The Second Life

The Second Life
LXI - Kegiatan Pagi (II)



Akhirnya, Idris memakai jubah tidurnya dan menghampiriku. Aku sempat mengalihkan pandanganku ke tempat lain karena Idris beranjak dari ranjang dan berjalan menuju lemari pakaian dengan sangat percaya diri. Buru-buru kuhabiskan tehku secepat yang kubisa.


“Apa tubuhmu baik-baik saja, Istriku? Apakah aku tidak berlebihan semalam?” tanya Idris yang sudah duduk di sampingku dan minum tehnya.


“Ya, begitulah.” Aku tidur dengan sangat nyenyak semalam. “Apakah Rose Hindley tidak akan mencarimu?”


Raut wajah Idris berubah muram. “Kenapa kau malah membahasnya saat kita sedang berduaan?”


“Memangnya kenapa? Apakah aku tidak boleh membahas selingkuhan suamiku sendiri?” Aku melirik Idris dengan lirikan tajam. “Jadi ..., kau ingin aku bersikap bahagia dan harmonis tanpa peduli padanya?”


“Istriku, jangan membuat pagi yang indah ini jadi rusak hanya karena satu orang wanita,” kata Idris. “Yang terpenting adalah saat ini aku sedang bersamamu. Bukan bersamanya.”


Aku hanya diam, dan Idris malah mengecup keningku selama beberapa detik.


“Chloe sudah menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Apa kau ingin turun sekarang?” tanyaku pada Idris.


“Ugh ..., bisakah kita berduaan sedikit lebih lama, Istriku?” tawar Idris.


“Mungkin lain kali. Berpakaianlah yang rapi, aku akan menunggumu di ruang makan,” kataku sambil beranjak dari sofa dan berjalan keluar kamar.


“Apa kau yakin?” tanya Idris sekali lagi.


Aku tak menyahut dan langsung meninggalkan Idris secepat yang kubisa. Aku turun ke bawah dan mendapati Anna yang tengah mengawasi pekerjaan para pelayan istana yang tengah sibuk membersihkan lantai dan pajangan yang ada di atas rak dan meja.


Semua yang melihatku segera menunduk. Aku tersenyum pada Anna yang sama sekali tidak punya niatan untuk melakukan hal yang sama. Biarlah, aku juga sama sekali tidak gila hormat. Akan aku gantikan Anna dengan Kepala Pelayan yang lebih kompeten dibanding dirinya.


“Selamat pagi, Ratu,” sapa Anna. “Apakah semalam Anda tidur dengan nyenyak?”


Aku mengangguk. “Selamat pagi juga, Anna. Terima kasih sudah memperhatikanku, semalam aku tidur dengan sangat nyenyak,” jawabku padanya. “Ngomong-ngomong, di mana Chloe?”


“Dia sedang berada di ruang makan, menyiapkan sarapan untuk Anda dan juga Kaisar ...,” jawab Anna.


“Baiklah. Lanjutkan saja pekerjaan kalian, aku akan pergi ke ruang makan,” kataku pada Anna dan pelayan yang berada di sampingnya.


“Baik, Ratu!” seru mereka semua.


*


Aku membuka pintu ruang makan dan mendapati Chloe yang sedang sibuk meletakkan sarapan di atas meja. Dia menunduk saat menyadari kehadiranku. Aku hanya diam dan duduk di salah satu kursi yang berjejer rapi di samping meja makan yang panjang.


Chloe meneruskan pekerjaannya dan setelah itu Idris masuk ke dalam ruang makan dengan berpakaian rapi seperti yang kuminta tadi. Idris duduk tepat di depanku dan menunggu Chloe keluar dari ruang makan.


“Bagaimana jika kita jalan-jalan ke Bevram? Maksudku, kita berbulan madu di sana,” usul Idris di sela makan kami.


Aku meliriknya sejenak dan kembali mengunyah makananku. Aku sama sekali tidak tertarik. Mungkin saja Idris ingin berbulan madu sekalian mengurus urusan politik bersama Raja Bevram. Karena mereka sangat cocok satu sama lain.


“Apa kau tidak mau?” tanya Idris lagi.


Idris tertawa sejenak dan tindakannya itu membuatku agak tersinggung.


“Maaf, Istriku. Aku hanya merasa jika kau sangat polos.” Dibilang polos oleh si tukang selingkuh membuat harga diriku seperti sedang tercoreng. “Bevram sangat terbuka dengan keluarga Kekaisaran. Mereka telah membantu kita dalam perang beberapa tahun yang lalu dengan Avnevous. Jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang mereka.”


Aku hanya diam dan terus makan.


Brak!


Pintu ruang makan dibuka dengan paksa dari luar. Seseorang yang masuk membuatku jadi memaklumi tingkah kasarnya. Itu Rose Hindley. Dengan wajah bangun tidur, gaun dan sepatu yang tidak senada, bahkan rambut yang terlihat tidak disisir. Rose Hindley berhasil menghiburku karena tadi sempat dibuat kesal oleh Idris.


Idris berdiri dan memasang raut wajah kaget. Dia mungkin tidak menyangka jika Rose Hindley akan datang kemari. Namun aku tahu tabiat Rose yang sekarang. Dia benar-benar datang.


“Rose? Apa-apaan ini?!” seru Idris.


“Kenapa kau malah mau berbulan madu dengan Nona Charlotte?! Apa tidak cukup aku memberikanmu kebebasan semalam?!” teriak Rose. “Apakah kau ingin aku menderita karena kau bermesraan terus-menerus dengannya?!”


“Cukup!” teriak Idris. “Kenapa kau malah membuat keributan di Istana Ratu?! Dan jangan sebut Istriku dengan sebutan 'Nona Charlotte', panggil dia Ratu!”


Hoo, pemandangan macam apa ini?


“Apa?” Rose Hindley terkejut dengan ucapan Idris padanya. “Kau berteriak padaku?! Kau ... kau tega padaku, Idris ....”


Idris terlihat menyesal sudah berteriak pada Rose Hindley. Saat Rose hendak menangis, Idris menghampiri Rose dan memeluknya. Ah, sarapanku jadi terganggu oleh dua manusia yang sedang jatuh cinta tidak pada tempatnya. Lebih baik aku menyingkir secepat yang kubisa.


“Aku sudah selesai,” ucapku pada Idris, yang kemudian beranjak dari tempat duduk.


Baru saja aku ingin keluar dari ruang makan, Rose dengan lancang menarik lenganku agar tidak keluar. Aku menatapnya tajam dan menepis tangannya dari lenganku. Berani sekali dia.


“Apa-apaan kau?” tanyaku kesal.


“Apa yang kau lakukan pada Idris?! Kau pasti melakukan sesuatu kepadanya, kan?!” seru Rose Hindley. “Dasar wanita murahan!”


Dewi ..., biarkan aku tetap sabar menghadapi wanita seperti Rose.


Idris menarik Rose dari hadapanku. “Kau sudah keterlaluan pada Ratu Kekaisaran!”


“Ya, yang dikatakan Suamiku ada benarnya. Kau bisa dihukum gantung karena menghina keluarga Kekaisaran. Jika kau mengusikku sekali lagi, aku tidak tahu bagaimana nasibmu untuk kedepannya ...,” ucapku kesal. Sekalian saja kupanas-panasi Rose Hindley.


“S-Suamiku?!” Rose mendelik pada Idris. “Kau ... memiliki panggilan seperti itu dengan dia?!”


Buru-buru aku pergi sebelum Rose menjambak rambutku (siapa tahu). Aku menghela nafas dan terkejut saat tahu jika Anna dan beberapa pelayan yang lain sedang menguping di luar. Mereka jadi salah tingkah karena kutangkap basah.


Chloe keluar dari dalam dapur dan menatap kami semua. Aku memberinya kode untuk mengikutiku ke dalam kamar. Biarlah aku meninggalkan Rose dan Idris bertengkar. Masalah mereka bukanlah urusanku. Aku hanya akan menguping dari kamarku saja. Meski tanpa sihir, aku bisa mendengar ucapan mereka dengan jelas karena mereka bicara sambil berteriak.