
“Ugh, belum beraksi sudah letih duluan,” keluh Ava. Dia berjalan duluan tanpa mengendap-endap menuju ke bangunan istana lewat jalan belakang. “Cepat atau lambat kita tetap akan ketahuan oleh Selir itu. Jangan lengah.”
Aku hanya diam dan terus mengikuti Ava dari belakang.
Tidak ada siapa pun di sepanjang lorong yang kami telusuri. Penjaga pun juga tidak terlihat berpatroli. Ava bahkan secara sengaja menghentak-hentakkan kakinya di lantai ketika berjalan menaiki tangga.
Namun, suasana yang tadinya biasa saja kini berubah menjadi penuh dengan tekanan yang tidak mengenakkan. Asal tekanan itu datangnya dari ruangan yang penerangannya masih menyala. Hanya aku yang sepertinya terpengaruhi oleh tekanan itu. Ava terlihat biasa saja dan malahan berjalan dengan santai menuju ruangan tersebut.
“Dia di sana,” bisik Ava dengan nafas tertahan. “Apa pun yang terjadi ja—”
Brak!
Tiba-tiba saja tubuh Ava sudah terhempas ke tembok hingga hancur. Debu yang beterbangan dari reruntuhan tembok membuat aku sulit melihat. Jika Ava tidak memasang lapisan pelindung pada tubuhnya sedetik lebih cepat, Ava pasti akan langsung terluka oleh serangan kejutan itu.
Aku dan Ava mundur ke belakang saat merasakan bahaya di depan. Dia datang.
Selir Sienna.
“Kenapa bertamu lewat jalan belakang?” tanya Selir Sienna sambil menatap tajam ke arah kami.
“Menang dada besar saja,” gumam Ava sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu. Detik berikutnya, aku sudah diberikan sihir pelindung. Aku tidak bisa keluar dari dalam sini. “Diam di sana.”
Mungkin aku hanya akan menjadi beban untuk Ava. Tapi, kenapa aku diajak ikut juga?
Selir Sienna memakai sihir blink. Dia akan berpindah-pindah tempat secara cepat hanya dengan kedipan mata. Ava hanya diam di tengah sambil memejamkan matanya. Dia menghindari serangan demi serangan yang diberikan oleh Selir Sienna.
Setelah itu, tangan Ava diangkat ke atas, dan secara ajaib sudah mencengkeram leher Selir Sienna. Ava mengangkat tubuh Selir Sienna hingga Selir Sienna meronta-ronta karena sesak nafas. Aku takjub melihat pemandangan itu.
“Kau belum dapat tumbal baru, ya?” tanya Ava.
Selir Sienna tertawa dengan susah payah. Hal itu membuat Ava berdecak kesal hingga membuatnya harus lebih mengencangkan cekikannya di leher Selir Sienna.
“Switch!” teriak Selir Sienna. Detik berikutnya, Selir Sienna langsung tak sadarkan diri.
Ava melempar tubuh Selir Sienna ke lantai dan menginjaknya untuk meluapkan emosi. “Wanita br*ngsek. Dia mempermainkanku.”
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Ava.
“Dia bertukar dengan orang lain. Sekarang, orang yang ada ditubuhnya ini adalah orang yang tubuhnya dia pakai,” ucap Ava.
Sihir pelindung yang Ava berikan padaku sudah dia hilangkan. Aku pun berjalan mendekatinya dan memeriksa kondisi tubuh Selir Sienna. Ava sudah memasang rantai sihir di tangan dan kaki Selir Sienna agar tidak kabur ke mana-mana.
“Kita masukkan saja dia ke ruangannya yang tadi,” kata Ava. Ava menyeret tubuh Selir Sienna ke dalam ruangan tempat Selir Sienna keluar tadi.
Saat masuk, ruangan itu hanya seperti ruang kerja biasa. Tidak ada hal mencurigakan seperti yang ada di pikiranku sebelum kemari. Ava membuat sihir kedap suara, dan melempar tubuh Selir Sienna ke lantai begitu saja.
Clek!
Pintu itu tidak dikunci. Tetapi, kami disambut oleh tangga yang panjang ke bawah. Itu basement.
Aku menelan ludah dan mengikuti Ava menyusuri tangga itu. Selangkah demi selangkah, perasaan yang tidak enak mulai merasuk ke dalam tubuhku. Penerangan yang minim, membuat tempat ini terkesan spooky.
Di ujung tangga, ada pintu lagi. Kali ini pintu hitam polos dengan kenop pintu emas. Meskipun pintu itu terkunci, Ava dapat membukanya dengan sihir. Kami menemukan pintu lagi untuk yang ketiga kalinya. Lagi-lagi, Ava membukanya dengan sekuat tenaga.
Ketika pintu terbuka, kami berdua kaget dengan apa yang kami lihat. Ruang bawah tanah milik Selir Sienna yang besar itu dipenuhi oleh ... mayat. Ya, mayat. Bau busuknya bahkan membuatku mual. Ini orang-orang yang hilang!
Sebagian sudah menjadi kerangka, sebagiannya lagi sedang mengalami proses pembusukan. Ugh, mengerikan.
“Ada yang mati karena kehabisan darah,” komentar Ava.
“Di mana Isla?” Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan.
Ava mengangkat tangannya dan menunjuk ke sudut ruangan. Ah, tangannya bergetar. Itu ... bukan pertanda baik.
Kakiku secara reflek berlari ke arah yang ditunjuk oleh Ava. Aku berhenti saat melihat sosok yang amat kukenal tengah dirantai di lantai. Aku jatuh ke lantai kotor itu. Kami terlambat? Apa kami terlambat?!
“No ... na ...?” Suara itu membuatku melotot kaget. Sekuat tenaga aku berdiri lagi. Sekuat tenaga aku menghampiri Isla yang saat ini sudah terbujur lemah di lantai kotor yang penuh darah itu. Dia ... masih hidup. Isla ... masih hidup!
“Ya, ini aku, Isla! Bertahanlah! Aku dan Ava sudah datang, kami datang menyelamatkanmu!” teriakku senang dan sedih dalam waktu yang bersamaan.
Aku meletakkan kepala Isla di pangkuanku. Sedikit merangkul tubuhnya yang sudah tidak terbalut sehelai benang pun. Tubuhnya penuh dengan luka dan kurus kering. Wajahnya pun juga begitu. Kaki, leher, dan tangannya sudah dirantai lama. Bisa kulihat bekas lukanya di area yang dirantai. Mungkin Isla berusaha untuk melepaskan rantai itu hingga membuatnya terluka.
Ava sudah berdiri di sampingku. Tidak berkata apa pun. Dia hanya memberikan selimut yang entah dia ambil darimana. Aku pun menyelimuti tubuh Isla agar tidak kedinginan.
“Te ... ri ... ma ... ka ... sih ...,” kata Isla sekuat tenaga.
“Diamlah. Kau sedang lemah,” ucapku prihatin. Aku menoleh pada Ava. “Tolong sembuhkan Isla!”
Ava menggeleng. “Sudah terlambat,” kata Ava. “Dia sudah di ambang batasnya. Jika aku mengambil inti mana miliknya, dia akan segera meninggal tanpa tersiksa lebih lama lagi.”
“Apa?” Aku tidak percaya dengan ucapan Ava barusan. “Jangan bercanda. Ini bukan saatnya Anda bercanda!”
“Aku juga berharap jika yang kuucapkan adalah lelucon. Tapi, aku mengatakan yang sebenarnya.” Ava berjongkok dan menyentuh leher Isla. “Yang bisa kulakukan hanyalah membantu Isla bicara dengan lancar.”
“Terima kasih, Nyonya.” Isla tersenyum. Ava hanya diam dan kembali berdiri. “Terima kasih, Nona. Aku senang kalian datang ..., dan aku senang bisa bertahan sampai kalian datang menjemputku. Aku sangat bersyukur akan hal itu.”
Ah, sial. Aku tidak tahu mengapa air mataku tiba-tiba saja jatuh tanpa aku inginkan.