The Second Life

The Second Life
Bab 27: Undangan Kompetisi



Tidak lama setelah Felice menghabiskan segelas susunya, adik perempuan kesayangannya yang selalu tampil ceria seperti matahari, akhirnya turun dengan tas sekolahnya.


Feline meletakkan tasnya seperti biasa dan menyapa keluarganya satu persatu dengan nada ceria yang tidak pernah luntur.


"Pagi Pa!" seru Feline sambil mencium salah satu sisi wajah ayahnya, setelah dia meletakkan tasnya di samping tas Felice di atas sofa.


Gadis kecil yang ceria itu dihadiahi dengan belaian ringan di puncak kepalanya.


"Pagi Feline," ujar Marvin ketika pria itu meletakkan pekerjaannya untuk sejenak dan mengirimkan fokusnya kepada putri bungsunya yang tercinta.


Tidak lama setelah suara Feline yang nyaringnya menarik hati orang terdengar, Julia keluar dari dapur. Wanita itu meletakkan cangkir susu lain di meja Feline sebelum memeluk putri kecilnya yang berlari seperti tornado ke arahnya.


"Pagi Ma!" seru Feline saat dia terbang ke pelukan hangat sang ibu.


"Pagi, Sayang."


Ketika Feline melepaskan pelukan ibunya, dia menerima sentilan pelan di dahi mulusnya. Gadis kecil itu menutup dahinya dan menatap penuh senyuman pada ibunya yang memberinya sentilan tersebut.


"Kan sudah Mama bilang jangan lari-lari. Nanti kalau kamu terpleset, bagaimana? Benar-benar anak nakal," ujar sang ibu sambil membuat wajah penuh teguran yang setengah serius setengah bercanda.


Felice yang menjadi penonton dari adegan penuh kasih sayang itu hanya menumpu dagunya di satu tangan dan menatap pasangan ibu dan anak itu dengan suasana hati yang menikmati pemandangan indah.


Tanpa melupakan kakaknya, Feline berbalik dan melompat-lompat ke sisi Felice dan memeluk sang kakak dengan manja, "Pagi Kak."


"Pagi, Feline."


Usapan lembut yang telah diharapkan oleh Feline, menumpu di atas kepalanya dengan belaian favoritnya.


Seperti biasa, keluarga yang beranggotakan empat orang itu melewati sarapan pagi harmonis yang rutin mereka lakukan. Saat akan berangkat ke sekolah, Felice dan Feline mengucapkan salam perpisahan dengan ibu mereka sebelum mengikuti ayah mereka ke dalam mobil.


Felice mengangkat alisnya ketika melihat sebuah tas kecil tambahan di dalam mobil. Adiknya di sisi lain menatap penasaran tas kecil tambahan yang muncul di dalam mobil untuk pertama kalinya dan mengajukan rasa penasarannya, "Pa, apa itu?"


Marvin yang sudah mulai menghidupkan mesin mobil, mengarahkan pandangan sekilas pada objek yang ditunjuk oleh putri bungsunya. Pria itu memasang sabuk pengaman dan menjawab, "Makanan yang dibuat Mama."


Feline mengedipkan matanya atas jawaban sang ayah dan cahaya pemahaman muncul di kedua mata bulatnya, "Oh~"


Felice mengangkat senyuman samar atas tindakan nakal adik kecilnya. Marvin bahkan tidak menatap putri bungsunya dan langsung mengemudikan mobil. Dari kaca spion yang terpasang di dalam mobil, Felice bisa melihat rona merah yang perlahan naik di telinga ayahnya.


Tsk... dua orang dewasa ini...


Benar-benar lucu.


......................


Mobil melaju dengan kecepatan yang stabil sebelum berhenti di depan gerbang sekolah yang indah.


Felice dan Feline mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada ayah mereka sebelum turun dari mobil. Marvin menunggu hingga kedua putrinya masuk ke dalam gerbang sekolah dan melambaikan tangan mereka kepadanya sebelum mengemudikan mobil untuk lanjut pergi ke kantornya.


Hari ini acara tahunan sekolah masih berlangsung, namun dibandingkan dengan keramaian pertama yang mereka temukan di hari sebelumnya, suasana hari ini bisa dikatakan tidak terlalu semarak.


Felice dan Feline masuk ke kelas mereka dan disambut oleh Gracia dan Derrick yang melambaikan tangan mereka kepada kedua gadis kecil yang berdiri di pintu masuk kelas.


Kedua gadis kecil itu menghampiri teman-teman mereka dan disodorkan dengan sebuah kertas dari tangan Derrick.


Felice meletakkan tasnya dan mengambil kertas tersebut. Ternyata sebuah kertas pendaftaran untuk mengikuti kompetisi seni. Gadis kecil itu mengangkat pandangannya dari isi kertas ke wajah anak laki-laki gemuk itu dengan tatapan bertanya.


"Tadi pagi seorang ibu guru masuk dan menanyakan soal kehadiran Felice. Karena kalian belum sampai di sekolah, ibu guru itu menitipkan kertas ini untuk Felice. Katanya Felice dapat surat undangan untuk ikut kompetisi melukis di luar sekolah, ini kertas pendaftarannya. Kalau untuk surat undangan, nanti kamu bisa mengambilnya dari Pak Vendry," jelas anak laki-laki gemuk itu dengan pelan.


"Ibu guru yang mana?" tanya Felice sambil mengerutkan keningnya. Kompetisi baru lagi. Padahal dia sedang tidak tertarik dengan hal yang seperti ini, tidak hanya merepotkan tapi juga tidak terlalu menarik baginya.


Derrick secara otomatis menatap Garcia ketika diajukan pertanyaan itu.


"Seharusnya guru yang mengajar kelas senior, soalnya kami juga tidak mengenalnya," ujar Gracia.


Felice meletakkan kertas itu di atas mejanya dan duduk di bangku dengan santai. Dia mengeluarkan headset dan menyambungkan ujung kabel dengan ponselnya sebelum menjawab, "Aku sedang tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam kompetisi lain. Nanti aku akan langsung menyatakan niatku pada Pak Vendry."


Feline terbelalak ketika mendengar jawaban kakaknya. Dia segera duduk di samping sang kakak dan mengerutkan alis kecilnya dengan ekspresi tidak senang, "Mengapa Kak? Bukankah itu hal yang bagus kalau kamu jadi dikenal? Itu artinya skill kakak diakui lebih tinggi di mata guru."


"Tapi Feline, kalau kali ini aku masih menerimanya nanti akan ada lebih banyak undangan yang berdatangan. Aku benar-benar tidak ingin mendalami dunia seni dan menapaki kaki ku ke jalan itu di masa depan. Melukis bagiku bukanlah sebuah tujuan, melainkan hanyalah hobi sementara di waktu luang, tidak lebih," jawab Felice sambil mengusap pipi adik perempuannya yang cemberut imut.


Felice tidak berbohong. Dia bukanlah maniak seni seperti yang ditunjukkan oleh berbagai seniman di dunia seni. Sejak awal alasan dia mempelajari keterampilan melukis adalah untuk tujuan yang rumit. Dia melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan hanya untuk memberi dirinya satu kemampuan tambahan yang mampu membantu dirinya saat sedang menjalankan tugas di masa lalu.


Baginya, melukis hanyalah sekedar alat untuk lebih mempermudah pekerjaannya. Di luar dari itu, melukis juga menjadi metode untuk melampiaskan emosi negatifnya setelah menyelesaikan pekerjaan yang membuatnya penat. Dia tidak terlalu mencintai dan memuja yang namanya karya seni karena itu hanyalah jenis kebutuhan sekunder baginya.


"Tapi Kak, jelas-jelas keterampilan melukismu sangat baik. Kamu memiliki bakat yang tinggi di bidang melukis, akan sayang sekali kalau kamu membiarkan bakat itu berjamur sendiri di sudut, Kak. Selain itu, menjadi pelukis juga cukup bagus kok," lanjut Feline.


Felice hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Gadis kecil itu memutar kepalanya dan menghadap dua orang teman kecilnya, "Terima kasih untuk informasinya, tapi sayangnya aku tidak tertarik. Nanti aku sendiri yang akan menjelaskan alasan penolakanku kepada wali kelas kita, jadi kalian tidak perlu khawatir terlibat masalah."


Gracia, "Kamu benar-benar tidak ingin berpartisipasi dalam kompetisi ini? Pengaruh kompetisi ini tidak terlalu kecil loh, ini tentang memperebutkan piala seprovinsi. Meskipun tidak setingkat nasional, tapi para kompetitor ini semuanya tidak mudah. Mungkin kamu akan menemukan tantangan dalam kompetisi ini."


Felice menghela nafas pelan dan kembali berkata, "Ya dan aku masih menolak."


"Benar-benar tidak?" tanya Gracia dengan nada yang agak menggoda seperti sedang menarik kucing dengan semangkuk susu dan ikan lezat.


"Tidak."


Gracia memandang kedua mata Felice yang terlihat serius dan mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, tapi mungkin kamu bisa memikirkannya lagi nanti. Agak sayang kalau kamu membiarkan bakatmu terkubur jauh di dalam lumpur."


Felice mengangguk dan menjawab, "Yah, terima kasih untuk pujian dan saran nya."