
Sarapan telah selesai, Robert yang sedari tadi menahan diri, akhirnya beranjak dari tempat duduknya, melangkah maju dan menghampiri Albert yang berada di depannya.
“Albert, kita harus bicara,” pintanya, dengan air muka yang terlihat tegang.
“Baiklah,” jawab Albert tidak beranjak dari tempat duduk.
“Bisa bicara berdua saja,” kata Robert.
“Apa ada hal penting, Robert?” tanya Albert.
“Ini sangat mendesak, Albert, aku mohon,” pintanya.
“Baiklah, kita ke halaman belakang saja jika begitu.” Akhirnya Albert bangkit dan mulai melangkah diikuti oleh Robert di sampingnya.
Tidak ada pembicaraan ketika mereka berjalan menuju halaman belakang, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Albert masih terkejut dengan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Arshaka Dean. Albert juga takut Arshaka Dean menolak untuk melakukan terapi, sedangkan Robert yang berada di sampingnya, sibuk memilih kata untuk menyampaikan kabar kepada Albert. Robert tidak bisa menjamin jika keputusannya kali ini akan membuat Albert tenang, tetapi Robert tidak bisa menunda lebih lama lagi.
Dengan isi kepala yang penuh dengan pemikiran yang tidak bisa disebut ringan, mereka saling menguatkan di dalam hati masing-masing. Dengan langkah berat yang terlihat begitu jelas, mereka akhirnya sampai di halaman belakang dengan pemandangan yang damai dan asri. Albert menghirup napas dalam-dalam, ia mencoba untuk merasakan setiap ketenangan yang masuk ke dalam tubuhnya, berharap semua yang terjadi bisa segera diatasi.
“Bernapaslah dengan nyaman ketika di sini, Robert. Di sini begitu damai, aku bisa menenangkan pikiranku sebentar,” ujar Albert.
Belum apa-apa, Robert sudah merasa bersalah mendengar Albert berkata seperti itu. “Sepertinya kau sedang banyak yang dipikirkan, Albert,” ujar Robert.
Albert menoleh mendengar namanya disebut, lalu tersenyum canggung. “Apa terlalu tampak jelas, Robert?” Albert memalingkan wajahnya lagi, melihat lurus ke depan, meratapi nasib Arshaka Dean. “Untuk sekarang aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari orang-orang, rupanya. Kau benar, banyak sekali yang harus aku pikirkan, Robert,” ungkap Albert.
“Ah, lupakan saja yang itu, Robert. Bukankah ada yang ingin kau sampaikan padaku, Robert? Langsung bicarakan saja, aku bisa menangani semuanya, tenang saja,” tambah Albert.
“Albert, ini mungkin akan menambah beban pikiranmu, aku meminta maaf terlebih dahulu, jika kau keberatan aku akan berbicara lain kali saja ketika kau siap,” kata Robert terdengar khawatir juga bingung.
“Jangan seperti itu, Robert. Sampai kapan pun, aku tidak akan bisa lega sebelum semuanya terlihat jelas. Kau sampaikan saja, jangan menunda lagi,” jawabnya.
Sebelum menyampaikan tujuannya, Robert menarik napas dengan gusar, karena tidak ada waktu lagi, mau tidak mau, Robert harus segera membicarakannya dengan Albert. “Albert, sepertinya … sepertinya aku tidak bisa mengajar Edmund lagi,” ucapnya ragu.
“Apa?!” Albert melupakan janjinya untuk bisa menerima apa pun, ucapan Robert terlalu tiba-tiba, dan kabar yang disampaikan pun, bukan berita yang baik, ini di luar perkiraan Albert. Sebelumnya, Albert pikir, Robert ingin meminta libur atau pengurangan waktu belajar, bukan langsung berhenti seperti ini. Albert terkejut, seketika pergerakannya berhenti.
“Maafkan aku, Albert,” ucap Robert menyesal.
“Bukan begitu, t-tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba seperti ini, Robert?” tanya Albert.
“Aku diminta profesor senior, untuk mengabdi di sekolahnya, aku tidak bisa menolak permintaannya, Albert. Dia begitu berjasa bagiku dan keluargaku, aku tidak bisa menunda lagi,” jelas Robert.
“Apa aku bisa meminta kau untuk menundanya, Robert? Setidaknya hingga Ars sedikit pulih, jujur saja, Robert, aku sedang bingung dengan semua hal. Aku juga tidak tau apa yang akan terjadi dengan Ars, Robert. Jadi apakah bisa ditunda lebih lama lagi?” Albert sudah diambang frustrasi dan putus asa ia memohon dengan sungguh, hatinya saat ini bergetar dengan hebat, jika tidak ada guru pribadi yang mengajar Edmund, ia tidak akan terkendali, Albert takut hal yang lebih buruk terjadi.
“Maafkan aku, Albert. Tidak bisa, mereka sudah menungguku terlalu lama, aku tidak enak hati untuk meminta tambahan waktu, Albert,” ucap Robert.
“Jika lebih lama lagi, aku bisa menambah anggaran sesuai yang kau butuhkan, Robert. Aku bisa usahakan, asalkan kau bisa bertahan lebih lama lagi,” ucap Albert memohon. Albert sudah banyak menanggung beban, dengan keputusan Robert seperti ini, Albert tidak tau lagi harus berbuat seperti apa. Albert juga tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan Arshaka Dean ketika ia nanti bangun. Pikiran Albert benar-benar penuh.
“Ah, aku mengerti, jika itu memang yang terbaik dari keputusanmu, aku tidak bisa memaksamu lagi.” Albert menundukkan kepalanya, melihat nanar lantai di bawahnya. “Terima kasih, Robert, atas kontribusimu untuk Ars, terima kasih sudah menjaga rapat kehidupan pribadi Ars. Bolehkah aku meminta satu hal, Robert?” tanya Albert.
“Jika itu bisa sedikit meringankan bebanmu, bicaralah Albert, apa yang bisa aku lakukan untuk terakhir kalinya?” tanya Robert.
“Aku mohon, Robert. Berjanjilah padaku, di mana pun kau berada, aku minta kau tidak membawa cerita dari mansion ini. Biarkanlah cerita yang ada di dalamnya tetap berada di dalam, ada pun jika kau ingin bercerita mengenai mansion ini, ceritakanlah seperti yang orang lain ketahui. Aku mohon, terimalah permintaanku ini, Robert, mansion dan seisinya adalah hidupku,” pinta Albert.
“Itu tidak perlu kau khawatirkan, Albert. Seperti yang kau bilang, mansion ini penuh dengan kehidupan, aku belajar banyak dengan semuanya. Albert, sesungguhnya ini juga keputusan sulit untukku, aku setengah mati mengambil tindakan yang menurutku lebih tepat. Di sini semuanya berawal, Albert, aku tidak bisa melupakan semuanya. Edmund, Ars, kau, Cadhla, kalian semua bagian dari hidupku sekarang, aku tidak mungkin meninggalkan kalian, aku tidak akan sanggup menceritakan cerita di dalam mansion kepada dunia luar, seperti katamu tadi, aku akan menyimpannya di dalam hatiku, cukup kita saja yang mengetahui kebenarannya,” tutur Robert.
“Terima kasih, Robert. Sekali lagi, mewakili Ars, aku ucapkan terima kasih,” kata Albert.
“Aku mungkin pergi dari mansion ini, Albert, tapi aku tidak akan meninggalkan kalian,” pungkas Robert.
Di tengah perbincangan mereka, Edmund datang, ia sedari tadi mencari keberadaan Albert. Setelah sarapan tadi, Edmund merancang rencana di pikirannya untuk membuat sesuatu yang besar. Edmund melihat Albert dan Robert tengah berdiri menatap pemandangan di halaman belakang, dengan senyum yang mengembang ia melangkah dengan riang. Sepertinya Edmund akan menambahkan beban yang sedikit lebih berat lagi kepada Albert.
“Paman!” teriak Edmund ketika berhasil menemukan Albert.
Kedua orang yang sedang kalut itu menoleh bersama, mereka terkejut bukan main, mereka pikir Arshaka Dean telah kembali, tetapi ketika melihat senyuman Edmund, keduanya lega, entah kenapa mereka lega.
“Ada apa Edmund?” tanya Albert.
“Aku sudah mencarimu ke mana-mana, kenapa tidak bilang kau ada di sini?” Edmund meminta penjelasan.
“Maafkan aku, Edmund. Robert mengajakku untuk berbincang sedikit,” akunya.
“Ada apa, Edmund? Ada yang bisa aku bantu?” Robert yang bertanya, biar bagaimanapun, hari ini dirinya masih seorang guru pribadi untuk Edmund.
“Ah, aku hampir saja lupa. Paman, apa aku boleh membuat sesuatu?” tanya Edmund ragu-ragu.
“Membuat apa lebih tepatnya, Edmund?” Robert lebih dulu bertanya.
“Ah, benar, kau juga boleh ikut bergabung dengan rencanaku ini, Robert,” ucap Edmund.
“Kau bisa minta apa saja kepadaku, Edmund, tetapi apa itu?” tanya Albert.
“Kakak tidak mungkin marah jika aku meminta hal ini, bukan?” Edmund bertanya lagi untuk memastikan.
“Sepertinya tidak, Edmund. Katakanlah, kau ingin aku melakukan apa?” kata Albert.
“Paman, aku ingin membuat penangkaran kupu-kupu di mansion ini!” seru Edmund, senyuman Edmund mengembang, ketika ia mengatakan keinginannya pada Albert.
“Apa?!”