The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 51. Pilihan Sulit



Siapa yang ingin mendapat bencana di dalam hidupnya? Tidak ada, dan bila memungkinkan semua orang menginginkan kehidupan lurus dan damai dari segala macam perpecahan dunia.


Tapi, betapa malangnya Albert, ia mengalami kejadian luar biasa sekaligus, dan hari ini datangnya bertubi-tubi. Arshaka Dean tertembak, dan tiba-tiba saja dalam perjalanan menuju rumah sakit, Edmund tiba-tiba muncul, siapa yang akan menduga semua ini?


Edmund terlihat benar-benar bingung, juga ketakutan. Semua orang menatapnya, Edmund terkejut dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Edmund lebih terkejut lagi, ketika semua orang yang ada di dalam mobil, wajahnya dipenuhi lebam, bahkan Albert juga terlihat sangat kacau.


Edmund sekali lagi menatap Albert, ini pasti keadaan darurat, tapi yang tidak sampai di pikiran Edmund, kenapa dirinya bisa berada di tengah-tengah orang-orang yang tengah terluka di dalam mobil, dengan keadaan yang sama-sama terluka, bahkan lebih parah.


Seingatnya, terakhir kali yang dirinya lakukan adalah tidur, kenapa ia bisa terbangun dengan keadaan yang kacau, bahkan berlumuran darah seperti ini. Ia tidak mungkin berjalan dalam keadaan tertidur, ia tidak mempunyai riwayat itu, jadi tidak mungkin terjatuh dari kamarnya sendiri. Ia juga tidak melakukan percobaan bunuh diri, dan lagi, ia memakai pakaian Arshaka Dean.


Edmund selalu curiga dan penasaran dengan satu hal tentang hidupnya, tentang Arshaka Dean yang tidak pernah menemuinya, juga tentang rahasia yang selalu disembunyikan Albert. Edmund sudah lama ingin mengetahui tentang peran Chadla di mansion, Edmund tau itu semua untuk mengatasinya, tapi sepertinya ada yang lebih besar yang tengah mereka kerjakan.


“Paman, apa aku akan mati?” tanya Edmund, ia mengaduh, terus memegang perutnya, bahkan ia memegang tangan Albert, sebagai penopang untuk menahan tubuhnya.


“Paman … sakit, ini sakit sekali …,” lirih Edmund.


“Edmund bertahanlah, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.” Albert memberi tambahan bebat, karena Edmund banyak bergerak, darah terus keluar semakin banyak.


“Paman … aku kenapa?” tanya Edmund.


“Astaga, sakit ….”


Edmund yang tidak tau apa-apa, harus menanggung semua rasa sakit yang Arshaka Dean rasakan. Mungkin Edmund muncul di waktu yang kurang tepat, tapi bisa juga Arshaka Dean sengaja memanggil Edmund keluar untuk menggantikan semua rasa sakitnya. Trauma itu nyata, dan sepertinya masih berlaku hingga saat ini pada Arshaka Dean.


Albert sudah berpikir untuk memberitahu Edmund tentang rahasianya selama ini. Sepertinya ini tepat, jika satu-satunya cara untuk membuat Arshaka Dean pulih dari traumanya adalah diketahui oleh kepribadian lainnya, maka ia harus mulai mencobanya, tentu saja setelah berdiskusi dengan Chadla.


Rombongan mereka akhirnya tiba di rumah sakit, mobil melaju dengan kencang tapi tetap berhati-hati. Mereka berhenti tepat di depan ruangan instalasi gawat darurat, tim medis yang bertugas langsung berlarian membawa brankar dorong. Pihak rumah sakit sudah dihubungi oleh Albert, bahwa dirinya membawa pasien tertembak.


“Cepat! Cepat!” seru tim medis yang menangani Edmund.


Edmund sedang mengambil alih tubuh Arshaka Dean, ia melihat keluar ketika pintu mobil terbuka, dan melihat perawat dan dokter membawa peralatan medis. Sebelum Edmund, dipindahkan ke brankar dorong, Edmund diperiksa terlebih dahulu di dalam mobil, lalu setelah itu baru Edmund dibawa ke dalam.


“Satu … dua … pindahkan! Cepat!”


Perawat dan dokter berlarian, luka memar dan luka tembak dari tubuh Arshaka Dean parah, dan harus segera diambil tindakan operasi.


“Permisi! Kita harus cepat! Permisi!” seru mereka yang membawa Edmund dengan brankar dorong.


Albert menghampiri dokter. “Bagaimana, Dok?” tanya Albert.


“Kami harus segera melakukan operasi, luka tembaknya dalam, kami harus melakukan ini dengan cepat,” jelas dokter.


“Lakukan yang terbaik, Dok,” kata Albert.


Semua telah siap, Edmund diberikan anestesi total, dengan begitu, Edmund akan dibuat tidak sadarkan diri, demi mengurangi rasa sakit yang akan ditimbulkan. Dokter dan tim medis langsung melakukan prosedur operasi, sesuai yang telah mereka rencanakan. Sebagai permulaan, tim medis, menggunting baju Edmund dan menutupnya dengan kain bersih berwarna hijau, di bagian yang terkena tembakan, operasi pun berlangsung dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian.


Sementara itu di luar ruang operasi, Albert dan anak buah lainnya terlihat sedang melakukan perawatan terhadap luka-luka memar yang mereka terima oleh petugas medis. Sesekali terdengar suara ringisan dari mereka, kali ini rumah sakit dipenuhi pasien yang tidak biasa, tapi tenang saja, semua tidak akan menjadi berita besar di media sana. Rumah sakit ini milik Chadla, dengan Arshaka Dean sebagai donatur tetap di rumah sakitnya, jadi semua akan terjamin rahasianya, karena memang begitulah tujuan dibuatnya rumah sakit ini.


“Albert!” teriak Chadla.


Chadla terlihat khawatir, ia tergesa-gesa menghampiri Albert, semuanya bagai mimpi bagi Chadla. Raut wajah Albert sudah menggambarkan semuanya, pasti kejadiannya lebih dari yang diceritakan tadi, Chadla paham dengan baik akan hal itu.


“Chadla, kau sendirian?” tanya Albert basa-basi.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Chadla.


“Kami baru saja selesai diobati,” jawab Albert.


“Bagaimana dengan Ars?” tanya Chadla, kemudian.


“Chadla, kita harus pindah ke depan ruang operasi,” kata Albert.


Ada yang harus Albert ceritakan pada Chadla, ia tidak mungkin mengatakannya di tengah kerumunan tukang pukul, meskipun mereka tidak keberatan, tapi tetap saja, Albert tidak leluasa jika diperhatikan banyak orang.


“Aku mengerti.” Chadla dan Albert segera bergegas, di ruang operasi sana dokter dan tim medis sedang berjuang mengeluarkan peluru di tubuh Arshaka Dean.


“Bagaimana, Albert?” Mereka sudah sampai di depan ruangan operasi, dilihatnya pintu putih itu dengan seksama, Albert mengucapkan doa untuk keselamatan dan kelancaran tuannya.


“Chadla, dia datang,” lirih Albert.


“Dia?”


“Edmund, dia datang ketika kami di perjalanan tadi, kami panik ketika Ars menutup matanya. Ars, tidak sadarkan diri beberapa saat, dan yang terbangun ternyata Edmund, aku tidak tau apa ini ada hubungannya dengan trauma Ars atau tidak. Tapi, Chadla, aku ingin mengatakan ini padamu ….” Albert merenung, jika ini keputusan terbaik bagi Arshaka Dean, ia harus melakukannya, bukan? Maka, ia akan melakukan apa pun itu, meskipun harus melukai semua orang nantinya.


Chadla hanya diam, siap mendengarkan semua hati Albert, meskipun ia paham apa yang akan Albert sampaikan. Chadla yakin, keresahan Albert juga sama dengan apa yang sebenarnya dirinya rasakan, sewaktu melihat grafik perkembangan Arshaka Dean terhadap kondisinya. Sepertinya, kali ini, Albert dan dirinya akan menempuh jalan yang sama.


“Chadla, apa aku terdengar jahat, jika aku ingin Edmund menghilang?” tanya Albert, menahan setiap sesak di dadanya.


“Chadla, aku ingin memberitahu Edmund tentang segalanya. Katakanlah, aku sudah putus asa dengan semua ini, tapi jika ini memang yang terbaik, bisakah kita melakukannya, Chadla?”


Chadla menghela napas, menepuk-nepuk bahu Albert yang sedang menunduk. “Aku paham kekhawatiranmu, Albert. Sejujurnya, kondisi Arshaka Dean semakin memburuk setelah kejadian terakhir kali, aku juga punya pendapat yang sama denganmu.” Albert menoleh, melihat wajah Chadla.


“Tapi kita juga tidak bisa melakukannya sendiri, Albert. Mereka pasti memberikan anestesi padanya, kita tidak akan tau siapa yang terbangun nanti. Tapi jika itu, Edmund, aku akan menjadi orang pertama yang akan mendukung rencana itu, aku setuju padamu, Albert, mari kita lakukan,” jelas Chadla.


Rencana sudah mereka sepakati, tinggal menunggu siapa yang akan terbangun setelah operasi nanti. Lalu, jika semua ini sudah terjadi dan terungkap kebenarannya, akankah Edmund menerima semua informasi itu? Kita bahkan tidak tau apa yang terjadi di masa lalu dengan mereka berdua, tapi kembali lagi ini demi kebaikan Arshaka Dean, yang memiliki hak atas jiwa dan raganya.