
5 bulan telah berlalu …
Edmund sudah semakin siap untuk hidup di dunia nyata, ia sudah menjalani terapi, mulai dari terapi bicara, terapi berjalan, dan terapi-terapi lainnya untuk mengasah motorik dan kerja otaknya. Demi kelancaran proses pemulihannya, Arshaka Dean memutuskan untuk tinggal di rumah sakit itu, menemani Edmund, untunglah pihak rumah sakit tidak keberatan dengan itu.
Edmund juga sudah berkenalan dengan semua tim di rumah sakit itu, juga berkenalan dengan Albert dan yang lainnya, termasuk dengan semua anak buah Arshaka Dean. Edmund sudah diceritakan kehidupan kakaknya, ia kini sudah tau profesi yang diemban Arshaka Dean, serta seberapa banyak perusahaan yang kakaknya miliki.
Untuk Rumi, Arshaka Dean sengaja memperkenalkannya di akhir, Rumi adalah pilihan hatinya, harus pelan-pelan, agar Edmund tidak merasa ditinggalkan nanti ketika Arshaka Dean sudah memulai kehidupan baru dengan Rumi.
Arshaka Dean setia mendampingi Edmund, membantunya dalam setiap kesempatan, hingga ia menyerahkan semua urusan perusahaannya pada Albert. Arshaka Dean tidak ingin ketinggalan, ia ingin melihat secara langsung perkembangan Edmund, seperti sekarang, Arshaka Dean sedang menemani Edmund berjalan di koridor rumah sakit.
“Kakak, kenapa badanmu besar sekali? Kau salah makan sepertinya,” ujar Edmund, setengah mengejek, Edmund dan Arshaka Dean bersebelahan.
Setelah lancar berbicara dan memahami beberapa kosakata baru, Edmund menjadi lebih cerewet dan banyak bertanya. Itu sangat baik jika dilihat dari rekam medis, tapi Arshaka Dean sering kali dibuat jengah oleh Edmund. Apalagi jika Agatha sudah ikut andil, membuat dirinya pusing, tapi tentu saja, itu lebih baik, dibandingkan dulu, ketika Arshaka Dean hanya bisa melihat Edmund terbaring saja.
“Hey, ayolah, jangan mengikuti sikap buruk Agatha, kau harus jadi orang yang bijak, dan asal kau tau saja, seberapa keras aku berlatih untuk membentuk ini semua,” kata Arshaka Dean, sedikit kesal.
“Berlatih? Mana coba kulihat?” Edmund membalikkan tubuh Arshaka Dean, menatapnya dari ujung kaki, hingga ujung kepala. “Hhm, not bad, but … wajahmu terlalu dingin, Kakak, pantas orang-orang selalu terlihat ketakutan ketika di dekatmu,” celetuk Edmund.
“Haish, sudahlah, kau jalan saja sendiri,” geram Arshaka Dean meninggalkan Edmund sendirian, membuat Edmund tertawa begitu keras.
Ketika pertama kali terbangun, Edmund tidak pernah merasa asing dengan Arshaka Dean, karena ia sering sekali bertemu dengan kakaknya itu. Tapi, ada yang selalu membuatnya heran, ia tidak pernah mengingat di mana tempat pertemuannya itu, seakan hilang begitu saja tempat pertemuan mereka.
Arshaka Dean terlihat gagah dan tak kenal takut, Edmund bangga dan takjub dengan kakaknya itu, kemudian Edmund mengetahui bagaimana Arshaka Dean menjalani hidup selama ini, Edmund merasa terpukul, hatinya sakit ketika mengingat cerita itu.
Edmund bersumpah, akan selalu bersama Arshaka Dean. Apa pun yang terjadi, ia akan melewati sisa hidupnya dengan melindungi Arshaka Dean. Membalas semua kesabaran Arshaka Dean. Ia berjanji akan membawa Arshaka Dean ke kehidupan yang penuh kebahagiaan.
“Kenapa kau sendirian, Edmund?” tegur Rumi, yang tak sengaja melihat Edmund berdiri, sembari melamun.
“Kakak meninggalkanku,” jawab Edmund, tertawa.
“Kenapa kau tiba-tiba tertawa?” tanya Rumi, heran. “Kalian bertengkar lagi?” selidiknya.
“Tidak, aku hanya sedikit menggodanya saja,” jawab Edmund lagi.
“Astaga, ada-ada saja, mari kutemani,” kata Rumi.
Edmund mulai melangkah lagi, kali ini Edmund sudah bisa berjalan lebih cepat, tanpa bantuan penyangga, tapi karena ada beberapa hal yang harus diperiksa, Edmund harus melakukan itu lebih rutin lagi. Beberapa hari yang lalu, kaki Edmund tiba-tiba membengkak, dokter menyarankan kepada Edmund, untuk lebih sering menggunakan kakinya, dan di sanalah ia sekarang.
“Kau sudah lama kenal dengan Kakak, Rumi?” tanya Edmund, tiba-tiba saja.
Rumi menoleh. “Huh, ada apa dengan pertanyaan itu?”
“Sudahlah, jawab saja,” desak Edmund, sifat tak sabarannya sama ternyata dengan Arshaka Dean, tidak perlu diragukan lagi, mereka memang saudara kembar.
“Hhm, coba kuingat, kurasa tidak begitu lama, baru beberapa bulan,” jawab Rumi.
“Kenapa kau mau dengannya? Apa yang kau lihat darinya? Apa kau tidak takut?” tanya Edmund, memberondong.
“Wow, tahan, Edmund. Takut? Sepertinya tidak, pada awal bertemu dengannya, aku langsung terpesona pada pandangan pertama, Edmund, kakakmu sangan luar biasa,” jawab Rumi, berterus terang.
Mereka kemudian tertawa, dan terus berbincang, hingga tak terasa sudah sampai di depan ruangan Edmund. Arshaka Dean berdiri di depan pintu, berkacak pinggang, dan menatap keduanya dengan tajam.
“Ada apa dengan tawa kalian?” tanya Arshaka Dean, ketus.
“Tidak ada apa-apa, kami hanya bersenang-senang. Kenapa kau cemburu padaku?” Edmund yang menjawab, ia tidak kenal takut.
“Apa kau bilang?” tanya Arshaka Dean, marah.
“Kenapa, Kakak? Dia cantik, bukan?” Edmund semakin berani saja mengganggu Arshaka Dean.
Arshaka Dean membelalakkan matanya, mendengar penuturan dari Edmund itu, aduh Edmund terlalu berlebihan, tapi bukankah itu fakta, jika Rumi cantik, kenapa Arshaka Dean harus marah? Entahlah.
Edmund tersenyum, kemudian berlalu dari hadapan kakaknya itu. Merasa ditinggalkan Arshaka Dean mengikuti Edmund ke dalam ruangan.
“Kau sudah berani sekarang?” tanya Arshaka Dean, merajuk. “Padahal aku lebih suka jika kau pendiam saja,” tambahnya.
Edmund tertawa. “Kau yakin? Kau tidak ingat, betapa frustrasinya dirimu ketika melihatku tidak kunjung lancar bicara? Aku melihatnya, Kakak. Aku melihat Kakak menangis di pelukan Rumi, dan mulai dari sana aku berjanji untuk terus berusaha keras,” ungkap Edmund.
Arshaka Dean kembali menatap Edmund, kali ini dengan tatapan penuh kasih. “Kau melihatnya? Apa ini juga karena aku? Maafkan aku, kau tidak harus memaksakan diri, aku tidak apa, aku sedang kacau saja waktu itu,” kata Arshaka Dean, merasa bersalah.
Edmund menggelengkan kepalanya. “Tidak, ini juga keinginanku, aku ingin segera mengenal dunia yang luas ini, aku ingin menghabiskan waktuku bersama Kakak, aku bisa lakukan semuanya, Kakak, kau tidak perlu khawatir,” kata Edmund, tersenyum.
“Kalian sedang apa?” Itu Agatha yang bertanya, bingung, karena Rumi terlihat menanti di luar ruangan dengan wajah cemas. “Kalian tidak sedang bertengkar, bukan?” tanya Agatha lagi.
“Apa maksudmu? Siapa yang bertengkar?” serang Arshaka Dean.
“Aku hanya bertanya, tidak perlu seperti itu padaku, kalian menyebabkan Rumi ketakutan di luar sana,” terang Agatha.
“Rumi?” Arshaka Dean tiba-tiba tersadar, ia sudah mendiamkan Rumi begitu saja, tanpa alasan, Arshaka Dean keluar menemui Rumi.
Edmund menatap Arshaka Dean heran, kemudian mengalihkan fokusnya pada Agatha. “Hey, adik cantik, di mana pacarmu itu?” tanya Edmund, ia sudah mengetahui Albert dan Agatha menjalin hubungan.
“Seseorang sudah membuatnya sibuk, hingga dia berani mengabaikan aku seharian ini,” jawab Agatha sengaja mengeraskan suaranya, untuk menyindir Arshaka Dean.
Edmund tertawa, hari ini ia banyak tertawa karena saudara-saudaranya itu. “Sudahlah, mainlah denganku saja, kau sudah berjanji padaku,” kata Edmund.
“Mau bagaimana lagi,” jawab Agatha, pura-pura terpaksa.
Banyak pertanyaan yang masih menghantui pikiran Edmund, tentang bagaimana dirinya bisa tiba-tiba menjadi seorang dewasa, tentang dirinya yang tiba-tiba mempunyai adik perempuan, tentang waktu yang benar-benar bergerak cepat, tentang mimpi yang selalu menemani tidurnya, semua itu selalu membingungkan bagi Edmund.
Meskipun dirinya selalu menampakkan senyum, ceria, tapi dalam hatinya ia ribut bertanya tentang hidup. Sering kali Edmund memutar kembali video yang menampilkan dirinya berkembang dari mulai kecil, hingga secara ajaib tumbuh menjadi seseorang yang sudah pantas memiliki sepasang anak kecil.
Edmund tidak marah, tidak, dia tidak perlu marah dengan hidupnya itu, dia hanya bingung, dan banyak pertanyaan saja, tapi sungguh dirinya sangat bersyukur tentang hidupnya ini. Bersyukur karena semua orang ada bersamanya, meskipun perawat di sana mengatakan jika pada awalnya hanya kakaknya saja yang menemaninya, tapi itu tidak masalah.
Selama dalam penggembalaan, dia tidak pernah merasa sendirian, kakaknya selalu berkunjung setiap saat dia butuh, dia juga tidak mengerti dengan ruang tak kasat mata itu. Hanya ada kesimpulan yang bisa ia jabarkan, jika tali kasih yang terus Arshaka Dean rajut, mampu menumbuhkan kehidupan padanya, dan bahwa keajaiban cinta itu memang ada.