The Second Life

The Second Life
Bab 11: Makan Bersama di Kantin



Acara terus berjalan dan di waktu ini sudah ada begitu banyak kategori dan sesi pertandingan yang telah berlangsung hingga siang pun akhirnya tiba. Pembawa acara pun akhirnya mengumumkan sesi break time yang membuat beberapa siswa yang sudah cukup lelah dan lapar langsung merasa lega.


Para siswa yang berkumpul di lapangan pun bubar seperti semut yang kehabisan gula hingga hanya menyisakan puluhan kepala yang masih bertengger di bangku mereka.


Feline dan Felice mengikuti rombongan kelas mereka ke kantin untuk merayakan kemenangan mereka dan menyemangati peserta lomba lainnya di kelas mereka yang belum maju. Kantin sekolah mereka sudah tergolong berkelas dan makanannya memiliki variasi menu yang cukup mewah dengan harga terjangkau.


Sekelompok anak kecil ini berkumpul di satu meja besar sambil makan bersama dengan tertib seperti orang dewasa. Terkadang anak-anak ini akan mengobrol sambil makan, namun suara mereka tetap pelan dan hanya terdengar oleh mereka sendiri. Dari sini bisa dilihat kalau setiap anak-anak ini memiliki etiket meja makan yang cukup baik.


Usai makan bersama, kelompok anak itu kembali memesan beberapa dessert sambil membicarakan pertandingan selanjutnya. Salah seorang teman tiba-tiba terpikir apakah mereka perlu membeli makanan untuk wali kelas mereka.


Awalnya masih banyak yang ragu, lagipula dengan temperamen Vendry, belum tentu wali kelas mereka mau menerima makanan yang dibeli oleh siswanya. Namun mereka akhirnya memutuskan untuk membeli sesuatu untuk guru mereka. Masalah apakah guru mereka mau atau tidak, itu urusan nanti.


Setelah mencapai kesepakatan, masalah lain kembali muncul. Mereka tidak tahu selera Vendry.


Anak-anak ini kebingungan memilih makanan untuk wali kelas mereka. Mereka tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh guru mereka. Felice memandang dessert yang ada di menu dan sekilas ingatan terlintas di benaknya.


Di sebuah ruangan kecil yang penuh dengan rak yang berisi botol obat serta cairan di gelas yang tidak memiliki label, di tengah tumpukan kertas laporan dalam bahasa asing, tampak seorang pemuda berjas putih dengan kaca mata perak dan sarung tangan putih sedang duduk di lantai dan mencoret-coret kertas.


Ruangan itu sangat mencerminkan sang penghuni dimana seluruh bagiannya di cat putih, baik itu dinding atau rak-rak obat dan tumpukan bola kertas yang berserakan di lantai mencerminkan rasa frustasi pemuda itu yang tidak terpampang di wajah dinginnya.


Suasana yang awalnya hening dengan hanya suara gesekan pena dengan kertas, tiba-tiba diintervensi oleh suara ganggang pintu yang diputar. Pemuda itu mengabaikan gangguan tersebut dan hanya fokus melakukan pekerjaannya.


Saat pintu terbuka dari luar, tampak seorang gadis berpakaian serba hitam dari atas ke bawah sedang berdiri di depan pintu dengan sebuah kotak kecil di tangannya.


Pemuda itu menghentikan gerakan penanya selama sedetik dan hidungnya sedikit bergerak, namun momen itu hanya berlangsung sejenak sebelum pemuda itu kembali melanjutkan tindakannya dalam diam seolah gadis yang berdiri di luar itu adalah udara.


Felice yang baru kembali dari luar, tidak melihat orang yang ingin dicarinya. Jadi dia langsung berjalan ke arah tertentu dan sampai di depan pintu ruangan tertentu. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung membukanya dan benar saja, dia menemukan orang yang ingin dilihatnya.


Pemandangan yang masuk ke mata Felice saat pintu dibuka adalah adegan kekacauan di seisi ruangan yang dipenuhi dengan kertas-kertas yang menyebar di lantai serta beberapa bola kertas yang berserakan di setiap sudut ruangan. Dan pelaku dari semua kekacauan ini dengan tenang duduk di lantai sambil membengkokkan badannya untuk mencoret-coret kertas di lantai.


Seutas ketidakberdayaan melintas di antara alis Felice. Dia membuka pintu lebar-lebar dan melangkahkan kakinya melewati kertas laporan dan bola kertas yang berserakan di lantai.


Felice berdiri di belakang pemuda itu dan membungkuk untuk melihat apa yang sedang dikerjakannya. Melihat bayangan yang menutupinya, gerakan pena di tangan pemuda itu terhenti dan dia memalingkan wajahnya ke atas.


Tidak ada ekspresi di wajah tampan itu, tapi Felice bisa membaca setitik ketidaksabaran yang bersarang di pupil pemuda yang 4 tahun lebih tua darinya. Felice mundur dua langkah dan mengangkat kotak kecil yang dibawanya.


"Aku membeli kue."


Felice memindahkan berkas-berkas di meja dan mengambil piring kecil untuk meletakkan kue. Pemuda itu mengumpulkan kertas yang akan dipakainya dan kemudian duduk di meja.


Pemuda itu dengan tenang memindahkan piring kue ke depannya sebelum menyantapnya sepotong demi sepotong kecil. Meskipun tidak ada perubahan pada ekspresi pemuda itu, tapi Felice tahu kalau orang di depannya ini sangat puas dengan kue yang dibawanya.


"Enak?"


"Tidak buruk."


"Bagus."


Usai percakapan singkat itu, keduanya duduk diam dalam harmonis dimana pemuda itu menikmati kuenya dan Felice mengamati pemuda di hadapannya. Meskipun ruangan ini berbau dingin dan monoton dimana-mana, tapi suasana kedua orang itu terasa agak hangat.


Penampakan kilasan ingatan yang terkubur di antara benang pikirannya membuat suasana hati Felice lebih baik dan dia menunjuk beberapa kue di menu kepada pengurus kantin sambil berkata, "Bu, tolong bungkus kue ini."


Feline memandang kakaknya dengan bingung dan bertanya, "Kak, bukannya biasa kamu tidak terlalu suka makan begitu banyak kue?"


Feline tahu kalau kakaknya tidak terlalu hobi memakan yang manis-manis, tadi Felice sudah menghabiskan empat buah cupcake dan biasanya kakaknya akan berhenti kalau sudah mencapai takaran itu.


"Ini untuk Pak Vendry," ujar Felice sambil mengambil plastik kotak kue dari tangan ibu kantin sebelum membayar biaya kue.


Jawaban Felice membuat anggota kelas 2 yang awalnya berdebat menjadi diam.


"Pak Vendry suka makan kue?" tanya Gracia keheranan. Semua orang tahu kalau Vendry adalah sosok yang dingin dan disiplin. Dalam bayangan mereka, wali kelas mereka ini seharusnya lebih memilih teh atau kopi di waktu luangnya dibandingkan dengan kue yang manis-manis. Lagipula sebagian besar pria tidak terlalu suka makan kue apalagi orang dewasa seperti Vendry.


"Tidak tahu, tapi dari pada kita terus berdebat disini lebih baik kita sembarangan memilih saja. Kalau memang Pak Vendry tidak menyukainya, maka kalian bisa memakannya," jawab Felice dengan santai.


Teman-temannya saling memandang dan semua orang setuju dengan keputusan Felice. Dengan begitu, rombongan anak kecil itu kembali ke lapangan.


Di bangku mereka, Vendry masih duduk seperti sebelumnya tanpa perubahan posisi, tapi dia memiliki laptop tambahan di kakinya.


Di bawah tatapan teman-temannya, Felice berjalan ke depan Vendry dan menyodorkan plastik yang berisi kotak kue di tangannya ke depan wajah Vendry sambil berucap datar, "Pak, ini kue untukmu."


Siswa kelas 2, "..."


Vendry yang pekerjaannya terganggu, "..."