The Second Life

The Second Life
Bab 20: Momen Refleksi Diri



"Cantiknya..."


"Hasil akhirnya ga terduga ya..."


"Ini cantik, tapi..."


"Kok rasanya agak seram ya..."


"Iya, biarpun agak aneh tapi kan ini tetap cantik."


"Siapa sangka gadis kecil itu ternyata bisa membalikkan keadaan seperti ini..."


"Anak muda zaman sekarang memang ga biasa ya..."


Gumaman-gumaman dan segala komentar yang negatif diganti dengan tanggapan penuh kekaguman yang kontradiktif.


Felice membiarkan lukisannya kering dan menyingkirkan semua alat-alat lukisnya yang kotor. Ketika dia melewati tempat Vendry, matanya melirik karya pria itu sekilas.


Kali ini bukan potret diri, tapi lukisan sepasang kuda yang berlari di hamparan rumput.


Seutas kekecewaan melilit dirinya ketika melihat fokus Vendry hanya tertuju pada karyanya sendiri.


Mungkin memang tebakanku yang salah...


Setelah Felice melewati Vendry, gerakan tangan pria itu sedikit melambat, namun jeda itu hanya berlangsung sekilas yang tidak disadari orang lain.


......................


Di kamar mandi.


Felice mencuci setiap jengkal tangannya dengan linglung. Pikirannya masih tenggelam dalam momen kejanggalannya ketika melihat lukisan hutan milik Vendry. Kenapa reaksinya bisa begitu ekstrim...


Dia memang berkomitmen untuk mengabaikan masalah ini untuk sekarang dan memikirkannya nanti, tapi ingatan tentang perasaan aneh yang menimpanya saat itu tidak bisa berhenti berkecamuk di tengah lalu lintas pikirannya.


Ada suara di salah satu sela pikirannya yang terus mengingatkannya untuk memperhatikan Vendry karena pria itu bukan hanya sebatas guru sederhana yang banyak berprestasi.


Berprestasi...


Kalau memang orang ini sehebat itu, kenapa di kehidupan lampaunya dan bahkan sekarang namanya tidak pernah terdengar?


"Huh... aku ini kenapa sih," keluh Felice dengan kesal saat dia melihat tangan yang sudah digosoknya hingga memerah dan mematikan keran air.


"Biarpun orang itu punya rahasia, terus apa hubungannya denganku? Kenapa sih aku terus-terusan kepikiran orang itu sampai segitunya," gumam Felice dengan kesal.


Felice memandang dirinya di cermin. Pantulan cermin memperlihatkan sosok gadis kecil dengan ekspresi dewasa yang seharusnya tidak diperlihatkan oleh anak-anak pada umumnya. Bayangan seorang gadis dewasa yang memiliki kontur wajah yang mirip dengannya menggantikan bayangan gadis kecil di cermin.


Kalau itu dirinya di kehidupan lampau, bagaimana reaksinya ketika menghadapi situasi yang membuat emosinya di luar kendali...


Felice tersenyum dan pantulan gadis dingin di cermin menaikkan sudut bibirnya membentuk seringaian suram dengan sorot mata dingin layaknya benda mati.


Ya, tentu saja kalau itu dia, dia akan memilih tindakan yang mudah dan praktis. Dia tidak akan ragu menghilangkan faktor yang akan merugikannya. Ini sudah menjadi rutinitas yang selalu dijalaninya kan...


Melihat banyangan gadis yang memancarkan aura menyeramkan di cermin, seutas keraguan menjeda niat membunuh yang sempat naik.


Lagipula dia belum menemukan alasan yang cukup serius untuk menghapus Vendry dan untuk saat ini pria ini masih berguna, ada kemungkinan dia bisa mencari tahu soal 'orang itu' dari Vendry.


Ekspresi membunuh dari pantulan gadis di cermin mengungkapkan perubahan. Felice tersenyum dan gadis itu juga tersenyum, namun kali ini bukan niat sadis yang tampak, melainkan jejak ketertarikan aneh yang tidak biasa terpancar di mata tajam sang gadis.


"Lagipula aku tidak akan tahan..."


Dari semua alasan yang perlahan-lahan dirangkainya, Felice tidak terlalu munafik untuk mengakui kalau dia sedikit mengembangkan kasih sayang yang langka untuk pria itu. Bukan jenis favoritisme untuk memiliki, tetapi hanya sebatas kesukaan karena kemiripan pria itu dengan kenalannya, orang yang tidak pernah bisa terhapus dari ruang di kepalanya.


Soalnya Vendry serius mengingatkannya dengan sosok 'dia'.


'Orang itu' pernah memberitahunya untuk belajar memisahkan antara jenis faktor yang mampu dikendalikannya dengan yang memang sejak awal dia sudah tahu hal itu di luar kendalinya. Untuk mencapai tujuannya, pertama dia harus belajar fokus memegang kendali secara maksimal atas apa yang mungkin bisa dikontrol olehnya.


Sekarang dia harus ingat, tujuan utamanya adalah memastikan keamanan dan kebahagiaan Feline dan keluarganya. Jadi hal lain yang kurang relevan ini tidak perlu terlalu diperhatikan selama tidak mengancam tujuan utamanya.


Jadi Felice... untuk saat ini kamulah yang perlu mengendalikan dirimu. Jangan sampai justru dirimu ini yang akan menyakiti Feline, Julia, dan Marvin...


Perlahan, bayangan gadis remaja di cermin dipulihkan ke wujud nyata Felice saat ini.


Felice memandang sosok kecilnya di pantulan cermin dan bergumam dalam hati,


Benar saat ini kamu hanyalah seorang anak kecil yang baru berusia 7 tahun. Tidak ada gunanya terlalu memikirkan hal-hal yang berada di luar kendalimu saat ini. Lebih baik pikirkan cara untuk menangani masalah ini saat kamu sudah cukup umur nanti.


Yang menjadi prioritas saat ini adalah mencegah insiden dua setengah tahun ke depan supaya tidak terulang lagi seperti yang terjadi di masa lalu. Jangan karena kelalaian kecilmu, semuanya kembali kacau seperti garis waktu itu.


......................


Usai keluar dari kamar mandi, suasana hati Felice sudah kembali terkontrol seperti biasanya. Dia kembali ke mejanya dan melihat kalau lukisannya masih setengah kering sehingga dia memindahkannya ke tripod lukisan yang tersedia.


Selain Felice, beberapa orang juga sudah menyelesaikan karya mereka dan memajangnya di tempat kosong. Memang tidak semuanya sempurna seperti yang pernah dijumpainya di masa lalu, tapi masing-masing karya memiliki titik pesonanya tersendiri. Sederhananya tidak sebagus milik para profesional terkemuka, tapi masih enak dipandang mata.


Felice keluar dari garis pembatas dan menghampiri kelompok yang menunggunya.


"Kakak! Lukisanmu cantik kali!" seru Feline dengan pandangan berbinar.


"Iya, lebih keren dari biasanya!" tegas Derrick dengan ekspresi serius yang dilakukan orang dewasa dan membuat wajah chubby nya semakin menggemaskan.


Gracia mengangguk dengan tatapan kagum yang tidak disembunyikan. Gadis berambut pendek itu memandangi karya Felice yang dipajang di tripod dan bergumam, "Memang 200% lebih keren dari biasanya."


Dilontarkan segudang pujian dari anak-anak kecil ini, Felice hanya tersenyum. Marvin mengusap puncak kepala Felice dengan ekspresi lembut yang jarang diperlihatkannya di depan umum dan berkata, "Kakak kecilnya Papa dan Mama memang hebat!"


Julia juga ikut tersenyum bangga dari samping dan berkata, "Kita bicaranya di tempat lain saja ya, soalnya disini banyak orang. Atau gimana kalau kita ke kantin saja? Jadi kita bisa mengobrol sambil makan cemilan."


Feline dengan cepat mengangguk setuju, "Ok!"


Pak Andy tidak mengungkapkan penolakan. Kakek tua itu terlihat senang melihat energi positif anak muda di sekelilingnya. Derrick dan Gracia terlihat agak ragu, namun Julia yang melihat reaksi kedua anak ini dengan ramah mengajak, "Kalau kalian berdua tidak keberatan, mau ikut dengan kami? Biar kalian juga bisa mengobrol dengan Felice dan Feline nanti."


Kedua anak itu saling bertatapan sejenak sebelum mengangguk setuju.


Rombongan kecil itu pun berjalan menjauh dari keramaian dan segera bayangan mereka terlihat semakin memudar di antara penonton.


Vendry yang masih mengerjakan lukisannya melirik tempat kelompok Felice berdiri sebelumnya dan menemukan kalau kelompok itu sudah pergi. Tanpa berkata-kata dia kembali mengalihkan fokusnya ke lukisan miliknya dengan ekspresi netral yang sudah menjadi ciri khasnya.