
Selama sisa waktu hari itu, entah mengapa Felice tidak bisa menemukan Vendry lagi baik itu di area pameran ataupun kantor dan wilayah lain seputaran sekolah. Dia tidak terlalu memikirkannya, mungkin orang itu sedang sibuk atau mungkin sudah pulang.
"Sampai jumpa besok, Felice, Feline," ujar Gracia kepada kedua pasangan kakak beradik itu sambil melambaikan tangannya ketika melihat orang tuanya sudah datang.
Karena acara tahunan ini, waktu pulang sekolah yang seharusnya siang hari diperpanjang menjadi hingga sore hari. Kompetisi yang belum selesai ditunda hingga keesokan harinya ketika hari sudah mulai sore, begitu juga dengan acara pameran seni. Saat ini sebagian besar siswa dan para tamu sudah pada mulai bubar.
Marvin dan Julia tinggal lebih lama untuk menemani dua teman anak-anak mereka yang sedang menunggu dijemput oleh orang tua mereka.
Tidak lama setelah kepergian Gracia, orang tua Derrick juga sampai dan bocah gemuk itu dengan sopan mengucapkan selamat tinggal singkat kepada Julia dan Marvin sebelum melambaikan tangan chubby-nya kepada Felice dan Feline sebagai salam perpisahan.
Setelah anak laki-laki itu masuk ke mobil orang tuanya, keluarga yang terdiri dari empat orang itu pun akhirnya berjalan keluar dari gerbang sekolah untuk pulang ke rumah. Julia memegang tangan Feline dan Marvin memegang tangan Felice, sepasang orang tua itu dengan hangat memegang tangan anak-anak mereka sambil berjalan menuju tempat mobil mereka di parkir.
Feline menggenggam erat tangan kakaknya dan menyunggingkan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajah kecilnya.
Feline bahagia.
Hanya fakta itu saja sudah cukup membuat Felice melepaskan kontrol dirinya untuk sesekali dan menerima dengan lapang kehangatan yang disalurkan dari kedua telapak tangannya. Satu oleh Feline dan satu lagi oleh ayahnya.
Senyuman ringan berkibar di wajah gadis kecil itu.
Matahari sore ini lebih hangat dari biasanya...
......................
Sesampainya di depan rumah, kedua gadis kecil itu dengan riang berlari masuk ke istana besar mereka. Atau lebih tepatnya Feline yang benar-benar tersenyum senang sambil berlari dan menarik kakak perempuannya ke lantai atas, sedangkan Felice hanya membiarkan adiknya melakukan apa yang diinginkannya dengan hati yang memanjakan.
"Hati-hati, Sayang. Jangan berlarian di dalam rumah, nanti kalian bisa jatuh," ujar Julia dengan nada penuh teguran dari lantai bawah.
Yang menyambut sang ibu hanyalah tawa ceria Feline yang bergema pelan.
"Anak-anak ini...," gerutu Julia sambil menggelengkan kepalanya dengan senyuman geli.
"Tidak apa-apa. Mereka juga masih anak-anak, yang namanya anak-anak memang seharusnya seperti ini kan," kata Marvin ketika pria itu dengan lembut memeluk pinggang istrinya dengan satu tangan dari belakang.
Julia tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, namun senyuman itu hanya sempat bertahan sejenak sebelum memudar dari wajah cantiknya dan digantikan oleh kekhawatiran samar.
Marvin memperhatikan perubahan ekspresi istrinya dan mengerutkan kening nya agak prihatin sebelum bertanya pelan, "Ada apa?"
"Aku hanya khawatir tentang Felice, Sayang."
Bisik Julia dengan pelan ketika dia sedikit menggeser posisi wajahnya hingga lebih dekat dengan telinga sang suami. Marvin bisa mendengar kekhawatiran yang terkandung dalam suara istrinya.
Dalam sekejap, ingatan tentang percakapan mereka dengan Pak Andy sebelumnya kembali diputar dalam benak Marvin.
"Lukisan itu memancarkan energi negatif yang tidak sedikit. Kesuraman, kesedihan, keputusasaan, kemarahan, hingga akhirnya menjadi ketidakpedulian."
"Melukis adalah salah satu bentuk penerapan emosi bagi pelukis ke atas kanvas. Apa pun yang dihasilkan dari tangan sang pelukis adalah cerminan dari isi hati mereka."
Itulah yang dikatakan oleh Pak Andy kepada mereka ketika Felice dan Feline sudah pergi dari kantin bersama teman-teman mereka. Marvin mengerti maksud Pak Andy tentang lukisan Felice yang agak suram. Harus dia akui, lukisan Felice memang sangat di luar dugaan dan tidak terlalu disukai olehnya bahkan jika memang karya itu memiliki nilai seni yang tinggi.
Pak Andy, guru lamanya dan Julia adalah orang yang memiliki pandangan yang tajam dalam dunia seni. Guru lama mereka tidak akan berbohong untuk hal seperti ini, dia percaya pada kata-kata Pak Andy namun juga hanya sebatas percaya.
Marvin tahu dengan keanehan putri sulungnya, namun dia masih memilih untuk mempercayai putri mereka. Mungkin Felice menyembunyikan banyak hal, mungkin Pak Andy benar dalam penilaiannya. Akan tetapi Marvin masih lebih memilih untuk meletakkan kepercayaan tulusnya kepada putri mereka.
Marvin menghela nafas pelan dan menyunggingkan senyuman hangat yang langka bagi pria yang selalu memasang tampang dingin dan kaku itu. Dia melingkarkan lengan satunya lagi ke pinggang istrinya dan memeluknya dengan pelukan erat.
"Mungkin Pak Andy benar, tapi itu adalah Felice, putri kita. Putri sulung yang selalu kita banggakan. Apa pun yang terjadi, kita harus mempercayai putri kecil kita dengan segenap hati kan."
Mendengar kata-kata Marvin, Julia yang tadinya khawatir menjadi kembali tertawa. Kesedihan yang mengembang di wajahnya mulai mencair dan digantikan dengan sentuhan kehangatan yang menyenangkan.
"Kamu benar. Sudah seharusnya kita mempercayai putri berharga kita."
Kelembutan penuh harmoni mengelilingi pasangan suami istri muda itu. Mereka tidak tahu bahwa di atas tangga, putri yang mereka bicarakan diam-diam telah mendengarkan semua interaksi mereka.
Felice memegang pegangan tangga dengan cengkraman erat. Feline berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum makan malam, dan Felice memutuskan untuk turun ke bawah mengambil tas mereka yang tertinggal di sofa ruang tamu.
Dia hanya tidak menyangka tepat ketika dia akan turun, telinganya menangkap serangkaian percakapan orang tua mereka.
Ini tentang dirinya.
Felice kelihatan tenang dan tidak peduli dari luar, namun dia telah menajamkan telinganya dan menangkap semua kata-kata yang dipertukarkan oleh Julia dan Marvin dengan suasana hati yang tegang dan ketat.
Bohong kalau mengatakan dia tidak gugup.
Kalau itu setengah tahun yang lalu dimana dia masih tidak terbiasa dengan perubahan sikap dan hubungan antara kedua orang tuanya, Felice mungkin tidak akan terlalu emosional untuk memikirkan bagaimana pandangan Julia dan Marvin terhadapnya karena saat itu yang menjadi fokus utama Felice adalah Feline.
Tapi setelah lama bergaul dengan kehidupan barunya ini, Felice mulai menumbuhkan perasaan untuk orang tuanya di luar dari Feline. Dia menyukai Julia dan Marvin di dunia ini. Dia menyayangi mereka seperti bagaimana dia menganggap Feline penting dalam hidupnya.
Felice peduli dengan bagaimana orang tuanya akan menilainya. Dia ingin mereka bahagia bersamanya. Dia ingin memeluk mereka di bawah sayap perlindungannya.
Hati Felice menjadi masam ketika membayangkan tanggapan negatif Julia dan Marvin. Sejak awal dia sudah memprediksi kalau hal ini akan segera terjadi, namun tetap saja dia masih enggan kehilangan senyuman mereka.
Di saat depresi mencekik Felice, suara ayahnya kembali terdengar dengan untaian kehangatan yang penuh tekad dan percaya diri.
"Mungkin Pak Andy benar, tapi itu adalah Felice, putri kita. Putri sulung yang selalu kita banggakan. Apa pun yang terjadi, kita harus mempercayai putri kecil kita dengan segenap hati kan."
Segera setelah kalimat ini jatuh, tawa pelan sang ibu pun terdengar dengan balasan penuh kasih.
"Kamu benar. Sudah seharusnya kita mempercayai putri berharga kita."
Hati Felice yang pahit tiba-tiba dibanjiri oleh rasa manis yang berkecamuk. Felice tersenyum pelan.
Mungkin aku tidak seharusnya begitu khawatir...