
"Selamat pagi, Pa, Ma."
Felice turun dari tangga dengan seragam sekolah lengkapnya dan menyapa kedua orang tuanya yang telah bangun pagi-pagi untuk siap bekerja.
Seperti biasa Julia sudah memasak sarapan yang lengkap untuk melengkapi pagi hari mereka. Wanita itu tersenyum kepada putri sulungnya dan menjawab sapaan sang anak.
"Pagi, Felice. Duduk dulu di tempatmu, kita akan makan setelah Feline turun."
Felice mengangguk dengan patuh dan menjalankan perintah sang ibu. Dia melihat sarapan di meja yang agak terlalu banyak dibandingkan dengan biasanya, ada tambahan beberapa piring yang berisi sayuran hijau yang tercium lezat. Sudah jelas untuk siapa piring-piring sayuran ini berada di atas meja.
Kemarin ketika mereka makan malam, sang ibu sempat menyebutkan soal berat badan ayah mereka yang menurun. Ibu mereka menunjukkan keinginan yang jelas untuk memberi makan ayah mereka supaya sang ayah kembali menumbuhkan daging yang telah menyusut dari tubuhnya.
Tentu saja dengan momen makan malam kemarin, mereka semua mengira kalau Julia hanya menggoda Marvin dengan kasih sayang yang memanjakannya. Soalnya ini juga bukan pertama kalinya wanita itu memancarkan gelombang merah muda ketika bermesraan dengan suaminya.
Felice hanya tidak menyangka kalau dia akan melihat hal-hal ini di keesokan paginya. Jadi ternyata Julia tidak bercanda kemarin, ibunya benar-benar ingin memberi makan ayahnya supaya gemuk.
Marvin yang semalam memiliki momen spesial, telah kembali ke rutinitas biasanya dan mendalami pekerjaannya di pagi hari meskipun sarapan sudah disiapkan. Pria itu duduk di meja ruang tamu dan mengetik di laptopnya dengan suara ketukan yang terdengar cukup keras di ruangan itu.
Julia yang telah kembali dari dapur setelah membersihkan tangannya dan melepaskan celemek dapurnya, duduk di seberang Felice dan berbincang-bincang tentang kehidupan sekolah Felice.
Itu ada jenis pembicaraan yang sebenarnya cukup membosankan bagi Felice karena sejak dia pindah ke sekolahnya hingga saat ini Mama nya sudah terlalu sering menanyakan hal yang sama.
Apakah kamu terbiasa dengan suasana di sekolah?
Bagaimana harimu di sekolah?
Apakah suasana di sekolah membuatmu nyaman?
Bla bla bla..
Intinya semua yang dibahas pasti berhubungan dengan kehidupan sekolah Felice atau Feline. Entah sudah berapa kali mereka membahas ini. Tentu saja Felice juga sadar kalau tindakan Mama nya hanyalah sebuah tindakan untuk mengalihkan udara istimewa di antara pasangan suami istri itu.
Kemarin Julia dan Marvin pasti memiliki momen pembicaraan antara pasangan yang terlalu manis untuk temperamen dewasa dan rasional mereka ketika Felice dan Feline tidak berada di sekitar pasangan itu.
Felice memandang Julia yang terlihat seperti sedang mencari topik pembicaraan lain setelah Felice memperlakukan percakapan mereka dengan tanggapan yang apatis. Padahal kalau Feline yang berada di posisi kakaknya saat ini, ibu mereka pasti tidak perlu berpikir sampai sesusah ini. Dari sudut matanya, Felice memperhatikan sosok ayahnya yang duduk tegap dengan setelan jas khasnya yang membingkai wajah yang terlihat tanpa ekspresi itu.
Dia tidak terlalu rabun untuk memperhatikan postur tubuh sang ayah yang terlalu lurus seperti tiang semenjak tadi.
Jadi Marvin sebenarnya tidak memperhatikan pekerjaannya, tapi fokus menegakkan telinganya untuk menguping percakapannya dengan Julia kan...
Seutas perasaan geli terlilit di hati dan pikirannya. Julia dan Marvin sudah terlalu sering bertindak seperti pasangan yang baru menikah. Sungguh di luar dugaan.
Pertama kali Felice melihat kedekatan kedua orang tuanya yang tulus, dia tidak percaya kalau hubungan itu akan bertahan lama. Karena seperti yang dia yakini, kedua orang tuanya telah mengecewakannya dan Feline di kehidupan sebelumnya yang menjadi awal lahirnya keretakan dalam ikatan keluarga mereka.
Dia percaya kalau momen harmonis itu hanya akan bertahan sejenak sebelum berlalu seperti daun gugur.
Namun, ketika dia menunggu saat-saat itu terjadi, semuanya malah bergilir agak jauh dari yang dia harapkan.
Bukannya timbul konflik di antara kedua orang tuanya yang workaholic dan sama-sama memiliki pikiran rasionalitas yang jauh lebih teguh dibandingkan ikatan emosional mereka, Felice malah menonton pertunjukan romansa lambat yang berlangsung di antara kedua orang tuanya.
Semuanya berlangsung begitu berbeda dari apa yang dia alami di kehidupan pertamanya. Ketika dia melihat Julia secara aktif memimpin hubungan romantisnya dengan Marvin, mau tak mau Felice meragukan kenyataan akan pemandangan yang terjadi di sekitarnya.
Apalagi ketika melihat kalau Marvin yang di kehidupan pertamanya selalu memancarkan rasa kaku serta ketidakpedulian yang lebih dari kata apatis sebelum kejadian tragis Feline, justru terlihat secara sukarela ditarik dalam hubungan romantis yang dipimpin oleh istrinya tanpa merasa tersinggung, rasanya seperti semuanya tidak benar.
Sangat salah.
Dia tahu kalau penyakitnya pasti akan bertambah parah dan mungkin sudah kehilangan kesempatan untuk pulih setelah apa yang dia paksakan untuk selesaikan. Dia sudah siap jatuh kapan saja dan meninggalkan dunia ini dengan akhir tragis yang mungkin akan menghukumnya atas semua dosa yang telah diperbuatnya.
Sulit mempercayai kalau makhluk sepertinya yang membawa darah orang lain di tangannya akan menerima hadiah seluar biasa ini dibandingkan dengan hukuman neraka yang menyiksa.
Tapi inilah kenyataannya.
Dunia ini terlalu nyata untuk menjadi sebuah fatamorgana palsu.
Dia tidak tahu apakah ini sungguh ulah penyakitnya yang terlalu parah hingga bahkan mampu menciptakan sebuah dunia palsu yang benar-benar terasa natural, tapi harus diakuinya dia mungkin mulai jatuh cinta dengan semua yang tidak dimilikinya selama tujuh tahun kejatuhannya.
Setelah memiliki Feline, adiknya yang tersayang, dia juga memiliki Julia dan Marvin yang sepenuhnya melimpahkan kasih sayang dan merakit hubungan keluarga yang selalu didambakannya .
Lalu ada juga Vendry, pemuda yang memberikannya perasaan dan harapan untuk dipertemukan kembali dengan sosok yang telah menempati separuh bidang di lubuk hatinya.
Mungkin semuanya hanyalah ilusi. Jenis fatamorgana yang menghilang begitu mimpinya mulai runtuh.
Tapi bagaimana mungkin dia tidak tergoda?
Semua obsesi yang selalu menguasai hati dan pikirannya seperti bara api yang tidak pernah padam, sekarang terwujudkan di dunia ini.
Felice tersenyum.
Untuk seorang penjahat seperti dirinya yang seharusnya membusuk di lubang neraka, ini benar-benar sebuah keajaiban yang membuatnya kecanduan seperti morfin.
Felice memandang punggung Julia yang sekarang semakin menjauh dari dirinya dan menuju dapur. Julia di dunia ini adalah sosok ibu yang sangat sempurna untuknya.
Begitu juga dengan Marvin.
Felice mengalihkan tatapannya pada pria yang duduk beberapa meter darinya dan fokus menatap layar laptop yang berisi semua pekerjaan penting milik perusahaan.
Marvin adalah sosok ayah yang benar-benar memberikan kehangatan kepada keluarganya meskipun watak pria itu sendiri sebenarnya terprogram seperti robot sejak awal.
Mereka berdua adalah pasangan orang tua yang benar-benar cocok untuk dirinya. Tidak hanya memberikan kasih sayang yang memang seharusnya ada dalam sebuah keluarga, kedua pasangan ini juga selalu menunjukkan pertunjukan kasih sayang yang cukup segar seperti sayur hijau yang masih muda.
Bagi Felice ini adalah jenis pertunjukan yang mampu menghibur harinya dan dia tidak terlalu membenci perilaku kedua orang dewasa ini.
Karena itulah dia sangat berharap kalau mimpi indah ini akan berjalan hingga akhir hayatnya.
Felice memandang pantulan wajahnya yang berada di mulut sendok. Wajah gadis kecil yang menunjukkan senyuman dan padangan yang terlalu tua untuk ukuran seorang anak, tercermin di besi sendok.
Di dunia ini hanya dirinya yang tidak tepat pada tempatnya.
Tapi tidak apa-apa, dia akan berusaha bercampur dalam keluarga ini dan menjadi bagian yang membuat keluarga ini kembali sempurna seperti yang seharusnya.
Kalau pun dia harus berkecimpung dalam bisnis hitam yang pernah menjadi bagian dari masa lalu kelamnya, maka dia akan dengan senang hati melakukannya sekali lagi selama obsesinya terlindungi dengan baik dari keburukan dunia.
Tanpa ada yang melihat, Felice tersenyum. Namun kali ini senyumannya berbeda dari yang sebelumnya pernah diperlihatkan di wajah mungilnya. Felice tersenyum lepas, sama seperti bagaimana suasana hatinya saat ini dilepaskan dari dalam kandang dan berkeliaran bebas tanpa terkekang.
Gadis kecil itu mengambil segelas susu cokelat yang berada di meja makannya dan menyesapnya dengan nyaman.
Hmn... segelas susu hari ini sepertinya sedikit lebih manis dari biasanya...