pada saat saya dan juga Yang Mulia Putra Mahkota masuk ke dalam bagian terdalam hutan Beck, kami tidak menyangka jika akan bertemu dengan seekor Salamander Raksasa.” Aku menghela napas sedikit karena respon hadirin yang di luar dugaan. Mereka tidak percaya, tetapi aku tetap melanjutkan kesaksianku selama masih ada waktu yang tersisa.


“Saat melawan Salamander Raksasa tersebut, ternyata ada lebih dari satu yang datang mengepung kami. Untunglah mereka melarikan diri tanpa kami ketahui penyebabnya,” lanjutku. “Dan untuk hubungan saya dengan Tuan Franklin, memang benar jika saya saat ini sedang dilatih berpedang oleh Tuan Franklin. Tapi hanya sebatas guru dan murid saja. Saya sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Tuan Franklin karena hati saya hanya untuk Yang Mulia Putra Mahkota.”


Hakim Agung terlihat mengangguk paham. “Baiklah, Nona Winston. Anda boleh kembali ke tempat duduk Anda.”


Aku menunduk. “Terima kasih,” kataku sopan dan kemudian beranjak kembali ke tempat dudukku.


“Kau baik-baik saja?” tanya Idris sambil berbisik.


“Ya, Idris,” jawabku dengan nada pelan.


“Saya persilahkan kepada Yang Mulia Putra Mahkota untuk memberikan pembelaan,” ucap Hakim Agung.


Idris diperlakukan secara istimewa dengan dibiarkan berdiri di tempat duduknya. Bahkan tidak ada batasan waktu untuk dirinya memberikan pernyataan. Aku tidak tahu harus senang atau iri karena hal ini. Lagipula, Idris sekarang ada di pihakku. Aku harus tetap diam.


“Aku akan berkata dengan jujur atas nama Dewi Kebajikan dan juga penguasa Kekaisaran Vanhoiren,” ucap Idris. “Semua yang dikatakan oleh Nona Charlotte benar adanya. Baik pernyataan tentang kejadian di hutan Beck, maupun hubungannya dengan Tuan Franklin yang merupakan putra bungsu Marchioness Franklin.”


“Nona Charlotte telah membantuku keluar dari marabahaya tersebut. Aku sangat berhutang budi padanya. Dua minggu yang lalu aku menurunkan tim ekspedisi yang dipimpin langsung oleh anak keluarga Franklin. Tadinya aku berharap jika mereka menemukan sesuatu terkait Salamander Raksasa, ternyata mereka tidak menemukan bukti apa pun. Akhirnya dengan berat hati aku menutup kasus tersebut agar tidak menambah ketakutan bagi rakyat Vanhoiren.”


“Lalu, untuk permasalahan terkait hubungan Tuan Franklin dengan Nona Charlotte, aku bisa menjamin sendiri jika mereka tidak punya hubungan spesial apa pun. Seperti yang sudah kita semua ketahui, Ratu memiliki istananya sendiri. Dan untuk mendukung keselamatan Ratu, akan ada kesatria terbaik yang ditunjuk sebagai pelindung Ratu,” ucap Idris panjang lebar.


“Sampai di sini kalian bisa menebak kelanjutannya. Ya, Tuan Franklin akan menjadi kesatria pribadi Nona Charlotte saat dia naik takhta denganku sebagai seorang Ratu.”


Seruan rasa kaget terdengar. Termasuk Marchioness Franklin. Dia bahkan tidak menyangka jika putra bungsunya tidak menceritakan soal penting ini pada dirinya sendiri. Aku tersenyum simpul melihat ekspresinya.


“Tuan Franklin sering keluar masuk Istana Perunggu, tempat di mana Nona Charlotte tinggal, dengan pengawasanku sendiri. Kadang-kadang aku juga datang dan menonton latihan mereka di taman belakang. Jika tidak percaya, kalian bisa memeriksa telapak tangan Nona Charlotte yang sudah tidak halus seperti wanita-wanita lain,” lanjut Idris. “Kurang lebih, begitulah pernyataan yang bisa saya berikan.”


Hakim Agung tersenyum. “Baiklah, Yang Mulia. Terima kasih atas pernyataannya. Kami akan mendiskusikan hal ini terlebih dahulu dan secepat mungkin mengumumkan hasil sidang ini. Sidang akan dimulai kembali setelah jam makan siang.”


Hakim Agung dan kedua Hakim pendampingnya pun keluar dari dalam ruangan sidang.