The Second Life

The Second Life
XLVI - Semakin Memanas



Rose mendelik padaku.


Ah, dia terpancing. Sungguh menggelikan. Dia bertingkah seakan-akan apa yang dia lakukan bukanlah sesuatu yang patut kusinggung sekarang. Idris tidak melihat ekspresi Rose sekarang. Jadi, aku pura-pura tidak tahu menahu tentang hal itu dan fokus pada Idris.


Lancang sekali mereka bermesraan di Istana Kekaisaran. Aku berani bertaruh jika di masa lalu mereka selalu seperti ini saat aku tidak berkunjung ke sini.


“Apa yang kalian berdua lakukan di kamar sambil berduaan?” tanyaku di sela makan.


“Uhuk-uhuk!” Idris tersedak karena mendengar pertanyaanku. Baru saja aku ingin menyodorkan air minum untuknya, Rose sudah melakukannya duluan. “Terima kasih, Rose.”


“Hati-hati ...,” tegur Rose yang lalu kemudian melirikku tajam. “Kenapa Nona Charlotte bertanya seperti itu? Apakah Nona cemburu?”


“Hm ..., Idris ... apakah tidak lebih baik jika kau menjadikan Nona Rose sebagai Ratumu?” usulku tanpa bermaksud melepaskan Idris begitu saja. “Jika kau mau mundur sekarang, aku memberimu kesempatan.”


Idris melepas sendok dan garpunya lalu menatapku. “Charlotte, aku serius pada saat mengatakan bahwa aku cinta padamu. Menikah denganmu adalah pilihanku sendiri. Tidak ada yang bisa mengubah pikiranku.”


Lihat sendiri kan, Rose? Begini caranya kau membuat sainganmu iri dan cemburu.


“Tapi kau dan Nona Rose berada di kamarmu berduaan. Itu yang kuketahui dari Jack ...,” kataku terlihat sedih. “Apa aku menghalangi cinta kalian?”


Idris melirik Rose sejenak. Wajah wanita itu sudah berubah menjadi merah karena menahan rasa kesal. Sepertinya Idris sudah sadar bahwa percakapan kami membuat wanita simpanannya tidak suka. Idris kemudian tersenyum padaku.


“Kita bahas hal ini setelah makan, Charlotte. Masalah ini butuh privasi dan di sini ada pelayanmu dan juga Jack,” ucap Idris.


Aku mengangguk. “Baiklah, Idris. Dengan senang hati.”


*


Setelah makan siang, Idris berbicara sebentar dengan Rose. Sepertinya dia menyuruh Rose untuk pulang.


Atau mungkin malah menyuruh Rose berdiam diri di kamar selagi dia bicara denganku.


Aku juga tidak tahu. Memakai sihir di area sihir kegelapan adalah kesalahan besar. Aku tak ingin memancing Selir Sienna.


Aku dan Idris minum teh bersama di gazebo taman samping Kekaisaran. Chloe dan Jack menunggu di dalam Kekaisaran karena Idris menginginkan privasi saat ini. Traumaku masih belum hilang, tanganku agak gemetar saat memegang cangkir teh yang disuguhi pelayan Kekaisaran.


Tubuhku ingat dengan apa yang terjadi di masa lalu.


“Sebelumnya aku ingin minta maaf, Charlotte,” ucap Idris membuyarkan lamunanku yang melalang-buana ke masa lalu. Tepatnya saat di mana aku melihat Chloe dan dayangku yang lain mati di tempat seperti ini.


“Maaf? Untuk apa kau meminta maaf, Idris?”


“Karena sudah menduakanmu,” jawab Idris pelan. “Awalnya itu hanya sekedar satu malam yang panas, tapi makin kesini aku makin tidak bisa melepaskan Rose.”


Satu malam yang panas? Bilang saja kalian ... ah, aku tak ingin meneruskan kata-kataku.


“Aku senang mengetahui kebenaran yang tidak kuketahui lebih cepat bahkan sebelum kita menjalin hubungan pernikahan,” ucapku santai. “Karena sudah kuketahui, maka aku dapat dengan mudah ...” Mengawasimu dan mengikatmu agar tidak pergi ke pelukan Rose Hindley.


“Dapat dengan mudah apa, Charlotte?”


Aku menggeleng cepat. “Tidak, lupakan saja.” Mana mungkin aku mengatakan hal itu di depan Idris.


“Aku berjanji akan segera melepaskan Rose secepat yang kubisa. Aku tak ingin membuatmu terus-menerus terluka.” Idris meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Kali ini, aku tidak akan membuatmu cemas. Aku pasti akan melindungimu sekuat yang aku bisa. Kau percaya padaku, Charlotte?”


“Ya, Idris. Aku percaya padamu.” Tapi, bohong.


Akhirnya ada serangan balik juga darinya.


“Pergilah, Idris. Nona Hindley pasti membutuhkanmu,” kataku pada Idris.


“Baiklah, kita bicara lagi. Oke?” Idris menatapku penuh harap sambil berdiri dari tempat duduk.


Aku pun mengangguk dan ikut berdiri. “Aku akan pergi sekarang. Besok adalah hari yang sibuk. Aku harus istirahat agar tetap fit sampai hari pernikahan kita.”


“Kau benar. Hari itu sudah semakin dekat. Kita harus menjaga kesehatanmu dan juga aku,” kata Idris. “Ayo, kuantar kau sampai ke kereta.”


“Baik.”


“Rose, tunggulah di ruang kerjaku. Aku ingin mengantar Charlotte.”


Idris tak mau menunggu respon Rose, dia langsung menggandengku pergi meninggalkan wanita itu sendiri. Begitu masuk ke dalam istana lewat pintu samping, Chloe dan Jack sudah menyambut kami. Mereka berdua mengekor sampai ke depan Istana Kekaisaran.


Max sudah bersiap dengan kereta kudaku. Begitu berpamitan pada Idris, aku mendekatinya dan berbisik. Ini rahasia.


“Coba cek teh yang selalu diberikan untuk Kaisar,” bisikku.


Saat berbisik, aku tak sengaja melihat Rose. Baguslah, dia pasti akan semakin kesal.


“Aku permisi dulu, Idris. Sampai jumpa seminggu lagi,” ucapku yang kemudian naik ke dalam kereta.


“Hati-hati di jalan,” kata Idris dengan perasaan campur aduk.


Aku pun pergi meninggalkan istana Kekaisaran dengan hati bahagia.


Keesokan harinya aku disibukkan dengan undangan ajakan minum teh yang diberikan oleh para bangsawan. Aku keluar masuk rumah mereka dan minum berbagai macam jenis teh sambil membicarakan hal ringan maupun hal berat.


Kebanyakan dari mereka menginginkan kerjasama dengan bisnis Ayahku. Saat ini pertanian adalah hal yang menguntungkan. Apalagi setelah Ayah menyumbang banyak hal untuk Festival Bunga dan berita tentang pernikahanku dengan calon penerus Kaisar Vanhoiren berikutnya.


Aku rasa sekarang Idris memakan umpanku. Kesehatan Kaisar sudah tidak ada harapan lagi. Aku tak bisa membantu banyak. Kaisar sudah sekarat, tapi memberitahu kebenaran bahwa Kaisar diracuni kepada Idris bukanlah hal buruk.


Setelah ini, Idris tidak akan punya waktu bermesraan dengan Rose karena sibuk mengurus pernikahan kami dan juga mengurus masalah yang kutambah untuknya. Belum lagi masalah tentang Marchioness Franklin yang tak setuju jika aku menjadi calon Ratu selanjutnya.


Apa jadinya jika Marchioness Franklin tahu bahwa anaknya sendiri melatihku berpedang? Dia pasti akan langsung pingsan karena syok akan hal itu.


“Apakah ada hal baik? Kau terdengar senang.” Itu suara Lucas.


“Aku senang mendengar suaramu setelah sekian lama aku terus-menerus bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan,” ucapku berterus terang.


“Aku juga senang, Charlotte. Di sini aku menderita karena tidak bisa bertemu denganmu dan juga tidak bisa keluar dari istana dengan leluasa seperti dulu,” rutuk Lucas. “Ayah dan Ibuku juga tidak bisa menahan diri untuk bertemu denganmu dan minum teh bersama. Kau tahu kan, seorang Raja tidak bisa memerintah sendiri?”


“Aku tahu, Lucas. Jika aku punya waktu banyak, aku pasti akan minum teh dengan orangtuamu,” kataku.


“Tidak perlu memaksakan diri. Kau tidak boleh kelelahan. Fokuslah pada pernikahanmu. Tapi sekarang ..., kau harus tidur,” ucap Lucas. “Aku tidak suka jika kau terjaga sampai larut malam dan tidak tidur nyenyak.”


Aku tersenyum. “Baik, Lucas. Selamat malam.”


“Selamat malam, Sweetheart. Mimpi indah.”


“Kau juga,” kataku.