The Second Life

The Second Life
Bab 21: Cerminan Hati Sang Pelukis



Di kantin.


"Kak, kok tadi kamu bisa kepikiran mau ganti ide? Sudah begitu hasilnya keren kali! Ini pertama kalinya aku melihat kamu melukis sesuatu yang seperti itu. Biasanya kan Kakak paling suka gambar pemandangan," ujar Feline yang sedang mengunyah donat di satu tangan dengan es krim di tangan lainnya.


"Awalnya aku memang mau melukis pemandangan, tapi tiba-tiba terlintas ide baru di pikiranku. Jadi aku langsung mencobanya di kanvas," kata Felice sambil mengusap noda makanan di mulut adiknya dengan tisu.


Feline memajukan wajahnya ke dekat kakaknya supaya Felice bisa dengan nyaman menyeka mulutnya. Perilaku intim ini membuat Gracia dan Derrick menyadari sebenarnya seberapa dekat pasangan kakak beradik ini.


Sebelum kelahiran kembali Felice, interaksi antara Feline dengan Felice asli tidak sedekat ini. Feline tentu juga menyadari kelengketan sang kakak yang tiba-tiba menjadi lebih posesif semenjak setengah tahun yang lalu. Awalnya Feline bingung dan agak malu, namun lama kelamaan dia semakin terbiasa dengan perhatian kakaknya.


"Apa mereka selalu seperti ini?" bisik Gracia pada Derrick yang selama ini merupakan teman bicara terdekat dengan pasangan kakak beradik itu.


"Iya, tagi gak terlalu sering," ujar Derrick dengan nada suara kecil yang sama.


Perasaan geli menyerang Felice begitu dia mendengar bisikan dua anak kecil yang mengira kalau suara mereka tidak akan terdengar.


Julia memesankan sepiring nasi goreng di kantin untuk anak-anak ini begitu waktunya sudah agak siang. Meskipun dia mengatakan akan lebih nyaman jika mereka berbincang disini, namun anak-anak dan orang dewasa melakukan urusan mereka masing-masing.


Felice, Feline, Gracia, dan Derrick duduk berkumpul di sisi meja yang lain, sementara para orang dewasa minum kopi dan teh untuk membicarakan kenangan masa lalu.


Seusai makan siang, anak-anak itu pergi bermain sendiri di luar kantin ketika mereka sudah bosan. Feline lah yang pertama kali menawarkan ide untuk kembali ke area pameran untuk menyemangati guru-guru mereka. Tidak heran Feline membuat saran seperti itu, gadis kecil ini tidak pernah bisa diam di satu tempat seperti jamur. Percakapan orang dewasa sama sekali tidak menarik baginya dan dia juga bukan tipe anak yang enggan menyuarakan pendapatnya. Maka dari itu, empat anak tersebut pun berbaris dengan Feline sebagai kepala dan menyuarakan keinginan mereka untuk keluar.


"Maaf anak-anak, kami jadi mengabaikan kalian. Pergilah bermain kalau kalian mau," kata Julia dengan dengan senyuman lembut sambil menepuk-nepuk puncak kepala Felice dan Feline.


Setelah anak-anak itu pergi, suasana di antara orang dewasa ini juga agak kaku. Sebenarnya Julia sendiri sudah kehabisan topik pembicaraan sebelum anak-anak itu datang memotong percakapan mereka, namun di saat dia sedang berpikir keras untuk mencari topik lain supaya Kakek Andy tidak merasa bosan dan diabaikan, orang tua itu justru tersenyum dan memulai percakapan.


"Putri sulung kalian sangat unik."


Rasa bangga kembali membuncah di dada Julia. Siapa yang tidak senang ketika anaknya dipuji?


"Iya, belakangan ini Felice sering sekali menunjukkan sesuatu yang tidak terduga. Ini salahku juga karena kurang memperhatikan Felice, jadi aku bahkan tidak tahu kalau dia seberbakat dan sehobi ini dalam melukis," ujar Julia dengan sedikit rasa tidak nyata yang masih membuatnya kebas. Bagaimana tidak, lukisan Felice yang tadi itu benar-benar menyetrum pikirannya.


Dia pernah mendengar soal lukisan yang bisa menyalurkan emosi dan makna lukisan kepada pengamat. Tentu saja itu adalah jenis lukisan yang mengandung nilai seni tertinggi yang tidak bisa sembarangan dihasilkan bahkan oleh para pelukis terkenal dan profesional sekalipun.


Julia tidak terlalu mendalami seni, tapi dia tahu Felice sudah menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Bukan luar biasa dalam artian teknik dan keindahannya di mata para pengamat, tapi luar biasa karena lukisan itu bisa menyalurkan rasa dan mempengaruhi emosi pengamat nya. Seolah mereka melihat dan merasakan sendiri apa arti keberadaan ciptaan itu.


"Mungkin kata-kata ku akan agak sulit didengar bagi kalian, tapi menurutku karya tadi tidak seharusnya dihasilkan dari tangan seorang anak kecil, apalagi anak yang tumbuh di lingkungan yang hangat."


"Pak, bisa tolong dijelaskan lebih rinci kenapa Bapak bisa sampai pada kesimpulan itu?" tanya Marvin ketika dia menurunkan kembali cangkir kopinya dengan pandangan kontemplasi.


Marvin bukanlah tipe orang yang penyuka seni, tapi dia masih bisa melihat kalau setiap lukisan Felice cukup luar biasa dan bernilai di pasaran. Terutama lukisan sepasang mata tadi. Memang awalnya proses tersebut menggunakan warna yang baginya agak jelek, tapi hasil akhirnya tidak buruk kan? Apalagi suara pujian dan penghargaan yang diberikan penonton saat itu membuktikan kalau lukisan Felice setidaknya terbilang bagus bagi mereka.


Pak Andy mengaduk tehnya dengan putaran sistematis dan bertanya, "Sepasang mata itu ketika kalian melihatnya, apa yang kalian rasakan, apa yang kalian lihat?"


Tidak ada jawaban, namun pasangan orang tua itu langsung memahami maksud Pak Andy.


Ketika Felice melukis, dia menggunakan campuran warna yang suram kemudian membentuknya menjadi sepasang mata yang tampaknya telah mengalami banyak hal.


Julia adalah seorang psikiater. Dia tahu kalau anak-anak pada umumnya tidak akan memilih campuran warna-warna gelap yang tidak menyenangkan mata jika diberi pilihan. Memang setiap anak pasti memiliki preferensi masing-masing, namun ketika disuruh memilih warna, mereka pasti akan memilih warna yang mereka anggap cantik.


Terutama anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang bahagia, pada umumnya warna yang akan mereka sukai pada pandangan pertama sebagian besar adalah warna yang terang dan mencolok. Mereka akan secara otomatis memilih warna yang menurut mereka hangat dan nyaman di mata.


Tapi Felice-nya berbeda.


Felice seharusnya tumbuh seperti Feline, ceria, bahagia, dan bebas.


Tapi lukisan mata itu...


Julia tanpa sadar merasa jantungnya kembali berdetak kencang penuh emosi. Sepasang mata yang telah melihat segala kesengsaraan hidup, sepasang mata yang tampak kusam namun pada saat yang sama sangat hidup seolah pemilik sepasang mata itu telah mengalami kehidupan yang ditempa dalam kegelapan dunia.


Sepasang mata yang-


"Benar."


Julia tersadar dari lamunannya dan menatap mantan gurunya yang memberinya pandangan sedih.


"Lukisan itu memancarkan energi negatif yang tidak sedikit. Kesuraman, kesedihan, keputusasaan, kemarahan, hingga akhirnya menjadi ketidakpedulian."


"Melukis adalah salah satu bentuk penerapan emosi bagi pelukis ke atas kanvas. Apa pun yang dihasilkan dari tangan sang pelukis adalah cerminan dari isi hati mereka."


"Karena itulah kukatakan kalau lukisan itu tidak mungkin dan tidak seharusnya dihasilkan dari tangan Felice yang masih anak-anak, kecuali anak itu sendiri memiliki pengalaman yang sulit dikatakan."