
Aku turun ke bawah dan masuk ke ruang makan lalu kemudian melihat Idris yang sudah duduk manis di depan meja makan. Aku memilih tempat duduk yang berhadapan dengannya.
Holly dan Chloe menjamu kami dengan sarapan sederhana. Roti panggang, selai coklat, telur orak-arik, dan susu sapi segar. Kami menikmati sarapan itu dalam diam. Setelah selesai, barulah Idris mulai bicara.
“Aku sudah meminta perancang Kekaisaran membuatkan beberapa model gaun pernikahan untuk kau coba,” kata Idris. “Apa kau punya model yang kau inginkan?”
Aku menggeleng. “Aku percaya pada pilihanmu, Idris. Aku akan memakai apa pun yang kau pilihkan.”
“Uhm, aku agak takut dengan seleraku, Charlotte.” Idris tersenyum. “Apa kita bisa pergi sekarang?”
“Baiklah, biar kuminta Chloe menata rambutku dulu agar tidak kepanasan,” kataku sambil berdiri. “Tunggulah sebentar.”
“Ya, Charlotte.”
Aku memanggil Chloe mengikutiku ke atas dan membawakanku segelas air. Sebelum Chloe masuk, aku sudah memasukkan pil pemberian Ava ke dalam mulut.
Pahit.
Aku menyambar gelas berisi air yang dibawa Chloe begitu dia masuk. Aku mengeluarkan ekspresi tak menggenakkan karena rasa pahit dari pil tersebut. Oh, ya ampun. Aku butuh sesuatu yang manis.
“Bawakan aku beberapa kue,” perintahku pada Chloe.
Chloe berlari keluar meskipun tak terlalu mengerti mengapa aku ingin makan kue. Ah, seharusnya Ava memberikan peringatan tentang rasa dari obat yang dia berikan.
Setelah makan kue coklat yang dibawa Chloe, aku bisa bernapas lega kembali. Chloe mulai menata rambutku dengan disanggul ke atas. Pakaian musim panas tidaklah terlalu tebal, aku jadi tidak terlalu berkeringat karena hal itu.
Aku pun akhirnya pergi bersama Idris menuju Istana Kekaisaran untuk mencoba gaun pengantin di sana. Perancang Kekaisaran sudah menunggu.
“Semoga Yang Mulia Putra Mahkota dan juga Nona Winston diberkati Dewi Kebajikan. Perkenalkan nama saya Tory, perancang Kekaisaran,” ucap Tory sambil membungkuk. “Silahkan ikuti saya.”
Aku dan Idris mengekor di belakang Tory yang agak cerewet. Sepanjang perjalanan, Tory sibuk membicarakan tentang desain gaun yang dia buat dalam waktu singkat.
Bahan yang digunakan adalah bahan terbaik yang diambil langsung dari Naorikan. Tory membanggakan hasil gaunnya sebagai mahakarya. Tanpa melihat pun aku memang sudah tahu se-berbakat apa Tory itu.
Gaun pernikahan dan penobatanku pun kupilih dari rancangannya.
Clek!
Tory membuka pintu dan terlihatlah gaun pernikahan serba putih yang sangat indah. Idris tetap menemaniku di samping tanpa berkata apa pun. Dia hanya diam dan menungguku mencoba semua gaun itu.
Tapi aku enggan melakukannya. Karena mataku tertuju pada satu gaun yang berbeda. Gaun itu berwarna krem dengan kerah membentuk huruf v. Bagian depannya ditempeli berlian dan bagian bawahnya memakai kain mengkilap.
“Aku ingin mencoba itu,” kataku sambil menunjuk gaun yang kumaksud.
Tory tersenyum. “Pilihan pertama yang bagus, Nona Winston.”
“Tidak.” Aku melirik Tory. “Gaun itu yang akan kupakai pada pesta pernikahanku nanti.”
“Ba-Baiklah, Nona Winston. Mendekatlah agar aku bisa membantu mencoba gaun ini,” kata Tory gugup. Ia melambai-lambaikan tangannya pada empat asisten miliknya. Tirai kecil ditutup agar Idris tidak bisa melihat prosesku mengenakan gaun itu.
Gaunnya sangat pas dan nyaman. Meskipun gaun yang kukenakan ini terlalu memperlihatkan area dada. Tapi itu tidak terlalu menjadi masalah. Para asisten Tory mengacungkan jempol mereka padaku.
Itu berarti aku lumayan, kan?
Tirai terbuka dan aku pun melihat reaksi Idris saat melihatku memakai gaun pengantin.
Idris sempat diam sejenak, sebelum akhirnya berkedip beberapa kali. “Cantik sekali.”
“Nona Winston memang sangat cantik. Yang Mulia sangat beruntung,” komentar Tory. “Apa Yang Mulia ingin gaun ini?”
“Ya. Ikuti saja pilihan Charlotte,” kata Idris.
“Baik, Yang Mulia.”
Tirai pun kembali ditutup agar aku bisa mengganti gaun itu dengan gaunku kembali. Tidak butuh waktu lama untukku menetapkan gaun penganti. Usai memilih gaun, aku diajak Idris untuk makan siang.
“Apa kau punya rekomendasi untuk tema pernikahan kita nanti?” tanya Idris di sela makan siang kami.
Aku tersenyum. “Aku hanya ingin pesta pernikahan yang simple namun tetap tidak mengurangi kesan mewah. Jika dihias dengan bunga berwarna putih, aku akan sangat senang.”
Idris mengangguk paham. “Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada para bawahan.”
“Terima kasih,” ucapku.
*
Aku tetap berada di Istana Kekaisaran sampai kami hendak makan malam bersama dengan Keluarga Dominic dan Harriston. Di samping itu, Idris tetap tak ingin meninggalkanku dan menemaniku ke mana pun aku ingin pergi.
Yang meriasku untuk makan malam kali ini adalah para dayang Kekaisaran yang kuketahui melayani Ratu. Aku mengganti gaunku dengan gaun yang telah dipersiapkan Chloe sebelum berangkat ke Istana Kekaisaran. Bahannya pun sama tipisnya dengan yang kupakai seharian ini.
Aku menggandeng lengan berotot Idris lalu memasuki ruang makan Kekaisaran. Pintu dibukakan oleh para penjaga dan bisa kulihat pasangan Grand Duke Dominic dan pasangan Duke Harriston sudah menunggu kami di meja makan yang telah tersedia jamuan makan malam.
“Semoga Yang Mulia Putra Mahkota dan Nona Winston diberkati Dewi Kebajikan,” salam mereka bersamaan sambil berdiri.
“Duduklah,” kata Idris.
Idris memilih duduk di sampingku dan kami memulai makan malam kami. Jika aku tidak salah ingat, di sini kami membicarakan tentang pernikahan dan pro kontra tentangku yang menjadi pasangan Idris.
Sekarang, Marchioness Franklin pasti sedang mengambil hati bangsawan lain untuk menurunkanku dari posisi sebagai tunangan Idris.
“Terima kasih sudah mengundang kami untuk datang di makan malam bersama dengan Anda, Yang Mulia,” ucap Duke Harriston.
“Yah, kalianlah orang-orang yang menerima Charlotte sebagai calon Ratu,” kata Idris berterus-terang.
“Sekarang Marchioness Franklin sudah mulai mengumpulkan para bangsawan dan menggiring opini mereka untuk menolak Nona Winston,” ucap Grand Duke. “Jika terus begini, Nona Winston akan terdesak. Apalagi jika mereka menarik hal ini ke Pengadilan Tinggi.”
“Jika menyangkut soal Kekaisaran, Marchioness Franklin memang tidak main-main,” kata Idris. “Apa kita perlu mendapatkan perhatian rakyat Vanhoiren?”
“Maaf menyela. Tapi jika kau ingin mendapatkan perhatian rakyat, itu sama sekali tidak membantu,” kataku pada Idris. “Pada dasarnya rakyat Vanhoiren selalu menerima hal yang dilakukan oleh Kekaisaran. Mereka tidak mau terlibat masalah apa pun dan cenderung masa bodo.”
Grand Duke mengangguk. “Yang dikatakan Nona Winston ada benarnya. Lebih baik kita tidak menarik rakyat untuk hal ini,” ucap Grand Duke setuju.
Sekarang, pasti Idris ingin memanfaatkan bangsawan yang bekerja sama dengan Ayahku untuk mendapat suara pendukung. Lebih baik kukatakan duluan agar Idris tidak mendapat perhatian lebih banyak.
“Jika aku bisa memberi saran. Bagaimana kalau kita ikut menarik bangsawan yang bekerja sama dengan bisnis Ayahku. Ada banyak sekali bangsawan-bangsawan terkenal yang bisa kita mintai tolong,” usulku duluan.
Idris sempat melotot kaget padaku. Namun, akhirnya dia hanya tersenyum dan mengangguk. “Usul yang bagus, Charlotte. Tapi biarkan masalah ini diurus oleh para lelaki.”
Aku pun hanya bisa mengangguk.