The Second Life

The Second Life
LV - Upacara Pernikahan (I)



Aku duduk diam di dalam kamarku setelah selesai makan malam. Berjalan-jalan dengan Hendery cukup melelahkan. Jadi, aku memilih langsung ke kamar untuk beristirahat.


Kugenggam kristal komunikasi yang bercahaya di tangan kananku. Sudah daritadi aku memanggil Lucas, tetapi dia tak kunjung menyahuti panggilanku. Perasaanku campur aduk karena menunggunya.


Bagaimana jika Lucas nantinya akan sama seperti Idris?


Itu yang kupikirkan saat ini. Jelas saja semua manusia itu berbeda-beda, tapi ada juga yang sifatnya selaras. Kita tidak akan pernah tahu isi hati seseorang. Semoga saja itu hanya perasaanku saja. Semoga.


“Sweetheart? Apa kau sudah tidur?”


Ah. Hatiku kembali menjadi hangat. Diam-diam aku tersenyum karena senang mendengar suara Lucas. “Belum.”


“Syukurlah. Kupikir aku sudah melewatkan kesempatan untuk bicara denganmu,” ucap Lucas. “Bagaimana keadaanmu?”


“Aku juga berpikir begitu. Aku baik-baik saja, Lucas. Bagaimana denganmu? Apa kau sibuk?” Aku berbaring di ranjangku dan menyelimuti diri dengan selimut agar hangat.


“Iya, aku baik. Aku selesai mengurus beberapa berkas yang baru saja datang. Akhirnya aku mengerjakan pekerjaanku yang sebenarnya,” jawab Lucas. “Aku juga sangat senang karena kau baik-baik saja. Aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu.”


“Aku juga,” ucapku singkat. “Besok ... aku akan menikah.”


Hening.


“Rasanya aneh mengabarimu hal seperti ini .... Tapi aku tetap saja harus memberitahukannya padamu. Kau harus tahu hal ini,” lanjutku.


Sret!


Aku menoleh ke lemari yang bergeser dengan nafas tercekat. Kulihat Lucas muncul dengan kristal komunikasi di tangannya. Dia mengantongi kristal itu dan merentangkan tangannya. Aku tahu apa maksudnya.


Seketika itu juga aku bangun dan berlari ke arahnya. Kupeluk tubuhnya dan kembali merasakan kehangatan yang amat kurindukan. Dia membalas pelukanku sambil mengelus pelan kepalaku. Cukup lama kami berada di posisi itu.


Lucas meregangkan pelukannya dan menatapku. Bibirku dikecup singkat dan kemudian dia kembali memelukku. Aku tenggelam dalam rasa nyaman yang Lucas berikan.


“Kenapa jauh-jauh kemari?” tanyaku sambil berbisik.


“Karena kau mengatakan hal yang membuatku kesal,” jawab Lucas to the point.


Benar, Lucas pasti cemburu.


“Maaf. Kalau tidak kuberitahu, kau pasti akan tambah kesal. Setidaknya aku ingin memberitahumu duluan sebelum Ava,” kataku padanya. “Kau ingatkan rencana kita berempat?”


Lucas menatapku dan mengernyitkan dahi. “Berempat?”


“Ah, maaf. Maksudku bertiga.” Aku masih ingat jika Isla berada di sampingku. “Isla masih terus ada di pikiranku.”


“Tenanglah. Kita sudah selangkah lebih dekat dengan tujuan kita,” ucap Lucas yang memberikanku semangat. “Lebih baik kita segera merencanakan beberapa tujuan kita bersama dengan Ava.”


“Aku sudah di belakang kalian.” Ava mengintip dari balik tubuh Lucas. Seperti biasa, wajah Ava hanya dihiasi oleh aura kekesalan. “Sudah cukup mesra-mesraannya.”


Kami berdua langsung memisahkan diri dan menatap Ava.


“Duduklah. Tidak enak rasanya jika kita berdiri seperti ini,” ucapku kemudian.


Setelah itu, kami bertiga pun duduk di sofa yang terletak di kamarku. Aku dan Lucas duduk bersebelahan menghadap Ava.


“Sepertinya besok adalah waktuku beraksi,” ucap Ava. “Hari yang kutunggu sudah di depan mata.”


“Jadi, bagaimana rencana kita saat ini?” tanyaku penasaran. “Waktu itu Anda tidak mengatakannya secara rinci.”


Ava menatapku. “Aku akan datang ke pernikahanmu.”


“Aku juga—”


“Tidak!” bentak Ava pada Lucas. “Ini bukan acara biasa. Raja tidak boleh datang sembarangan ke pernikahan musuh.”


Lucas tidak bicara, tetapi dia cemberut. Ava membiarkannya tetap seperti itu. Lalu ..., Ava memberitahukan semuanya secara detail kepadaku. Aku akhirnya hanya mengangguk dan menerima segalanya. Rencana Ava sangat masuk akal bagiku.



Ibu pernah bilang jika aku harus jadi anak yang bahagia.


Benar, Charlotte. Ada apa?


Charlotte ..., kau hanya belum bahagia saja. Meskipun Ibu telah tiada, tapi Ibu tetap melindungimu dari sini.


Di mana?


Di pikiranmu dan juga di hatimu. Bangunlah, hadapi kenyataan di depan matamu.


Ini hanya mimpi?


Benar. Tutup matamu dan hitunglah mundur dari lima sampai satu.


Lima.


Empat.


Tiga.


Dua.


Satu.


Aku membuka mataku dan terbangun dari tidurku. Chloe sudah datang dengan secangkir teh melati hangat. Dia tersenyum saat melihatku bangun. Aku membalas senyumannya dan beranjak dari ranjang. Lagi-lagi mimpiku terasa aneh. Dan lagi-lagi juga, aku mengabaikan mimpiku itu. Mimpi hanyalah sebuah bunga tidur. Tidak lebih.


Setidaknya, itu yang kuyakini.


“Selamat pagi, Nona Winston,” sapa Chloe.


“Selamat pagi. Apakah kereta dari Kekaisaran sudah tiba?”


Chloe mengangguk. “Benar, Nona. Masih ada banyak waktu sampai acaranya dimulai. Nona bisa sarapan terlebih dahulu.”


“Baiklah.”


Aku turun ke bawah setelah berpakaian rapi lalu sarapan di ruang makan. Holly yang menyiapkan sarapanku hari ini. Telur dadar dan salmon asap buatan Holly sangatlah nikmat.


Usai sarapan, aku segera pergi bersama dengan Chloe menaiki kereta menuju Kekaisaran. Di sana aku akan didandani oleh Tory dan bawahannya. Pelayan Kekaisaran juga akan ikut membantuku karena Tory juga membantu persiapan Idris.


Altar Kekaisaran akan menjadi tempatku dan juga Idris mengucap janji. Lucu sekali jika mengingat bahwa aku akan mengucapkan janji suci dengan Idris untuk yang kedua kalinya. Dan bisa kupastikan pernikahan kedua kami pun tidak akan berhasil.


“Nona Winston!” seru Tory yang melihatku turun dari kereta. “Aku sudah menunggumu daritadi. Come on, kita harus cepat!”


“Bukankah waktu kita masih banyak?” tanyaku padanya sambil mengikuti langkah panjangnya dari belakang. Chloe juga mengekoriku.


“Yang Mulia Putra Mahkota ingin mempercepat upacara pernikahannya. Apa Nona Winston tidak mendapatkan surat pemberitahuannya dari Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Tory.


Tidak sama sekali.


“Maaf, mungkin aku melupakannya dan jadi keliru,” ucapku asal.


“Tak apa, Nona Winston. Aku bisa menyulap Nona menjadi seorang dewi dalam waktu singkat.” Tory mengedipkan mata kirinya padaku. “Serahkan saja padaku.”


Aku tersenyum. “Baiklah, Tory. Aku percaya padamu.”


Tory akhirnya membawaku ke tempat persiapan mempelai wanita. Chloe tetap ikut ke dalam untuk didandani juga. Sebelum aku mulai dirias, para pelayan melepaskan gaunku. Air mandiku sudah disiapkan oleh mereka.


“Nona ingin aroma bunga seperti apa?” tanya salah satu pelayan.


“Berikan aku aroma lavender,” perintahku padanya.


“Baiklah.”


Aku duduk diam di dalam bathup selagi mereka menuangkan cairan aroma lavender di dalam airku. Rasanya nyaman. Aroma ini membuatku jadi teringat pada Lucas. Rileks dan damai.


Setelah selesai berendam, aku akhirnya masuk ke dalam sesi rias. Wajahku dipoles dengan bedak dan bibirku diberi perona warna peach. Rambutku pun disanggul ke atas. Tak lupa rambutku dipakaikan juga jepitan pemberian Idris.


Sebenarnya akan sangat bahagia apabila Ayah yang memberikannya dan bukan dia.