The Second Life

The Second Life
XXXVI - Penobatan Lucas



Aku memakai gaun dan riasan terbaik sebisaku untuk pergi ke Avnevous. Tanpa sepengetahuan Holly maupun Chloe, aku pergi ke Avnevous lewat portal ruangan rahasia yang terhubungan dengan Menara Serikat Sihir milik Ava. Di sana, Ava dan Isaac sudah menunggu dengan pakaian resmi mereka. Kami akan bersama-sama menuju Istana Avnevous dan aku berpura-pura menjadi rekan Ava.


“Selamat siang, Ava ..., dan Isaac,” sapaku.


“Selamat siang, Nona Charlotte,” sapa Isaac balik. Wajahnya yang terlihat tegar menyimpan kesedihan. Matanya lelah, bagaikan tidak tidur semalaman. Aku menelan ludah karena gugup.


“Karena kau sudah datang, mari kita pergi ke istana,” ucap Ava tanpa basa-basi. Aku mengikuti langkah kaki Ava bersama dengan Isaac keluar dari Menara.


Di depan Menara Serikat Sihir sudah ada kereta kuda milik istana yang terparkir manis menunggu kami. Sang kusir membukakan pintu dan Ava langsung meloncat ke dalam kereta dengan mengabaikan uluran tangan sang kusir. Aku ikut menyusul bersama Isaac terakhir.


Tak lama setelah pintu kereta ditutup, kereta itu berjalan menuju Istana. Jalanan dipenuhi oleh para rakyat Avnevous yang berpesta untuk memeriahkan kelahiran Raja baru yaitu Lucas.


“Ugh, aku paling benci naik kereta,” keluh Ava tiba-tiba. “Membosankan.”


“Nyonya ..., sebentar lagi kita sampai di Istana. Bersabarlah sedikit,” ucap Isaac mencoba menenangkan si Penyihir Agung.


“Di dekat istana macet. Para bangsawan sibuk mengantri untuk masuk ke dalam Istana,” ujar Ava. Dia tiba-tiba menatapku. “Yang lebih penting, dalam sebulan ke depan kau akan disibukkan dengan pernikahanmu, kan?”


Aku mengangguk. “Itu benar.”


“Yah, aku hendak menyedot sihir hitam di Istana Kekaisaran jika kau sudah jadi Ratu nanti,” kata Ava. “Kau tahu kan jika Yang Mulia kami naik takhta tanpa pasangan?”


“Ya.”


“Itu sempat jadi perdebatan, sih,” kata Ava acuh. “Apalagi jika kau yang akan jadi pasangan Yang Mulia nanti.”


Yang dikatakan Ava tidaklah salah. “Yah, aku sudah menyiapkan mentalku untuk hal itu.”


“Menyatukan wilayah yang sudah memerdekakan dirinya sendiri dari Kekaisaran memanglah sulit. Untuk itu kita butuh sekutu dari wilayah Naorikan dan Bevram yang seperti kau ketahui sangatlah menghormati Kekaisaran Vanhoiren,” jelas Ava.


“Naorikan adalah wilayah yang bersahabat. Jika ada wilayah lain yang ingin butuh bantuan, dia pasti akan menolong. Rajanya pasti masih bisa dibujuk,” ucapku. “Tapi untuk Bevram ..., aku ragu dengan hal itu. Bevram berteman baik dengan Vanhoiren. Mereka bahkan saling mendukung secara terang-terangan.”


Ava berdecak kesal. “Untuk itulah aku benci Bevram.”


“Kita sudah sampai,” ucap Isaac yang mengingatkan.


Aku menoleh ke luar jendela dan melihat gerbang tinggi Istana sudah di depan mata. Kusir membukakan pintu dan kami keluar satu per satu.


Kedatangan kami membawa banyak sekali perhatian dari para tamu lainnya. Ava tak peduli dan mengangkat wajahnya tinggi-tinggi sambil berjalan menuju Istana. Isaac membiarkan aku dan Ava berjalan di depan selagi dia mengawasi dari belakang.


“Kita akan naik ke lantai dua agar mudah melihat penobatannya,” kata Ava. “Renda s*alan. Aku benci memakai gaun.”


“Nyonya, tolong bersikap sesuai umur Anda,” tegur Isaac.


Ava mendengus dan melirik para penjaga di depan pintu Istana lalu masuk ke dalam. Kami masuk ke aula besar Istana dan naik ke lantai dua lalu duduk di kursi panjang yang telah disediakan. Acara penobatannya masih belum dimulai.


Ava bahkan berkali-kali mengumpat karena menunggu terlalu lama. Beberapa bangsawan yang duduk di dekat kami jadi merasa terganggu. Ava sama sekali tidak peduli dengan hal itu.


“Lucas s*alan. Dia malah membuatku menunggu di sini,” desis Ava. Aku jadi tidak enak hati pada Isaac yang berusaha agar majikannya tidak mengumpat terus.


Raja berdiri dan melihat ke seluruh penjuru. Dia tersenyum. “Hadirin sekalian. Di siang hari ini. Tepat di musim panas yang membakar semangat, tibalah saatnya era kekuasaanku berakhir. Berganti dengan tunas baru dari keturunanku satu-satunya. Lucas Cavan Avnevous.”


“Berlututlah di depanku, Anakku,” pinta sang Raja pada Lucas.


Lucas berdiri dan berlutut di depan Raja sambil menunduk. Raja meletakkan tongkatnya di bahu Lucas.


“Dengan ini, aku Raja Avnevous Ke-XI, Lewis George Avnevous. Memberikanmu takhtaku dan seluruh tanggung jawab yang kupegang kepadamu, Anakku Lucas Cavan Avnevous. Kini kau bukanlah seorang Putra Mahkota, melainkan Raja Ke-XII. Dengan berkat Dewi Kebajikan, semoga kau menjadi seorang Raja yang baik dan bijaksana,” ucap Raja pada Lucas. “Berdirilah.”


Lucas berdiri dan Raja pun melepaskan mahkotanya lalu dipakaikan di kepala Lucas. Setelah itu, tongkat yang Raja pegang, diberikan pula pada Lucas.


Raja kembali duduk di singgahsananya untuk yang terakhir kali. Lucas masih tetap berdiri dan menghadap seluruh hadirin sambil mengangkat tongkat yang dia pegang tinggi-tinggi.


Seluruh yang hadir bertepuk tangan menyambut Raja yang baru, termasuk aku, Ava, dan Isaac. Ada rasa sedih dan senang yang memenuhi hatiku. Sedihnya karena tiadanya Isla di hari bahagia seperti ini, dan senangnya karena aku bisa melihat secara langsung penobatan Lucas dengan mata kepalaku sendiri.


Pandanganku dan Lucas bertemu, dia tersenyum padaku dan aku pun melambai padanya. Setidaknya aku tidak boleh memperlihatkan kesedihanku lagi di depan Lucas.


“Akhirnya anak bodoh itu menjadi Raja,” gumam Ava. “Meskipun tanpa menikah dulu karena jodohnya ada di sampingku.”


“Ava ..., kau terlalu berlebihan,” kataku malu.


“Sebentar lagi pesta perayaan Raja baru akan dimulai. Pastikan kau berdansa dengan anak s*alan itu,” ucap Ava.


“Nyonya ....”


“Akan kuusahakan,” kataku pada Ava.


Ava berdecak kesal. “Harus, bukannya diusahakan.”


“Baiklah, Ava.”


*


Semuanya berpesta.


Banyak sekali wanita-wanita yang tak kukenali mendekati Lucas saat ia terlihat sendirian menyapa para tamu. Aku masih berada di Avnevous hingga saat ini. Menikmati hiruk-pikuk wilayah Barat yang lebih menyenangkan dibandingkan Vanhoiren.


Ava tetap berada di sampingku. Masih dengan tabiatnya yang hobi memaki-maki Lucas. Kurasa Isaac harus ekstra sabar saat menangani Ava yang susah ditenangkan.


“Kau tidak mau menghampiri Lucas?” tanya Ava.


“Dia perlu ruang,” jawabku. “Sebagai Raja yang baik, dia juga harus membuat kesan yang baik dengan orang lain.”


“Ya ya ya, aku harus mendengar mantan Ratu yang akan jadi Ratu lagi,” ejek Ava yang kutahu hanyalah sebuah candaan. “Jika ada wanita lain yang mendekat dan ingin kau musnahkan, bilang padaku saja.”


“Kuharap Nyonya menahan diri di sini sebelum dapat surat peringatan untuk yang ketiga kalinya dari Istana,” tegur Isaac untuk yang kesekian kalinya. “Apa Nyonya tidak ingat jika Nyonya akan segera di-blacklist kalau mengacau lagi?”


Ava terlihat tak peduli. “Si s*alan itu yang selalu membuatku emosi.”