The Second Life

The Second Life
LXIV - Berita Duka



Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, aku tertidur di dalam kereta. Perlu waktu lama agar kusir bisa membangunkanku. Dia pasti berusaha keras agar tidak membuatku tidak nyaman. Aku hargai usahanya itu.


Sudah banyak bangsawan kelas tinggi yang mengunjungi Istana Kekaisaran. Tanpa berbasa-basi, aku langsung masuk ke dalam Istana karena hendak melihat Ayahanda Idris secepat mungkin. Desiran aneh memenuhi hatiku. Perasaanku tidak enak.


Kenapa hari ini kesialan datang tanpa ampun padaku?


Langkahku terhenti di depan sebuah pintu yang terbuka lebar. Di luar berdiri lebih banyak orang. Salah satunya adalah Grand Duchess dan juga Marquess Franklin. Mereka menunduk padaku dan membuka jalan untukku.


Di dalam kamar Ayahanda Idris, ada Ibunda dan juga Idris yang duduk di samping ranjang Ayahanda. Aku terpaku beberapa saat, hingga akhirnya mendekat di samping Idris. Dia melirikku sejenak, kemudian fokus pada Ayahanda. Dia menangis sama seperti Ibunda.


“Malangnya Suamiku!” seru Ibunda sambil menggenggam tangan Ayahanda. Dia terlihat terpukul, tetapi seruannya terdengar dibuat-buat. Aku jadi bingung terhadap beliau.


Apalagi sikap Idris. Jelas-jelas dia tahu penyebab kematian Ayahandanya sendiri, tapi dia malah ... bersikap seperti sekarang.


Seakan-akan Kaisar XIX memang mati karena penyakit.


Hah! Betapa malangnya keluarga ini. Dan betapa liciknya penerus keluarga ini. Aku bahkan kehabisan kata-kata terhadap Idris. Jika bukan karena permintaan Dewi Kebajikan, aku tidak akan pernah mau dan sudi menikah lagi dengannya. Memangnya aku bodoh? Memangnya aku terlalu polos hingga harus terjebak dalam situasi yang sama?


Tentu saja tidak.


“Maaf, Ayahanda .... Aku tidak bisa merawatmu dengan baik selama Ayahanda hidup,” gumam Idris.


“Idris, Anakku .... Kau harus tegar!” Ratu menatap Idris, tetapi mengabaikan kehadiranku. Aku tidak peduli. “Jangan keluarkan sisi lemahmu.”


“Kami sangat terpukul dengan kabar ini. Beliau adalah Kaisar yang sangat baik dan bijaksana, kami sangat kehilangan sosok beliau,” ucap Grand Duke, berbelasungkawa.


“Terima kasih, Grand Duke,” kata Ratu tanpa menatapnya. “Aku berharap Suamiku bisa beristirahat dengan tenang.”


Setelah Grand Duke, mengekorlah bangsawan lagi untuk mengucapkan belasungkawa pada Ratu. Mereka memperlihatkan raut wajah sedih dan muram. Namun, di sela-sela kunjungan para bangsawan, aku bisa melihat kehadiran Rose—dengan gaun yang sama dengan yang dia pakai saat datang ke Istana Ratu. Tatapan kami bertemu. Buru-buru kualihkan ke arah lain dan batuk kecil.


Idris menoleh padaku dan mengusap punggungku. Tak lama setelah itu, dia menarikku ke dalam rangkulannya. Bisa kurasakan bisikan Idris yang membuatku kesal setengah mati.


Apa pun yang terjadi, jangan pernah bicarakan hal yang kau ucapkan padaku tempo lalu.


Ini rahasia kita.


Begitu katanya. Sudahlah, akan kusimpan sendiri selagi aku merencanakan penggulingan Kekaisaran Vanhoiren.



Hari berlalu. Akulah yang mengurus pemakaman Ayahanda Idris bersama dengan Jack. Ibunda idris sibuk menangis di samping peti mati suaminya bersama dengan Idris. Dahulu pun aku juga yang mengurus hal ini.


Jack sangat membantu ..., dan pekerjaan yang ingin kucapai jadi terlaksana dengan baik. Pemakaman resmi Kaisar XIX langsung dilaksanakan keesokan harinya pada siang hari. Ibunda Idris jatuh pingsan saat berada di pemakaman.


Para prajurit langsung membawanya kembali ke Istana Kekaisaran. Pemakaman berakhir setelah Kaisar XIX sudah diistirahatkan. Aku pulang ke Istana Ratu tanpa Idris karena masih banyak hal yang harus dikerjakan, sedangkan Idris bergegas menyusul Ibunya ke Istana Kekaisaran.


“Ratu?”


Aku menoleh ke asal suara. Ternyata Chloe datang. Aku tidak sadar akan hal itu. “Ada apa, Chloe?”


“Apakah Ratu ingin makan sesuatu? Saya khawatir dengan kesehatan Ratu karena wajah Ratu sangatlah pucat.”


“Aku terlalu sibuk untuk makan saat berada di Istana Kekaisaran. Mendengarmu mengatakan hal itu ..., aku jadi benar-benar ingin makan sesuatu,” tuturku pada Chloe.


“Syukurlah jika Ratu ingin makan. Apa ada menu yang Ratu inginkan?”


“Apa saja. Aku hanya ingin makanan yang mengenyangkan,” jawabku kalem.


Chloe mengangguk dan meninggalkanku untuk membuatkan makanan untukku. Aku berdiam diri di kamar seraya mengecek surat dari petugas Kekaisaran. Harusnya ini tugas Idris. Tetapi untuk kali ini saja, dan juga untuk Kaisar XIX, aku bersedia menggantikan Idris. Hitung-hitung sebagai penghormatan terakhir untuk orang yang sudah bersikap baik padaku.


Apa yang Ava pikirkan, sih?


“Akhirnya si tua itu mati juga.” Ucapan tidak berperasaan itu keluar dari mulut mungil seorang wanita yang diberkati. Aku dibuat takjub oleh sikap masa bodo Ava. “Sedang apa kau di sini? Tidak ikut menangisi kematiannya juga di istana?”


“Aku sibuk mengurus administrasinya secepat mungkin. Tidak baik juga menunda-nunda sesuatu sampai berlarut-larut,” jawabku cuek.


Ava ber-oh ria sambil duduk di sampingku. “Si j*lang juga berada di sana?”


“Tentu saja.” Aku tidak menoleh padanya. “Lalu, kenapa Anda kemari dengan dandanan heboh seperti itu?”


Ava terkekeh. “Untuk menunjukkan rasa empati dan sedih untuk kematian si tua. Memangnya tidak jelas?”


“Kupikir Anda malah hanya ingin pamer pakaian baru.”


“Kenapa kau tahu hal itu?”


“Feeling.”


“Lihat aku,” perintah Ava.


Aku hanya bisa menurut dan melihatnya. Ava berdiri dan berputar di depanku untuk memperlihatkan gaun barunya. Untuk kedua kalinya berputar, lututnya malah terbentur siku meja. Dia meraung kesakitan sambil mengumpat semua jenis umpatan—dan untuk menghindari ketidaknyamanan, umpatan yang sangat kasar disensor saja.


“B*jingan! S*alan! Kenapa meja ini ada di sini, sih?!” teriak Ava. Dia kemudian menendang meja tak berdosa itu hingga melayang membentur dinding kamar.


“Mohon tenangkan diri Anda, orang-orang di istana ini bisa mendengar suara Anda dan terpancing,” kataku mengingatkan.


“Tidak perlu khawatir, sebelum kau pulang tadi aku sudah menyelimuti kamarmu dengan sihir,” jelas Ava. Luka di lutut kirinya sudah dia sembuhkan dengan sihir penyembuh. Mana yang dibutuhkan pastilah sangat besar. “Setelah ini, kau mau apa?”


Aku berpikir sejenak. “Mungkin kembali ke Istana Kekaisaran dan memberikan pekerjaan yang telah selesai pada tangan kanan Idris.”


“Kalau begitu aku ingin membersihkan Istana Ratu selagi kau pergi,” kata Ava. “Aku hanya ingin memberitahukan hal ini padamu agar kau tahu.”


“Aku sangat terbantu.”


Clek!


Chloe datang tanpa mengetuk pintu. Tangannya sudah penuh dengan nampan makanan. Dia pasti membuka pintu dengan sikutnya. Aku menoleh ke arah Ava, dia sudah menghilang bersamaan dengan meja yang kembali seperti semula.


“Maaf karena tidak mengetuk, Ratu.”


Aku tersenyum. “Tak apa, Chloe.” Kuletakkan kertas yang kupegang ke atas meja, lalu makan makanan yang sudah disediakan Chloe.



Note:


Halo teman-teman pembaca setia The Second Life! Aku kembali lagi. Hapeku tiba-tiba bisa nyala dan aku senang banget. Fufufu. Dukung terus The Second Life, ya! Like yang banyak biar bisa crazy up :')


Ini bonus.



*apabila Rose Hindley yang jadi pemeran utama.


[Aku kabur sebelum digebukin pembaca.]


Xixixi, love you all!