
Aku menunjuk wanita yang berdiri di sudut kiriku. “Dimulai dari kau.”
Wanita itu menunduk. “Salam, Ratu. Saya adalah Megan Gill Watts. Putri tunggal Count Watts.” Megan mulai memperkenalkan dirinya padaku. Aku hanya memberikannya senyum tipis. “Kita sudah hidup bertahun-tahun lamanya dengan sistem Kekaisaran saat ini. Menurut saya, jika ada perubahan dari sistem tersebut, itu namanya mencoreng budaya kita sendiri. Saya keberatan dengan hal tersebut.”
“Selanjutnya,” kataku tak tertarik.
“Salam, Ratu,” sapa wanita yang berdiri di tengah. “Saya Alisha Sutthon Rogers. Putri kedua dari Marquess Rogers. Untuk sistem yang baru, saya juga tidak setuju sama seperti Nona Watts. Kita tidak boleh lupa pencapaian apa saja yang telah Kekaisaran dapatkan untuk membangun wilayah ini menjadi yang lebih baik. Sistem lama masih sangat bagus untuk diterapkan dibandingkan dengan mencari sistem baru.”
“Kalian berdua boleh keluar,” kataku pada Megan dan Alisha. “Jasmine, antar mereka ke ruang tamu. Suruh pelayan menjamu mereka.”
Jasmine mengangguk. “Baik, Ratu.”
Sepeninggalan Jasmine, Megan, dan Alisha. Aku bersandar di sandaran kursi yang kududuki untuk mencoba lebih rileks. Kutatap wanita terakhir yang masih diam sambil menunduk itu, lalu tersenyum.
“Maya Bell Barker, putri tunggal Baron Barker. Bagaimana menurutmu jika sistem Kekaisaran diubah?” tanyaku dengan nada pelan.
“Jika pertanyaan Ratu seperti itu, Ratu ada niatan untuk mengubah sistem Kekaisaran, bukan?” tanya Maya balik.
Hoo. Pandai juga dia.
“Menurutmu bagaimana?”
“Jika Ratu memang berniat seperti itu, saya hanya ingin mengatakan bahwa itu adalah tindakan yang bisa dimaklumi. Sistem Kekaisaran yang sudah ada sejak Kekaisaran Vanhoiren berdiri ini nyatanya memiliki kekurangan. Sistemnya tergolong berpihak pada bangsawan kelas atas. Dengan kata lain, orang-orang yang memiliki kuasa dan andil besar dalam Kekaisaran.
Mungkin Ratu merasakan hal yang sama karena Ratu juga merupakan bangsawan biasa sama seperti saya. Selama Ratu menginginkan perubahan untuk membangun Kekaisaran lebih baik dan adil kepada semua pihak, yang bisa saya lakukan hanyalah mendukung dan membantu Ratu dalam mencapai hal itu,” ujar Maya panjang-lebar.
Aku tersenyum karena tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan puasku terhadap jawaban Maya. Aku berdiri dan memberikan pin khusus istana untuk Kepala Pelayanku. Maya yang melihat itu langsung melotot kaget.
“Semua yang katakan benar. Maka dari itu, aku membutuhkanmu,” ucapku pada Maya. “Kau resmi menjadi Kepala Pelayan Istana Ratu.”
*
Aku naik ke dalam kereta kuda bersama dengan Matilda dan juga Chloe, menuju Istana Kekaisaran untuk bertemu dengan Idris. Aku sempat melihat siluet bayangan Ava yang sedang berada di atas atap Istana Ratu. Dia akan mengikutiku ke Istana Kekaisaran saat ini juga.
Maya ditinggalkan bersama Jasmine. Dia akan diarahkan oleh Jasmine selagi aku pergi. Sementara itu, Hendery bersikeras untuk ikut. Tapi, aku melarangnya karena masalah yang hendak aku selesaikan, berhubungan langsung dengan keluarganya.
Kurang lebih beberapa menit naik kereta, kami akhirnya sampai di Istana Kekaisaran. Kami disambut oleh Jack alias Jack Hindley. Pantas saja sejak dulu Jack tidak pernah kuketahui nama keluarganya. Ternyata ...
“Selamat datang, Yang Mulia Ratu,” sapa Jack. “Tolong ikuti saya.”
Aku mengangguk dan mengekori Jack dari belakang. Matilda dan Chloe berjalan di kanan dan kiriku. Kami menyusuri koridor istana yang panjang dan sepi. Jack mengantarkanku ke ruang kerja Idris.
Pintu diketuk dua kali, dan Idris menyuruh kami masuk dari dalam. Saat pintu terbuka, aku bisa melihat bahwa penampilan Idris lebih berantakan daripada yang terakhir kali kulihat. Apa yang terjadi?
“Tunggulah di luar,” ucapku pada Matilda dan Chloe.
“Aku merindukanmu,” kata Idris.
“Apa kau sudah baca suratku?” tanyaku.
“Hm, sudah.” Dia meregangkan pelukannya, lalu menatapku. “Urusan apa yang ingin kau bicarakan, Istriku?”
“Kemarin aku hampir saja ditusuk oleh seorang pelayan di istanaku,” ujarku serius. Idris melotot kaget, tapi tidak bicara apa-apa. Dia menungguku menyelesaikan ceritaku. “Setelah mencari bukti dan menginterogasi pelayan itu, dalangnya mengarah pada Marchioness Franklin.”
Kuberikan surat Marchioness Franklin pada Idris. Dan dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Apa kau yakin tentang ini? Ah, yang paling penting, apa kau baik-baik saja?”
“Aku tidak akan berada di sini jika aku tidak baik-baik saja. Yang paling penting, kau bisa membandingkan tulisan tangan di surat itu dengan surat Marchioness Franklin yang kau terima,” ucapku.
Idris berjalan menuju meja kerjanya masih dengan menggenggam surat itu. Dia mengobrak-abrik isi laci meja dan menemukan surat dengan cap keluarga Franklin. Dia sepertinya sedang membandingkan tulisan dari surat yang kuberikan, dengan surat yang dia dapatkan.
Dari gerak-geriknya yang gelisah, aku bisa tahu bahwa itu surat yang asli. Tidak ada bantahan sedikit pun.
“Istriku, kau tahu kan aku mencintaimu?”
Aku mengernyitkan dahi. “Lalu?”
“Keluarga Franklin sudah berperan penting untuk keluarga Kekaisaran sejak Kekaisaran dibangun. Jika Marchioness Franklin dieksekusi untuk kejahatan yang dia lakukan—”
“Mencelakai Ratu adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan. Kau juga tahu akan hal itu. Marchioness Franklin bahkan menyusun rencana untuk membuatku terbunuh. Itu adalah tindakan kriminal,” ucapku dengan raut wajah sedih. “Jika eksekusi gantung berat bagimu, aku punya usul yang lebih baik.”
“Apa itu?”
“Tetap lakukan eksekusi gantung untuk si pelayan dan cabut gelar bangsawan keluarga Franklin,” jawabku cepat.
Idris memijit-mijit pelipisnya. “Baiklah. Lakukan saja hal itu,” ucap Idris.
“Terima kasih, Idris.” Aku tersenyum padanya. “Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi Nona Hindley? Apa kondisinya sudah membaik?”
Idris mengangguk. “Dokter Kekaisaran melakukan tugasnya dengan baik. Kau tidak perlu khawatir, Istriku. Meskipun belum bisa beranjak dari ranjang, Rose sudah bisa makan banyak dan rajin minum obat.”
Sebentar lagi Selir Sienna pasti akan mencari cara untuk mengembalikan jiwanya ke tempat semula. Ini hanya masalah waktu, aku harus siap setiap saat.
“Tapi, jika kita mencabut gelar bangsawan keluarga Franklin, akan ada banyak bangsawan kelas atas lain yang memberikan protes,” ucap Idris. “Apa kau bisa menghadapi hal tersebut?”
“Apa yang kulakukan tidaklah salah. Aku membela hak-ku sebagai seorang Ratu. Jika aku membiarkan Marchioness Franklin lolos meskipun dia berniat membunuhku, bagaimana jika kedepannya dia akan melakukan hal yang sama lagi? Apakah kau akan membiarkan hal itu lagi meski nyawaku di ujung tanduk?” tanyaku pada Idris.
“Tentu tidak, Istriku. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Selama kau bisa menahan dampak yang ditimbulkan akibat keputusanmu, aku akan selalu berada di pihakmu,” ucap Idris.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya yang sebenarnya terasa menggelikan di telingaku.