
Belka langsung diam dan mengangguk. Sihir perintahku telah mempengaruhi Belka. Ava menghentikan aktivitasnya, lalu berdiri di samping Belka. Tangannya lagi-lagi sudah penuh dengan darah.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanyaku untuk yang ketiga kalinya kepada Belka.
“Nyonya Marchioness Franklin,” jawab Belka.
Oh, aku agak terkejut dengan jawaban itu. Ternyata Ibu Hendery sama sekali tidak menyerah untuk menggangguku meski sudah diberi hukuman yang menurutku agak membuat stres.
“Kenapa kau menyanggupi permintaannya? Apa kau membutuhkan uang?” tanyaku lagi.
“Keluarga Nyonya Marchioness telah banyak membantu Ayahku. Aku hanya ingin membalas budi. Lagipula, Ratu tidak pantas menjadi Ibu wilayah Vanhoiren,” ucap Belka.
“Tidak pantas?”
“Ya. Nyonya pernah bilang jika Ratu hanya menginginkan harta kekayaan Kekaisaran dan memanfaatkan rasa cinta Kaisar.”
Aku tertawa mendengar ucapan Belka. Ya ampun, ini sangat menghibur. Tanpa menjadi Ratu pun, aku bisa hidup bahagia dengan kekayaan keluargaku. Untuk apa aku repot-repot menikah dengan Idris hanya untuk mengambil hartanya? Konyol.
Alasan seperti itu hanyalah alasan untuk orang-orang yang putus asa. Aku bukanlah bagian dari orang-orang seperti itu. Dan sepertinya, Marchioness Franklin tidak akan pernah mau menganggapku sebagai Ratu XX. Di matanya, aku tidak lebih dari seorang anak Viscount yang terlalu berangan-angan tinggi. Aku tidak pantas.
“Jadi, oleh karena itu ..., kau rela mengorbankan hidupmu sendiri? Apa kau tidak memikirkan masa depan dan perasaan orang tuamu?”
Belka menatapku. “Ya. Aku tidak memikirkan masa depanku. Aku hanya ingin Ayahku bahagia dan tidak memikirkanku lagi. Aku punya penyakit yang serius dan tidak dapat diobati. Hidupku sudah tidak lama.”
“Aku cukup prihatin pada masalah yang kau hadapi. Tapi, aku tetap tidak akan membenarkan tindakan yang kau lakukan terhadapku,” ucapku pada Belka. “Apakah ada pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?”
“Semoga Ayahku bahagia dengan istri barunya.” Belka tersenyum. Tapi, itu tidak membuat hatiku luluh. Jika aku tidak menggunakan sihir perintah untuknya, dia pasti akan mengucapkan sumpah serapah untukku.
Saat kucabut efek sihirku dari Belka, dia melotot padaku. Kuberikan kode pada Ava, dan Ava pun menghajar Belka sampai pingsan. No mercy. Berbuat kebaikan tidaklah salah. Tapi, jika kebaikan kita dimanfaatkan oleh orang yang salah, sudah seharusnya kita bersikap sebaliknya. Aku tak mau jatuh ke lubang yang sama karena terlalu mempercayai seseorang.
Bisa kudengar teriakan Belka yang mengata-ngatai diriku dengan sumpah serapah yang tidak enak didengar selagi Ava menghajarnya. Tindakan kami hanya sedikit dari banyaknya hal yang bisa kami lakukan. Biarlah Belka menerima tindakan yang ringan bagi Ava. Setidaknya, dengan begitu sisi kemanusiaanku masih belum hilang.
“Sepertinya dia sudah pingsan,” ucap Ava. “Apa kau mau aku menyiramnya dengan air agar dia bangun lagi?”
“Tak perlu, wajahnya sudah tidak berbentuk karena Anda hajar berkali-kali. Malam ini, cukup sampai di sini saja,” ucapku tenang.
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan pada dia dan juga Marchioness Franklin?” tanya Ava.
“Yang pasti mereka harus dihukum. Berhubung keluarga Franklin adalah bangsawan kelas atas yang sangat berjasa bagi Kekaisaran, aku tidak ingin memberikan hukuman gantung pada mereka. Bisa jadi akan perpecahan di antara kaum bangsawan mengenai hal ini,” tuturku. “Aku naik takhta dengan banyak sekali penolakan. Jadi, aku tahu betul jika di luar sana, banyak sekali bangsawan yang masih tidak menyukaiku.”
Ava tertawa. “Malangnya nasibmu. Hidup pun banyak musuhnya.”
“Ya, begitulah.” Aku merenung. “Aku harus mencari bukti nyata dari interaksi yang terjalin antara Belka dan Marchioness Franklin. Pernyataan Belka saja tidak cukup.”
“Serahkan saja itu padaku,” kata Ava, menawarkan diri.
“Apa tidak apa-apa? Aku sudah terlalu banyak merepotkan Anda,” ucapku segan.
“Itu perkara kecil. Percaya saja padaku,” ucap Ava.
“Anda melakukan hal ini karena tidak tahu harus berbuat apa selagi melarikan diri dari Isaac, bukan?” tebakku.
“Memangnya kelihatan dengan jelas?” tanya Ava balik.
“Cih. Ya sudah, aku mengaku. Kau benar.” Ava menyerah. “Jika urusan kita sudah selesai di sini, lebih baik kita istirahat.”
“Anda akan tidur di mana?”
“Di salah satu kamar kosong di istanamu,” jawab Ava cepat.
“Baiklah.”
Ava akhirnya menyumpal kembali mulut Belka, menutup matanya dengan kain hitam tadi, lalu menyamarkan luka di wajah Belka dengan sihir agar tidak ada yang mengira bahwa aku menghajar Belka. Begitu Ava keluar, dia menutup pintu sel seperti semula, dan mengekor di belakangku yang berjalan menuju pintu keluar.
Saat membuka pintu basement, dua prajurit itu masih berjaga dengan setia. Mereka menunduk hormat ketika aku keluar dari basement itu.
“Jangan lakukan apa pun lagi pada tahanan itu,” kataku tegas. “Aku tak mau lagi ada yang melanggar perintahku ini.”
“Baik, Ratu,” ucap salah satu prajurit.
Aku lalu berjalan menuju istana untuk beristirahat. Dari kejauhan, aku bisa melihat Jasmine yang berlari ke arahku dengan membawa lenteranya. Aku mengernyitkan dahi karena bingung.
Anak ini masih saja terjaga. Padahal sudah kusuruh untuk segera beristirahat.
“Apakah Ratu sudah selesai mengecek pelayan itu?” tanya Jasmine dengan keringat yang bercucuran di keningnya.
“Ya. Cukup lama untuk bisa membuatnya bicara,” jawabku sambil terus berjalan. Jasmine mengekor di samping kananku. “Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk beristirahat?”
“Bagaimana mungkin saya membiarkan Ratu sendirian tanpa pengawasan,” ucap Jasmine. “Mohon kelancangan saya ini, Ratu. Karena insiden yang membuat Ratu hampir ditusuk, saya tidak bisa tenang jika tidak memastikan Ratu baik-baik saja.”
Aku tersenyum. “Aku pasti akan baik-baik saja.” Karena ada Ava di sampingku saat ini.
Tidak percakapan lagi di antara kami. Yang ada hanya bunyi tapak kaki yang saling beradu dan suara samar-samar dari prajurit yang menjaga istana. Mereka dibagi dalam tiga shift. Pagi, siang, dan malam.
*
“Kalau begitu, saya permisi undur diri. Semoga Ratu diberikan tidur yang nyenyak,” ucap Jasmine.
“Terima kasih, Jasmine. Kau juga,” kataku ramah.
Jasmine tersenyum dan menunduk hormat. Setelah itu, dia pergi meninggalkanku yang hendak istirahat. Ava sudah masuk duluan ke dalam kamarku untuk mencuci tangannya. Begitu dia keluar, dia menghela nafas panjang dan memperlihatkan wajah sumringah.
“Bukankah aksi kita tadi sangat mendebarkan?” ucap Ava bersemangat.
“Benarkah?” Memang agak sedikit menegangkan, sih. Kecuali bagian di mana aku dikata-katai dan diperlakukan tidak sopan.
“Ya. Aku tidak sabar melihat dia digantung di depan rakyat Vanhoekren,” ucap Ava dengan mengejek nama wilayahku.
“Itu tidak akan terjadi sampai kita mendapatkan buktinya,” kataku mengingatkan.
“Ya, aku tahu. Kalau begitu aku ingin istirahat dulu. Kau juga istirahatlah, pasti tidak nyaman kan berada di dalam tempat yang menjadi bagian dari trauma masa lalumu?” Ava tersenyum penuh arti.
Aku agak kaget saat dia menyadari hal itu. “Uhm, baik. Selamat malam, Ava.”
Ava hanya melambaikan tangannya dan pergi meninggalkanku. Aku mencuci tangan dan kakiku, sebelum akhirnya naik ke tempat tidur dan mencoba untuk istirahat. Ini yang panjang. Aku penasaran apa yang Lucas lakukan sekarang.