
“Ya sudah. Kalau begitu, nanti malam aku akan menjemputmu di sini dan kita pergi ke Istana Perak bersama,” kata Ava.
“Berdua saja?”
“Tentu saja. Melawan penyihir ingusan seperti dia sangatlah mudah. Kusentil sedikit, pasti dia langsung K.O.” Ava terlihat sangat percaya diri. “Selagi aku mengurus cecunguk itu, kau cari Isla. Setuju?”
Aku mengangguk paham. Lalu, Ava pergi meninggalkanku untuk mempersiapkan diri.
*
Sepanjang hari, aku menghabiskan waktu bersama dengan Chloe dan Matilda untuk mencari beberapa kandidat yang diperlukan untuk mengisi jabatan yang kurang di istana. Jasmine memegang jabatan Kepala Pelayan untuk sementara waktu karena dia adalah gadis yang paling tua dan paling berpengalaman dalam ingatanku.
Aku sempat ingat jika para guru-guru yang hendak mengajariku tentang istana ditunda kedatangannya karena kematian Kaisar dan Ratu XIX. Idris juga tidak memedulikan hal itu. Dia hanya sibuk berkabung sambil memadu kasih bersama Rose Hindley.
“Ratu ..., apakah Ratu tidak ingin menemani Kaisar saja di Istana Kekaisaran?”
Aku tersenyum saat mendengar usulan Matilda. “Kau sudah dengar rumornya, bukan? Saat ini sudah pastilah Kaisar sedang bersama dengan calon Selirnya. Jika aku pergi ke sana, aku hanya akan mengganggu mereka berdua.”
Matilda terlihat kaget. “Ratu ..., Anda tidak boleh terus-menerus berusaha tegar karena hal itu. Biar bagaimanapun, Kaisar adalah suami sah Anda!” seru Matilda.
“Aku menerima niat baikmu itu, tapi aku sangat-sangat ikhlas dengan kelakuan Kaisar.” Aku menghela nafas. “Yang bisa kulakukan hanyalah melakukan tugasku sebagaimana seorang Ratu yang seharusnya.”
“Saya sangat salut dengan ketegaran hati Anda, Ratu. Jika ada yang ingin Ratu mau lakukan, saya bisa melakukannya untuk Ratu,” ucap Matilda sambil menunduk. “Apa pun itu.”
Hoo, apa pun?
Aku tahu apa maksud ucapan Matilda. Dia ingin aku memberikan perintah yang baik maupun yang jahat kepadanya. Itu bisa berarti menjahili Rose Hindley, atau mungkin mengganggu kemesraan mereka. Tapi, aku tidak bisa langsung tergiur dengan tawaran itu. Bisa saja Matilda akan terperosok dalam bahaya karena mengusik kedua orang yang berhubungan langsung dengan Selir Sienna.
Matilda tidak boleh kubiarkan jatuh ke dalam lubang yang sama seperti Isla. Aku tidak mau lagi ada yang terluka lagi. Ugh, Isla ..., semoga kau baik-baik saja.
“Baik, Matilda. Akan kupikirkan lagi,” ucapku sopan. “Kalian boleh keluar. Dua hari ke depan, seleksi pekerja baru akan dilakukan, dan aku butuh tanggapan dari kalian bertiga bersama Jasmine.”
“Baik, Ratu. Kalau begitu, kami permisi,” ucap Chloe yang kemudian menunduk bersama Matilda, sebelum akhirnya keluar dari ruang kerjaku.
*
Malamnya, seusai makan malam di ruang makan sendirian, aku masuk ke dalam ruang kerja dan meminta Chloe untuk tidak menggangguku. Chloe hanya mengangguk tanpa bertanya sebabnya. Aku berterima kasih akan hal itu.
Ava sudah menungguku di dalam ruang kerjaku dengan kemeja putih polos, celana hitam ketat, dan juga sepatu boots. Rambut putih yang agak peraknya dibiarkan digerai hingga menambah kesan anggun dan kuat bersamaan. Dia tersenyum padaku dan menyodorkan sebuah botol kecil yang berisi cairan hitam.
“Minumlah, kita harus bergegas,” kata Ava.
Aku menghampirinya dan mengambil botol kecil itu. Kuteguk isinya sampai habis, tanpa berniat bertanya apa isinya. Jujur saja rasanya hambar. Aku cukup kaget dengan hal itu. Beberapa detik berlalu, tubuhku merasa panas. Rasanya tidak nyaman.
Lalu, detik berikutnya, aku malah jatuh ke lantai karena kakiku lemas dan tubuhku jadi menggigil kedinginan. Ava berjongkok di depanku dan meletakkan telapak tangan kanannya ke keningku. Cahaya putih muncul dari tangannya itu, dan rasa dingin itu menghilang entah ke mana. Aku sudah kembali seperti sedia kala.
“Hm, tubuhku panas dingin secara bergantian dan rasanya sangat tidak nyaman,” jawabku jujur.
Ava mengeluarkan cermin kecil dari saku celananya. “Lihatlah ke arah cermin.”
Saat kuikuti permintaannya, aku amat terkejut melihat wajahku sendiri. Yang ada dicermin bukanlah pantulan wajahku, melainkan orang yang tidak kukenali. Aku benar-benar berubah.
“Siapa wanita ini?” tanyaku penasaran.
“Dia pelayan di istana Lucas. Kemarin dia meninggal karena sakit,” jawab Ava.
“Bukankah tidak sopan jika kita memakai wajahnya?” Aku agak sedikit keberatan.
Ava mengibaskan tangannya. Tidak peduli. “Aku tidak peduli. Ayo kita pergi.” Dia membuka jendela ruang kerjaku.
“Apa pakaianku begini saja?”
“Ck, benar juga.” Ava berdecak kesal. Dia menjentikkan jarinya dan pakaianku yang awalnya adalah gaun, berubah menjadi seperti dirinya.
“Fais-nous comme des oiseaux!” seru Ava kemudian. Sudah lama aku tidak mendengar Ava mengucapkan mantra sihir. “Rends-nous invisibles!”
Ava pernah bilang jika dia tidak membutuhkan rapalan mantra untuk bisa mengeluarkan sihir yang dia mau. Tapi, itu hanya berlaku jika objeknya hanya dirinya sendiri atau orang yang dituju—misalnya lawan. Untuk sihir dengan efek grup, dia harus merapalkan mantra seperti sekarang.
Mantra sihir yang barusan Ava ucapkan adalah sihir terbang dan sihir menghilang.
“Ikuti aku dari belakang,” kata Ava. “Kau menggunakan liontin yang kuberikan, bukan?”
Aku mengangguk.
“Bagus.” Ava kemudian meloncat dari jendela ruang kerjaku dan terbang menyusuri langit malam menuju Istana Perak. Aku mengekor dari belakang tanpa berkata apa pun.
Hanya butuh sepuluh menit bagi kami untuk bisa sampai ke Istana Perak. Di antara puluhan jendela yang ada di istana itu, hanya ada satu jendela yang penerangannya masih menyala. Aku tidak tahu itu ruangan apa, tapi yang jelas, tidak mungkin jika pelayan atau staf lain ada di lantai tiga.
“Apa kita mendekat?” tanyaku pada Ava.
“Kita tidak bisa mendekat dengan mudah. Kubah sihir kegelapannya dipasang di pagar istana. Jika kita masuk dengan sihir terbang dan menghilang, kita akan langsung ketahuan,” jawab Ava. “Aura Isla masih bisa kurasakan. Ada di ruang bawah tanah istana ini.”
Aku mengernyitkan dahi. “Jika kita gegabah, Selir Sienna akan langsung memakai Isla sebagai ancaman untuk kita. Aku tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada Isla.”
“Kita berputar dulu ke belakang istana dan masuk dengan memanjat,” ucap Ava.
Kami akhirnya terbang ke belakang istana dan mendarat di balik pepohonan yang ada di sana. Ava membersihkan sihir yang ada ditubuh kami. Ramuan pengubah wujud tidak akan terdeteksi karena bukan semata-mata dibuat dengan sihir murni.
Dengan sedikit usaha, aku dan Ava memanjat pagar istana setinggi dua meter. Aku harus membantu Ava naik karena dia tidak bisa memanjat. Setelah kurang lebih dua menit berurusan dengan pagar itu, kami akhirnya sudah masuk ke dalam taman belakang Istana Perak.