
“Nona, Tuan Franklin datang mengunjungi Nona,” ucap Holly di sela sarapanku.
“Pagi-pagi begini?” Aku mengernyitkan dahi. “Hm ..., minta dia menunggu di ruang tamu. Aku akan menemuinya setelah menyelesaikan sarapanku.”
Holly mengangguk paham. “Baik, Nona Winston. Akan saya sampaikan kepada Tuan Franklin. Saya permisi.”
“Ya.”
Aku kembali fokus pada sarapanku dan tak berkata apa pun. Chloe hanya diam dan terus menemaniku di ruang makan ini.
Begitu selesai, aku duduk sebentar sambil menikmati teh melatiku dan cemilan coklat buatan Chloe. Mungkin saja dia ingin menghiburku karena kejadian kemarin. Meskipun aku baik-baik saja, tidak masalah menerima kebaikan Chloe. Cemilan coklat dan teh melati buatan Chloe sangatlah nikmat.
Holly datang menemuiku lagi, sepertinya dia disuruh oleh Hendery untuk memintaku segera menemuinya. Siapa suruh datang pagi-pagi saat aku sedang ingin menikmati awal hari yang cerah.
“Nona Winston-”
“Aku akan ke sana sekarang,” potongku sambil berdiri. “Jangan ikuti aku, Chloe. Aku akan menemui Tuan Franklin sendirian.”
“Baiklah, Nona Winston,” ucap Chloe.
Saat aku membuka pintu ruang tamu, aku bisa melihat Hendery yang duduk di sebelah jendela yang menghadap taman belakang. Dia menatapku saat mendengar bunyi pintu yang tertutup dengan suara keras. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman tapi aku hanya diam dan duduk di sofa.
“Apa yang Tuan Franklin inginkan hingga repot-repot mengunjungiku pagi-pagi sekali dan mengganggu sarapanku?” tanyaku.
Hendery mendekatiku dan duduk di sofa kecil yang ada di sampingku. “Apa Nona Winston tidak merindukanku karena seminggu tidak bertemu?”
“Tidak.”
“Kejamnya,” ledek Hendery. “Kalau begitu, apa Nona Winston sudah dengar gosip Kekaisaran yang tersebar sampai ke telinga Vanhoiren?”
Aku melirik tajam Hendery. “Apa itu?”
“Hm ..., ini tentang Yang Mulia Putra Mahkota dan juga Nona Hindley,” ucap Hendery. “Mereka terlihat keluar berduaan dari Istana Kekaisaran tadi malam.”
“Mereka memang sudah berduaan saat aku mengunjungi ruang kerja Putra Mahkota,” kataku santai.
“Lalu?”
“Lalu apa?” tanyaku bingung.
Hendery menatapku tak percaya. “Nona Winston membiarkan hal itu begitu saja?!”
“Ya, saya membiarkan Putra Mahkota bersenang-senang selagi kami masih belum menikah,” jawabku tanpa menatap Hendery.
“Apa Nona Winston sudah gila?! Kenapa Nona Winston membiarkan penggoda seperti Nona Hindley masuk di antara hubungan Nona Winston dan juga Yang Mulia Putra Mahkota?!” seru Hendery.
“Itu kan maunya Putra Mahkota, lalu Tuan Franklin berpikir saya harus apa? Setelah tertangkap basah seperti itu pun, Putra Mahkota sama sekali tidak mengunjungi saya,” kataku padanya. “Berhentilah memikirkan hal yang tidak perlu.”
“Tapi, kan ...”
Aku menatap Hendery. “Hm?”
“Apakah Nona Winston serius dengan kesepakatan kita tempo lalu?”
“Baru sekarang Anda menanyakan keseriusan saya?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi. “Hm, sudahlah. Lupakan saja, Tuan Franklin. Saya sedang tidak ingin membicarakan hal berat sekarang. Jika itu saja yang ingin Anda bicarakan, saya akan kembali ke kamar.”
“Nona Winston ..., apakah kau tidak punya perasaan sedikit pun pada Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Hendery.
Aku terkekeh sedikit. “Sekarang tidak,” jawabku sambil berjalan keluar dari ruang tamu. “Pulanglah, Tuan Franklin. Terima kasih sudah mengunjungi saya.”
“Sekarang?”
Setelah itu, aku naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarku.
*
Di dalam kamar, aku berusaha untuk menghubungi Ava. Tapi kristal komunikasiku tidak mau terhubung. Begitu pula dengan saat aku menghubungi Lucas.
Untuk itu, aku memilih membaca buku tentang pengetahuan teh dengan aroma bawang putih.
Kuselesaikan buku tersebut hingga menjelang makan malam. Anehnya, sampai lembar terakhir di buku yang kubaca pun, tidak kutemukan hal semacam itu. Lagipula, memangnya ada?
Hanya satu hal yang masuk akal namun sangatlah berbahaya. Tapi, bagaimana bisa hal itu tidak bisa dilacak oleh pihak Kekaisaran?! Atau mungkin saja, mereka menyembunyikan hal ini dan sengaja membuat Kaisar cepat mati.
Arsenik adalah satu-satunya racun yang bisa didapatkan dengan mudah oleh Kekaisaran. Racun yang sangat mematikan karena tidak berbau, tidak berwarna, maupun tidak memiliki rasa khusus ketika dikonsumsi.
Jika arsenik dipanaskan, arsenik akan lebih cepat beroksidasi menjadi oksida arsenik yang memiliki bau seperti sebuah bawang putih.
Oleh karena itu aku mencium bau bawang putih. Syukurlah Ava memberiku ramuan anti racun jauh-jauh hari. Aku merasakan manfaatnya.
Tok! Tok! Tok!
“Masuklah,” kataku sambil menutup buku yang kubaca.
Holly masuk dan menatapku. “Sudah saatnya makan malam, Nona Winston.”
“Aku sedang tidak nafsu makan, Holly. Aku ingin langsung tidur malam ini,” ucapku pada Holly. “Habiskan saja makan malam itu bersama Chloe.”
“Tapi ..., Nona. Sebentar lagi pernikahan Nona Winston dan juga Yang Mulia Putra Mahkota akan segera dilangsungkan. Nona harus menjaga kesehatan Nona agar tidak jatuh sakit di hari penting dan sakral itu,” kata Holly.
Aku jadi terpikir ide yang bagus. “Karena kau sangat peduli pada kesehatanku. Besok siapkan bekal makan siang untukku. Aku akan makan bersama Putra Mahkota untuk memberikannya kejutan.”
“Kalau begitu, saya harus memberitahukan kedatangan Anda besok,” ucap Holly.
“Tidak ..., itu tidak perlu, Holly. Yang namanya kejutan adalah saat di mana penerimanya tidak menyangka akan ada hal tersebut. Jadi, lakukan saja yang kuperintahkan,” kataku lalu diakhiri dengan senyum lebar.
Holly menundukkan kepalanya, terlihat enggan melakukan apa yang kuperintahkan karena sangat menghormati Idris. Biar bagaimanapun, Idris memiliki pangkat lebih tinggi dariku yang hanyalah seorang tunangan.
Apa harus kubentak lagi? Atau sekalian kupakai kekerasan?
“Kau mengerti?” tanyaku lagi. Memberi satu kesempatan untuk Holly agar aku tetap tenang.
“Baik, Nona Winston. Akan saya siapkan apa yang Nona minta tadi. Kalau begitu, saya permisi. Silahkan istirahat,” ucap Holly, yang kemudian pamit undur diri.
Jika aku tetap membuat Rose dan Idris nyaman dengan permainan api mereka, mereka berdua akan semakin meremehkanku. Kita lihat bagaimana sikap mereka saat aku masuk ke tengah-tengah keharmonisan mereka berdua.
Aku tidak sabar melihat ekspresi kesal dari Rose Hindley. Ah, lucu sekali. Sebaiknya aku segera tidur agar hari esok cepat datang.
“Charlotte, kau sudah tidur?” Suara Lucas tiba-tiba muncul. “Bagaimana kabarmu?”
“Ah, Lucas. Aku baru saja mau tidur.” Aku berjalan menuju ranjangku dan duduk santai di sana. “Kabarku? Sangat baik. Bagaimana denganmu? Tadi aku berusaha menghubungimu dan juga Ava, tapi tidak tersambung.”
Lucas menghela napas. “Keadaan Ava agak kacau di sini. Kristal komunikasinya jadi tidak berfungsi karena perubahan mood Ava.” Lucas sedang serius. “Apa tidak ada hal atau seseorang yang mengganggumu?”
“Ada, dan kau tahu siapa itu. Selama dia masih berjalan dan bernapas, aku tidak akan tenang dan terus merasa terganggu,” ucapku.
“Kau terdengar sedikit berbeda. Apa tidurmu cukup akhir-akhir ini?” tanya Lucas.
“Uhm, ya.” Aku memijit pelipisku. “Aku akan tidur sekarang. Kau juga istirahatlah. Selamat malam, Lucas.”
“Baiklah. Selamat malam, Charlotte.”