The Second Life

The Second Life
Bab 22: Kecerobohan



Kelompok empat anak itu kembali ke area pameran sesuai yang mereka katakan. Feline, Derrick, dan Gracia benar-benar fokus memperhatikan karya-karya yang dihasilkan oleh setiap peserta pameran.


Untuk sekelompok anak yang tidak terlalu mengerti seni, bagi mereka selama karya itu cukup indah dan tidak pernah keluar dari tangan mereka selama ini, mereka akan sangat mengagumi setiap hasil yang terpajang di dalam garis pembatas.


Felice berdiri bersama kelompok itu, namun fokusnya berbeda dari ketiga anak lainnya meskipun matanya terus memandang ke depan dan memberi ilusi seolah gadis kecil itu benar-benar memperhatikan semua proses dengan serius.


Dia memiliki tebakan samar soal percakapan yang akan dibicarakan oleh orang tuanya dengan Kakek Andy itu setelah kepergian mereka. Kakek Andy adalah seorang seniman berpengalaman dengan mata yang tajam, dia pasti melihat sesuatu dari lukisannya.


Jadi dia kira-kira bisa menarik kesimpulan samar tentang seberapa jauh Kakek Andy akan membicarakan tentang dirinya kepada Julia dan Marvin. Sudah ada setengah tahun dia datang ke dunia ini dan setiap sedikit perubahan karakter yang dibuatnya pasti meninggalkan beban rahasia di dalam hati orang tuanya.


Feline masih anak-anak, jadi gadis kecil itu tentunya menerima perubahan kakaknya dengan mudah tanpa pikiran aneh-aneh selama sang kakak masih sama menyayanginya, tapi hal ini akan berbeda untuk Julia dan Marvin.


Felice adalah orang dewasa yang menyamar menjadi anak-anak. Menyamar dan berakting adalah salah satu makanan sehari-harinya di kehidupan yang lalu, namun ketika dia berpindah ke tubuh kecilnya di dunia ini, beberapa hal yang sudah menjadi kebiasaan sekarang agak sulit dijalani. Contoh mudahnya seperti menyamar.


Entah mengapa setiap kali kepala kecilnya memetakan semua rencana perilakunya hingga ke depan, akan ada rasa bosan yang tidak henti mengganggu proses perencanaannya. Fakta ini membuat Felice frustasi selama beberapa waktu, namun setelah dia tenang gadis kecil ini kembali menganalisis penyebab gangguan yang terjadi padanya.


Akhirnya dia sampai kepada kesimpulan yang mengarah pada tubuh fisiknya yang masih anak-anak ini. Jiwa Felice berpindah ke masa lalu karena kecelakaan yang terjadi padanya di dunia masa depannya. Terkadang Felice selalu berpikir kenapa jiwanya bisa menempel ke wujud masa lalunya? Kalau dia sekarang tinggal di tubuh ini, lalu apa yang terjadi dengan Felice yang asli dari dunia ini?


Sejak pertama kali Felice berpindah ke dunia ini, dia secara samar sudah mengorek beberapa informasi tentang segala sesuatu yang terjadi dalam rentang waktu itu. Dari percakapan dengan adiknya, Felice dewasa tidak bisa menemukan penyebab kejanggalan tentang apa yang terjadi pada Felice kecil.


Dia tidak tahu apakah jiwa Felice kecil masih berada dalam wadah ini dan bersembunyi di dalam dengan rapat atau mungkin jiwa anak kecil itu benar-benar sudah menghilang dari dunia ini.


Tebakan-tebakannya masih memiliki arah yang samar, namun dengan perubahan yang terjadi dalam pola pikirnya, ada kemungkinan ini semua disebabkan oleh kesadaran Felice kecil yang masih tersisa di tubuh ini.


Tidak bisa dipungkiri, Felice agak tidak enak dengan perubahan yang terjadi padanya. Dia menyadari bahwa ada beberapa hal yang seharusnya menjadi skill yang menempel permanen pada dirinya, sekarang justru menjadi hal yang tidak bisa diterima oleh tubuh kecilnya.


Mau bagaimana lagi karena dia selalu membocorkan beberapa hal di hadapan orang tuanya, Felice akhirnya memutuskan untuk mengubah rencana. Tidak ada lagi ide untuk berpura-pura untuk menjadi Felice kecil. Dia memutuskan untuk menunjukkan beberapa keahliannya dan meninggalkan jejak masuk akal di belakang yang bisa menjelaskan soal perubahannya, seperti sengaja tiba-tiba tertarik dengan buku psikologi milik ibunya dan mulai mempelajari ilmu psikologi itu.


Julia tidak akan heran dengan kecepatan belajarnya yang mencengangkan karena wanita itu memiliki rekap data IQ anaknya. Paling-paling dia hanya akan bertanya-tanya mengapa anaknya tiba-tiba tertarik dengan ilmu ini, tapi untuk anak dengan IQ yang abnormal biasa tindakan mereka memang sulit diukur dengan meteran sifat anak pada umumnya.


Harus Felice akui, dia memang agak impulsif. Keinginannya untuk menguji sesuatu setelah dikejutkan oleh hal tertentu membuatnya melakukan tindakan yang agak terlalu beresiko.


Julia, Marvin, dan Kakek Andy sekarang pasti sedang mendiskusikan psikologi nya yang tidak normal untuk ukuran anak-anak. Lagipula anak mana yang mampu mengeluarkan lukisan yang membawa emosi negatif setinggi gunung tanpa alasan?


Mungkin setelah ini, Julia dan Marvin akan membawanya ke ahli anak atau sejenisnya gitu. Soalnya mereka pasti mengira ada yang salah dengan mentalnya dan takut benih penyakit mental ini akan menjadi bumerang di masa depan.


Felice menghela nafas pelan. Dia ingin mengangkat tangannya dan menggosok pelipisnya sebagai salah satu tanda kebiasaan yang dulu selalu ditinggalkannya ketika sedang banyak pikiran, tapi keinginan itu segera ditahan olehnya. Dia tidak ingin Feline curiga dengan aksinya dan mulai melontarkan serangkaian pertanyaan seperti mesin.


Tidak ada jalan kembali. Dia harus meyakinkan Julia dan Marvin bahwa dia sebenarnya tidak segila yang mereka bayangkan. Mungkin dia harus mencari alasan yang agak merugikan seperti mengungkapkan adanya stress berat yang terakumulasi dari masalah ketakutan soal kejeniusannya atau mungkin dia juga perlu menambahkan serangkaian alasan yang tidak masuk akal yang di buat-buat.


Untuk kisaran orang yang tidak percaya pada tahayul, dia tidak tahu bagaimana reaksi Julia dan Marvin setelah dia menyiratkan bahwa dia sering merasa terganggu dengan hal-hal aneh. Bisa jadi orang tuanya menganggap dia hanya melontarkan serangkaian omong kosong karena masalah mentalnya atau bisa jadi mereka justru malah percaya.


Huh... merepotkan...


......................


Kantor Ella.


Vendry yang sudah menyelesaikan karyanya langsung meninggalkan lokasi pameran. Dia agak terganggu dengan seberapa banyak orang yang berkumpul di depan matanya, terutama setelah melihat lukisan Felice yang hanya menambah rasa sakit kepalanya.


Harus dia akui, dia benar-benar tidak menyangka lukisan dengan emosi seberat itu mampu dihasilkan oleh seorang gadis kecil belaka. Yang lebih menjengkelkan adalah serangkaian emosi negatif itu benar-benar mampu mempengaruhinya hingga membuatnya merasa sakit.


Karena ketidaknyamanannya, dia akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan karyanya secepat mungkin dan begitu selesai, pemuda itu langsung meninggalkan tempat untuk menjernihkan pikirannya yang kalut.


Di tengah jalan, dia ditarik oleh Ella yang entah muncul dari mana sehingga akhirnya sekarang berakhir di sofa kantor kepala sekolah muda itu dengan mata yang tertutup dan postur tubuh yang setegak biasanya.


"Minumlah sedikit air."


Vendry membuka matanya dan melihat segelas air yang disodorkan ke depannya. Sambil mengambil tawaran itu, dia mengucapkan terima kasih samar yang pelan.


"Sudah lebih baik?" tanya Ella ketika dia mengambil kembali gelas air dari tangan Vendry dan meletakkannya di atas meja.


Vendry kembali memejamkan matanya dan tidak menjawab. Kerutan yang terbentuk di dahinya sudah cukup menjawab pertanyaan Ella.


"Mungkin kamu harus tidur sebentar sambil menunggu obatnya bekerja."


Vendry mengangguk pelan dan tidak lama setelah itu, kesadarannya benar-benar memudar sesuai kata-kata Ella dan pemuda itu jatuh tertidur dalam kondisi yang masih disiplin.


Ella menggeleng kepalanya pelan dan menghela nafas. Dia berpindah ke depan Vendry dan mengangkat pemuda itu ke pelukannya dalam posisi pelukan pengantin sebelum pindah ke kamar pribadi yang tersedia di kantornya.


Untuk ukuran Ella yang selalu kelihatan lembut di muka, agak sulit dibayangkan bagaimana gadis muda itu mampu mengangkat beban seorang pria dengan begitu mudahnya dan bahkan terlihat sangat santai seolah sedang mengangkat udara kosong.


Setelah meletakkan Vendry dengan lembut di atas kasur, selimut dinaikkan hingga ke dada pemuda itu dan AC pun dihidupkan dengan suhu yang nyaman sebelum pintu kamar ditutup dengan gerakan pelan.