The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 81. Berakhirnya Sumber Kesengsaraan



Di ruang tunggu, Agatha terlihat mondar-mandir, tak berhenti, gelisah dan gusar ketika ayahnya ingin bertemu dengan Arshaka Dean. Agatha yang begitu tahu bagaimana tabiat ayahnya, ketakutan, takut jika hal kejam lainnya terjadi lagi. Agatha menjadi semakin resah ketika mengingat ayahnya lah yang membuat Edmund tertidur lama.


“Duduklah, Agatha,” tegur Albert.


“Tidak bisa, sebelum kakakku kembali, aku tidak bisa tenang,” tolak Agatha.


“Dia tidak berdaya, Agatha, tidak mungkin menyerang Ars,” terang Albert.


Agatha seketika berhenti, dan melirik Albert, matanya tiba-tiba serius. “Kau tidak tau dia, Albert? Apa saja bisa dia lakukan, termasuk menghancurkan tempat tinggal kita, kau harus ingat, siapa yang menyebabkan Edmund terbaring di sini,” sergah Agatha.


Albert memilih untuk tidak menjawab lagi, trauma mereka pasti lebih kacau dibandingkan semua orang. Albert beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Agatha, menautkan jarinya dengan jari Agatha. Albert tarik tubuh Agatha ke pelukannya, Agatha sedang risau, tidak bisa diganggu, jadi Albert peluk saja, semoga dengan begitu bisa membuat Agatha sedikit tenang.


“Ayo kita ke sana, Albert, aku ingin tau apa yang mereka bicarakan,” ajak Agatha.


“Ars, sudah melarang kita, dia pasti akan marah jika kita melanggarnya, kita tunggu saja di sini, jika ada apa-apa, Chadla pasti akan menghubungiku,” jelas Albert, menenangkan Agatha.


“Astaga, aku kesal sekali, untuk apa lagi dia bertemu dengan Kakak, Albert, apa dia tidak puas sudah mengganggu Kakak seumur hidupnya? Kenapa dia tidak langsung mati saja, Albert!” berang Agatha.


Albert semakin mengeratkan pelukannya. “Kau tidak boleh seperti itu Agatha, Ars, sudah memberi kesempatan padanya, mungkin ia ingin melihat Victor berubah,” kata Albert.


“Dia tidak akan pernah berubah, Albert, tidak akan,” geram Agatha.


Albert juga sebenarnya ragu melepas Arshaka Dean bertemu dengan Victor tanpa pengawasan yang ketat, tapi Arshaka Dean terlihat meyakinkan, dan karena ada Chadla yang menemani, Albert bisa sedikit lebih tenang. Tapi sepertinya, tidak demikian dengan Agatha, ia hampir tidak mempercayai Victor, hingga Albert menyimpulkan, jika tidak ada ingatan bagus tentang Victor, dan itu memanglah benar adanya.


Keduanya diam, hingga suara ponsel Albert menginterupsi mereka, Albert terpaksa melepaskan pelukannya dari Agatha. Albert merogoh saku celananya, membawa ponselnya keluar. Albert memeriksa pesan yang masuk, ternyata dari Chadla, isi pesannya singkat saja, meminta Agatha dan dirinya untuk datang ke gedung tempat Victor dirawat, tapi meskipun begitu, perasaan Albert tak menentu, ia kemudian menatap Agatha.


“Jangan, Albert, aku tidak ingin mendengarnya,” ucap Agatha, melihat raut wajah Albert yang tegang seperti itu.


“Kita diminta untuk datang ke sana, Agatha, ayo!” ajak Albert, dadanya berdebar, tapi sebelum mereka pergi, Albert harus memastikan sesuatu. Albert menengok ke dalam ruangan Edmund, ada Rumi di sana. “Rumi, tolong jaga Edmund sebentar,” pintanya.


Rumi terkejut, apalagi melihat Albert yang seperti baru saja menerima berita buruk. “Ada apa, Albert? Apa yang terjadi dengan, Ars?” tanya Rumi, gelisah, ia langsung teringat dengan Arshaka Dean yang bertemu dengan Victor.


“Aku tidak tau, tapi Chadla memintaku dan Agatha untuk datang,” jelas Albert.


“Baiklah. Astaga, langsung kabari aku jika sesuatu terjadi, Albert,” kata Rumi, rusuh hatinya.


“Pasti Rumi.”


\*\*\*


Begitu tiba di gedung tujuan, Albert dan Agatha disuguhkan dengan pemandangan yang kacau. Orang-orang berlarian, membawa peralatan medis, para dokter juga terburu-buru, menambah kepanikan.


Albert dan Agatha semakin bertanya-tanya, suasananya sudah semakin mencekam. Merasa tak sampai-sampai, Albert dan Agatha semakin mempercepat lankah mereka, bahkan berlarian bersama orang-orang yang juga terlihat panik.


Orang-orang yang sedang beristirahat, menjadi heran dengan banyaknya orang yang berlarian. “Ada apa?” tanya seorang pria pada seseorang yang kebetulan melintas di depannya.


Albert dan Agatha yang mendengar percakapan dua orang itu, pikirannya semakin kacau. “Astaga, Kakak …,” lirih Agatha dalam langkahnya.


“Bergegas, Agatha.” Tanpa sadar Albert meninggikan suaranya, hatinya ribut, pikirannya melayang, bayangannya tak menentu, ia takut, takut apa yang di pikirannya terjadi.


Kerumunan orang sudah terlihat, debar, cemas dan sesak di hatinya, menghantam begitu kuat. Perlahan Albert melerai kerumunan itu, meminta jalan pada mereka yang sama-sama ingin tau apa yang sedang terjadi, hingga bercak darah terlihat oleh kedua matanya.


“Kakak?” panggil Agatha, Arshaka Dean memeluk kedua lututnya, menangis pilu. Agatha yang melihat di depannya, langsung berlutut, melihat nanar ke arah tempat tidur rumah sakit. Dadanya sesak, seakan udara yang ada di sekitarnya, tengah mencekiknya dengan fakta yang sedang terjadi di depannya.


Agatha tak mampu berkata, ia menghampiri Arshaka Dean. Agatha memegang lengannya pelan, Arshaka Dean mengangkat wajahnya, melihat Agatha berada di depannya. Arshaka Dean menarik tubuh Agatha, ia dekap, ia peluk, ia menangis, menyalurkan segala marah, kecewa, dan rasa bersalahnya di bahu Agatha.


“Ayah ….” Tidak, Agatha tidak bisa berkata lagi, tenggorokannya tersekat, dalam diam dirinya mulai meneteskan air mata. Membalas pelukan Arshaka Dean, duka semakin terasa kala mereka meraung dan berteriak bersama.


“Kau benar, dia ayah kita. Ayah meninggalkan kita, Ayah memilih pergi!” ucap Arshaka Dean berteriak ribut.


Agatha semakin sakit hatinya, semakin terpukul dengan apa yang sedang terjadi. Agatha tidak pernah menduga ayahnya akan melakukan hal nekad seperti ini, yang ia tahu, ayahnya sangat mendewakan kehidupan, hingga ayahnya rela melakukan apa saja pada orang-orang yang menghalanginya, termasuk membunuh mimpi anak-anaknya.


Albert mendekat, itu benar-benar kehancuran yang kacau, dan pilihan yang tidak bisa dibilang berani, tapi itu pilihan yang mungkin satu-satunya yang Victor punya, hingga ia melumpuhkan dirinya sendiri setragis itu.


Keadaannya kacau, bagian atasnya hancur, kasur yang ditempatinya penuh kucuran darah, dan sekitarnya tercecer bagian yang terdorong oleh peluru, berantakan, sungguh berantakan yang paling mengerikan.


***


“Ibu, dia sudah pergi. Ibu sekarang aman, aku tau sulit untuk mengatakan itu, tapi dia meminta maaf, Ibu, dia meminta maaf di napas terakhirnya, dia meminta maaf, Ibu,” ucap sendu Arshaka Dean.


Tempat kejadian perkara sudah dibersihkan dan untuk sementara waktu, gedung rumah sakit itu dikosongkan, demi keamanan. Tidak ada berita apa pun yang keluar dari gedung itu, Arshaka Dean meminta pihak rumah sakit untuk segera menutup kasus ayahnya itu.


Kematian mafia yang perangainya kejam dan sadis pada semua orang itu, langsung menyebar begitu pesat di kalangan mafia lainnya. Semua petinggi organisasi mafia mana pun langsung menghubungi pihak Arshaka Dean, mengkonfirmasi berita yang menyebar itu.


Berita kematiannya disyukuri banyak pihak, mereka tidak pernah mengakui kehadiran Victor, mereka selalu ketakutan pada Victor. Victor bukan hanya ancaman bagi mereka, tapi juga iblis hitam yang siap meminta nyawa mereka kapan saja, itulah yang terjadi selama ini.


Lalu kenapa masih banyak yang mendukung Victor? Para pendukung, bukan, sejatinya mereka tidak benar-benar mendukung Victor. Mereka melakukan semua itu atas ancaman nyata yang Victor perlihatkan di depan mata mereka.


Jika mereka kedapatan melenceng dari perintah, esok harinya anggota tubuh keluarga mereka dihadirkan di depan mereka, dalam pertemuan, yang Victor selalu agungkan dengan sebutan “perjamuan terakhir” dan itu benar-benar perjamuan terakhir bagi siapa saja.


“Dia seumur hidupnya hanya dihabiskan dengan berlari, dia tidak pernah diam, tidak pernah berjalan, terus berlari tanpa melihat ke belakang, hingga suatu ketika dia kehilangan jati dirinya sendiri, dia lupa asal dirinya dari apa, dia lupa bagaimana kehidupan sudah menyelimuti dirinya dengan segala cambuk kesengsaraan, tapi dia tetap berlari, tidak pernah berhenti lagi. Tidak pernah tau hingga sekarang dia mencari wujud yang bagaimana lagi dari dirinya, padahal semuanya telah ia miliki, tapi aku tidak tau ia mencari apa lagi di dunia ini,” ungkap Birdella.


Birdella langsung bergegas ketika diberitahu oleh Albert, tentang kematian mantan suaminya itu. Birdella tau, dengan kematiannya itu artinya semua akan aman, tapi seperti yang sudah terjadi, Birdella juga masih ketakutan atas dendam-dendam yang Victor tinggalkan itu, hingga ia memutuskan untuk melihat sendiri keadaan terakhir Victor, memastikan tidak akan ada lagi gangguan pada dirinya dan anak-anaknya.


“Ars, kau harus ingat ini, Ars, kau bukanlah dia, kau berbeda dengan dia, kau masih punya hati dalam menjalankan hidupmu, sedangkan dia tidak pernah, dia tidak pernah mendengar kata hatinya, tapi kau.” Birdella membelai wajah Arshaka Dean, menghapus air mata di pipi Arshaka Dean, kemudian memegang dada Arshaka Dean.


Arshaka Dean menatap ibunya, pertemuan mereka memang barulah terjadi akhir-akhir ini, tapi Arshaka Dean tidak pernah merasa kehilangan, selalu ada Birdella di hatinya. Birdella selalu menjadi tujuan kehidupannya, ia selalu mencari, tapi tidak untuk menggenggam pergi, cukup dengan melihat Birdella saja, dia sudah puas, karena ia tau, masa lalu ibunya jauh lebih kelam dari dirinya.


“Kau masih mempunyai hati bersih yang terus orang-orang jaga, kau mempunyai kendali diri ketika berlari, kau tau kapan waktu untuk berhenti, kau berbeda dengan dia, kau tidak perlu merasa bersalah, dia sudah memutuskan untuk pergi, itu bukan salahmu, hiduplah lebih bahagia dari sekarang, hiduplah Ars, hiduplah, selamatkan kehidupanmu,” pungkas Birdella, dengan senyuman mengembang memberi ketenangan dan kehidupan baru bagi Arshaka Dean.