
Beberapa hari berlalu.
Makan malam terakhirku bersama dengan Idris sangatlah membosankan. Dibanding mendengar ocehannya tentang makanan dan keadaan istana, aku lebih tertarik pada ucapannya yang mengatakan untuk tidak perlu khawatir tentang keadaan Kaisar karena dia akan menanganinya sendiri.
Padahal posisinya saat ini adalah Ayahandanya sendiri yang sedang berada dalam masalah. Apalagi masalahnya berkaitan erat dengan sesuatu yang buruk.
Racun.
Aku memilah-milah kejadian demi kejadian yang sudah kualami dalam hidupku yang kedua. Banyak hal yang berubah. Banyak hal yang tetap sama, seperti kasih sayang Ayah dan orang-orang di kediamanku ..., lalu kelakuan Idris yang menduakanku.
“Bagaimana menurut Nona?” tanya Chloe yang selesai mengepang rambutku ke samping kiri. “Apakah Nona merasa ada yang kurang?”
Aku tersenyum pada Chloe. “Ini sangat pas. Terima kasih, kau boleh kembali mengerjakan pekerjaanmu.”
“Baik,” ucap Chloe yang kemudian keluar dari kamarku.
Besok adalah hari pernikahanku dengan Idris, sekaligus naik takhtanya dia menjadi Kaisar XX. Hari ini adalah hari terakhirku melajang. Sesuai dengan tradisi Kekaisaran yang telah ada sejak lama, aku bisa pergi ke mana pun yang kuinginkan bersama dengan siapa pun.
Chloe sudah bekerja keras selama beberapa hari terakhir bersama dengan Holly. Saat ini pun, Chloe juga sedang mempersiapkan diri untuk dipilih sebagai dayangku. Rasanya kurang pantas jika aku memaksakan tenaganya dengan kuajak jalan-jalan.
Aku juga tidak bisa pergi bersama dengan Idris—meskipun aku memang tidak menginginkannya. Mempelai pria dan juga mempelai wanita tidak boleh bertatap muka sampai hari di mana kami mengucap janji suci.
Baguslah, sehari tanpa melihat wajah Idris sudah lebih dari cukup.
Mengajak Lucas jalan-jalan pun bukanlah sebuah tindakan yang benar untuk saat ini. Ngomong-ngomong, sudah lama juga aku tidak menghubungi Lucas dan bertanya tentang kabarnya di Barat. Malam ini, aku akan mencoba menghubunginya sebelum tidur. Setidaknya rasa rinduku padanya akan terobati.
Ayah dan Jayden sibuk membantu Kekaisaran mengurus pernikahanku. Jadi, aku tidak bisa mengajak mereka berdua pergi.
Rasanya jadi membosankan.
Awalnya kupikir begitu. Tapi kemudian aku terpikirkan suatu ide menarik yang bisa membuat Idris panas-dingin.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk,” kataku.
Holly membuka pintu kamarku dan menunduk. “Tuan Franklin sudah menunggu Nona di depan.”
“Baiklah.”
Kuraih keranjang anyamanku di atas meja rias, lalu akhirnya berdiri dan berjalan keluar bersama dengan Holly. Hendery sudah siap dengan setelan jas ala kesatria pada umumnya. Dia tersenyum saat melihat kedatanganku dari lantai dua.
Ini dia rekan jalan-jalanku hari ini. Kami akhirnya bertemu setelah sekian lama. Hendery tidak berubah.
“Wah, kau tampak menawan, Nona Winston,” puji Hendery padaku. “Apa Nona Winston sedang ingin menggoda diriku?”
“Anda terlalu berlebihan, Tuan Franklin. Saya sama sekali tidak tertarik pada Anda,” ucapku terang-terangan. “Mari kita pergi.”
Hendery tersenyum. “Nona Winston sama sekali tidak bisa diajak bicara,” kata Hendery. “Jangan cemberut seperti itu!”
“Kalau Anda menggoda saya lagi, saya tidak akan mau memasang wajah ramah kepada Anda.” Aku naik ke dalam kereta kuda dengan dibantu oleh Max. Hendery ikut masuk dan duduk di sampingku. “Holly, tolong jaga istana selagi aku pergi.”
“Baik, Nona Winston. Selamat bersenang-senang,” ucap Holly yang kemudian menunduk.
Max akhirnya menjalankan kereta kuda yang kami naiki menuju ke kota. Aku ingin menikmati kebebasanku sebelum dikurung di dalam istana. Berjalan-jalan dengan bebas di luar istana akan menjadi hal yang sulit jika aku sudah naik takhta menjadi Ratu.
“Bagaimana nasib Tuan Franklin setelah Ibu Anda mendapat hukuman dari Pengadilan Tinggi?” tanyaku penasaran. Aku tertarik mendengar keluhan Hendery.
Hendery menghela nafas dan terlihat murung. “Dia mengusirku dari rumah. Aku tidur di camp kesatria untuk sementara waktu sampai amarah Ibuku mereda,” ujar Hendery. “Aku tidak terlalu memusingkan amarah Ibuku. Semuanya kulakukan demi hal yang sudah kau janjikan, Nona Winston.”
Dasar gila jabatan.
“Saya tidak akan melupakan janji itu, Tuan Franklin.” Kuarahkan pandanganku keluar jendela kereta.
Hendery berdiri di sampingku sedekat mungkin. Dia membawa pedangnya untuk berjaga-jaga jika ada suatu hal buruk yang terjadi pada kami.
Kota tidak banyak berubah. Masih ada saja rakyat miskin yang duduk diam di pinggir jalan untuk mengemis. Sejak dulu aku banyak menghabiskan waktuku sebagai Ratu untuk meninjau banyak sekali hal tentang rakyat miskin. Bantuan yang kuberikan pun sebisa mungkin kupastikan merata.
Rakyat mulai berangsur-angsur pulih. Tapi, hari eksekusiku tiba. Dan aku belum bisa menyelesaikannya dengan baik kala itu.
“Apa Nona Winston gugup soal pernikahan Nona besok?” tanya Hendery padaku.
“Dibandingkan gugup, malahan saya tidak sabar untuk segera menjadi seorang Ratu,” bisikku pada Hendery. “Anda tahu kan apa yang saya maksud.”
“Kalau begitu aku akan melindungi Nona Winston saat di dalam istana. Tapi, apakah hubungan kita tidak terlalu formal?”
Aku mendelik pada Hendery. “Bukankah hubungan kita memang merupakan hubungan yang formal?”
“Benar juga. Tapi aneh rasanya jika kau bersikap sopan padaku yang seumuran denganmu seperti ini,” kata Hendery.
“Jadi, apa yang Tuan Franklin inginkan?” tanyaku tertarik.
“Nona Winston bisa bersikap santai padaku dan bahkan kita juga bisa saling memanggil dengan nama kecil kita,” usul Hendery.
Aku tertawa dengan sikap Hendery yang mengingatkanku pada Lucas. Tapi tentu saja aku hanya menyukai Raja dari Barat itu.
“Kenapa Nona malah tertawa? Apakah aku selucu itu?” tanya Hendery sambil cemberut.
“Ya, Tuan Franklin. Anda sangat lucu. Tapi, saya ingin menolak usulan Anda. Apakah Tuan Franklin tidak ingat jika awalnya kita tidaklah akrab?” Aku mengalihkan pandanganku darinya sambil terus berjalan. “Hanya kesepakatan yang membuat kita bisa bicara tanpa beban seperti sekarang.”
“Nona Winston wanita yang kaku, ya.”
“Begitulah.” Aku tersenyum. “Karena saya tidak ingin membuat Tuan Franklin kecewa, Tuan Franklin bisa memanggil nama saya hari ini saja.”
Hendery tersenyum senang saat mendengar ucapanku barusan. Dia menarik tanganku untuk berhenti di pinggir jalan. Kami saling berhadapan sekarang.
“Nah, kalau begitu ..., aku panggil sekarang,” ucap Hendery.
“Baik.”
“Char-lotte ....” Nada suara Hendery terdengar aneh di telingaku. Serak dan lucu bercampur menjadi satu. Sepertinya dia sudah lama ingin memanggilku secara akrab.
“Cukup, Tuan Franklin.” Aku menutup mulutku. “Anda sedang ingin membuat saya terhibur?”
“Tentu saja, tidak! Aku kan sedang memanggil namamu untuk yang pertama kalinya,” kata Hendery. “Tapi, tidak adil rasanya jika hanya aku saja yang memanggilmu seperti ini ..., coba kau panggil namaku.”
“Bukan begitu kesepakatannya, Tuan Franklin,” kataku gugup.
“Coba saja,” desak Hendery.
“Baiklah, uhm, Tuan ... Hendery ....”
Hendery terlihat kecewa. “Jangan begitu, Charlotte. Coba lebih santai lagi.”
Sekarang dia sudah lebih lancar memanggil namaku.
“Hendery?” Aku menatapnya.
“Benar ..., benar begitu. Baiklah, sekarang ..., ayo kita jalan-jalan,” ucap Hendery senang.
Dengan begitu, kami pun menghabiskan waktu bersama sampai sore hari. Hendery sepertinya sangat menikmati jalan-jalan bersamaku. Apalagi saat kubelikan beberapa makanan untuknya.