
“Aku pikir kita akan naik kereta berduaan saja,” kata Idris padaku saat melihat Chloe yang duduk manis di sampingku.
Aku tersenyum padanya. “Mana mungkin aku meninggalkan pelayanku sendirian. Yang kumaksud berduaan adalah ..., aku, pelayanku, dan juga kau.”
“Itu artinya kita bertiga.” Idris cemberut.
“Chloe tidak akan menjadi orang ketiga di antara hubungan kita.” Aku tersenyum lagi padanya. “Kupikir aku sudah tidak perlu lagi menjelaskan hal ini kepadamu. Aku tidak mau kau sampai menghabiskan waktumu bersama dengan Nona Hindley sampai kau naik takhta.”
“Charlotte, rasanya kau sudah berada di batasmu saat ini,” ucap Idris tanpa mau menatapku lagi. “Harusnya saat ini kau harus diam dalam keanggunanmu. Bukannya ... berteriak dan bersikap seenaknya padaku dan juga pada Rose.”
Sebenarnya saat ini aku ingin menghujat Idris dengan kata-kata kasar. Bahkan aku ingin sekali berteriak di depan wajahnya dan menampar pipinya karena kesal. Tapi tentu saja tidak kulakukan. Sebelum aku bisa menjangkau Selir Sienna, aku harus melangkah maju melewati Idris terlebih dahulu.
Tindakan dan akal sehatku saling menentang satu sama lain. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menahan amarahku. Itu saja.
“Maaf, Idris. Aku sudah bersikap berlebihan daritadi,” ucapku sedih. “Kau tahu kan aku cemburu melihat kau dan juga Rose bermesraan di depan mataku sendiri? Rasanya hatiku ditusuk oleh anak panah ... dan leherku dicekik oleh tali. Sesakit itu.”
Kusindir saja sekalian.
Ajaibnya, ekspresi Idris di luar ekspektasi yang kuharapkan. Dia diam dengan dua bola mata yang membesar karena kaget. Air mata keluar dan membasahi pipinya. Astaga ..., apa ini?
Ini sama sekali bukan ekspresi yang kuinginkan. Kenapa dia harus berpura-pura sedih seperti saat ini? Apa dia mau menarik simpatiku?!
“Aku minta maaf, Charlotte. Aku minta maaf .... Aku benar-benar laki-laki yang bodoh dan naif,” kata Idris.
Tahu diri juga rupanya.
“Maaf ..., aku sudah terlanjur tertarik padamu dan juga pada Rose,” kata Idris lagi.
“Sudahlah, Idris. Aku tidak ingin mendengar ucapan apa pun dari mulutmu itu.” Aku menyodorkan kantung cemilan yang kupegang padanya. “Makanlah ini agar perasaanmu membaik.”
“Kau memang wanita yang baik, Charlotte.”
Kuabaikan ucapannya itu dan menganggapnya hanya sebagai angin lalu. Di perjalanan menuju istana Kekaisaran, kami hanya asyik makan cemilan.
Aku turun dari dalam kereta dengan dibantu oleh Idris. Kami akhirnya sampai ke Istana Kekaisaran. Para pelayan menyambut kehadiran kami dan kami bertiga langsung diarahkan ke taman indoor Kekaisaran untuk makan cemilan kue coklat yang dibeli oleh Jack dan juga minum teh.
Idris menyuruh Chloe untuk menunggu di luar karena ingin privasinya denganku terjaga. Kini, tersisa kami berdua saja. Ditemani oleh teh hangat dan piring penuh cemilan.
“Apakah ada yang ingin kau perlukan lagi?” tanya Idris padaku.
“Uhm, tidak. Ini sudah cukup untukku.”
“Mengenai yang kau katakan tentang Ayahanda ..., darimana kau mendengar hal itu?” tanya Idris dengan gestur tubuh waspada. “Dan siapa saja yang sudah kau beritahu tentang hal ini?”
“Aku mencium bau bawang putih yang diperkirakan adalah arsenik dari teh yang hendak diminum oleh Yang Mulia Kaisar. Hanya kau yang mengetahui hal ini, Idris,” kataku pelan.
“Lupakan hal itu, Charlotte. Jangan mengusut hal ini lebih dalam lagi. Biar aku yang menangani segalanya. Kau tidak perlu khawatir,” ujar Idris serius. “Kaisar akan segera ... jadi kau ... dan ... saja. Mengerti?”
“Apa?”
“Kita fokus pada pernikahan kita saja,” kata Idris kemudian.
Aku hanya bisa mengangguk dan meminum tehku. Tanganku kembali gemetar seperti kejadian-kejadian yang sudah berlalu. Idris malah menggenggam tangan kiriku yang kuletakkan di atas meja. Dia memijit pelan telapak tanganku dan kadang-kadang mengelusnya sedikit. Aku jadi mual.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuatku bernafas lega. Buru-buru kutarik tanganku dari genggamannya sebelum aku benar-benar muntah karena dipegang-pegang terus olehnya. Idris terfokus pada ketukan pintu itu.
“Masuklah!” perintah Idris.
Pintu terbuka dan munculah Jack dengan sebuah kotak kecil di tangannya. Idris tersenyum sumringah saat melihat kotak itu. Dilihat dari keringat yang mengucur di wajah Jack, aku bisa pastikan jika dia telah bekerja keras. Jack menyodorkan kotak di tangannya pada Idris tanpa berkata apa-apa.
“Apakah kau sudah memastikan jika Rose telah tiba dengan selamat?” tanya Idris pada Jack.
Jack mengangguk. “Meskipun agak lama untuk membujuk Nona Hindley, dia akhirnya mau untuk naik kereta yang sudah disewakan untuknya.”
“Baiklah. Kau boleh keluar,” kata Idris.
“Saya permisi,” ucap Jack yang kemudian keluar dari dalam taman indoor.
Taman indoor sendiri di buat dengan dinding kaca tebal. Kami bisa melihat keluar yang memiliki pemandangan danau istana. Atap yang teduh membuat suhu di taman indoor menjadi sejuk.
Dulunya ini adalah tempat kesukaan kami jika aku sedang mengunjungi Istana Kekaisaran. Nostalgia yang memuakkan.
“Ini sesuatu yang kujanjikan untukmu, Charlotte,” ucap Idris. Dia menyerahkan kotak yang diantarkan oleh Jack kepadaku. “Bukalah. Kau pasti suka.”
Aku menatapnya sejenak lalu kemudian membuka kotak berwarna emas yang diikat dengan pita berwarna hitam. Saat kulihat isinya, aku hanya bisa tertegun. Itu adalah jepitan yang kupakai saat melangsungkan pernikahan dengan Idris. Jepitan bunga emas untuk menghias rambutku.
Bukannya aku terharu atau apa, tapi aku malah ngeri dengan tindakannya saat ini. Jepitan ini diberikan oleh Ayahku sehari sebelum pernikahan, tapi kenapa malah Idris yang memberikannya?
Kututup kembali kotak yang sudah kubuka, dan menghela napas dalam-dalam. Aku berusaha tersenyum dan kemudian kembali meminum tehku yang hampir habis.
“Apakah kau menyukainya?” tanya Idris.
“Darimana kau menemukannya?” tanyaku balik.
“Kebetulan aku berjalan-jalan di kota beberapa waktu yang lalu. Setelah itu, aku menemukannya dan teringat padamu. Akan sangat senang rasanya jika kau memakai jepitan itu saat hari pernikahan kita ....” Bisa kulihat wajah bahagia Idris yang sepertinya tengah asyik membayangkan pernikahan kami yang sudah di depan mata itu. “Menurutmu bagaimana?”
Mungkin jepitan itu hanya kebetulan. Masa depan tidak akan selalu sama dengan masa lalu. Ya, mungkin itu hanya kebetulan.
“Aku pikir itu ide yang bagus, Idris. Aku suka hadiah pemberianmu ini. Terima kasih.”
Idris pun mengangguk dan tersenyum. Meskipun senyuman Idris di kala aku dieksekusi berbeda dengan saat ini, tapi aku tetap saja merasa tidak nyaman saat dia tersenyum. Senyumannya menggelitik lambungku.
Artinya aku mau muntah.